
Sekitar 1 jam dari toko yang menjual barang-barang antik tersebut. Sampai lah kami ke hotel Wellness yang tempatnya berada di tengah-tengah pusat kota, dengan pemandangan hamparan taman bunga yang luas nan asri, serta bentuk gedung yang terkesan mengedepankan seni jaman yunani kuno dengan sentuhan patung sang dewa dan Dewi yunani pada bangunan altar gedung.
"Udah sampai." Ujar Archie membukakan ku pintu mobil.
"Hoooeeeekkkk....!!"
"Duh.." Archie kalang kabut saat tiba-tiba aku kembali memekik ingin memuntahkan isi perutku.
"Gak papa, ga papa!!" Ucap Archie sambil memegangi tengkukku. Dia tak hentinya khawatir setelah aku terus-terusan dalam kondisi yang tak baik setelah sampai di tempat ini.
"Istri anda cuman masuk angin dan kecapekan aja kok!" Ucap Dokter yang di panggilkan khusus hanya untuk memeriksa keadaan ku.
"Lagi pula seperti nya Nyonya, memang mempunyai masalah lambung!" Sambung Dokter tersebut sambil meresepkan obat untuk ku dan memilah beberapa jenis obat-obatan dan pil.
Aku berbaring di atas kasur memperhatikan tingkah Archie yang mondar-mandir mengkhawatirkan keadaan ku, bahkan sesekali dia menggigit bibir bawahnya sendiri sambil meremas outer yang melingkar di lengannya.
"Terimakasih Dokter Aurora!" Ucapku dan Archie setelah dia beranjak pergi meninggalkan kamar hotel.
"Kenapa gak bilang kalau lu punya masalah lambung!" Cecar Archie yang meringsutkan tubuhnya mendekati ku, sambil mengambil gelas yang berisi air putih.
Selama ini, aku juga tak pernah mengalami hal semacam ini, bahkan makan ku teratur dan terkontrol, hanya saja mungkin karena kejadian itu, aku tidak bisa mengontrol makan ku dengan baik sehingga mengalami penyakit lambung.
"Aku juga baru sadar!" Jawabku ngeles sambil meminum obat yang ada di telapak tangannya.
"Kalau lu sakit kek gini mending kita gak usah jauh-jauh dateng, mana bisa lu hadir ke kondangan orang kalau muka lu udah pucet kek gini." Ujarnya lagi sambil menepuk lembut wajahku, lalu menekan rahangku dengan telapak tangan nya hingga mimik wajahku aneh dengan bibir condong ke depan.
"Tapi aku mau tetep kondangan!" Gumam ku bicara di telapak tangannya, sambil melirik nya yang terkekeh konyol melihat wajahku.
Dia beranjak dari tepi kasur dan melewati tubuhku dengan bergeser hingga dia memposisikan tubuhnya untuk berbaring di sisi kasur yang lain.
Lalu dengan lembut tangannya melingkar menyusup di bawah tengkuk ku sehingga kepalaku berbaring di atas lengannya. Dengan sekali arah posisi bergeser, tubuhku langsung terpaut bersatu dalam pelukannya, terlebih lagi tubuh ku memang kecil sedangkan dia bertubuh besar seperti postur tubuh bule kebanyakan.
__ADS_1
Tanpa canggung dan ragu-ragu aku langsung membalas pelukannya dengan melingkarkan kan lengan ku yang mungil menempel pada pinggang nya sehingga responnya sedikit tersendat dan terkesan kaku. Namun hanya sesaat sampai akhirnya dia melingkar kan lengannya yang satunya menjurus pada punggung ku dan mengusapnya dengan lembut hingga ujung kepalaku.
"Tidur aja, besok lu harus sehat dan terlihat fit!" Ucapnya dengan suara lembut dan terkesan lirih.
Belaian nya semakin lembut, tetapi perkataanya malah menandakan jika dia benar-benar memberi batasan untuk tak mengarah ke tahap selanjutnya, karena kondisi tubuhku yang memang sedang sakit.
"Besok kita bakalan ngehadirin kondangan orang, ada banyak pasang mata yang ngeliat bentuk dan rupa menantu dari keluarga Yuaga yang terkenal dengan kekayaan nya yang gak bakal abis selama 7x reikarnasi." Ucapnya di iringi suara bergetar karena menahan hasrat untuk bercinta.
Aku hanya mengiyakan perkataanya dengan mengangguk pelan, dan membenamkan wajahku menyatu dengan dadanya yang bidang.
**************
"Anya, udah siap belom!" Pekik Archie dari luar kamar ganti.
"Bentar, aku lagi siap-siap." Jawabku sambil memutar kembali tubuhku dan memainkan gaun berwarna merah jambu dengan tile brukat yang menjutai sampai ke pergelangan kaki ku.
"Pucet!" Gumamku panik saat melihat wajahku sendiri di cermin dan memoles kembali pewarna bibir yang senada dengan warna gaun yang ku pakai.
"Udah!" Ucapku dengan nada linglung, karena terpana dengan penampilan nya yang urakan namun glamor, yang menandakan ciri khas status sosialnya.
Pangeran!
Mungkin itu yang terlintas di pikiran wanita yang pertama kali menatapnya saat memakai setelan elegan ini.
Dia memakai setelah suit berwarna pink cerah oleh brand ternama, dengan singlet tipis untuk memperlihatkan bentuk tubuhnya, yang di serasikan dengan sepatu pancus kulit bersol rendah.
Kami berdua memakai baju sponsor merek Pr*da, yang memang di targetkan dari brand ternama itu untuk di pakai bersama di dalam acara resmi untuk menarik perhatian.
__ADS_1
Archie merupakan Icon dari merek pakaian terkenal ini, dan beberapa kali tampil di runaway dalam berbagai musim, dan wajahnya acap kali terpampang di cover majalah.
*************
Kami berdua memasuki ballroom yang sudah terisi penuh dengan tamu undangan.
Terlihat dua mempelai yang terlihat berbahagia sedang menyambut para tamu dengan senyum merekah di liputi oleh suka cita.
Pemandangan seperti ini membuat hati ku kembali tergores, sehingga tanpa sadar tanganku yang masih bertaut pada lengan Archie jatuh melorot dan terlepas sendiri.
"Pegang yang bener, ahh...!!" Ucapnya sambil menarik tubuhku agar berjalan beriringan dengannya dan mengambil tanganku sendiri agar bertaut pada lengannya.
Terlihat kerabat dari salah satu mempelai pengantin laki-laki nya datang menghampiri kami berdua dengan ramah dan langsung menyambut kehadiran kami di dalam pesta ini.
"Terimakasih atas kedatangan nya tuan Yuaga Archie!" Tutur lelaki itu dengan sopan menyambut kehadiran kami berdua."Long time no see. Looks you're so busy." Sambungnya sambil mengulurkan tanganya pada Archie.
Archie membalasnya sambil mengulurkan tangannya menyambut dengan antusias sambutan hangat dari kerabat mempelai.
"Ga sibuk-sibuk banget kok, perasaan Anda aja kali yang liat saya sibuk!" Ucap Archie sambil menyodorkan senyum gaje yang membuat siapa saja merinding ingin mencubitnya.
Terlihat senyum getir yang di paksakan oleh kerabat mempelai pengantin tersebut, setelah mendapat respon absurd dari Archie.
"Mohon Maaf, papa tidak bisa menyambut kedatangan anda bersama istri anda secara langsung karena harus menemui putra colega nya yang datang dari London di meja sana." Ucapnya sambil menunjuk di sebrang meja.
Ssreett...
Tiba-tiba Archie menarik tangan kerabat mempelai tersebut dan memposisikan kupingnya untuk mendekat ke bibir Archie.
"Gosah formal!" Ucap Archie dengan berbisik dan penuh penekanan.
"Gua merinding kalau ngomong formal, apalagi kita udah sering ketemu!!" Lanjutnya sambil melepaskan tangannya yang masih menjabat tangan lelaki itu, yang kemudian berjalan meninggalkan tempat itu layaknya pangeran tampan yang minus akhlak.
__ADS_1
Aku yang malu melihat tingkahlakunya, hanya bisa menundukkan kepalaku pasrah kepada kerabat mempelai yang masih cengo memperhatikan punggung Archie.