
Dddrrrttt...ddrrttt....ddrttt....
"Hallo..!!" Jawabku dengan nada malas sambil menempelkan HP di telingaku dengan mata terpejam.
"Lu masih molor?" Jawab suara di dalam panggilan telpon.
Ku renggangkan tanganku dan meraba-raba kasur yang ada di sampingku, saat merasakan kalau tempat itu kosong, barulah aku menyadari kalau orang yang sedang ku ajak bicara adalah Archie.
"Archiiiee....!!" Pekik ku kesal dan menutup wajahku sendiri karena dia sering memperlakukan ku seperti ini.
Archie sering meninggalkan ku tanpa mengatakan apa pun, dia kerap mendapat panggilan mendesak yang sangat penting, tak kenal waktu dan tempat, bahkan saat sedang bersamaku sekalipun. Acap kali dia tidur di sisiku selama mata ku terpejam, dan saat aku membuka mata, dia sudah menghilang.
"Kapan kau pergi?" Tanyaku berguling-guling di atas tempat tidur dan menyentuh dengan lembut bantal tidurnya.
"Jam 3 tadi," Jawabnya dengan helaan napas, ku rasa dia menelponku sembari merokok. "Maaf gua ga sempat buat pamitan, keknya lu capek banget jadii..ya, gua pamit lewat telpon aja."
Sontak aku duduk dan mendengarkan pembicaraan di telpon dengan seksama. "Gua bakalan ke jepang selama 2 minggu," Ucapnya dengan nada serak.
"Apa ada masalah?" Tanyaku spontan.
"Ya...ga terlalu juga sih, doa'in aja gua yang baek-baek biar urusan gua kelar." Jawabnya.
Aku diam dan tak merespon jawabannya, dalam kurun waktu beberapa detik, kami berdua diam dan tak bicara, namun mendengar jawabnya saja aku tahu pasti, dia sedang tidak baik-baik saja.
"Kau bisa mengatakan apa pun kepadaku, kau sudah berjanji." Tegasku dengan nada rendah, "kita sudah hidup bersama dalam satu atap dengan waktu yang tak singkat."
Archie terdengar menghela napas panjang diikuti suara grasak grusuk.
"Gua cinta banget ama lu," Balasnya dengan suara lembut nan hangat.
"Aku tau!" Jawabku, "kau selalu mengatakan itu setiap saat."
Terdengar kekehan kecil menyebalkan di iringin suara grasak grusuk panggilan telpon.
"Apakah ayah mertua baik-baik saja?" Tanyaku tak habis-habis.
"Anya," panggilnya, lama terdiam bahkan suara desahannya seperti menyuruhku untuk tak bertanya apa pun tentang masalahnya. "Lu percaya kan ama gua, apa pun yang terjadi lu tetap bakalan cinta kan ama gua."
"Apa sih!!" Balasku tertawa kecil, "Perkataanmu itu seperti bocah yang lagi kasmaran."
"Mau jawab apa gak nih!" Sambungnya dengan nada malas menyebalkan.
__ADS_1
"Tcccckkk....iya, iya. Aku bakalan cinta mati ama kamu, dengan keadaan apa pun, aku 100% bakalan percaya." Jawabku sebal.
"Nah gitu dong, ngegas." Responnya puas mendengar jawabanku, "Sakurai ama Hendri bakalan jagain lu selama gua ga ada, jadi gua mohon kalau kemana-mana ati-ati jangan pernah jauh-jauh dari mereka berdua, lu tau kan selama ini gua ga pernah ninggalin lu jauh-jauh."
"memangnya kamu pikir aku anak kecil," Balasku kesal.
"ngeyel di bilangin."
Ahh.., benar. Selama ini dia tak pernah pergi ke luar negri sekalipun untuk urusan bisnis, bahkan walaupun itu penting dia hanya pergi ke luar kota dengan waktu yang kurang dari 2 minggu, setelah urusannya selesai dia akan cepat-cepat pergi di hari itu dan kembali lagi ke rumah.
"Anya, lu denger gua gak. Jangan-jangan lu molor lagi." Panggilnya dengan sembrono.
"Aku dengar kok!!" Jawabku cepat-cepat.
"Gua berangkat dulu, bye bye kita ketemu lagi tanggal 22 April."
"Hati-hati sayang, kabari aku kalau sudah di sana." Balasku.
"Hmmm...pasti."
*************
"Nyonya, silahkan masuk!" Ucap Hendri membukakan ku pintu mobilnya.
"Yo, kakak ipar. Mau pergi ke kampus ya," Sapanya sambil menampakan senyum polos penuh kepalsuan itu. Menyebalkan sekali jika bersamanya dalam waktu yang sangat lama, kenapa Archie malah mempercayakan bocah mesum ini untuk menjagaku selama dia tak ada di sini.
"Kakak ipar kuliah jurusan apa?" Tanyanya dengan lugas.
"Desain interior." Jawabku.
"Wah, kakak ipar jago gambar juga dong!"
"Yah, lumayan lah." Jawabku lagi tanpa panjang-panjang. "Sakurai, bisa ga kamu manggil aku jangan kakak ipar."
"Memangnya kenapa? Ga bolah ya.."
"Gak sih, cuman yah..panggil saja aku kak Anya, atau kakak saja, dengan panggilan begitu akan lebih enak di dengar."
Sakurai memandangiku dengan hati-hati lalu tersenyum polos, "Kalau begitu, kak Anya." Ucapnya dengan membawa senyuman maut yang membuat jantung tak sehat.
DEG...
__ADS_1
Sial, kenapa aku berdebar. Dua kakak beradik ini membuatku tak habis pikir, bisa-bisanya dalam sekejap senyuman buaya mereka yang mirip membuat hatiku tak karuan. Membuat harga diriku terluka saja.
"Heeehh..kak Anya kenapa, wajah kakak memerah." Tanyanya menundukan tatapannya melihat ku yang terlanjur terbawa suasana.
"Tidak apa-apa, aku hanya salah makan tadi pagi." Jawabku ngeles.
"Paman Hendri, kak Anya sepertinya sedang mabuk, bisa berikan dia kantong muntah." Ujar Sakurai menepuk bahu Hendri.
"Tidak, tidak..aku baik-baik saja." Ucapku cepat-cepat menghentikan mereka berdua.
Namun dengan tiba-tiba Hendri melambatkan laju kendaraannya dan menatap gerombolan polisi lalu lintas yang memblokade jalanan.
"Ada apa?" Tanya Sakurai sambil ikut mencondongkan kepalanya melihat ke depan keramaian itu.
Lalu seorang polisi lalu lintas menghampiri mobil kami dan menyuruh Hendri untuk menurunkan kaca mobilnya.
"Selamat siang pak, maaf atas ketidaknyamanan ini tapi untuk sementara jalur ini tak bisa di lalui, maka dengan ini saya menganjurkan bapak untuk mengambil jalan memutar dan pergi ke jalur kanan." Ucap pak polisi sambil menunjuk jalur lain.
Hendri hanya diam dan tak menanggapi polisi itu, bahkan Hendri menatap wajah polisi itu dengan tajam.
"Maaf, tapi kenapa jalanannya di blokir." Tanyaku sambil menurunkan kaca jendela mobil.
"Sedang ada perbaikan jalanan yang di akibatkan oleh saluran air yang bocor sehingga tanahnya amblas dan memakan badan jalan, untungnya hal ini tak menyebabkan korban jiwa karena waktu terjadinya pada tengah malam." Jelasnya dengan singkat.
"Kalau begitu terimakasih atas penjelasannya, selamat bertugas." Ucapku pada pak polisi ramah itu.
"Iya, berhati-hatilah." Jawab pak polisi.
Saat kaca mobil itu di naikan secara pelan-pelan, aku menatap pak polisi itu yang tak berani menatap balik Hendri yang sedari tadi menampakan wajah datar tanpa ekspresi, wajah dingin Hendri menandakan ketidakberesaan itu bermula.
"Perbaikan jalan ya!" Ucap Hendri yang melajukan kendaraannya mengambil jalur kanan yang memang terlihat sepi dan tak banyak kendaraan yang melintas. "Aku tak menemukan kabar itu di berita manapun tadi pagi, walaupun kejadiannya tengah malam." Ocehnya sambil berkonsetrasi menyetir.
"Hmmm...apa pikiran paman sama dengan ku." Ucap Sakurai yang terus menggambar lekuk tubuh wanita telanjang yang hanya di tutupi beberapa asap tebal di beberapa bagian tubuh intimnya.
"Sepertinya begitu tuan muda." Balas Hendri.
Sekitar 10 km jarak kami menempuh perjalanan di jalanan yang memang sepi dan banyak rerindangan pohon camar, pandangan Hendri yang sedang menyetir tiba-tiba menjadi mengerikan saat dua mobil hitam tiba-tiba membuntuti kami dengan kecepatan yang setara dengan laju mobil Hendri.
Namun tiba-tiba salah satu mobil yang berada paling belakang langsung tancap gas dan berusaha menyamakan laju kendaraan mobil yang sedang kami tempati.
"Sial, merunduk!" Pekik Hendri memperingatkan kami berdua yang berada di belakang kemudi.
__ADS_1
Dengan cepat Sakurai menangkap tubuhku dan melindungi tubuhku dengan tubuhnya, tiba-tiba saja secara beruntun deretan peluru senjata api menghujani mobil Hendri dan memecahkan semua sisi kanan kaca mobil.
Saat itu aku baru tersadar, kenapa Archie mengatakan kata terakhirnya yang menyuruh mereka berdua untuk menjagaku saat dia tak ada, atau kenapa selama ini dia tak pernah pergi jauh dariku. Inikah alasannya.