
Bapakku memandangi ku dengan alis saling bertautan, sembari memberikan isyarat agar menyuruhku untuk melanjutkan permainan.
"Aku tidak salah arah kan?" Tanyaku menggerakkan pion dan memakan salah satu pionnya.
Bapak tersenyum dan melakukan hal yang mirip dengan permainan ku.
"Yuaga Archie, adalah anak tunggal dari keluarga konglomerat Yuaga yang bertandang ke Indonesia." Sambungnya, melanjutkan ceritanya. "Dan mereka sekeluarga sedang berlibur di pulau Belitung di salah satu vila pribadi milik mereka."
Bapak melebarkan arah permainan nya, Sehingga aku pun berfikir sejenak untuk membuatnya menjadi tidak mudah.
"Lalu, apa benar aku membawa Archie kerumah ini?" Tanyaku memancing Bapak sembari menggerakkan pion ku.
"Benar!" Jawab Bapak singkat.
"Dia adalah korban penculikan yang di lakukan oleh orang-orang yang berniat untuk melakukan kejahatan kepada keluarga Yuaga," Jelasnya lagi sambil menggeser pionnya.
Sontak aku terdiam dan menghentikan permainan catur ku Dengan Bapak.
"Korban penculikan?" Tanyaku.
"3 hari sebelum kau menemukannya di taman bermain. Bocah itu menghilang di dekat vila kediaman keluarga nya secara misterius."
Aku benar-benar tersentak mendengar penuturan nya, terlebih lagi aku pernah memimpikan hal ini secara beruntun.
"Berarti, aku sudah menyelamatkan Archie dari para penjahat itu?" Cetus ku sendiri.
Bapak menggeleng kecil dan tersenyum masam. "Bisa di bilang masalah datang saat kau membawa bocah tersesat itu kemari."
"Maksud Bapak?" Tanyaku tak sabar.
"Yang menculik Yuaga Archie adalah sisa-sisa anak buahnya Pay Long Tse!!"
Bapak merunduk sejenak dan memandangi pion catur yang terhenti permainan nya karena pembicaraan ini.
"Bapak terlalu gegabah dan ceroboh pada saat itu, sehingga saat Ibumu tak ada di rumah. Bapak lupa kalau bahaya lainnya sedang mengancam."
Bapak kembali melanjutkan permainan nya dan memakan pion ku. "Saat bapak pergi dan kalian sedang berdua di dalam rumah, salah seorang dari penjahat tersebut berhasil memasuki rumah kita dengan cara membobol pintu belakang."
Suasana hening untuk sejenak dan terlihat tatapan penyesalan dari raut wajah Bapak. "Entah apa yang terjadi saat itu, tapi menurut TKP, kau melindungi Archie yang kau sembunyikan di dalam lemari pakaian kamar Bapak, sehingga penjahat itu berakhir menyiksamu dengan cara keji, semua perlakuan buruk itu disaksikan langsung oleh Archie yang tak bisa berbuat apa-apa saat terkunci di dalam lemari."
__ADS_1
DEG...
Lututku langsung bergetar di sertai rasa tak nyaman yang menjalari sekujur tubuhku, di saat Bapak mengucap tregedi yang di saksikan oleh Archie di depan matanya.
"Kau menderita luka fisik yang fatal, tidak hanya itu kau juga menderita luka secara verbal dan mental. Bahkan dokter bilang kalau Anya mengalami gegar otak yang akan mempengaruhi perkembangan daya pikirnya untuk jangka panjang. Sedangkan Archie, dia menderita kelainan mental yang cukup memperihatinkan, dia di diagnosa mengalami psikopat yang akan mempengaruhi citra dirinya di masa mendatang."
Bapak menghembuskan napas kasar dan mulai bicara sebelum aku sempat merespon semua penuturannya.
"Satu bulan setelah kejadian itu, penjahat yang melakukan kejahatan kepadamu belum juga di temukan, sehingga pengawal khusus pribadi keluarga Yuaga datang ke Indonesia mengabarkan kalau mereka ingin mengatur pertemuan kepada kami untuk membahas keikutsertaan kami dengan masalah ini."
"Keikutsertaan?" Tanyaku yang tak sabar menunggu.
"Dokter yang menangani Archie dan Dokter yang menangani mu di datangkan pada saat pertemuan itu. Mereka berembuk sangat lama hanya untuk menyelesaikan perkara yang terjadi antara kau dan Archie yang mereka bilang saling terhubung dan terkait seperti jaringan perangkat komputer. Lama-lama kami tak mengerti mengenai penjelasan sang dokter yang di hadirkan, namun intinya mereka mengatakan untuk menyatukan kalian berdua jika ingin menempuh jalan kesembuhan."
Aku langsung terdiam dan menarik napas panjang di sela-sela duduk ku yang tak lagi tegap. "Maksud dokter itu adalah?"
"Menyatukan ikatan pernikahan kepada kalian berdua jika ingin mendapatkan jalan kesembuhan bagi kedua belah pihak. Karena kunci dari permasalahan ini semua adalah kau!" Cetus bapak menunjukku.
Dengan bingung aku hanya menunjuk diriku sendiri sembari termenung.
"Archie bisa sembuh jika dia terus bersamamu, Meskipun Bapak tidak mengerti apa hubunganya dengan menikahkan kalian. Tapi yang pasti, sang dokter terus menyangkut tentang obsesi, yang akan semangkin buruk dan berkembang jika kalian tak segera di satukan."
"Lagi pula, hanya kau yang tahu rupa asli penjahat yang masuk ke dalam rumah kita dan hanya kau yang melihat dengan jelas ciri-ciri orang yang menyiksamu, yang berani mencelakakan mu dan juga menculik anak konglomerat keluarga Yuaga."
Bapak menjalankan pion nya dan menatapku. "Sehingga pertemuan hari itu, berubah menjadi prosesi lamaran. Terlepas dengan pulih atau tidaknya ingatanmu di masa lampau. Karena dengan membuat kalian terus bersama, lama-kelamaan ingatan itu akan muncul dengan sendirinya, meskipun dokter bilang akan memakan waktu yang lama dan bisa saja menyakiti mental kalian berdua!!"
Aku tak merespon dan hanya merenung menatap papan catur yang ada di hadapanku.
"Jadi kalian benar tidak menjual ku karena ingin berinvestasi di hari tua!" Balasku dan kembali menjalankan pion ku.
Bapak tersenyum lebar sembari menjalankan pionnya. "Orang tua bodoh mana yang melakukan hal seperti itu!"
"Aku yang terus berfikir seperti itu, selalu."
Bapak menghentikan menggerakkan pion nya dan menatap ku.
"Aku terus berfikir seperti itu, aku mengutuk pernikahan ini, meruntuk suamiku sendiri, meruntuk kedua orang tua ku sendiri." Ucapku dengan suara bergetar dan tanpa ku sadari air mataku kembali jatuh menetes membasahi pipi ku.
"Kenapa Archie maupun Bapak tak mengatakan apapun hal ini sedari awal!" Pekik ku di iringi tangisan. "Kenapa, dari awal kalian menyembunyikan masalah pelik seperti ini di belakang ku!"
__ADS_1
Bapak terlihat iba dengan pandangan hangat, lalu memegang tanganku dengan kedua tangan kasarnya.
"Maafkan Bapak!" Ucap Bapak, mengusap punggung tangan ku. "Bapak maupun Archie mempunyai alasan untuk tak mengatakan hal ini dari awal."
Aku berhenti menangis, dan menatap lekat kedua mata Bapak yang penuh kehangatan.
"Ini semua demi untuk melindungi mu. Akan berbahaya jika kau mengetahui alasan sebenarnya kenapa kalian berdua di nikahkan, pasalnya kau juga tak ingat kejadian seperti itu pernah kau alami. Maka dari itu kami menyembunyikan segalanya, dan membiarkan mu berfikir negatif soal pernikahan ini."
Aku tak bisa berkata apa-apa. Hari ini terungkap sudah, jelas sudah apa yang menjadi belenggu ku selama ini, yang mengusik pikiranku.
Meskipun sudah terlambat bagiku untuk menyesal. Janin yang ada di kandungan ku ini adalah bukti kalau karma tuhan pasti akan datang tanpa kabar berita.
************
"Makan yang banyak!" Ucap ibuku sambil memberikan ku semangkuk sup dan sepiring ayam goreng kremes kesukaan ku. "Ibuk dulu pas lagi hamil kamu, makanya banyaaak banget ampe jadi badut!!"
Bapak tertawa sampai tersedak, melihat tingkah Ibu ku yang memang terkenal sengklek sendiri.
"Badut!!" Ucap Bapak tak henti tertawa."Kau pintar merepresentasikan diri sendiri?"
Plaakk..
Ibuku marah besar dengan wajah cemberut.
Akhirnya aku pun tertawa lepas melihat tingkah konyol orangtuaku yang kadangkala jarang ku jumpai sedari bersama.
Keluarga ku bukan keluarga yang membosankan, melainkan penuh dengan kehangatan dan kasih sayang.
Hanya saja itulah, pekerjaan yang memaksa kami sekeluarga harus menunda kehangatan seperti ini. Walaupun rasanya aneh melihat mereka yang tak mempermasalahkan janin siapa yang ku kandung, tapi rasanya aku sangat bersyukur kedua orangtuaku amat menyayangi ku, tanpa sekalipun mengungkit kesalahan yang aku lakukan.
**************
Tanganku gemetar di iringi dengan degupan kencang dari detak jantung ku, saat melihat bercak merah kehitaman yang berada di celana dalamku.
Dengan kaki terkulai lemas dan duduk di kloset, aku memandangi bercak tersebut dengan penuh penghayatan.
"Darah?" Gumamku dengan suara bergetar penuh ketakutan.
Ibu langsung membawa ku ke rumah sakit terdekat dan memeriksa kan kandungan ku.
__ADS_1
Ibuku terus mengucapkan doa-doa dan mengelus-elus perutku selama perjalanan menuju rumah sakit. Cemas, iya tentu saja, meskipun ini bukan benih yang di tanam oleh mantunya sendiri, tetap saja anak ini adalah darah daging ku, darah dagingnya.