Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Orang Yang Tepat


__ADS_3

"Archie. Wait?" Pekik ku berusaha melepaskan diri dari gendongan nya.


Namun kekuatan ku tak sepadan dengan nya, jangan kan terlepas, pergerakan ku saja terbatas saat berada di dalam rengkuhan nya.


Ooh.. perasaan ini. Apa benar malam ini dia akan menghabisi ku.


Semakin ku pikirkan, semakin ku ketatkan pegangan ku ke lehernya, sampai rasanya ubun-ubun ku mulai mendidih.


Dia membawaku ke kamarnya, menghempaskan ku di atas kasurnya, membelai tubuhku dengan sentuhan sesual yang membuat ku bergetar ngeri.


****.. Sentuhan ini membuat ku menginginkan lebih.


Berlahan Archie membalik tubuhku dan mengecup rapat keseluruhan leherku, beraturan, berderet, sampai mata ku terpejam menikmati permainan ini.


"Suki da. 好きだ." Bisiknya di tengah kecupan lembutnya. *Translate; I love you.


"Daisuki da. 大好きだ." Ucapnya terus mengeluarkan racauan kecil dari mulutnya yang terus melancarkan aksinya di atas leher jenjang ku. *Translate; I love you so much.


Dengan pandangan menengadah ke atas, mata ku sejurus menatap langit-langit dan juga lampu kamar yang memberikan penerangan sepadan, menikmati setiap perlakuan indahnya. Tubuhku bereaksi semakin menggelinjang di timpali nafas pendek seiring kecupan liarnya yang semakin melorot ke bawah.


Akhirnya dia berhasil mengukung tubuh ku dalam tubuhnya dan menikmati bagian atas tubuh ku dengan kecupan demi kecupan liarnya. Semakin aku terlihat menggeliat hebat di atas ranjang, Semakin pula dia mendaratkan kemampuan liarnya di atas tubuhku.


Sampai akhirnya aku terkesiap dan melupakan sesuatu yang amat sangat penting.


"Archie...aku..." Ucapku di tengah lenguhan nikmat, saat dia menjilati seluruh bagian tubuh atasku yang terbuka.


"Sssstttt....!!" Potongnya mendesis meminta ku untuk diam di sela-sela kecupan nya yang semakin menjadi menuju pegunungan Himalaya.


"Tapi aku....Aauuwwhhh..."


Gigitan yang kasar mendarat dia atas bahuku, sehingga suara mengaduh lolos begitu saja keluar dari mulut ku, sebelum sempat aku mengakhiri perkataan ku.


"Archiee...!!" Pekik ku kembali lirih di sela napas nikmat yang terasa memabukkan. "De-dengar du-dulu..!" Sambungan ku berusaha sebisaku agar mendapatkan kesempatan berbicara.


Archie terlihat tak bisa di kontrol, mungkin dia sudah lelah karena selama ini aku tak pernah membiarkan nya menyentuh ku seperti ini. Namun tetap saja, ini gawat. Akan berbahaya jika dia tak memahami keadaan ku.

__ADS_1


Sebisa mungkin aku mendorong tubuh nya agar menjauh dariku dengan cara meronta-ronta, namun semakin aku melawan, semakin pula tubuhnya beringas menggerayangi ku.


Sampai rasa nya celana ku melorot dan turun ke bawah sampai di pertengahan paha. Saat itu juga, aku langsung menaikan tubuhku ku tepian kasurnya.


"Stoop, Archie stop!!" Pekik ku sembari menahan celanaku yang hampir terlepas seluruh nya.


"Aku lagi haid!" Ucapku menatap nya yang masih di iringi napas menggebu, di lingkupi oleh napsu birahi yang amat kuat.


"Hhuhh...!!" Responnya yang sedikit ambyar karena poreplay yang menguras jiwa dan raga ini.


"Aku lagi datang bulan!!"


***************


"Bentar Lai. Aku baru nyampe." Ucapku di dalam panggilan telpon, sembari berjalan setengah berlari menuju gedung jurusan ku.


Namun langkah ku terhenti saat melihat punggung sosok lelaki yang ku kenal, berdiri memunggungi ku, seperti sedang menunggu seseorang yang dia cari.


"Kak Dimas!" Sapaku sembari mendekat ke arahnya.


Mendengar sapaan ku, dia membalikkan badannya. Dan terlihat lah bekas memar yang yang masih membekas biru di sekitar wajahnya, dan juga bekas jahitan yang berderet rapi di kening nya.


"Baik kok kak!" Jawab ku agak kikuk sambil duduk di samping nya. "Kakak sendiri?"


Dimas terlihat terus tersenyum getir yang di paksakan, sembari tersenyum dia menatap langit luas. "Tiga hari yang lalu gua baru aja keluar dari rumah sakit."


Aku menundukan tatapan ku dan melihat hamparan dedaunan kering yang tarjatuh dari pohon di dekat kami. "Gara-gara aku. Kakak juga jadi ikutan terlibat." Ucapku dengan nada bicara bergetar.


"Maaf!" Sambungku meremas telapak tangan ku sendiri.


Dimas terlihat iba dan menatapku yang tertunduk lemas. Ada perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya yang melihatku dalam keadaan lengah di atas segala yang terjadi saat itu.


"Gua gak nyalahin lu kok!" Ucapnya berusaha mengambil alih pembicaraan ini agar tak membuat ku terpuruk.


Dimas memandangi kembali hamparan langit luas sembari menyandarkan tubuhnya ke badan kursi. "Gua malah bersyukur. Akibat kejadian ini gua bisa memahami arti sebenarnya sebuah pengorbanan."

__ADS_1


Aku mengangkat pandangan ku dan memfokuskan perhatian ku kepada nya.


"Asisten pribadi Archie udah ngasih tau ke gua semuanya. Dia bilang gak bisa gak ngasih tau gua apa yang udah terjadi, karena gua juga ikut terlibat dalam hal ini. Tapi yang pasti, awalnya gua.."


Di tengah-tengah Dimas malah menghentikan pembicaraan nya dan menggenggam erat kepalan tangannya sendiri.


"Ahhh..." Desahnya sembari tersenyum dan memandangi langit, seolah sedang melepaskan beban berat yang berada di kedua pundak nya.


"Gua ga tau, apa alasan kalian berdua nyembunyiin hubungan dalam artian ikatan yang sah ini kepada publik. Hendri gak ngasih tau gua detilnya. Tapi, akibatnya beneran bakal fatal terhadap perasaan kalian berdua." Ucap Dimas melemaskan otot lehernya dengan terkulai di badan kursi. "Tapi juga bakalan fatal sih, kalau publik tau kalau kalian udah nikah dan bukan cuman sekedar pacaran." Lanjutnya.


Dimas menegakkan tubuhnya dan kembali menatap ku.


"Apa pun alasannya, gua ngiri ngeliat hubungan sempurna kalian." Ucapnya di iringi seringai tulus yang halus. "Ama lu, maupun Archie. Gua benar-benar ngiri ama kalian berdua."


Aku tersentak mendengar penuturan nya. Spontan ku arahkan tatapan ku ke arah wajahnya yang masih menebarkan seringai.


"Loh kenapa?" Tanyaku.


"Cinta kalian berdua terlalu sempurna jika di katakan cinta dunia nyata!" Jawab nya.


Seketika aku langsung membelak heran mendengar penuturan nya, walaupun demikian aku tetap diam dan tak mengungkapkan yang terjadi sebanyak yang dia ketahui.


"Gua ngiri jadi Archie." Ungkapan nya. "Kenapa?" Tanyanya sendiri.


Dia merentangkan kedua tangannya seperti menyambut ku. "karena Archie udah dapetin wanita hebat dan sabar luar biasa kek lu, yang mesti jaga perasaan lu sendiri, saat liat lakinya bareng cewe lain tanpa kejelasan."


DEG...


Seketika aku langsung termangu mendengar penuturan nya.


"Dan gua ngiri ama lu." Lanjut Dimas lagi. "Kenapa?" Tanyanya sendiri.


Dia kembali merentangkan kedua tangannya mengarah kearah langit. "Lu yang dapetin cinta luar biasa dari laki-laki yang rela ngorbanin segalanya demi istri tercintanya, bahkan mati-matian bilang gak mau ngelepas lu meskipun dia bukan ayah dari bayi yang istrinya kandung." Ucapnya sembari tersenyum seperti orang yang menerima kekalahan nya secara sportif.


"Untuk alasan apapun, bagi gua Archie terlalu sinting dalam ukuran lelaki normal, bahkan dia pen bikin gua mati kalau gua masih nyoba ngusik idup kalian berdua."

__ADS_1


Dimas menatap ku dengan pandangan tulus, sampai remangan kedua mata bulatnya seakan sedang menghantarkan ku menuju sebuah pulau indah yang di tanami oleh bermacam-macam jenis buah lezat di seluruh dunia.


"Gua bisa tenang sekarang," Ucapnya dengan nada lirih dan mata yang tampak berkaca-kaca. "Akhirnya lu udah dapet orang yang benar-benar tepat."


__ADS_2