Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Fakta Terselubung


__ADS_3

"Aku harap kakak merasa aman bersamaku seperti kakak sedang berada di sisi kakakku," Sambung Sakurai. "Jujur saja, ku pikir kakak akan menangis dan berteriak histeris saat menghadapi kejadian seperti itu, tapi tak ku sangka kakak sekuat itu sampai tak menunjukan ekspresi syok saat Hendri mengatakan kebohongan kepada polisi."


Aku mengernyitkan kening dan menggaruk punggung telingaku, "Yah, ku pikir akan gawat kalau aku mengacau." Balasku.


"Kami tertolong berkat kemampuan adaptasi kakak, maka dari itu sejauh ini kami menemukan salah satu fakta terselubung!"


"Fakta, terselubung?" Tanyaku.


"Kakak ingat dengan pria yang di temukan secara tidak sengaja di bawah tempat tidur!"


"Tentu saja aku ingat," Ucapku langsung heboh. "Sampai sekarang Hendri maupun Archie tetap bungkam dengan peristiwa itu, lalu apa kau tau apa yang sebenarnya terjadi?"


"Pria itu sudah meninggal!" Jawabnya spontan.


"A-apa?" Respon ku kaget.


"Selama ini, dia di masukan ke dalam sel tahanan khusus di mana hanya orang tertentu saja yang boleh bertemu dengannya. Namun sehari sebelum dia di temukan bunuh diri, dia bersaksi tentang sesuatu.."


"Apa yang dia katakan?" Tanyaku tak sabaran.


"Saat pertama kali tertangkap, hal pertama yang di ungkapkan nya adalah, dia seorang pembunuh bayaran yang di sewa oleh seseorang untuk menghabisi nyawa kakak dengan imbalan yang tak sedikit. Namun dalam waktu dekat saat kami menyelidiki lebih jauh tentangnya, ternyata dia bukanlah seorang pembunuh bayaran profesional, melainkan seseorang yang terlilit hutang dengan berbagai rentenir. Waktu kami menceritakan apa yang kami ketahui tentangnya, akhirnya dia angkat bicara mengenai sesuatu."


Sakurai berdiam diri sejenak kemudian melanjutkan, "Dia mengatakan kalau keluarganya sedang dalam bahaya jika dia tak segera membunuh kakak," Ujarnya setengah melirikku. "Selain itu dia juga mengatakan kalau orang-orang besar dari kalangan ataslah yang merencanakan semua ini."


"A-apa?" Balasku setengah terisak.


"Dia juga mengatakan kebenaran tentang pria yang ada di dalam foto itu, dan motifnya tak lain dan tak bukan adalah menjauhkan kakakku dari kakak, agar mereka dengan leluasa dapat menghabisi kakak dengan mudah tanpa perlindungan kakakku. Namun siapa sangka saat itu terjadi kakakku malah bersikap tenang dan membawa kakak ke tempat yang aman. Dengan ini rencana mereka gagal total tanpa mendapat sedikit pun hasil yang memuaskan. Dan pada malam terakhir pria ini hidup, dia mengatakan kalau ada beberapa organisasi pemerintah yang juga terlibat dalam rencana pelenyapan kakak, di ke esok harinya dia malah di temukan tak bernyawa dengan cara menggantung diri." Jelas Sakurai dengan detail,


"Namun..." Sambungnya tiba-tiba.


"Namun?" Timpalku.


"Setelah kejadian kemarin, dengan terlibatnya secara langsung aparat kepolisian lalu lintas yang merencanakan pembunuhan brutal ini, dapat di simpulkan kalau pria itu bukannya bunuh diri, tapi di bunuh oleh orang yang bersangkutan dengan organisasi yang dia maksud." Ujar Sakurai dengan tegas.


"Tapi untuk apa mereka melakukannya?" Tanyaku yang mulai panik dengan tubuhku yang sedari tadi terus gemetar.


"Tentu saja, karena mereka merasa kalau pria itu adalah ancaman serius. Mungkin ada banyak rahasia yang belum terungkap yang belum di katakan oleh pria itu, namun tanpa mereka sadari kematian pria ini malah menjadi bukti nyata keberadaan mereka." Jawab Sakurai.


Brruuuukk.....


Tiba-tiba saja kaki ku lemas dan pandanganku berkunang-kunang.


Seluruh tubuhku serasa kehilangan tenaga. Apa yang telah terjadi padaku, apakah mendengar perkataan Sakurai membuatku kehilangan kendali atas tubuhku.

__ADS_1


"Kakak!!" Pekik sakurai yang langsung memungutku tersungkur di bawah sofa.


"Hendri!! Hendri!!" Teriaknya dengan kencang.


Selang tak berapa lama Hendri datang ke tempat itu dan membantu Sakurai membawaku beristirahat di dalam kamar.


"Nyonya!!" Ucap Hendri dengan suara bergetar.


Tak bisa ku pungkiri jika saat ini Hendri setengah mati menahan ekspresi wajah tegangnya saat melihat kondisiku.


"Aku tak apa-apa Hendri!!" Balasku menghapus kekhawatiranya sampai seluruh tubuhnya memucat karena ketakutan.


"Saya benar-benar menyesal tidak mengatakan segalanya secara bertahap kepada Nyonya," Ungkapnya dengan penyesalan dan menundukan tatapan bersalahnya.


"Tidak, aku tahu maksudmu melakukan ini karena perintah Archie, dan aku mengerti kalian melakukan ini untuk melindungiku," Balasku. "Tapi, tak memberitahukan apapun kepadaku, dan menyembunyikan semua kebenaran yang mengancam nyawaku, itu benar-benar tindakan yang keterlaluan. Bagaimana bisa aku menjalani hidup dengan cara seperti ini."


"Nyonya, saya benar-benar menyesal." Balas Hendri tambah merunduk.


"Aku bukannya marah padamu, tapi..." Aku langsung berdiri dari tempat tidurku dan menjewer kuping Hendri sekuat tenagaku. "Tapi aku benar-benar maraaaahh..." Pekikku dengan wajah merah padam.


"Nyonya, aduuuuhhh.....telinga saya bisa copot. Nyonya maafkan saya!" Rengeknya kesakitan sambil berusaha mengimbangi arah pergerakan tanganku.


"Jangan ulangi lagi!!" Ucapku yang terus merong-rong tak puas.


"Ulangi sampai 100 kali!" Timpalku kejam.


"Saya berjanji tak akan menyembunyikan apa pun kepada Nyonya, Saya berjanji tak akan menyembunyikan apa pun kepada Nyonya..."


**************


3 hari kemudian.


"Woi, lu gak kenapa-napa kan?" Tanya Laila yang langsung menyerobot duduk di hadapanku bersama Arya. "Lagian ngapa lu ga ngasih tau gua kalau lu abis kena apes, mana ngeri banget korbannya pada meningan di tempat."


"Meninggal!!" Korek Arya yang tak tahan dengan candaan plesetan Laila.


"Maaf ya, soalnya Archie bilang kalau aku harus benar-benar istirahat di rumah, karena kalian tau sendiri kalau aku berani membantahnya!" Jawabku berbohong dan menggunakan Archie sebagai alasan.


Tak ada satu pun yang tau kejadian itu, meskipun di beritakan di media online dan surat kabar, identitas kami yang selamat dan korban yang meninggal semuanya di rahasiakan dan tertutup rapat. Hal ini menambah daftar kecurigaan ku terhadap orang-orang yang terlibat, apalagi kesaksian palsu Hendri yang di sengaja, dan begitu saja di terima oleh pihak berwajib tanpa penyelidikan terlebih dahulu.


Terbesit di pikiranku untuk memberitahukan hal ini kepada teman-teman terdekatku termasuk Laila, Arya, dan Libiru, namun demi keamanan ku dan juga mereka, Sakurai dan Hendri bersikeras melarangku menceritakan semua yang terjadi kepada siapa pun.


"Lu beneran gak apa-apa kan?" Tiba-tiba sebuah tangan mendarat lembut di atas kepalaku dan menepuk ringat ubun-ubunku. "Katanya, kecelakaannya parah banget." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Ku angkat lagi kepalaku untuk melihat lebih jelas sosok yang berbicara padaku, "Libiru!!" Sapaku setengah kaget saat dia datang dengan tiba-tiba seperti ini.


"Gua nanyak, lu gak apa-apa kan? Gila, parah banget ampe yang metong bejibun. Hoki lu ga nanggung-nanggung." Ujarnya penuh dengan energi ke lekongannya.


Aku diam saja dan menatap penuh heran pada Libiru yang mengoceh normal seperti biasanya.


"Ngapa lu bengong?" Tanyanya menyemprotku tepat di hadapan wajahku.


"Enggak!" Jawabku spontan sambil tersenyum nyengir, "seneng aja gitu, liat kamu udah kembali normal kayak biasanya!" Ucapku menepuk lembut bahunya.


Laila dan Arya saling bertukar pandang dan menatapku.


"Lah emang Abang pernah normal," Timpal Laila yang mulai ngajak ribut. *Panggilan Abang di tunjukan khusus untuk Libiru. "Mubazir tuh muka, cakep-cakep malah lecek!!" Laila mulai ngajak gelud.


"Gak boleh gitu lai, Abang nanti terharu!!" Timpuk Arya yang makin menjadi-jadi.


"Ga ngotak lu bedua, ngajakin gua triping mulu siang-siang!!" Bacodnya yang selalu termakan omongan mereka berdua.


"Udahlah, jangan ribut terus. Kita kan udah lama gak ngumpul bareng!!" Lerai ku menyudahi perseteruan mereka.


"Ga tau nih, ubur-ubur kering ama paprika yellow ngapa pada ngajakin gua ribut mulu kalau ketemu, ga kangen apa gitu ama gua!!" Cetusnya dengan gaya khas penekanan tempo bicara seorang diva.


"Shit, gua jadi pengen tambah ngatain." Ucap Arya sambil tertawa cekikikan.


"Kangen Bang, kangen. Ampe ngac*ng anu gua kalau mikirin Abang." Ledek Laila.


"Najis lu ubur-ubur kering," Balas Libiru meledak dan mentower jidat Laila.


"Lagian kemana aja lu, gak pernah keliatan?" Tanya Laila.


Saat pertanyaan seperti itu terlontarkan tanpa sadar Libiru langsung melirikku dengan wajah gelisah.


"Gua kerja part time?" Balasnya dengan ragu-ragu.


"Kerja? Loh ngapa Bang, tumben!" Tanya Arya.


Sekali lagi Libiru melirikku, "Gak kenapa-napa nyari kesibukan aja dari pada gak ngapa-ngapain abis kuliah." Balasnya spontan.


"Abang kan orangnya mageran, kok tumben-tumbenan pengen ngerepotin diri sendiri. Ingat gak dulu abang pernah ninggalin gua di pinggir jalan sendirian pas Abang keabisan bensin. Gua kira lama karna kios bensinya ga ketemu, ternyata malah ninggalin gua karna males muter balik." Curhat Arya yang terus membahas hal menyakitkan ini saat sedang membicarakan tentang keabsurd an Libiru.


"Bahas itu lagi lu," Balas Libiru yang tertohok.


"Bir, ini lu bukan sih?" Ucap Laila yang spontan langsung menunjukan HP nya kepada Libiru.

__ADS_1


__ADS_2