
"Nya?" Panggil Laila menyingkirkan selimut yang ada di tubuhku secara berlahan, dan membalik tubuhku yang menghadap ke arah dinding.
Dia mengusap kepalaku serta menyingkirkan rambut yang memenuhi seluruh wajahku, dan kemudian beralih kepada sebuah mangkuk bulat dengan sup ikan sayur buatannya.
"Makan dulu yuk!" Pintanya dengan suara memelas, menatapku dengan senyum getir yang di paksakan.
"Maaf Lai!" Jawabku menaikan kembali selimut ke tubuhku."Aku belum lapar!" Ucapku singkat dan membalik tubuhku kembali ke arah dinding.
Dia menaruh mangkok bulat tersebut ke atas meja, dan beralih mengusap punggungku.
"Lu kayak gini udah lewat 2 minggu loh!" Ujar nya dengan suara bergetar. "Kenapa sih lu gak mau cerita. Gua pengen ngasih tau nyokap ama bokap lu kalau lu ada disini, tapi lu malah ga ngijinin. Gua bingung harus berbuat apa ama lu, sumpah gua khawatir banget ama keadaan lu saat ini!!" Sambungnya sambil menepuk punggungku berlahan.
"Nya?" Panggilnya lagi dengan nada lirih.Laila langsung memeluk tubuhku yang tak berdaya.
"Meskipun lu gak mau cerita. Meskipun lu tetap mau diamin gua. Meskipun lu gak mau ngasih tau gua apa yang terjadi. Tapi seenggaknya lu liat kondisi lu yang sekarang!!"
Dia memegangi kedua pipiku.
"Lu tuh dah kayak orang gila tau gak. Liat keadaan lu sekarang ini, udah lewat 2 minggu lu ngurung diri di kosan gua, lu juga udah gak pernah ngampus ampe anak-anak kelas lu bingung nyariin lu dimana, makan pun lu cuman makan sesuap nasi abis itu lu bilang udah kenyang!!"
Laila membalikan tubuhku melihat ke arah jendela.
"Dan yang bikin gua gak abis pikir. Kenapa lu biarin sepupu lu nangkring di depan kosan gua tiap hari. Gua bingung, kenapa lu gak biarin dia masuk dan ngomong baik-baik ama lu!"
Terlihat Hendri yang berdiri di depan gerbang kosan ini, dia diam menatap lurus pintu kosan laila dengan tatapan datar nyaris tak ada ekspresi, ciri khasnya yang memang seringkali dia tunjukkan jika sedang sendiri.
__ADS_1
16 hari sejak kejadian waktu itu, aku menetap di kosan laila dan tak pernah keluar dari dalam kamarnya selama itu.
Serta 14 hari setelah kejadian itu, Hendri mengetahui keberadaan ku dan terus datang kemari.
Setiap hari dalam kesehariannya, dia berdiri mematung di depan kosan laila, tak melakukan pergerakan yang berarti, menungguku agar berkenan menyerahkan diri agar menemuinya.
"Gua gak bisa terus-terusan liat lu dalam keadaan kek gini terus Nya?" Ucap Laila lirih.
Dia mendudukkan tubuhku berlahan, dan menyibak rambut yang menutupi wajahku.
"Kalau lu ada masalah, selesein, jangan malah sembunyi. Kalau lu terus ngurung diri kek gini dan gak tau teknik penyelesaian masalah, lu bakalan nyiksa diri lu sendiri Nya!" Ucap Laila setengah memekik dengan suara bergetar.
"Anya sadaaar!"
Aku langsung menangis di hadapannya, dengan semua kerapuhan yang ku miliki, dengan segala kekuatan yang tak lagi tersisa di dalam ragaku.
Aku meruntuk diriku yang payah ini, saking tak berani menghadapi sesuatu yang menjadi tanggung jawab ku, aku malah mengurung diri disini dan menutup diri dari dunia luar.
************
Terlihat Hendri yang menyambutku di depan kosan Laila dengan mata berbinar-binar serta wajah yang antusias dengan menunjukan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Tanpa berkata apa pun dia langsung membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan aku masuk.
Terlihat Laila yang melambai padaku dengan senyum getir menatap kepergian ku di depan kosannya.
__ADS_1
"Maafkan saya Nyonya!" Ucap Hendri dalam perjalanan menuju apartemen.
Kata-kata pertama nya setelah lama berdiam dengan suasana yang hening dan juga canggung. Aku hanya meliriknya yang fokus menyetir dari balik kaca spion dan terlihat wajah pucatnya yang tegang menghadapi situasi ini.
"Sejak kejadian beberapa Minggu waktu itu, saya tak memberitahu kan apapun kepada Tuan. Dan selama Nyonya tidak ada di rumah, Tuan juga belum pernah pulang ke apartemen karena sedang mengurusi masalah pekerjaan!" Jelas Hendri padaku.
Aku langsung menurunkan lengan yang menyilang ketat di depan dadaku dan menatap punggung nya yang masih fokus menyetir.
Entah ini kabar bagus atau malah kabar buruk, namun setelah tahu kalau Archie tak mengetahui kalau aku tak berada di rumah, serta Hendri yang tutup mulut atas kejadian waktu di hotel itu. Semua kejadian kebetulan ini membuat ku kembali punya harapan untuk bersikap sewajarnya.
Terlebih, aku yang masih belum mengerti harus mengaku seperti apa di depan Archie mengenai kejadian yang menimpaku di malam itu.
Aku layaknya tumbal yang di korbankan melalui ritual untuk mencapai suatu tujuan besar, namun dalam setiap proses persembahan selalu menemui keadaan dimana syarat tak sesuai rencana, sehingga harus berbalik dan mengorbankan keadaan yang lain.
"Dan seperti nya hari ini Tuan pulang ke apartemen!" Lanjut Hendri sebelum aku merespon perkataanya sebelum ini.
************
Saat aku masuk ke apartemen yang sudah tak pernah ku tinggali selama lebih dari dua Minggu, aku merasakan suasana yang asing, terlebih aku gamang memikirkan kelakuanku saat berhadapan langsung dengannya.
"Pooww..!!" Sontak suaranya yang sengaja untuk mengagetkan ku membuatku linglung.
Dia menatap lekat wajah ku, dan dia terlihat senang setelah tak pernah bertemu denganku selama sebulan.
Tanpa berkata-kata, dia langsung menggotong tubuhku dari ruang tamu menuju sofa besar ke ruang belajar, yang kemudian merebahkan tubuh kami bersama-sama.
__ADS_1