
"Sampai di sini perkuliahan kita hari ini. Jangan lupa kumpulkan tugas kalian besok lewat e-mail, bapak tunggu sampai tengah hari!" Ucap pak Retno yang mulai meninggikan suaranya di saat anak-anak didiknya mulai berhamburan tanpa memperdulikan perkataanya. "Jangan lupa buat mengecek pesan grup biar kalian gak ngaret kuliah, hoii..." Pekiknya di saat tak ada satu pun dari anak-anak yang tinggal di kelas untuk mendengarkan celotehannya.
Braakk...!!!!!!
Tiba-tiba ada seseorang yang terburu-buru menabrak teman sekelasku di saat kami sedang keluar dari kelas secara berjamaah.
"Maaf, maaf. Gua gak sengaja." Ucapnya lalu memunguti buku yang berserakan di atas lantai dan kemudian memberikannya kepada orang yang tadi di tabraknya. Namun hanya sesaat setelah itu dia kembali berjalan tergesah dengan wajah tegang.
"Bir..!!" Sapaku dan langsung memegangi pundaknya sebelum dia beranjak pergi dari hadapanku dengan terburu-buru.
"Anya!" Sahutnya tanpa menoleh ke arahku.
*************
"Kamu kemana aja?" Tanyaku sembari melemparkan minuman dingin ke arah Libiru.
'Makasih!" Ucapnya. "Gak kemana-mana kok beb. Cuman lagi jarang keluar rumah aja." Di sela menenggak minumannya, ku rasakan kata-katanya yang terkesan kaku dan menyembunyikan sesuatu.
"Beneran. Bukannya anak-anak bilang kamu lagi kerja sambilan mangkanya jarang banget kumpul."
Seketika Libiru menatap sejurus dengan hampa dan kembali menenggak minumannya.
"Di outletnya bude Lela sekarang lagi ada diskon besar-besaran dari produk skincare SEKAK-II, gua rencananya mau ngajakin kamu sabtu besok. Tapi karena kamu sibuk mulu mangkanya jadi susah banget di hubungin."
Outlet bude Lela merupakan tempat langganan kami untuk berkonsultasi dalam memilih perawatan kulit, agaknya beberapa minggu sekali kami berdua sering mengunjungi tempat itu untuk sekedar mencari produk terbaru atau hanya main-main untuk menyapa bude. Libiru tidak seperti ku, dia amat sangat rutin menjaga kulitnya, tak bisa ku bayangkan berapa budget yang dia habiskan hanya untuk merawat wajahnya yang sehalus kapas dan sebening kristal.
Namun kali ini, reaksi nya agak berbeda dari biasanya.
Libiru yang ku kenal, dia akan kerasukan saat aku menyebutkan kata-kata keramat seperti make up, skincare, shoping, spa, dan sejenisnya yang amat sangat di gemari kaum sejenisku. Tapi kali ini, dia biasa saja dan cenderung mengabaikan ku.
"Gimana, mau pergi bareng ga sabtu ini?" Pancingku berusaha menarik perhatiannya.
"Kalau sabtu ini boleh sih, gua juga lagi free." Balasnya mengakhiri rasa penasaranku.
Berarti benar dugaanku, dia memang sedang menyibukkan diri dengan sesuatu.
"Jadi kamu beneran lagi kerja sambilan?" Tanyaku berusaha menggalinya lebih dalam.
Liburu mengangkat kepalanya dan diam mematung menatapku. "Iya!" Jawabnya singkat sembari memalingkan wajahnya dari hadapanku, seakan ada perasaan tidak rela saat dia memberitahuku.
"Bir, kamu lagi punya masalah!" Tanyaku.
__ADS_1
Gabairi Libiru, dia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Ayahnya pemilik perusahaan bahan baku bangunan yang mendunia, dan ibunya seorang desaigner pakaian internasional dan setiap karyanya sering muncul di ajang fashion show luar negri.
Sebagai anak dari orang tua yang kaya raya, tidak mungkin Libiru kekurangan uang sampai harus memutuskan untuk kerja sambilan.
"Enggak kok, gua cuman lagi pen nyari suasana baru aja." Jawabnya dengan logat melambainya dan juga senyum yang dipaksakan.
"Tapi kalau kamu beneran gak ada masalah kenapa kamu..."
"Bebby hussstt...gosah khawatirin gua ahh, gua beneran lagi nyari suasana baru, lebay banget deh." Potongnya dengan gaya khas centilnya yang bikin cewek-cewek merinding.
"Beneran?" Pancingku yang tak mudah percaya dengan perkataannya.
"Kalo nanya lagi gua sleding nih!" Balasnya melengos sebel memandangiku.
Tak jauh dari tempat kami berdua berada terparkirlah sebuah mobil hitam mate. Pintunya langsung terbuka dan keluarlah Hendri dari balik mobil itu.
"Sepupu lu tuh!" Ucap Libiru memberitahuku.
Ternyata selama ini Libiru juga tak mendapat kabar jika aku sudah menikah dan Archie adalah suamiku, terlebih dia masih menganggap Hendri sebagai sepupuku.
"Ahhh...iya, aku cabut dulu ya. Daahh...!" Ujarku sembari setengah berlari menghampiri Hendri agar tak terjadi kontak dengan Libiru.
"Apa Nyonya ingin merahasiakan keadaan ini dari Libiru?" Tanya Hendri sambil membukakan ku pintu dan langsung peka dengan situasi.
"Kalau Nyonya ingin tahu akan hal ini, saya akan mencarikan informasi untuk Nyonya." Balas Hendri.
"Apa kau bisa melakukannya?" Tanyaku antusias.
"Tentu saja. Urusan Nyonya adalah kewajiban saya." Balas Hendri.
***************
"Ya ampun capeknya!" Ucapku sembari menyalakan lampu di ruang tamu dan bergegas naik ke lantai 2 menuju ke kamarku.
Namun saat itu aku lupa jika kamar yang dulu aku tempati bukanlah kamar ku lagi, sehingga dengan ceroboh aku langsung masuk ke kamar itu dan menyaksikan sebuah pemandangan yang tak ku sangka-sangka.
Aku menyaksikan Sakurai yang bugil dan hanya memakai cancut model span sedang duduk dan berkonsetrasi menggambar sembari memperdengarkan musik dengan headset.
"Waaaagggghh....!!" Pekikku sembari menutup rapat wajahku dengan kedua tanganku.
Mendengar teriakanku, Sakurai pun ikutan terkejut dan mencari arah sumber suaraku sembari melepas headsetnya. Namun bukannya berusaha menutupi tubuhnya agar tak terlihat olehku, dia malah berdiri dan memamerkan keindahan lekukan tubuhnya yang juga punya otot perut.
__ADS_1
"Kakak ipar kenapa?" Tanyanya tanpa mengetahui dosanya yang membuatku berteriak.
"Kenapa kau bugil di kamarku." Bentakku dengan terus merapatkan kedua telapak tanganku.
Terdengar suara tawa kecil seperti ledekan dari Sakurai, dan tanpa sepengetahuanku dia sudah berada tepat di hadapanku.
"Memangnya kenapa?" Jawabnya dengan nada mempermainkan.
Tidak, kenapa dia bisa jadi sedekat ini. Kapan dia kemari, aku bahkan tak merasakan kehadirannya saat dia kemari. Bahkan tak terdengar suara apa pun saat dia mendekat.
Saat aku berlahan-lahan membuka telapak tangan yang menutupi wajahku, dan memastikan nya sendiri kalau dia memang berada di hadapanku.
Pandangan ku langsung teracung pada bantalan kotak-kotak yang menghiasi perutnya, di umur 18 tahun dia juga punya tubuh atletis yang bahkan tak di miliki bocah yang hobi menggambar.
"Memangnya kenapa kalau aku bugil di kamar." Ucapnya membuyarkan lamunanku yang tak senonoh.
"I-ini kan kamarku!" Jawabku dengan tegas.
"Kakak ipar lupa ya kalau sekarang ini sudah jadi kamarku." Ucapnya lagi semakin mendekat kearahku bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya bertiup di ubun-ubunku. "Atau kakak ipar sengaja masuk ke kamarku karena sekarang kakak ku sedang tidak ada di rumah." Sambungnya dengan nada pelan setengah berbisik seakan-akan mencoba menggodaku.
Sekilas ku tatap wajahnya yang menuding ku dengan perkataan terakhirnya. Sakurai tersenyum liar dengan pandangan mengintimidasi, yang bahkan tak pernah ku jumpai wajah brengsek penuh dengan tatapan berbeda seperti itu.
"Jangan salah paham. Aku benar-benar lupa kalau kamar ini sudah menjadi milikmu." Jawabku kalap jika saja Sakurai berbuat macam-macam padaku.
Plaaaakk....
Tiba-tiba Sakurai mengkabedonku sampai kedua mata kami beradu, sehingga ku rasakan desiran ketakutan memenuhi ragaku.
"Kakak ipar sendiri yang masuk ke kamarku, jadi terimalah konsekuensinya." Ucapnya dengan pandangan mengerikan dengan mempertahankan senyum liciknya.
Dia berbeda dengan Archie, hanya sekali saja menatapnya aku sudah tau jika aura mereka berdua sangat terasa berbeda. Tak ku temukan tatapan membunuh seperti yang Archie layangkan kepadaku saat pertama kali aku melihatnya mempertunjukan sifat aslinya. Sakurai berbeda, tatapannya seakan sedang mempermainkan buruannya agar rasa bosannya terpenuhi.
"Apa yang kau ingin lakukan?" Tanyaku dengan nada bergetar karena ketakutan.
"Aku hanya sedang menghukum kakak iparku yang salah masuk kamar." Jawabnya tanpa mundur sedikitpun dari hadapanku.
"Sakurai!!!!"
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak di belakangku.
Sakurai hanya memutar bola matanya merespon arah suara tersebut tanpa mundur selangkah pun dari hadapanku.
__ADS_1
"Nyari mati lu!!" Ucap Archie dengan nada tegas penuh tekanan.