
"Gak bisa ya diem aja kalau lagi gua sayang-sayang!"
Suara ini, bau tubuh ini.
****!
Sontak aku langsung melepaskan tangannya yang masih mendekam mulutku.
"Archie?" Pekik ku sembari mengambil napas tersengal dengan menjauhkan sedikit tubuhnya.
Tak ada yang bisa menjelaskan rasa bahagia ini, rasa yang terkandung begitu dalam memacukan hormon endorfin keseluruhan tubuh ku. Sehingga tanpa bisa ku tahan-tahan, air mata bahagia pun mengucur deras membasahi pipi ku.
"Kaget lu?" Bisiknya tersenyum nakal di telinga ku sambil menyibak rambut yang menutupi rapat leher jenjang ku.
"Apa sih!" Ucap ku yang kemudian menerkamnya dan memeluk tubuh nya erat sampai rasanya ingin bersatu bersama tubuhnya.
"Gua kangen banget sama lu." Ujarnya mengusap lembut kepalaku.
Aku membalas nya dengan anggukan kasar penuh penentuan, sembari mengetatkan pelukanku pada tubuhnya.
"Sama!" Ucapku, "Saking kangennya, udah kayak mau mati!"
Kami berdua terkekeh bersamaan dengan pelukan hangat yang lama tak pernah kami rasakan selama hampir berbulan-bulan ini.
"I love you!" Gumamku membekap wajahku sendiri di kubangan dada nya.
Archie merapatkan pelukan nya pada tubuhku sembari terkekeh kecil menyebalkan. "I love you so Much, more than you b*tch.." Jawabnya di iringi kekehan menyebalkan.
"I love you bastard.." Balasku tak mau kalah sembari meremas punggungnya dengan jari-jemari ku.
"Aaahhhh...!!" Desah nya keras menikmati remasan tanganku yang menancap di punggungnya.
__ADS_1
"****!!" Gumamku sembari mencubit pinggangnya.
"Aaaauuwwwhhh....!!" Desah nya lebih kuat. Bahkan mungkin seisi rumah ini pun mendengar ******* absurdnya yang membuat orang jadi salah paham.
"Archie!" Pekik ku yang malu sendiri melihat tingkahnya.
Dia masih menggodaku sambil mengangkat kepalanya ke atas. Dan merespon ku hanya dengan kekehan kecil yang menggangu.
Senyuman nakal itu. Tuhan, sumpah demi apapun yang mengikat namaku di atas kehendak mu. Aku sangat merindukannya. Bahkan setelah kejadian kemarin, aku tetap tak bisa tidur jika tak mengingat wajah rubah ini sedetik pun.
**********
Kami berdua turun menuruni tangga dengan candaan sampah yang saling melontarkan kata-kata kotor menggunakan bahasa asing.
Ibu dan Bapak yang menyaksikan kami berdua yang berbahagia dengan takdir menyakitkan ini, hanya bisa tersenyum getir dan menampakkan kebahagiaan yang samar-samar.
Pemandangan yang sama di hari pernikahan kami 7 bulan yang lalu. Dimana kedua orang tua ku menyerahkan ku kepada seseorang yang tak ku kenal, namun di balik itu terlihat jelas di mimik muka mereka yang khawatir namun terlukis indah kebahagiaan yang nyata bentuk nya.
Sampai mobil pun jauh dan rumah ku tak lagi kelihatan, kedua orang tuaku masih di sana, memandangi buntut mobil Hendri yang pudar dan menghilangkan di antara desakan kendaraan lainnya.
Archie mengusap lembut kepalaku yang masih melihat kearah belakang, memandangi deretan kendaraan yang sudah menghalangi pandangan ku untuk melihat bayangan rumahku beserta kedua orangtuaku yang masih mendadah-dadah bareng pak satpam.
"Kita bakalan sering nengokin mereka kok!" Ucap Archie merangkul ku sembari membaringkan kepalaku ke dadanya.
"Iya!" Jawabku singkat.
************
"Tuan?" Sapa Hendri sebelum kami berdua beranjak dari mobilnya, memasuki apartemen.
"Seperti yang anda perintah kan. Saya sudah menyelidiki segala yang bersangkutan di dalam kejadian ini!" Ucap Hendri.
__ADS_1
Archie menatap ku sejenak sembari merapatkan jari jemarinya yang memegang lenganku.
"Gua pengen denger semuanya!" Ucap Archie yang langsung membuka pintu dan mengisyaratkan Hendri untuk keluar.
"Baik Tuan!" Ucap Hendri membungkuk, sembari mengikuti kami menuju apartemen.
"Saya sudah menemukan sumber nya!" Ucap Hendri berdiri tegap menghadap kami berdua yang sedang memperhatikan kesiapan perilaku profesional nya.
"Menurut data yang saya dapatkan dari ponsel milik Nyonya yang telah berhasil di hack. Orang tersebut adalah orang yang sama, yang telah membobol password rumah ini beberapa bulan yang lalu dan juga yang sudah merusak sistem game PACMEX kuning imut Tuan." Jelas Hendri dengan wajah datar penuh keseriusan. "Sistem peretas mereka adalah INFER."
Mendengar kelanjutan penjelasan Hendri, Archie terlihat cukup kaget sembari menautkan kedua tangannya memblokade wajahnya.
"INFER!" Ucap Archie dengan pandangan murka.
"Benar Tuan. Seperti nya mereka sudah tak bisa berdiam diri lebih lama lagi!" Ujar Hendri dengan pandangan tak kalah mengerikan nya dari Archie.
"Apa yang terjadi?" Tanya ku yang bingung tak ketulungan.
Spontan Hendri dan Archie menatapku secara berbarengan dengan pandangan yang masih risau.
"Seperti yang pernah gua bilang waktu itu." Ucap Archie menautkan kedua alisnya. "Sebagai konglomerat kaya yang sukses, bergelimang harta dan bergelut dengan bisnis teknologi digital. Bapak gua adalah pusat sasaran kejahatan bagi orang-orang yang ingin memiliki jalur alternatif menuju kekayaan."
Archie mendesah kuat di iringi perasaan khawatir yang berkecamuk. "Sistem INFER adalah salah satu teknologi besutan perusahaan yang pernah kami naungi sebagai program pemutakhir masa depan. Namun di tengah jalan proyek itu mengalami kendala dan berakhir di tengah jalan. Salah satu program INFER yang terkenal waktu itu adalah keamanan penyelerasan berkala, namun seiring pengembangan program, di temukan kecacatan yang mempengaruhi kerja sistem IP."
"Kecacatan?" Tanya ku memandangi kerlipan cahaya matanya yang menyala murka.
"Program ini di anggap gagal karena bisa membutakan sistem operasi manual dengan hanya sekali klik, dan semua sistem informasi akut akan lumpuh dalam sekejap mata." Jelas Archie sembari mengurut pelipisnya sendiri, kalut luar biasa.
"Dan yang mengejutkannya lagi, mereka menyerang duluan melalui masalah internal Tuan." Sambung Hendri.
"Maksud lu?" Tanya Archie.
__ADS_1
"Orang yang sama, yang sudah memasukan obat bius kedalam minuman yang Nyonya dan sodara Dimas minum di sebuah cafetaria. Dan orang yang sama, yang sudah memanipulasi data rumah sakit, yang menyatakan Nyonya sedang mengandung." Jelas Hendri.