Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kegelapan Malam


__ADS_3

"Kita balik dulu ya Kak!" Ujar ku berpamitan dengan Dimas sambil melambai padanya di ikuti Archie yang berjalan di sebelahku.


Terlihat Dimas yang membalas lambaian tanganku sembari menghelas nafas dan mengikuti pergerakan kami berdua yang pergi menjauh dari kos-kosannya.


"Pulang kan!" Cegat Archie di hadapanku saat kami berdua sudah tak terlihat dari pandangan Dimas.


"Aku harus beli bahan makanan!" Jawabku sambil berjalan mengintarinya yang mencegat jalanku.


"Gua ikut ya!" Ujar nya sambil memegang pergelangan tanganku.


Aku tak menepis tangannya, maupun menolaknya saat dia nyaman menggenggam tanganku.


"Te-terserah!" Jawabku yang mengalihkan pandanganku, sambil berjalan bergandengan tangan dengannya menyusuri gang menuju jalan raya.


Tangannya hangat, membuat seluruh tubuhku terutama dadaku juga merasakan hangat yang tersebar dari energi yang di keluarkan oleh tubuhnya saat kami bersentuhan.


Mungkin selama menikah baru kali ini dia menggenggam tanganku sambil berjalan beriringan seperti ini, rasanya benar-benar canggung, di samping aku merasa ini pertama kalinya dia memperlakukan ku seperti ini, ini adalah pertama kalinya seseorang menggandeng tanganku dengan berjalan beriringan seperti ini.


Aku melirik kearahnya yang berjalan beriringan sambil menggandeng erat tanganku, terlihat wajah polosnya yang ceria di iringi suara nyayian kecil.


Dengan susah payah aku menyembunyikan tatapanku agar tak ketahuan olehnya, namun akhirnya usahaku ketahuan juga dan dia berhasil memergokiku yang mencuri pandang.


Saat terdapat gang kecil nan sempit, Archie menarik tanganku dan membawa tubuhku berada di balik bangunan yang memang tak terlihat oleh orang yang sedang lewat di dalam gang tersebut, selain di lindungi bangunan, tempat tersebut di lindungi oleh sebuah spanduk besar bertuliskan "BAB LAH PADA TEMPATNYA".


"Archie!" Pekik ku karena kaget dia membawaku ketempat yang sempit dimana hanya muat untuk tubuhku dan tubuhnya.


"Dari tadi, gua gak tahan pengen sedekat ini ama lu!" Jawabnya memeluk tubuhku sehingga kepalaku tenggelam di dadanya yang bidang.


"Entar ada yang mergokin kita!" Balasku yang menatap lehernya yang terlihat bentuk jakun yang menonjol.


"Kita udah nikah!"


"Kenapa harus disini, kan bisa aja di rumah!" Balas ku yang masih memandangi lehernya.


Dia berhenti memelukku dan memegang erat kedua lenganku.


Kemudian dia tersenyum menyeringai sampai kedua matanya tak terlihat, raut wajahnya menandakan seperti ada sesuatu yang tidak beres di pikirannya.


"Ok. Lets go, kita belanja bahan makanan. abis itu balik." Ujar nya buru-buru menyeretku keluar dari sana dan menuju jalan raya.


"Tuan dan Nyonya!" Sambut Hendri yang sudah menunggu kami berdua di jalan raya sambil membungkuk rendah.


Hendri diam sejenak dengan mata membulat besar saat memperhatikan kedua tangan kami saling bertaut sepanjang perjalanan dari dalam gang.


"Si-silahkan masuk!" Ucap Hendri dengan gugup dan tersenyum sembunyi dengan mengulum bibirnya sendiri.


Archie terlihat terang-terangan memamerkan tangannya yang telah menggandengku kepada Hendri di belakangku, dan dengan isyarat kedipan mata yang entah apa yang mereka berdua sedang pikirkan.


**********


"Beli sayuran kok banyak amat sih! Gua kan gak makan sayur." Keluh Archie yang mengikutiku bersama Hendri dari belakang.


"Bukan buat kamu, Ini semua buatku." Jawabku memasukan brokoli segar dan sejumlah wortel di dalam troli yang di dorong Hendri. "Lagian, sayur itu bagus buat metabolisme tubuh. Masa badan segede kamu masih gak suka makan sayur."


"Bukan nya gak suka. Tapi gua kalau kebanyakan makan sayur malah sering sakit perut!" Jawabnya sambil memilih beberapa tomat segar di dalam kemasan dan memasukannya kedalam troli.


"Bilang aja gak suka!"

__ADS_1


"Sayuran bisa meningkatkan kesuburan pada wanita dan pria, sehingga tubuh berproduktif menghasilkan senyawa yang bagus dalam pembentukan produksi sprema." Ucap Hendri nimbrung dalam percakapan kami berdua.


Aku melototi Hendri yang sengaja membuang muka dan menatap sayur bayam yang dikemasan dalam paket plastik transparan.


"Hendri!" Panggil Archie.


"Ya tuan!" Jawabnya lugas.


"Lu tau gak makanan yang bisa meningkatkan stamina biar kuat di ranjang!" Teriaknya sampai membuat orang-orang yang berbelanja di sekitar kami jadi memperhatikannya.


Buukk....


"Aauuucchh..."


Aku langsung memukul perutnya dan pergi menjauh dari hadapannya.


"Sakit sayang!!" Teriak Archie sambil memegangi perutnya yang sakit.


***********


"Tuanmu pergi kemana?" Tanyaku pada Hendri yang sendirian menungguku di area parkir.


"Ooh, Tuan sedang pergi kedepan!" Jawab Hendri sambil menunjuk segerombolan orang yang seperti melihat tontonan yang menarik.


Aku beranjak dari tempat parkiran dan melihat apa yang terjadi di antara gerombolan orang yang sedang antusias menonton.


"Jamu kuat, jamu kuat. Tahan 7 hari 7 malam, minum 3 gelas saat fajar dan minum 3 gelas saat Senja, di jamin tegak berdiri menantang langit, kuat tahan banting nyoblos semalaman suntuk. Jamu kuat jamu kuat, terbuat dari bahan pilihan dari kitab kuno kamasutra. Ayo-ayo di beli jamu kuat, beli aja bang sekarang mumpung lagi promo!"


"Ngapain disini!" Ujar ku menepuk pundak Archie yang berdiri di antara para kerumunan masal.


"Apa gua beli aja yah sepaket, siapa tau aja gua butuh entar malam." Ujarnya sambil melihatku.


"Ya ampun!" Balasku sambil memegangi kepalaku sendiri."Gak usah aneh-aneh deh.."


Aku langsung menyeretnya menjauh dari kerumunan orang yang menjual obat kuat tersebut.


"Kamu gak perlu pake yang begituan aja udah kuat. Buktinya cewek kamu banyak!" Cecarku yang tanpa sadar melampiaskan rasa kekesalanku dengan mengatakan nya secara langsung.


Dia menghentikan langkahnya dan membuatku juga berhenti di tengah perhentiannya.


"Anya!" Panggilnya."Tau gak, kalau lu lagi cemburu kek gitu, damage nya malah bikin lu jadi makin cantik!" Sambungnnya sambil tertawa terkekeh.


Dia mendekat kearah ku sampai bibirnya berada di dekat telingaku.


"Marah lagi dong! Gua malah jadi makin suka!" Bisiknya lirih.


Bbukk...


"Aauucchh..."


Aku memukul lagi telak perutnya dan pergi meninggalkannya.


"Ahh..mantap!" Teriaknya mengejekku.


***********


Hujan badai!

__ADS_1


Malam ini entah mengapa tiba-tiba terjadi hujan yang amat lebat di iringi angin kencang yang membuat malam yang dingin ini begitu mengerikan.


Aku sedang berada di ruangan baca dengan earpods yang menyumbat kedua telingaku, dan sibuk membolak-balik majalah yang sedang ku baca.


Bbllaarrr.....


Tiba-tiba suara petir yang amat keras membuat ku tersentak dan langsung mencabut aerpods bersamaan jatuhnya majalah yang sedang ku pegang.


Paaattss...


Tiba-tiba gelap gulita!


Sepertinya petir yang datang dengan sangat keras tersebut telah mengacaukan sistem kelistrikan di dalam apartemen ini.


Dengan cepat ku hidupkan flashlight HP ku dan menyusuri ruangan untuk mencari penerangan darurat.


Namun belum sempat aku keluar dari ruang belajar, tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat saat aku mengingat sesuatu yang teramat penting yang ada di dalam rumah ini.


Dengan reflek, aku langsung berlari ke kamar Archie dan membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Archie!" Teriak ku di antara suara hujan deras disertai angin kencang.


Tak ada jawaban apa pun yang keluar dari mulutnya maupun suara yang membalas panggilanku.


"Archie!" Teriakku lagi sambil mengitari kamarnya.


Saat flashlight HP ku arahkan menuju pojok bangunan, ku dapati Archie yang meringkuk sambil memegangi tubuh dan kepalanya sendiri.


"Archie!" Panggilku sambil mendekat kearahnya.


Aku tak tahu kenapa tapi?


Sejak kapan aku bisa tahu kalau Archie takut kegelapan dan membenci suara petir. Seakan pemandangan seperti ini bukan pertama kalinya ku lihat dalam dirinya.


Seperti aku familiar dengan pemandangan seperti ini.


Apa hanya perasaan ku saja, atau memang dulu sebelum pernikahan ini berlangsung, atau sebelum pertemuan pertama kami waktu ospek, aku mengalami sesuatu yang berhubungan dengan kejadian yang mirip seperti ini.


"Archie!!" Sapa ku sambil mendekat dan memegang pundaknya.


Dia langsung kaget dan menatapku bersama flashlight HP.


"Arel!!"


DEG...


Arel.


Bagaimana bisa di tahu nama panggilanku sejak kecil.


"Arel!" Panggilnya lagi sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya.


"Kau, bagaimana bisa?" Tanyaku yang bingung memandangi wajahnya yang ketakutan.


"Arel! jangan..." Ujar nya lirih dengan suara bergetar sambil memelukku dan menangis pilu.


"Ja-jangan, jangan ma-mati!"

__ADS_1


__ADS_2