Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Vacation Part 23


__ADS_3

Aku meronta dan bersiap untuk memukul kepala orang itu menggunakan benda apa pun yang ada di dekatku.


Namun di detik terakhir saat-saat menegangkan itu terjadi, dia langsung bersuara.


"Sssttt....ini gua!!" Ucapnya lalu membuka hodie yang menutupi kepalanya.


"Archie!!" Panggilku sambil terengah-engah dan menyingkirkan tangannya yang tadi membekapku.


"Ikut gua keluar bentar!!" Pintanya sambil berbisik agar anak-anak lain tak ada yang mendengarnya.


Aku pun, patuh dan mengikutinya keluar dari tenda.


"Archie, ada apa?" Tanyaku yang melihatnya duduk sendirian di depan perapian.


"Sini lu!" Pintanya lalu mengibarkan selimut dan memintaku untuk masuk ke dalamnya, dan bermaksud menghangatkan diri bersama tubuhnya.


Aku pun tersenyum senang kemudian berlarian kecil dan masuk ke dalam selimutnya.


"Kenapa lu senyum-senyum gitu!?" Tanyanya sambil memelukku.


"Aku kangen Archie!!" Balasku manja.


"Yaudah sih, tar kita pake tenda yang kosong aja buat berdua."

__ADS_1


Aku langsung tahu arah pembicaraanya, dia bermaksud melibasku meskipun di balik tenda tipis dan banyak anak-anak.


"Ahh..gak usah, anak-anak bisa serangan jantung jika mendengar suara kita berdua yang berisik!!" Balasku.


"Hah, loh kok berisik sih. Kita kan cuman tiduran bareng biar lu ga kangen."


Wajahku langsung memerah karena malu, ahh..aku berfikir terlalu jauh, memang ternyata kalau berada di dekatnya pikiranku selalu tak ada yang beres.


"Tiba-tiba dingin ya, ternyata tinggal di pegunungan di tengah hutan tuh rasanya kayak gini." Dia mangkin merepetku.


"Kayaknya karena habis ujan tadi siang, mangkanya cuaca sekitaran sini jadi turun." Balasku.


"Apa lu punya informasi dari Ruana!" Dia masuk ke dalam topik permasalahannya.


"Gitu ya!" Balasnya pasrah.


Kami pun lama terdiam dan memperhatikan perapian yang berkobar.


"Archie!!" Panggilku.


"Hmmmh..!!"


"Setelah ini, apa pun yang terjadi nantinya, aku ingin tetap bersama mereka?" Ucapku sambil bersandar di bahunya.

__ADS_1


Archie terperanjat dan menatapku dengan sungkan.


"Lu milih tetap bareng mereka meskipun lu tau mereka penghianat!!" Dia murka.


"Aku tak bisa membuang mereka gitu aja, kamu tau kalau aku menganggap mereka lebih dari seorang teman!!"


Archie membuang tatapannya dan menghembuskan napas panjang.


"Gua tiap ari selalu mikir, orang seperti apa lu ini ampe rela ngelakuin ini semua cuman demi orang kayak gua." Dengusnya terlihat lelah. "Waktu lu nyelamatin gua dan ngunciin gua di lemari pun, waktu seakan berenti berjalan dan jantung gua berenti berdetak."


Aku memperhatikan siluet wajahnya yang berwarna oranye karena di terangi oleh cahaya perapian.


"Sekarang gua sadar, kalau lu tuh lebih ke bego dari pada di bilang orang baik!!" Dia menangis namun memalingkan wajahnya ke arah lain, dan air matanya membasahi selimut yang kami gunakan berdua.


"Lu tau ga, bego ama orang baik tu beda tipis, bahkan gada perbedaan yang relevan." Archie terus mengoceh dan menangis, bahkan ingusnya keluar banyak.


"Kau itu sedang memujiku kan!!" Ucapku yang kemudian mengusap-usap belakangnya.


"Enggak, gua lagi ngata-ngatain lu, lu tuh bege nya kebangetan. Gada otak sama sekali, bisa-bisanya ada orang sebege lu!" Dia meruntukku namun dengan ekspresi sedih minta ampun.


"Aku juga mencintaimu." Ucapku yang mangkin menempel di pundaknya.


Maaf part ini dikit karena kesehatan Author yang menurun..

__ADS_1


__ADS_2