Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Escape Part 8


__ADS_3

Aku berjongkok di ceruk jendela yang menjorok ke depan, dan mengistrahatkan diri untuk beberapa saat.


"Hah...hah...hah..!!" Aku lelah, namun di banding kan lelah, penyebab napas memburuku ini adalah tak lain dan tak bukan karena perasaan shock takut ketahuan dari anak buahnya lelaki itu.


Beruntungnya dia tak menyadari kehadiranku setelah buang air kecil, kalau tidak, mungkin aku akan merasa bersalah karena tidak memakai sayap buatan anak-anak.


Tiba-tiba terdengar suara ribut grasak grusuk yang berasal dari dalam ruangan, mirip seperti sebuah benda berat yang di seret-seret secara terpaksa. Aku mencondongkan tubuhku dan mengintip dari balik kaca. Namun karena sumber penerangan satu-satunya berasal dari cahaya bulan, maka saat melihat dari balik kaca jendela, aku tak bisa melihat apa-apa.


Lalu aku berinisiatif meraba-raba kaca jendela itu berharap menemukan celah untuk masuk ke dalam. Setelah beberapa lama mencoba akhirnya aku menemukannya di pojok yang memang sudah lapuk karena termakan usia.


Klaakkk...


Jendela itu pun terbuka dari luar.


Tanpa menunggu lama, ku julurkan kaki ku terlebih dahulu memasuki ruangan, yang kemudian di ikuti oleh tubuhku dengan gerakan meliuk berusaha agar tak menyentuh daun jendela untuk meminimalisir keributan.


Tap...


Kini aku telah berhasil masuk sepenuhnya ke ruangan ini.


"Yes!!" Pekik ku girang. Ada perasaan bangga yang meluap-luap di saat aku berhasil menyelesaikan tugas konyol ini.

__ADS_1


Namun perasaan gembira dan bangga itu hanya berlangsung singkat.


Saat aku mengangkat pandanganku ke depan dan melihat langsung sesuatu yang telah menungguku. Lututuku lemas.


"A-apa ini?" Aku gemetar.


Aku menemukan anak-anak lainnya dengan memprihatinkan. Kaki dan tangan mereka terikat, mulut mereka di lakban dan mereka di biarkan dalam keadaan duduk meringkuk berdeketan seperti tumpukan karung.


Saat aku maju selangkah untuk memastikan apa yang ku lihat. Lagi-lagi aku menemukan sesuatu yang tak terduga.


Salah satu di antara mereka di perlakukan dengan berbeda dari yang lainnya, matanya tertutup kain hitam dan telinganya di sumbat dengan kapas.


Di detik-detik terakhir perenunganku barulah aku tau, kalau orang itu adalah Archie.


Mereka yang dapat melihatku, menggeliat tak tentu arah dengan mata melotot tajam seperti melihat setan saat aku mendekat.


Aku berusaha menenangkan mereka semua sambil merentangkan tangan menyuruh mereka untuk diam. Namun mereka tak mau diam dan semangkin beringas menggeliat.


Aku tak mengerti kenapa mereka takut saat melihat kedatanganku, memangnya aku salah apa. Bukankah seharusnya mereka senang jika ku selamatkan.


"Hhmmm...hmmm..hhmmmm.."

__ADS_1


Mereka tak mau diam. Lalu lakban yang membekap mulut Sayang tiba-tiba terlepas karena dia tak mau diam, dan saat itulah dia menjerit minta tolong.


"To-tolong, ada setan... tolong... aghhh.. setan!!" Pekiknya lantang.


Kini aku sadar, kalau aku memakai kostum aneh yang membuat orang salah paham.


Aku langsung mendekat dan membekap mulut Sayang. "Ssstt...ssttt....!!" Dia melotottiku dengan wajah ketakutan.


"Ini aku!!" Ucapku sambil membuka topeng.


"Anya!!" Sapa Sayang terkejut.


Anak-anak lainnya pun sama terkejutnya seperti Sayang, terkecuali Archie karena dia tak tahu menahu dengan apa yang terjadi di luar.


"Gimana ceritanya lu jadi kek gini." Sayang keheranan.


"Nanti aku ceritain!!" Ucapku sambil berusaha melepas ikatan miliknya.


Drap..draap..drap..


Aku langsung terperinggat, karena suara langkah kaki itu tiba-tiba mendekat kemari.

__ADS_1


"Gimana ni, gimana ni!!" Aku panik sambil berdiri.


Belum sempat, aku melakukan sesuatu. Tiba-tiba pintunya langsung terbuka.


__ADS_2