Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Perjalanan Menyakitkan


__ADS_3

"Kak, aku udah di depan!" Ucap ku di dalam panggilan telpon sambil berdiri di depan kos-kosan dua lantai yang terlihat asri dan nyaman.


"Masuk aja Nya?" Ujar Dimas yang tiba-tiba keluar dari balik pintu yang tak jauh dari tempat ku berdiri sembari melambai.


"Gak usah kak. Aku gak bisa lama-lama!" Balasku mendekat kearahnya sambil merogoh tas ku dan memberikan flashdisk.


"Gak apa-apa. Lagian kan gak enak banget, lu udah jauh-jauh datang kesini masa gak masuk!" Ujarnya membuka pintu kosannya lebar-lebar.


"Tapi kayaknya aku beneran gak bisa lama-lama!" Ujar ku lagi berusaha menolaknya dan terus menjulurkan flashdisk ke hadapannya.


"Anya!" Panggilnya sambil menepuk kedua bahuku.


"Apa lu masih anggap gua orang asing, setelah dulu kita deket banget!!" Ujar nya memberikan penekanan padaku.


"Aku sebenarnya..."


"Ingat gak dulu." Ujar nya sambil mengenggam erat pundakku."Gua pernah nginep di rumah lu selama seminggu penuh saking gak kuatnya gua liat lu sakit, karna dirumah lu gak ada yang ngerawat." Ujar nya mempertegas hubungan antara kami berdua sambil menepuk kedua pundak ku.


"Ahh..itu!?"


"Hubungan kita aja udah sedekat itu, masa sih sekarang lu anggap gua kayak orang asing!" Timpalnya lagi meletakkan tangan hangatnya menyentuh ubun-ubun ku.


Dulu saat SMA, aku pernah terkena tipes disertai trombosit yang menurun drastis setelah 5 hari 5 malam begadang maraton nonton anime wanpis.


Setelah pulih dari rumah sakit, akhirnya aku harus mengistirahatkan diri dirumah selama seminggu penuh, akan tetapi kedua orang tua ku sangatlah sibuk dan tak sempat untuk mengurusi ku yang sakit, maka mereka meminta bantuan Dimas untuk menjagaku selama seminggu sampai kondisi ku pulih.


Kami dulu bahkan sedekat itu, bahkan kedua orang tua ku sangatlah senang dengan kehadiran Dimas di karena mereka juga tidak punya anak laki-laki. Dimas sudah seperti ini sejak dulu, dia selalu memperlakukan ku seperti adiknya sendiri, tapi perasaanku saat itu bukan seperti ini, aku sangat menyukainya. Bahkan ingin lebih dari sekedar teman atau saudara.


Entah sejak kapan kami berdua sama-sama menjauh dan menjadi sangat canggung untuk sekedar menanyakan kabar, mungkin sejak aku mengatakan di dalam chat iseng kepadanya kalau aku ingin lebih dari sekedar teman. Dan setelah itu dia seperti lebih sering mengabaikan chat ku dan tidak membalas nya selama berhari-hari, lalu tak lama kemudian, aku mendengar kalau dia sudah punya pacar dari anak-anak kampus.


Sejak saat itu aku berhenti mengirimi nya pesan, dan sudah terbiasa hidup tanpa kehadirannya.


"Tapi aku gak mau ada yang salah paham!" Balasku membuat alasan sambil terus menunggunya mengambil flashdisk yang ku sodorkan.


"Lu yang gak mau masuk kedalam dan ngobrol di depan kosan gini bukannya udah bikin yang liat jadi salah paham. Yang ngekos di sini kebanyakan anak kampus kita loh." Timpalnya lagi terus mendesakku.


"Tapi..!"


"Udah yuk!" Dia memimpin tanganku untuk masuk ke tempat nya.


Terlihatlah ruangan petakan yang sederhana ala kosan yang punya sepetak ruangan utama, satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi, namun tempat nya sangat nyaman dan juga bersih. Di ruangan tengahnya terdapat meja bulat lesehan yang berkaki rendah, disertai karpet beludru yang pasti punya emaknya yang dia colong dan di bawa ke kosan secara diam-diam.


"Pengen minum apa?" Tanya nya sambil pergi ke dapur.


"Apa aja deh kak!"


"Lu masih suka di omelin ibuk gak, gara-gara sering minum es bubuk sasetan yang wadahnya pake plastik minyak!" Tanya nya mengambil minuman dingin di dalam kulkas.


"Abis sakit, aku udah gak pernah lagi minum-minuman sembarangan!" Jawabku menatap punggungnya yang sibuk mengobrak abrik dapur.


"Bagus deh. Masih sering jajan micin juga gak!"


"Kalau itu sih yah gak usah di tanya!" Jawabku tertawa cengengesan.


"Anya apa kabar?" Ujarnya sambil meletakan jus jeruk kotakan beserta dua buah gelas di atas meja.

__ADS_1


"Baik kak. Kakak gimana?"


"Alhamdulillah baik juga. Udah lama ya kita ga ngobrol kayak gini, kok rasanya jadi canggung banget, dahal dulu kita gak pernah pisah!" Ujar nya sambil tertawa canggung saat mengatakan nya.


"Hee.iya!" Jawabku yang tambah canggung.


"Maaf ya. Semua ini gara-gara gua, makannya hubungan kita gak kayak dulu lagi." Ujar nya merendah kan nada bicaranya, seolah-olah merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi selama ini.


"Lah kok minta maaf. Kita kan udah sama-sama kuliah, kerjaan banyak, tugas numpuk, mana ada waktu buat main. Lagian kita udah sama-sama udah dewasa, itu kan cuman masa-masa lagi senangnya main waktu SMA!!" Jawab ku diiringi sedikit tersenyum basi melihat kearahnya.


"Tapi bagi gua, itu bukan cuman masa senang-senang main waktu SMA." Ucapnya tegas, diiringi nada bicaranya yang meninggi. "Ehh sorry. Kok gua ngomongnya kek gini sih!" Ujarnya lagi dengan wajah malu dan tak berani menatapku.


"Gua cuman..." Dia diam sesaat dan memandangi gelas kosong yang ada di atas meja."Gua pengen kita balik kayak dulu lagi!" Sambungnya dengan nada sedikit merendah dengan mimik muka yang terkesan menyesal menatapku.


Aku balas menatapnya saat dia berharap kalau aku akan mengatakan hal yang sama seperti yang dia utarakan padaku.


Dengan mengangkat pandangan ku dan tersenyum ramah, aku menghela nafas menandakan akan membalas perkataannya.


"Kita udah sama-sama dewasa kak!" Jawabku memandangi mata hitam bulatnya yang terlihat makin membesar saat aku membalas perkataannya. "Kakak juga tau kan, kalau aku dari dulu gak suka gangguin hubungan orang. Meskipun kita temenan, tetap aja gak bakalan bisa balik kayak dulu lagi!!"


Dia diam mematung sambil mengalihkan pandangannya melihat gelas-gelas kosong yang menghiasi meja.


"Maaf. Gua meminta hal yang mustahil lagi ama lu!" Jawabnya sedikit melirik ke arah ku."Pasti lu benci banget ama gua, setelah gua berani ngacangin chat terakhir lu yang bilang pengen lebih dari sekedar temen ke gua!"


"Gua beneran gak bermaksud buat ngacangin lu sumpah. Gua beneran punya alasan yang gak bisa gua sebutin sama lu, saat itu emang gua yang beg* nya kebangetan, tapi karena sekarang lu udah ada di depan gua. Gua mau jujur sama lu!" Cecarnya tak berkelit memandangi lekat kedua mataku.


"ANya!" Panggilnya pelan."Gua juga pengen anggep lu lebih dari sekedar temenan!"


Aku memandang balik kedua matanya yang melihatku seperti orang yang paling dia nantikan seumur hidupnya.


Dia mulai terlihat gusar memandangi ekspresi ku yang menganggapnya hanya bergurau.


"Anya. Gua serius!" Pekiknya sambil memegangi kedua lenganku.


"Haaah..." Ucapku yang bingung tak percaya.


"Gua serius!" Ulangnya lagi memandangi lekat kedua mataku.


"Gua beneran dari dulu udah sayang sama lu. Gua beneran suka sama lu dari pertama kali ketemu! Gua cuman, cuman...gak ada keberanian buat nyatain langsung ke lu."


Aku tambah kaget mendengar semua penjelasannya di tambah dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku dari waktu SMA.


"Gua pacaran dengan cewek lain, sebenarnya biar lu cemburu. Gua cuman mau bikin lu ngejar gua selama ini, tapi...kayaknya gua malah kelewatan, dan akhirnya kita malah putus hubungan dan gak kontak selama hampir setahun!!" Jelasnya lagi memegang erat kedua lenganku. "Gua... beneran pengen kita pacaran, Gua gak bisa gini terus, gua udah cukup tersiksa nungguin lu selama ini."


Dia semakin mendekat kearah ku dan merapatkan seluruh cengkeramannya menautkan kedua lenganku.


"Gua..."


Dia memandangi kedua mataku dan merapat ke tubuhku.


"Kak Dimas!!".Pekik ku sambil mendorong tubuhnya menjauh dari ku.


Dimas memandangi ku yang menolaknya secara terang-terangan dan menatap kedua mataku yang sudah tersirat kalau aku tidak lagi menginginkannya.


"Aku juga suka sama kakak!" Ujar ku sambil menundukan tatapanku tak berani menatapnya.."Tapi itu dulu, karena sekarang aku udah menyukai orang lain."

__ADS_1


"Hhaaah!!" Dia kaget. "Maksud lu apa Nya!" Responnya yang tak terima.


"Aku dari dulu juga udah lama suka sama kakak, dari waktu pertama kali kakak nganterin aku pulang kerumah karena takut balik les kemalaman, sampai kakak rela nginep seminggu dirumah buat jagain aku yang lagi sakit. Aku beneran suka sama kakak dan pengen lebih dari sekedar temenan. Tapi itu dulu kak, sekarang aku...udah gak punya perasaan itu lagi!!" Jawab ku yang jujur mengungkapkan semua isi hatiku.


Dia terlihat kaget memandangi kedua mataku.


"Ke-kenapa?" Ucapnya tak terima."Kenapa?" Tanyanya panik.


"Aku...aku udah punya orang yang aku suka!" Jawab ku sembari tersenyum kecut menatapnya.


"Aku udah punya seseorang yang ku sukai." Ulangku lagi agar Dimas mengerti perasaan ku.


Dia menggeser posisi duduknya yang semula merapat di hadapanku kemudian menjauh dan duduk di posisinya semula.


"Haaahh..." Dengusnya sembari memandangi langit-langit." Berarti gua udah gak punya harapan!" Ucapnya sambil tertawa basi menatap jus kotakan di atas meja.


"Gua udah tau kejadiannya bakal kayak gini! Dengan pedenya gua malah mikir kalau lu bakalan terus suka sama gua walaupun udah gua kacangin!" Lanjutnya sambil meraup wajahnya sendiri.


"Maaf!" Ujar ku menundukkan tatapanku kepadanya.


Dimas tersenyum kecut memandangi ubun-ubunku lalu mengusap lembut kepalaku.


"Gua yang harusnya minta maaf!" Balasnya yang sekarang sudah terlihat tenang."Gua yang jahat. Setelah gua ninggalin lu dan gak ngasih kabar sama sekali, terus pacaran dengan cewek lain. Dengan gak tau dirinya gua malah berani nembak lu dan bilang kalau selama ini gua udah lama suka sama lu. Gua beneran malu, gua beneran gak tau diri banget!!" Ucapnya mengakui semuanya padaku."Beruntung banget orang yang udah lu suka!" Ujar nya sambil menghembuskan nafas dalam.


"Yah!"


"Pasti dia bahagia banget, dapet orang kayak Anya!"


"Hhhhmmm..." Balasku singkat.


"Andai dulu gua gak ngelakuin tindakan konyol kayak gitu, mungkin gak kita bisa sama-sama sampai sekarang!" Ucap Dimas lagi terus mengungkit masalah itu.


Aku tak membalas perkataannya, meskipun aku dan dia jadian, tak kan merubah takdirku untuk menjadi istri orang lain. Bahkan mungkin akan lebih menyakitkan jika aku benar-benar pacaran dengan Dimas lalu menikah dengan Archie.


Sempat aku berfikir, kalau tuhan sudah memberikan jalan terbaik bagi masing-masing umatnya. Jika saja aku tak menempuh perjalanan menyakitkan yang secara gamblang di tolak Dimas saat itu, mungkin akan menjadi hal rumit saat aku masih menyukai Dimas namun di sisi lain


sudah menjadi istri orang.


"Loh. Udah lama dateng nya. Masuk aja gak usah bediri disitu." Ucap Dimas berbicara dengan seseorang di depan pintu yang kebetulan sedang ku pungggungi.


Terdengar langkah kaki yang masuk kedalam kosannya Dimas dan berdiri tepat di hadapan punggung ku.


"Bentar, gua mau ambilin gelas buat lu minum dulu!" Ucap Dimas sambil beranjak.


"Lu suka cola gak Shie!!" Teriak Dimas dari dapur.


*Archie, di baca Arshie.


"Shie!!" Gumam ku sambil diam mematung dan melirik kearah punggungku.


"Serah apa aja!" Jawab suara yang berada di belakang punggungku.


DEG...


Archie!!

__ADS_1


__ADS_2