Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kecewa


__ADS_3

"Hai!" Sapa Archie sambil memeluk tubuhku dan menciumi tengkukku secara beruntun.


Pijakan ku serasa melayang saat dia memiringkan tubuhku dan langsung menautkannya dalam gendongannya.


Dia langsung menghujani leherku dengan ciuman lembut bertubi-tubi sampai membuat pandangan mataku terpejam menatap langit-langit.


"Ja-jangan disini?" Bisik ku pelan, agar suara ku tak terdengar saat pintunya belum tertutup rapat.


Dia berhenti menciumi leherku, dan menurunkan ku kembali.


Sembari berjalan menutup pintu kamar dan menguncinya, dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan permen tangkai yang setara dengan segelas susu.


"Anak-anak pada belum pulang?" Tanyaku sambil duduk di atas kasurnya.


"Belom lah kalau masih jam segini!" Jawabnya sambil menjejali mulutnya yang berbau tembakau tersebut dengan permen susu yang katanya mahal.


"Ohh gitu!" Balasku tersenyum canggung. Karena saat ini aku berada di atas kasurnya.


"Napa lu gak ada inisiatif buat ketemu gua!?" Tanyanya, merangkak dari ujung kasur, mendekatiku.


"Mana ada waktu buat ketemu, kita semua kan sama-sama sibuk. Apalagi kalian, aku bahkan liat Yoona yang balik jam 3 pagi abis ngelarin tugas bareng kalian." Jawabku yang yang tak lagi menatapnya saat tubuh bongsornya sudah berada tepat di depan ku.


"Bahkan buat bales chat gua!" Ungkitnya.


"HP ku pake mode silence jadi ga tau kalau kamu lagi chat!"


"Alesan lu aja, bilang aja kalau lagi mabar ama Dimas, atau rekan setim lu yang nolep nya minta di tabok." Maksudnya Dafa mungkin.


"Serah kamu deh, aku kesini bukan pengen dengerin bacotan kamu!"


Dia menyusup masuk dari pangkal pahaku dan memposisikan kepalanya berada tepat di atas perutku.


"Jadi tujuan lu kesini pengen ngapain?" Tanyanya tersenyum sambil menggerak-gerakkan permen tangkai yang ada di mulutnya sampai menusuk perutku.


"Kan ka-kamu yang nyuruh aku kesini!"


"Tapi kan lu bisa nolak kalau gak mau. Biasanya kan lu nolak dengan berbagai macam alasan!" Dia memancingku.


"A-aku mana berani nolak!" Bicaraku sudah tak terkontrol saat dia mengelus pahaku dengan lembut menggunakan wajahnya.


"Muka lu kenapa?" Pancingnya tersenyum.


"Ja-jangan pura-pura gak tau?" Balas ku memalingkan tatapanku saat seluruh wajahku telah memerah.


"Gua beneran gak tau!"


Tangannya beralih memegang bawah lututku dan mengangkatnya sejajar dengan bahuku, sehingga posisi memalukan ku terekspos.


"Bisa gak kita nyelesainya sekarang!" Bisiknya lalu melempar permen tangkai yang ada di mulutnya ke tempat sampah.


"Ga-gak usah izin!" Pekik ku menutup wajahku dengan kedua tangan.


Dia menarik kaki ku hingga kepalaku tersentak menyentuh bantalnya, kemudian dengan berlahan dia menyingkap bajuku sampai seluruh perutku terlihat.


"Jangan tutup mata. Mubazir." Ujarnya di akhiri suara kekehan menyebalkannya.

__ADS_1


"Aku takut!" Jawabku, terus merapatkan tanganku di depan wajah.


"Baca doa kalau takut, lagian..."


"Gak usah, ngomong, entar kamumalah grogi lagi!!" Pekik ku memotong perkataannya.


"Pagi itu ama sekarang kan beda!" Jawabnya sambil menanggalkan seluruh bajuku.


Seluruh tubuhku di baluti oleh rasa dingin yang menusuk, entah karena AC nya yang terlalu kencang atau karana rasa gemetar di saat posisi sadar, aku secara suka rela membiarkan Archie melucuti pakaianku, sehingga kini hanya menampakan tubuh bagian atasku yag hanya berbalut underware hitam dengan renda.


"Mana bisa gitu!" Ujarnya sambil menyingkirkan tangan yang menutupi wajahku.


"Tapi aku beneran takut!" Ucapku sambil membuka mataku.


"Kita tuh kayak pasangan ABG labil tau gak!" Responnya sambil tertawa.


"Mau gimana lagi. Aku beneran gak pengalaman soal ginian, bahkan pacaran pun gak pernah!" Jawabku gemetar.


"Oh ya!" Ujarnya sambil merangkak menuju atas tubuhku sampai pandangan kami sejajar."Kalau gitu, biar gua ajarin!"


Tok tok tok....


Belum sempat kami berdua memulai aksi yang amat sangat di tunggu oleh ratusan juta umat manusia di dunia, gangguan pun tiba-tiba datang menghampiri.


Tok tok tok....


Ketukan pintu itu terus berlanjut, seakan menyuruh Archie untuk segera membuka pintu.


Tok tok tok...


"Bentar!" Ujarnya sambil menuju pintu dengan wajah kesal.


Ceklek...


Setelah membuka sedikit pintu kamarnya dan menyembulkan setengah tubuhnya dibalik pintu, dia hanya diam dan tak berbicara.


"Kenapa?" Ujarnya sambil keluar dari kamarnya dan menutup pintu tersebut dari luar.


"Archie. Gua mau ngomong."


Suara wanita?


Bukankah itu Yoona. Aku diam dan mendengarkan dengan teliti apa yang mereka berdua perbincangkan.


"Ngapain lu malam-malam dateng ke kamar gua!" Cerca Archie.


"Kenapa sifat lu berubah kayak gini! Apa lu beneran udah anggap kita gak ada hubungan apa-apa?" Pekik Yoona.


"Pergi. Gua mau istirahat" Jawab Archie.


"Archie!" terdengar suara Yoona yang setengah menangis.


"Kasih gua satu kesempatan!"


"Pergi gak!" Bentak Archie.

__ADS_1


"Kasih gua kesempatan, tolong!" Yoona terdengar memohon dengan suara bergetar.


"Gua udah bilang kan..."


"Please kasih gua kesempatan lagi! Gua bakalan lakuin semua yang lu mau, beberapa kali pun lu butuh gua, gua bakalan lakuin semua permintaan lu. Please, gua udah ga tau lagi harus ngapain!!"


"Lepas!" Hardik Archie yang terlihat kehilangan kesabaran.


Terdengar hening sesaat dan di iringi oleh isak tangis Yoona yang mulai menggila.


"Tolong Satu kali ini aja. Gua janji ga bakalan bikin lu kecewa." Ujar Yoona lagi.


"Astaga!!" Archie terdengar mendesah dengan berat. "Ok gini. Gua bakal kasih lu kesempatan terakhir. Tapi ini yang terakhir." Ujar Archie.


"Makasih Shie" Ucap Yoona sambil tertawa senang. "Gua janji bakalan nurutin semua yang lu mau!!"


Entah apa yang sedang terjadi di luar sana, tapi aku bisa merasakan bahwa dadaku berasa sesak saat mendengar semua pembicaraan mereka berdua dengan jelas.


"Gua mau istirahat." Ujar Archie sambil membuka pintu dan masuk kedalam.


Bbraaakk.....


Aku langsung memungut bajuku yang berada di lantai dan memakaikannya.


"Aku mau balik ke kamar ku!" Pintaku sambil berjalan melewati tubuhnya yang berdiri disamping pintu.


Saat aku membuka pintu kamar tersebut, dia malah mendorong kembali pintu tersebut sehingga kembali tertutup rapat.


"Anya!" panggilnya berusaha mencari wajahku yang sengaja ku tekuk agar tak terlihat.


"Aku, beneran harus balik ke kamarku!" Jawabku sebelum dia mengatakan apa pun.


"Itu semua gak seperti yang lu pikirin!" Ujarnya terus berusaha mencari wajahku.


"Aku mau ke kamarku!" jawabku memegangi gagang pintu.


"Apa lu gak mau dengerin penjelasan gua dulu!" Pekiknya yang mulai kehilangan kesabaran.


"Kamu bakalan tetap menjadi lelaki brengsek di depanku!" Jawabku tanpa melihatnya dan memegang erat gagang pintu.


Dia hanya tersenyum getir menatapku, dengan menundukan kepalanya di dekat telingaku.


"Meskipun gua brengsek!" Bisiknya. "Tapi lu masih mau gua tidurin!!"


Aku langsung membuka pintu kamarnya dengan amarah yang berkecamuk di dalam dada, aku berlari sekuat tenaga.


bisa-bisa nya aku hampir menyerahkan diriku sendiri pada laki-laki semacam itu, bahkan aku hampir lupa kalau dia tak kan dengan mudah melepaskan selir-selirnya meskipun aku sudah menyerahkan diri.


Brrrukkk.....


Karena terlalu marah dengan Archie, tanpa sengaja aku malah menabrak seseorang yang sedang berjalan di hadapanku.


"Anya!" Panggil orang tersebut sambil memegangi kedua lenganku.


"Ka-kak Dimas!" Ujar ku dengan pandangan melotot saat mengetahui kalau semua anak-anak cowok sudah pulang dan semuanya melihatku keluar dari kamar Archie dalam keadaan marah dan hampir menangis.

__ADS_1


"Abis ngapain?" Tanya Dimas memandangi ku bersamaan dengan Archie yang berdiri menatap ku di gawang pintu kamarnya.


__ADS_2