
Benar saja, yang masuk ke dalam kamar ku memanglah Sabiru. Dia datang dengan senyuman hangat yang sering ku lihat di dalam perawakan saudaranya yang terkesan bersahabat dan membawa ketenangan, namun secara bersamaan memendam rahasia kelam yang tersembunyi seperti gelapnya palung laut terdalam, semangkin di selami maka kegelapan nya tak akan nampak ke permukaan.
"Selamat malam, maaf datang tiba-tiba. Apa aku mengganggu waktumu!!" Ucapnya dengan nada bersahabat dan bersikap sopan.
Gawat! Apa yang harus ku lakukan, bagaimana kalau Sabiru tiba-tiba mengenaliku.
Dengan canggung, aku hanya diam dan tak melakukan apa-apa.
"Tenanglah nona, aku sebenarnya tidak suka berbuat yang tidak-tidak kalau ternyata nona terganggu atau tidak nyaman dengan keberadaanku, hanya saja karena ini adalah debut nya nona, saya akan bertindak hati-hati agar tak menyakiti perasaan nona." Ucap Sabiru dengan perkataan dan senyumannya yang sama-sama lembut.
Aku sempat khawatir dia akan mengenaliku, namun tebakan ku salah. Dia tetap bersikap seperti seseorang yang layaknya baru pertama kali bertemu.
"Jangan gugup!!" Ucap Dafa yang semangkin membuatku tambah gugup.
"A-aku baik-baik aja!?" Jawabku dengan nada bergetar.
Sabiru terlihat tersenyum menanggapinya dan mendekat untuk memastikan kalau perkataanku sesuai dengan perasaanku.
Lagi-lagi aku di hadapkan dengan situasi dimana aku berada di dalam satu kamar bersama laki-laki yang asing, hanya saja saat ini aku sedang berada di dalam situasi dan peran yang berbeda. Kamar yang dingin, suasana yang canggung, perasaan yang tak karuan dan juga baju tipis yang ku gunakan, Semuanya semangkin membuatku larut dalam kekhawatiran.
"Sebenarnya aku juga tidak berpengalaman dalam melakukan hal ini." Ucapnya dengan nada malu-malu. "Aku memang sering mengunjungi para pekerja yang baru pertama kali bergabung di tempatku, tapi aku beneran ga melakukan apa pun kepada mereka." Jelasnya dengan menggaruk kepalanya tak gatal. "Aku aneh ya!!" Dia tertawa polos dengan ekspresi malu-malu.
Kesan pertama yang paling kentara dari Sabiru adalah sifatnya yang sama lembutnya dengan Libiru. Dia tak segan-segan untuk menampakan sikap terbuka kepada orang yang baru saja dia kenal. Dan menempatkan dirinya sebagai seseorang yang layak untuk di ajak berteman.
"Tidak, kau tidak aneh." Jawabku yang langsung hanyut dengan suasana nyaman yang dia berikan.
"Boleh aku tau siapa namamu?" Tanyanya.
Tapi aku tetap diam dan tak mengatakan apa pun kepadanya.
"Kalau kau ga mau juga ga apa-apa kok!!" Jawabnya sendiri.
"Arel!! "Jawabku. "Panggil saja aku Arel."
Dia tersenyum mendengarkan ku menyebutkan namaku. "Panggil aku Sasi, aku pemilik tempat ini sekaligus bosmu." Jelasnya bersamaan dengan perkenalan diri.
Aku mengangguk dengan perasaan gugup yang takut ketahuan.
__ADS_1
"Jarang sekali aku menerima anak baru yang dapat di ajak mengobrol, biasanya mereka langsung ke intinya dengan cara membuka paksa bajuku." Jelasnya dengan tertawa polos. "Apa kau sudah biasa memakai obat-obatan seperti ini, mangkanya kau tidak terpengaruh jika hanya berada di dalam dosis segini?" Tanyanya. "Atau mungkin.."
Sabiru mendekat ke sisiku dan setengah mengendus bau tubuhku sembari berlahan memfokuskan pandangannya pada tatapanku yang berada di balik topeng pesta. "Kau memang sengaja tak memakannya, karena kau tau itu akan membuatmu merasa bukan seperti dirimu?"
Aku tersentak mendengar penuturannya. Sialan, apa dia mencurigaiku. Apakah penyamaranku terbongkar?
"Oohh maaf, sepertinya aku menakutimu." Ujarnya tiba-tiba dan langsung menjauh dari sisiku. "Bukan maksudku, tapi aku senang saat mendapatkan seseorang yang bisa ku ajak berbicara normal." Gelaknya yang langsung berganti topik. "Tapi nona..."
Dia kembali mencodongkan tubuhnya dan mendekat ke sisiku. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya, aku ingat pernah melihat tubuhmu di dalam pikiranku tapi aku benar-benar melupakannya secara tidak sengaja."
Apakah dia sedang membicarakan kejadian waktu dia menjebakku dengan obat perangsang. Meskipun hanya sekilas, tapi saat itu Sabiru melihat dengan jelas proporsi tubuhku yang hanya berbalut kimono handuk.
"Anya lu bisa dengarin gua!" Tiba-tiba suara Archie menggema di dalam alat komunikasi.
DEG...
Bagaimana ini, apa yang harus ku katakan. Jika aku menjawabnya maka Sabiru akan langsung tau jika aku sedang menyamar.
"Anya, lu di sana kan?" Tanya Archie lagi dengan nada bicara yang mendesak.
"Dia lagi bareng Sabiru di kamar 912," Jawab Dafa yang langsung menjawab kekhawatiran Archie.
"Kalau lu beneran gak bandel dan ngikutin instruksi gua dari awal, kejadian kayak gini ga bakalan terjadi." Omel Dafa yang terdengar kesal dengan nada murka. "Sekarang kita harus nyusun rencananya dari awal!" Desaknya.
"Kita ga ada waktu lagi buat nyusun rencana, gua bakalan ke kamar 912." Ucap Archie dengan nada terdesak.
"B*go, lu bakalan ketauan kalau bertindak semaunya kek gini." Pekik Dafa.
"Tapi gua ga bisa nunggu lagi, gua ga bisa biarin Anya dalam bahaya!!" Pekiknya semangkin memperkeruh suasana.
"Jangan gegabah. Lu ga tau dimana posisi para penjaga saat ini."
"Gua ga bisa nunggu lag...$sjfbdjdjdsrhfesod..!!" Suara Archie tiba-tiba terputus dan di gantikan oleh keriuhan yang tak jelas yang di iringi oleh suara teriakan Dafa. Sepertinya telah terjadi sesuatu kepada Archie.
"Arel, hei Arel!!" Sabiru memanggil namaku berkali-kali namun aku baru sadar setelah dia menjentikan jarinya di hadapan wajahku. "Kau kenapa, Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanyanya.
"Ti-tidak!!" Jawabku dengan keringat dingin yang mengucur deras memenuhi keningku.
__ADS_1
Sabiru tiba-tiba menanggalkan aoternya dan membuka kancing pergelangan tangannya sambil duduk di tepi kasur melirikku yang ketakutan setengah mati.
"Nah Arel, apa kau mau menyelesaikannya sekarang?" Tanyanya dengan nada ramah dan membuka 2 kancing bajunya.
"Tapi aku, bukan!! Maksudku aku..." Saking gugupnya aku bahkan tak bisa berkata-kata. "Bukannya kau tadi bilang kalau hanya ingin di temani ngobrol!!" Ucapku.
Sabiru kembali tersenyum dan membuka semua kancing bajunya. "Entah kenapa, tubuhmu mengingatkan ku akan seseorang," Jawabnya yang menanggalkan semua bajunya hingga yang tersisa hanyalah ****** ******** yang mirip dengan celana renang pria. "Aku memikirkan seorang wanita yang ingin ku lenyapkan, tapi secara bersamaan aku juga ingin memilikinya, sampai memikirnya saja rasanya kepala ku hampir pecah."
Aku tak sempat menghindar saat dia langsung mengukung tubuhku hingga terpojok di hamparan kasur, hembusan napasnya yang beringas bahkan sampai terasa di urat-urat leherku.
"Arel, kau terlalu mirip dengannya!!" Ucap Sabiru yang membelai wajahku dan mengelus topeng yang menutupi rupa asliku.
"Siapa yang kau maksud, apa dia kekasihmu?" Tanyaku yang bersikap setenang mungkin di dalam sangkar macan.
"Tidak. Dia bukan kekasihku," Jawab Sabiru dengan tatapan sejurus. "Tapi dia adalah wanita yang sangat inginkan ku lenyapkan."
Seketika hawa keberadaanya berubah menjadi menakutkan, seolah kehadiraanya adalah mimpi buruk terbesarku.
"Bagaimana menurutmu Arel. Bukankah seharusnya aku membunuhnya!!" Ucapnya lagi dengan mengusap lembut pipiku. "Tapi kenapa?" Dia melepas pengait yang menyeka topengku. "Kenapa aku jadi sangat mengingkannya. Kenapa aku tak bisa melupakannya, melupakan tubuhnya." Dia terus mengoceh sampai aku tak sadar, kalau dia sedang mencoba melepas topeng yang menyelimuti rupaku.
"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau mengingkannya?" Tanyaku.
"Entahlah!!" Jawabnya yang tiba-tiba berhenti di tengah-tengah dan hampir membuka identitas asliku. "Mungkin aku benar-benar sudah jatuh cinta dengan wanita sialan itu."
Aku langsung merenggut pergelangan tangannya yang sedang menjeda untuk membuka topeng, dan langsung menarik tubuhnya agar semangkin dekat wajahku.
"Kau tidak mencintaiku," Ucapku yang langsung mengarahkan tangannya untuk melepaskan topeng itu dari wajahku. "Kau hanya sedang bernapsu ingin meniduriku."
Dia tercengang dengan tatapan membelak dan langsung terpelanting dari hadapanku segera setelah topeng itu terlepas dari wajahku.
"Bagaimana bisa," Ujarnya sendiri dengan perasaan kalut. "Apa yang kau lakukan di sini?" Pekiknya seperti sedang melihat mayat yang bangkit dari kubur.
Taak...
Sebuah senjata api tiba- tiba menempel di belakang kepalanya, bersamaan dengan itu pintu kamar terbanting dengan sendirinya.
"Kenapa lu bilang!!" Ujar Archie yang menodongkan senjata api di kepala Sabiru. "Karena gua bakalan ngeledakin kepala lu, kayak bunyi balon hijau yang meletus!!"
__ADS_1
Archie menekan senjata apinya di kepala Sabiru dan mendekat ke sisinya. "DOR..." Pekik Archie dengan lantang sampai membuat Sabiru terlonjak. "Hatiku sangat kacau!! Balonku tinggal 4, ku pegang erat-erat." lanjutnya menyanyikan sepenggal lirik lagu nyanyian anak-anak, yang berubah menjadi nyanyian penghantar kematian untuk Sabiru.