
Aku mendengus di depan lehernya, nafas ku seolah tertahan karena merasa sangat gugup memikirkan kuat nya hasrat tubuhnya yang menginginkan tubuhku bersatu dengannya.
Dia membenamkan seluruh wajahnya di pundak ku dan memeluk seluruh tubuhku dalam satu lingkaran penuh dengan lengan kuat nya.
Ssreett...
Berlahan dia membuka ritsleting yang berada di punggung ku sampai habis, sehingga setengah dari tubuh terbuka ku terekspose oleh nya.
Aku mengerjapkan mata dengan kuat di ikuti dahi ku yang mengkerut, kedua tanganku mengepal erat di sertai seluruh jari-jari kaki ku yang ikut menggulung.
Aku merasakan rasa dingin yang menjalari di seluruh bagian punggungku, berasa basah, dan juga geli, di setiap sentuhan yang dia layangkan di kulit punggungku membuat seluruh rambut di tubuhku merasakan kengerian.
Dia melahap punggungku, dia menjilati setiap inci kulit punggung ku seperti es potong, lenguhan yang dia keluar kan dari mulut nya semakin keras setiap kali jilatannya yang berasa semakin liar menggerogoti tubuhku, sehingga tak bisa di pungkuri lagi jika suasana di antara kami berdua kian memanas.
Kepalan tanganku yang kuat berubah menjadi goncangan hingga membuat seluruh tubuhku gemetar merasakan begitu dalam nafsu birahinya dalam setiap hembusan nafas nya.
Bau saliva nya yang bercampur dengan tembakau itu membaur ke seluruh tubuhku, sehingga aku tak bisa membedakan bau tubuhku sendiri dengan bau liur nya.
Ku rasakan nafasnya bertambah berat, seiring jilatannya yang memenuhi punggungku, sampai dia merajai sekeliling tengkuk ku dan melahap seluruh nya dengan kecupannya yang berasa sakit sampai memenuhi leherku.
Ceklakk...
Mata ku langsung membulat besar saat suara pengait bra ku berhasil dia lepaskan. Dengan reflek, aku langsung berbalik menghadapnya kemudian mendorong nya menjauh dari ku.
"Stop!" Pekik ku sambil menampakan telapak tanganku padanya.
Dia diam tak merespon dengan nafas berat dan tubuhnya yang sama gemetarnya seperti ku, dia mengangkat kepalanya ke langit-langit tapi tatapan serta mata liar nya menatap tajam ubun-ubun kepalaku.
"Kenapa!" Tanya nya dengan tempo nafas yang masih belum teratur."Bukannya ini kemauan lu!"
Aku memalingkan wajahku yang berdiri menantang di bawah nafas menggebunya.
Aku tak tahu kenapa, ada apa denganku.
"Berat ya, nyerahin diri dengan orang yang gak lu sayang!!" Ujar nya sambil menopang pinggangnya dengan kedua tangannya. Dia berusaha menarik nafas dalam-dalam,dan mengumpulkan nyawa yang sempat melayang menuju Nirvana.
"Aku, aku gak tau kenapa.."
Archie langsung tersenyum kecut sambil menunjukan telapak tangannya kepadaku, sebelum aku melanjutkan omonganku.
"Ok. Gua ngerti. Gua ngerti, lu gak usah ngomong!"
"Archie, maaf. Aku gak bermaksud..."
Aku mengejarknya yang ingin beranjak, tapi dia terus menunjukan telapak tangannya padaku, isyarat kalau dia menolakku.
__ADS_1
"Halo!" Potongnya yang mengangkat telepon yang sedari tadi bergetar di balik kantong celanannya."Ya sayang, Gak kok!!"
Dia berbicara di dalam panggilan telpon, dengan tatapannya melihat ke arahku.
Serasa hati ku remuk mendengar dia berbicara di dalam telpon dengan panggilan seperti itu, sedangkan kondisiku yang masih dengan jantung berdebar berpenampilan setengah telanjang di punguggungi nya.
"Gua lagi gak sibuk sama sekali. Kemana. Ohh oke, bentar lagi gua nyampe ke lokasi syuting!?" Dia mematikan panggilan telponnya.
"Archie.."Panggilku dengan suara lirih, sambil memegangi kerah baju ku yang melorot sampai ke bawah.
"Gua ada perlu, jadi kayaknya malam ini gua gak bisa balik." Jawabnya sambil menatapku dingin tanpa ekspresi.
"Maaf.." Ucap ku lirih sambil menahan kerah bajuku yang terus melorot.
"Udah. Gua gak mau dengar apa-apa lagi dari lu!!" Ucapnya mengangkat pandangan nya ke langit sambil memutari pergelangan tangannya.
"A-aku..Archie aku tidak berniat.."
"Hiduplah seperti ini terus!" Sambungnya penuh penekanan dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan ku dengan punggung terbuka setengah telanjang dengan bekas merah di sekujur tubuhku.
*********
"Hhhuuffttt...."
"Tck.aagghhhh..gak tau ahhh!" Ujar ku yang tiba-tiba berprilaku abstrak dan mengucak rambut ku sendiri.
Pasalnya aku sedang mengkhawatirkan tentang pertemuan pertamaku dengan Archie. Setelah kejadian itu, dia tidak pulang ke rumah selama 2 hari 2 malam, sehingga membuatku kepikiran bagaimana cara ku berprilaku di dalam rapat kali ini, mengingat aku akan berinteraksi langsung dengan nya.
"Nyebut neng astagfirullahalazim, nyebut." Ujar Arya memegangi lenganku.
"Apaan sih!!" Balas ku sambil melepaskan tangannya.
"Lu bikin kepikiran, tadi ngapain!"
"Duh, setres gua lama-lama!" Jawabku sambil menutup wajahku dengan telapak tangan.
"Nya, gua mau nanya sesuatu sama lu, tapi lu gak usah marah ya." Ujar Arya yang tiba-tiba diam mematung menatapku.
"Nanya? Nanya apa!"
"Lu masuk angin ya, abis kerokan!?" Tanya nya tiba-tiba.
"Hah, masuk angin?." Ujar ku sambil diam dan menatapnya."Kenapa, nanyain itu tiba-tiba?"
"Yah, gua barusan liat bekas merah di tengkuk lu banyak banget ampe ke bawah." Jawabnya menunjuk tengkuk leherku yang terbuka karena tidak tertutup oleh rambutku yang tergerai.
__ADS_1
Dengan cepat, aku menutup leherku dengan rambutku dan merapikan penampilanku.
*********
"Anak dari design interior punya usul gak nih?" Tanya Dimas di tengah-tengah rapat yang tiba-tiba menanyakan usul padaku.
Aku terkejut saat Dimas menanyakan hal itu padaku. Pasalnnya nyawaku sudah terlanjur terangkat kelangit sejak pertama kali bertatap muka langsung dengan Archie yang tak pernah memperdulikan ku dan asik pacaran dengan Yoona.
"Ehh.." Respon ku bingung sambil melongo.
"Gua. Gua punya usul!" Potong Arya, yang ceketan.
Archie melirik tajam pada ku yang semenjak tadi diam mematung dan tak merespon apa pun yang terjadi selama rapat berlangsung.
"Lu kenapa, lagi sakit ya!?" Tanya Dimas di sela rapat berlangsung dan memberikan ku air mineral.
"Makasih!"
"Gua antar ke klinik yuk, kalau lu beneran lagi sakit." Ujar nya menatap ku yang menyembunyikan pandangan ku agar tak melihat ke depan.
"Aku gak kenapa-napa kok, cuman lagi kurang tidur aja."
"Lu masih sering begadang juga, umur lu berapa sih, Kok gak belajar dari kesalahan lu dulu yang nginep di rumah sakit gara-gara HB lu di bawah rata-rata." Ujar Dimas sambil menyentil jidat ku.
Melihat interaksi kami berdua yang terbilang dekat, sontak membuat Archie langsung terpancing untuk mengawasi pergerakan ku.
"Sekarang ama dulu kan beda Kak, dulu emang sering begadang karena lupa waktu pas lagi main, sekarang begadang karena lupa waktu pas lagi ngerjain tugas." Jawabku tertawa bersama Dimas.
Archie melotot ke arahku.
"Kebiasaan suka nyolot kalau di bilangin!!" Balasnya lagi sambil tertawa.
"Nah Kakak juga sama aja kan!"
DEG..
Bak tersambar gledek, jantungku yang lemah pun serasa berhenti saat tak sengaja mataku dan mata Archie saling bertatapan. Sorot matanya seakan sedang bersiap menghujam tombak ke arah kami berdua yang terlihat akrab dan tertawa bersama.
Tapi aku tak mau kalah, mungkin ini adalah kesempatanku untuk membuat semuanya terlihat lebih jelas di hadapan matanya.
"Mabar yuk kak!" Ujar ku berbicara pada Dimas sambil melirik Archie.
"Hayuk, lu masuk pake akun lama kan!!"
Archie menatapku dengan pandangan murka, mungkin cara kali ini berhasil untuk membuatnya pulang ke rumah.
__ADS_1