
Tok tok tok....
"Maaf, jika anda ingin melakukan ritual jampi-jampi sebaiknya tunggu saja sampai pemiliknya pulang ke rumah!!" Jawab suara bersahaja yang ada di dalam pemukiman kumuh itu.
"Sakurai, ini aku!" Jawabku.
Terdengar suara gaduh seperti seseorang sedang berkelahi dengan barang-barang dapur lalu secara berlahan pintu rumah itu terbuka, dan terlihatlah sosok berwajah polos penuh kelembutan sedang memakai celemek berwarna biru putih bercorak bunga lily, dia memegang spatula dengan minyak menetes di ujungnya.
"Kau sedang apa?" Tanyaku sebelum dia menyapa keterkejutannya karena kedatanganku.
"Kakak, biar aku saja!"
"Diamlah, urusan dapur adalah urusan perempuan." Ujarku membereskan kekacauan yang dia buat dan membuatkannya makan malam.
"Ini silahkan!" Ku sajikan omelet daging kalengan dan juga tumis buncis di atas tikar lalu menuangkannya air minum, "makanlah, kau pasti lapar."
Dia tak menyahut dan dengan berlahan memasukkan makanan ke mulutnya, mengunyahnya lalu lama kelamaan semangkin cepat seperti orang kelaparan yang seminggu tak pernah makan, nasi di dalam ricecooker yang ku tahu sebanyak setengah kilo itu habis tanpa sisa. Kini ku yakin, setelah kejadian itu Sakurai mengurung dirinya di tempat ini, tak pernah keluar dari sini bahkan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri dari kelaparan.
"Terimakasih atas makanannya!!" Ucapnya sembari dengan sopan meletakkan gerabah sisa makannnya dan membungkuk padaku.
"Oh ya!" Aku merogoh tas ku dan menyodorkan 2 paks permen marshmellow warna-warni kesukaannya, "ini, aku membelikanmu ini saat menuju kemari."
Dia mengambilnya dari ku dan menatap permen itu dengan tatapan kosong.
"Ku ingat kau sangat menyukainya jadi ku pikir tak ada salahnya jika membeli 2, dan juga...."
"Untuk apa kakak kesini?" Potongnya dengan suara dingin.
"Ya!!" Revisiku.
"Kenapa kakak kemari, bagaimana kakak tau aku disini?" Tanyanya dengan suara datar dan menusuk.
Aku kaget mendengar perkataannya terlebih lagi aku teringat dengan semua cerita tentang masalalu nya yang di ceritakan Dafa, namun ku tenangkan hatiku karena Sakurai tak lain dan tak bukan adalah adik iparku.
"Dafa yang memberitahuku, aku yang memaksanya!!" Jawabku gemetar.
__ADS_1
Sakurai diam seribu bahasa, dia bahkan tak menatapku bahkan selirikan.
"Sakurai!!"
"Untuk apa?" Tanyanya lagi, "untuk apa kakak menemuiku?"
"Sakurai!!" Panggilku lagi dengan lembut, "Archie, dia membutuhkan mu!"
Dengan cepat dia menatap kejam padaku setelah aku mengucapkan nama itu, dia bahkan seperti menancapkan berpuluh belati hanya dengan sekali tatapan.
"Apa kakak pikir aku akan peduli dengan orang yang bahkan tak perduli dengan nyawanya sendiri dan juga orang yang dia anggap berharga." Pungkirnya dengan nada bergetar, aku yakin dia ingin meledak-ledak, "aku mengabdikan seluruh hidupku, nyawaku, hanya untuk mengikutinya mematuhi segala perkataanya, menjaga urusannya, semua ku lakukan demi dirinya, tapi apa yang ku dapat."
Aku menunduk dan mengepalkan kedua tangaku di atas lutut, bisa ku rasakan bagaimana perasaan Sakurai terhadap Archie selama ini.
"Apa aku ini sudah tak lagi berguna?" Ucapnya lagi dengan suara rendah namun bergetar. "Apa dia sudah tak lagi membutuhkan ku setelah apa yang ku lakukan sejauh ini untuknya?"
Aku ingin sekali mengatakan kepadanya kalau dia salah paham terhadap situasi ini, tapi tak mungkin ku katakan kalau dia sedang dalam kondisi meledak-ledak. Lihatlah wajahnya yang memerah karena menahan marah, dia tetap menjaga nada bicaranya meskipun dia ingin sekali mengamuk.
"7 tahun yang lalu setelah ibuku membuangku dan berharap aku mati seolah tak pernah di lahirkan, aku bertekat untuk membalaskan dendamku agar dia merasakan neraka yang tak pernah di bayangkan oleh orang lain, maka dari itu aku berusaha lebih keras dari siapa pun, berlatih 10x lipat di umur masa anak-anak normal bermain di taman bermain." Ujarnya mulai berkisah, "aku sudah membunuh banyak orang tak bersalah saat anak seusiaku baru belajar memegang pedang mainan untuk perang-perangan, aku sudah menganiaya banyak orang tua di saat anak seusiaku mematuhi ayah ibunya karena rasa hormat, aku sudah banyak merampas milik orang lain bahkan membakar rumah mereka saat di usiaku baru mengenal apa itu rasa belas kasihan." Dia mulai meledak-ledak namun suaranya tetap stabil dalam tempo yang rendah.
"Aku di tempa oleh keadaan, kadangkala jika aku memikirkan ibuku yang telah tega membuangku begitu saja bahkan membiarkanku di besarkan oleh orang-orang yang bahkan hidup dengan memakan kotorannya sendiri, aku ingin melenyapkan semua orang yang punya keluarga, aku ingin mereka semua merasakan apa yang ku rasakan. Maka dari itu saat ada tugas untuk membantai satu keluarga yang bermasalah, aku dengan semangat menunaikannya bahkan tanpa di bayar." Ekspresinya mirip burung pemakan bangkai yang berpesta pora menyantap buruannya saat kemarau panjang, bahkan tanganku sampai gemetar mendengarnya.
Dia terkekeh dan wajahnya pun sekarang berubah drastis. "Aku teringat hari itu!!" Ujarnya sembari duduk lesehan dan melepaskan duduk sopannya, "dia datang dan mengatakan omong kosong memuakan, bahwa ayah kami berdua sama, bahwa aku adalah adik kecilnya yang selama ini dia rindukan, bahwa selama ini aku tidak sendirian, bahwa aku masih punya keluarga di luar sana, bahwa aku.." dia menunduk dan tak dapat di tahan-tahan, perasaan melankolisnya menyeruak menghambur di kepalanya. "Bahwa selama ini dia terus mencari keberadaanku, bahwa jika ibuku tak menginginkan keberadaan ku dia malah menginginkan ku."
Tubuhnya bergetar hebat, sampai seperti itu dia menahan agar tak melepaskan emosinya sendiri.
"Tentu saja, awalnya aku menolak semua omong kosongnya!!" Ucapnya lagi dengan tatapan menantang dan menolak melepaskan air mata yang terlihat menggenang di pelupuk matanya. "Namun dia menawarkan sesuatu yang amat menarik!"
Yang bisa ku lakukan hanyalah mendengarkannya, meskipun ingin sekali bertanya, semua itu langsung terhenti jika menatapnya yang punya raut wajah aneh di barengi perasaan bersemangat yang tak bisa ku jelaskan.
"Dia menantangku agar membunuh ibuku sendiri, dan membawa kepala ibuku ke hadapannya." Aku gemetar dengan mulut membekap, dalam tangan mengepal keringat dingin menyeruak memenuhi telapak tanganku.
"Jika aku berhasil, aku pun boleh membantai semua anggota keluarganya, maka semua kekayaannya, jabatannya, dan juga harta keluarganya akan jatuh kepadaku, dan jika aku gagal.." dia diam sesaat, "aku harus mengikutinya."
Lama Sakurai terdiam, dia menenengkan dirinya sendiri dengan menarik napas panjang, kemudian dia melanjutkannya saat menatapku yang terus diam menyimak kelanjutannya.
__ADS_1
"Aku senang tak terbilang mendengarkan tawarannya, saat-saat yang ku tunggu selama hidupku akhirnya datang juga, yaitu membalaskan dendamku pada ibu yang telah membuangku sekaligus membantai keluarga yang punya hubungan darah denganku. Menarik bukan, ini seperti sekali tepuk 2 nyamuk," lanjutnya. "Ku pikir membunuh mereka semua akan menyenangkan, aku sudah dulu membayangkan saat-saat mereka semua meregang nyawa di depan mataku. Namun tahu kah kakak pemandangan apa yang pertama kali ku lihat saat mendatangi ibuku yang telah membuangku untuk pertama kali?!"
"Apa yang kau lihat?" Tanyaku gemetar membayangkan jawabannya.
Sakurai memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. "Dia menungguku!!" Jawabnya dengan suara parau.
"Ibumu?"
Sakurai menggangguk lemah. "Dia sudah siap mati," jawabnya.
Lama lagi dia terdiam, sepertinya menceritakan kisah pahit hidupnya bukanlah perkara mudah seperti hal nya membual.
"Dia sakit keras, tubuhnya kurus sampai hanya tersisa kulit dan tulang!!" Sakurai sudah tak sanggup lagi, air mata itu akhirnya menetes sendirinya tanpa bisa di kendalikan. "Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa menyambutku dan langsung mengenaliku, padahal aku berniat untuk memenggal kepalanya."
Sakurai terisak hebat dan memegangi kepalanya sendiri. "Padahal aku sudah menunggu-nunggu hari ini, aku sudah banyak menderita untuk sampai di puncak ini, tapi kenapa...kenapa aku tak bisa melakukannya?"
Ahh, ya. Akhirnya aku mengerti kenapa Sakurai sampai seperti ini. Akhirnya aku juga mengerti kenapa Archie juga sampai seperti itu. Mereka berdua mirip, mereka berdua sama-sama menderita dan mengalami masa sulit. Bagaimanapun juga jika bunga tanpa tangkai dan daun masih lah bisa di sebut sekuntum bunga, akan tetapi jika tanpa kelopak bentuknya bahkan sudah berubah bahkan tak bisa lagi di katakan sekuntum bunga. Mereka berdua saling melengkapi, itulah mengapa mereka merasa kecewa terhadap diri sendiri maupun satu sama lain.
"Pada hari itu, aku pun berjanji setia untuk mengikuti Archie Yuaga kemanapun dia pergi, bahkan sampai neraka terdalam sekalipun aku bersedia mengikutinya!" Matanya yang memerah berubah tajam, dia seperti sebuah benteng yang tak tertembus, yang bahkan perlu mengorbankan lebih dari 2000 jiwa untuk mrmbentuk sebuah benteng itu, itulah tujuan hidupnya, dedikasinya demi melindungi sang raja di dalam benteng.
"Kembalilah!" Tanpa mengambil tempo aku langsung mencegatnya.
Dia menggeleng pelan, "apa kakak tak mengerti dengan semua perkataanku tadi?"
"Sudah 4 hari sejak kau pergi, Archie mengurung dirinya sendiri di kamar." Ucapku, "dia ga mau makan, ga ingin menemui siapapun, bahkan dokter psikolog pun menyerah."
"Apa urusannya dengan ku.."
"Kembalilah!" Potongku langsung. "Aku tau kau murka, tapi sebenarnya kejadiannya gak seperti itu."
"Maksud kakak?" Tanyanya tertarik.
"Ide itu, semua rencana itu, aku yang melakukannya. Aku yang menyuruh Archie untuk gak memberitahu siapapun, aku yang mengajaknya agar bergerak sendiri tanpa tahu resikonya, semua itu aku yang lakukan, itu semua perbuatanku. Aku ga memikirkan dampaknya akan seperti ini, dan mencurigai semua orang bahkan tanpa menyelidikinya dulu." Jelasku. "Jadi ku mohon Sakurai, jangan salahkan Archie, itu semua salahku, marahlah padaku."
Dia bergeming, raut wajahnya berlahan mengendur, urat-urat yang timbul di dahinya sekarang menghilang.
__ADS_1
"Kembalilah saat sudah waktunya kau kembali, Archie membutuhkanmu!!" Ucapku yang berdiri di luar kosannya.
Dia menatapku tanpa bicara apapun di ambang pintu, nalurinya pasti sangsi tapi dia lelaki, dia punya harga diri sebesar gunung dan membutuhkan waktu untuk mereda.