
"Ingat dengan apa yang telah kami ajarkan. Kami semua tergantung pada keberhasilanmu!" Ujar Madam Fleur sebelum menurunkan ku di depan dermaga dengan kapal pesiar mewah yang mengangkut para penumpang yang sudah berjejer rapi menunggu giliran naik.
Aku melangkah masuk ke dalam barisan antrian, dan bersikap tenang seperti yang sudah Jessie wanti-wanti agar tak mengundang kecurigaan.
Akan tetapi, kehadiran ku yang langsung bergabung ke dalam antrian, ternyata mengundang rasa penasaran di antara mereka yang baru pertama kali melihat ku.
Mereka grasak-grusuk berbisik sesamanya di belakangku dengan gimmik wajah khas perkumpulan kelas atas yang tak tahan jika tak membuat perbincangan jika ada sesuatu yang di rasa mengganjal di kepala mereka.
"Dia siapa?"
"Dia berasal dari mana, apa tadi kalian melihatnya?"
"Aku baru pertama kali bertemu dengannya, apa dia baru di sini?"
Suara mereka bahkan langsung terdengar di telingaku, mengalahkan suara bising terompet kapal barang yang parkir di bibir dermaga.
Bahkan sebenarnya mereka sengaja melakukan ini kepada orang yang baru pertama mereka temui untuk mengetes ketahanan mental. Jessie mengantakan jika perkumpulan kelas atas sengaja menggunakan metode ini untuk mempertahankan posisi mereka. Semangkin mereka menjatuhkan sesamanya menggunakan kelemahan, maka semangkin tinggi juga posisi mereka di dalam perkumpulan.
"Huffftt..tenang-tenang. Ingat saja apa yang harus ku lakukan!" Gumamku mengacuhkan mereka sambil membenarkan letak kacamata hitam.
"Permisi Nona, apa bisa minta kartu membernya?" Tanya penjaga yang berjejer di pintu masuk dermaga.
Aku memberikannya sambil berusaha mengacuhkannya dan melihat ke arah lain. Karena setelah memberikan kartu member, dia melirikku lama dan memeriksa kartu yang ku berikan hampir selama semenit.
"Silahkan masuk Nona!" Ucapnya tiba-tiba setelah sekian lama. "Selamat datang di tempat kami!" Lanjutnya sambil menjulurkan tangannya menyambutku menaiki tangga kapal.
Aku meraih tangannya dan berlahan naik dengan anggun sambil melirik orang-orang yang tadi membicarakanku di belakang. Aku menatap mereka semua dengan angkuh, melenggak seperti burung elang di atas buruan dan mengibas rambutku sebagai penutupan.
Mereka semua terperangah memperhatikanku, tak bisa berkata-kata karena kesan pertama yang ku berikan begitu kuat sehingga berhasil membungkam rasa penasaran mereka. Sekali lagi spekulasi Jessie tentang perkumpulan kelas atas benar lagi, jika kesan pertama adalah hal terpenting dalam memberi pengaruh.
Saat berada di pintu masuk kapal pesiar, seseorang menyambutku dan langsung mendekatkan wajahnya di telingaku.
"Ikut aku!" Bisiknya lalu kemudian membungkuk agar tak di curigai.
Seorang pemandu yang ku yakini sebagai salah satu bagian dari orang-orangnya Madam Fleur menggiringku ke sebuah kamar mewah. Laki-laki ini menjelaskan tugasku dan tugasnya dan menunjukkan kamera tersembunyi yang berada di balik bupet dan juga di balik pintu yang ada di kamar ini. Sebelum pergi dia memintaku memberikan botol kaca yang nantinya akan di gunakan untuk membius target. Lalu dia juga berpesan untuk tak berbuat kesalahan sekecil apapun itu karena akan berakibat fatal terhadap keselamatanku dan juga dirinya.
"Silahkan beristirahat, karena nanti setelah kapal ini melaju. Tugasmu yang sebenarnya baru di mulai!" Ucapnya lalu menutup pintu kamar dan pergi meninggalkan ku.
Aku menghembuskan napas panjang, berjalan ke arah bupet dan belakang pintu lalu memeriksa kamera pengawas yang berukuran sangat kecil seukuran kancing.
"Baiklah!" Ucapku sambil merenggangkan tubuhku dan melihat ke sana kemari lalu menutup kedua kamera itu dengan selotip hitam.
"Aku juga butuh privasi!" Gumamku dan kemudian merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dengan serampangan.
*************
Pats....
Lampu kapal di nyalakan, suara musik klasik dengan saxophone mengalun indah di iringi oleh keriuhan orang-orang yang beradu kelas sosialnya dengan penampilan. Rata-rata outfit yang mereka kenakan adalah pakaian kasual yang mempertunjukan kasta. Semangkin tinggi status sosialnya, maka akan semangkin mahal dan nyetrik pula penampilan mereka.
Madam Fleur sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, dia bahkan memperhatikan detil penampilan yang akan ku gunakan untuk bersaing dengan perkumpulan ini.
Aku menelisik jauh di sudut kapal memperhatikan gerak-gerik mereka dengan tujuan menganalisa keadaan sebelum bertindak. Dan benar saja, ternyata mereka semua terusik melihat kehadiranku di tempat ini, terlebih kedatanganku membuat heboh dan menjadi pembicaraan yang panjang sesama mereka tentang siapa aku sebenarnya.
__ADS_1
Tindakan intimidasi adalah hal lumrah yang di lakukan kalangan perkumpulan atas untuk menguji anak baru. Mereka sengaja terlihat membicarakanku, lalu mengabaikan ku seperti angin.
Meskipun Jessie dan Madam Fleur terus mengingatkanku agar bersikap acuh dan tak memperdulikan hal ini, namun tetap saja, kaki ku gemetar menatap sorot mata mereka yang kejam.
Di dalam kesendirian ku, tiba-tiba secara tak di duga dua orang pria mendekat dengan gelagat mencurigakan.
Aku ingin pergi menjauh, tapi terlambat. Mereka sudah berada di sekitarku.
"Selamat malam Nona. Apa kami boleh bergabung!?" Tanya salah satu dari mereka, bertindak sopan dan menanyakan kesedianku.
Aku mengangguk dan tersenyum simpul untuk menyamarkan rasa tak nyaman.
Temannya terlihat mengintimidasi tubuhku dengan tatapan menjijikan.
"Apa kau baru di sini. Sepertinya aku tak pernah melihatmu?" Tanyanya.
"Ahh..benar!" Jawabku kikuk.
Mereka tertawa aneh mendengar jawaban kikukku dan tambah mendekat.
"Benarkah, pantas saja aku baru pertama kali melihat wanita cantik seperti ini. Apa kau sendirian, tak punya teman!?" Ucap temannya yang tiba-tiba antusias dan sok akrab sambil mendekat hampir memepet tubuhku.
Aku tak menjawab dan berusaha menghindar dengan mengacuhkan mereka.
"Hei, kalau kau tak punya teman. Bagaimana kalau kami berdua temani!" Bisik nya di dekatku.
Aku menjauh lalu membalasnya dengan tertawa canggung.
"Kau ini pemalu ya!" Ucap mereka tiba-tiba, sebelum aku benar-benar meninggalkan mereka berdua.
Aku berhenti dan membalikkan tubuhku.
"Apa kau melakukan ini karena ingin menarik perhatian pria seperti kami!" Ucap temannya tiba-tiba mendekat dan bernapas di dekat leherku.
"Apa?" Aku kaget.
Mereka melihat satu sama lain sambil tertawa mengejek.
"Apa kau pikir kami berdua ini bodoh." Ujar pria itu mengitariku. "Kau sengaja sok jual mahal bertindak seperti wanita kesepian agar ada yang mengajakmu berbicara seperti ini kan. Lalu saat ada laki-laki yang mendekat, kau akan mengambil kesempatan itu dan menggodanya. Benarkan!!" Ucapnya seolah sedang memergokiku.
Menyebalkan, kenapa aku langsung di hadapkan dengan manusia seperti ini sebelum bertindak.
"Terimakasih atas perhatian kalian karena peduli padaku." Ujarku tetap tenang memasang senyum palsu lalu membungkuk. "Tapi aku benar-benar harus pergi sekarang." Sambungku yang kemudian meninggalkan mereka berdua dengan buru-buru.
Tapi mereka berdua berhasil mengejarku dan mencegatku tepat di pintu masuk kapal mengarah ke dek.
"Kau mau kemana, kenapa buru-buru sekali!" Ujar mereka berdua.
"Apa kau sedang ber-akting karena ingin kami anggap berharga!" Ucap temannya.
"Menyingkirlah. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian." Jawabku.
"Hei, apa kau tak sadar posisimu!"
__ADS_1
Aku mengerling dan melihat orang-orang yang memperhatikan kami bertiga menjadi tontonan menarik. Tanpa ku sadari, tindakanku yang mengabaikan mereka berdua secara terang-terangan ternyata membuat orang-orang tertarik.
"Cepat ikut kami, karena kalau tidak kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!" Mereka mengancamku.
"Apa yang kalian berdua inginkan?" Tanyaku.
Mereka berdua tertawa meledek.
"Temani kami berdua malam ini saja. Lalu jika kau setuju, kami akan melepaskanmu seolah tak ada yang terjadi!" Jawab mereka.
Aku menggenggam tinju karena geram. Mereka menganggapku seperti mainan. Tapi apa yang bisa ku lakukan di hadapan orang sebanyak ini, bahkan jika aku bertindak sembarangan dan membuat keributan, mungkin kesempatanku akan menghilang sebelum bertemu dengan targetnya.
Di saat para brengs*k ini terus merong-rong ku untuk menjadi mainan mereka. Tiba-tiba di arah timur, terdengar kerumunan orang yang berjalan sangat ramai di iringi gelak tawa.
Saat itu juga, si target pun muncul. Archie Yuaga, anak konglomerat itu berada tepat di hadapanku. Atmosfir di sekitar nya benar-benar sesak, dia berharga seperti makanan yang di kerubungi lalat. Lalu lalat-lalat itu mengerubungi nya karena ingin menitipkan telur-telur mereka di dalamnya. Tak kurang tak lebih, kira-kira seperti itulah kesan pertamaku saat melihat pemandangan ini.
Meskipun dia berada di keramaian dengan orang sebanyak itu, tapi keberadaannya benar-benar sangat menonjol seperti yang di katakan Jessie. Bahkan dari radius berkilometer dengan kamera paling tak bermutu sekalipun, orang ini akan terlihat tampan paripurna tanpa pelengkap embel-embel filter.
Aku membatu di buatnya, tak mampu bergerak, berkata-kata, maupun bertindak. Seolah rencana yang telah ku susun secara rapi untuk mendekatinya, seketika hilang dan terbang bersama hembusan angin laut.
Pesona nya mematahkan logika ku dalam sekejap, melumpuhkan kesadaranku, dan membawaku pergi dalam realita jika tugas mustahil ini benar-benar tak cocok denganku. Apalagi melihatnya yang di kelilingi oleh wanita aduhai berbadan bagus dan paha mulus-mulus.
"Kau sedang melihat kemana, apa kau sedang mengabaikan kami!" Ucap pria brengs*k ini menghardikku.
Aku menggenggam tinju karena bersabar, dan berusaha tetap tenang memperhatikan target yang sebentar lagi akan melewati ku.
"Hei, j*lang sialan!" Ujar temannya yang tiba-tiba mendekat dan menangkup daguku.
Aku mengepalkan tinju dengan napas tertahan.
"Kenapa kau diam saja, kau pikir kami ini siapa sampai kau berani mengabaikan kami!" Ucapnya berbisik di depan wajahku.
Aku tak membalas dan masih berusaha menahan emosi.
"Sekarang, beri kami uang. Maka aku akan menganggap kalau semua ini tak pernah terja..."
Plaaakkk....
Bruukk...
Semua orang membeku.
Suara musik berhenti, tak ada yang beraktifitas, dan mata mereka tertuju di suatu titik.
Tanpa sadar, tubuhku bergerak sendiri layaknya sebuah remot yang tak bisa ku kendalikan. aku membanting pria yang sedari tadi menggangguku dengan satu tangan, dan dia langsung terkapar bahkan tak sanggup melawan.
Dan yang paling tak terduga, aku membanting pria itu di hadapan Archie Yuaga beserta jajaran orang yang mengikutinya.
Saat aku mengangkat kepala dan pandangan kami berdua bertemu.
DEG...
Seketika saja di saat itu, aku menemukan suatu perasaan janggal yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1