
"Kau boleh make kamar ini sampai besok," Ujarnya setengah melirikku. "Atau kau juga boleh pergi dari tempat ini kalau bajunya udah kering!" Katanya lagi dengan canggung berbicara padaku sembari mengeringkan baju ku dengan hair dryer sehabis di cuci.
"Kamu kenapa sih?" Tanyaku karena dia enggan melihat ke arahku.
"Itu..kamu kok bisa santai gitu sih pake kimono handuk bareng cowok di dalam kamar mandi." Ujarnya dengan malu-malu.
"Pppfftt...!!" Ledekku sambil tertawa lepas. "Aneh deh, bukannya kamu udah biasa liat aku pake kimono handuk, kita kan udah sering spa bareng-bareng."
Libiru tetap enggan menatapku dan dengan terang-terangan merasa malu sampai wajahnya terlihat memerah.
"Gak kayak kamu aja deh, kadang aku ngerasa lagi ngomong ama orang lain kalau cara ngomong ngondekmu itu ilang tiba-tiba kayak gini."
Dia tak mengidahkan omonganku dan terus mengeringkan bajuku.
"Kalau gitu kamu istirahat aja, aku pengen balik lagi ke atas." Ucapnya setelah selesai mengeringkannya dan berjalan menjauh dari ku.
"Tunggu," ujarku dan langsung mencegatnya untuk pergi. "Kita belum selesai ngomong."
Akhirnya dia menurutiku dan dengan terpaksa mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Kamu tuh lagi ada masalah!!" Tanyaku, "Kita semua bela-belain datang kesini buat ketemu kamu, karna kita semua khawatir ama kondisi kamu."
Libiru diam seribu bahasa dan masih tak berani menatapku.
"Kamu juga udah gak pernah lagi ikut perkuliahan, tugas-tugas kamu juga banyak yang nganggur. Kamu juga gak ada pemberitahuan apa-apa dan langsung pindah kosan, anak-anak pada bingung kenapa kamu gak bisa di hubungin." Celotehku, "Tau gak sih, sifat kamu yang kayak gini tuh ganggu banget, padahal dulu kan kamu selalu ngasih kabar."
Dia tetap diam dan tak merespon apa pun semua perkataanku selain wajah nya yang memerah dan tubuhnya yang membeku.
"Bir, jawab dong? Kamu kenapa sih." Tanyaku berusaha membujuknya sembari duduk beberapa senti sampai lututku secara tak sengaja bersentuhan dengan pahanya.
Lalu dengan terang-terangan dia malah menghindar dan duduk mangkin menjauh dari ku.
__ADS_1
"Ka-kamu di situ aja," ucapnya dengan gagap. "Aku gak bisa ngomong kalau kau dekat denganku dengan pakaian seperti itu." Sambungnya dengan nada panik.
"Kamu tuh kenapa sih, aneh banget." Cetusku risih.
Dddrrrttt....dddrrtt....
Lalu telponnya bergetar, dan dia meminta izin kepadaku untuk mengangkat telponnya sebentar di luar. Dan tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawakan ku sebotol minuman dingin yang baru saja dia ambil dari mesin minuman.
"Mudah-mudahan kamu gak syok ama kejadian tadi." Ujarnya sambil memberikan ku minuman dingin.
"Makasih ya." Ucapku sambil menerimanya. "Kamu udah berapa lama kerja di sini, kenapa gak ngasihin kabar." Tanyaku lagi.
"Itu, sebenarnya aku malu ngasih tau kalian soal aku yang kerja di tempat kayak gini," jawabnya sambil melirik ku yang meneguk hampir setengah dari minuman yang dia berikan.
"Terus soal kamu yang gak ngasih kabar, ampe gak ikut perkuliahan tuh kenapa?"
"Itu, karena akhir-akhir ini aku lagi fokus kerja." Jawabnya sedikit melamun.
"Tapi kan gak seharusnya kamu ninggalin perkuliahan dan bikin khawatir anak-anak!"
Ku tepuk lembut pundaknya, "Kita kan temen, Kamu kan bisa ngasih tau apa pun masalah kamu ke kita, jangan memendam semuanya sendiri, kadang berbagi dan bergantung ama orang lain itu pilihan terbaik dari pada kamu menanggung segalanya sendirian. Gak ada salahnya kan kamu berbagi kesusahan kepada orang-orang terdekat, karna kamu orang baik, aku yakin kamu gak pantas nerima beban kayak gini sendirian." Ujarku.
Sesaat ku lihat tatapan matanya terbelak di saat memandangku, tatapan hangat yang samar-samar penuh dengan penyesalan dan juga kepiluan.
"Kita semua bakal dengerin apa pun masalah kamu, gak peduli seberat apa pun situasi yang lagi kamu hadapin, kita semua bakalan berusaha yang terbaik buat bantuin kamu. Mangkanya mulai sekarang, kamu ceritain semuanya ke kita. Jangan menanggung semuanya sendirian!"
Tiba-tiba Libiru mengakhiri tatapannya sambil tersenyum tipis, dan di saat itu juga ku temukan sesuatu yang sekelebat membuatku merasa kalau dia adalah orang yg berbeda.
"Kayaknya aku harus cabut dulu!" Ucapnya sambil melihat jam tangannya. "Nanti kita ngobrol lagi abis kerjaanku selesai."
"Ohh..oke!!" Tiba-tiba di tengah pembicaraan ini,ku rasakan sesuatu yang aneh pada tubuhku, terdapat sensasi yang tak pernah ku rasakan sebelumnya dan itu berakibat dengan perasaan yang membuat suhu ruangan ini menjadi tinggi.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Libiru yang melihatku gelisah.
"Gak, gak kenapa-napa, cuman kamu ngerasa gak kalau di sini tuh panas, apa cuman perasaan ku aja." Tanyaku sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan ke wajahku.
Sekejab aku berhalusinasi dan melihat Libiru yang tersenyum licik menatapku yang gelisah, dan dengan cepat dia menyembunyikan nya seperti tak menampakan ekspresi apa pun.
"Ntar, aku kasih tau petugas tempat ini deh, kayaknya emang AC nya yang bermasalah." Ungkapnya sambil berjalan menjauh menuju pintu keluar.
"Oke, cepetan yah, Soalnya panas banget." Ujarku yang tanpa sadar malah meregangkan kerah kimono handukku.
Cepat-cepat Libiru mengalihkan tatapannya dan menutup pintu kamar tanpa mengatakan apa pun.
"kok jadi tambah panas!!" Ujar ku gelisah, dan langsung berlari menuju kamar mandi.
Dengan panik ku guyur wajahku sendiri dengan air dingin dan membilasnya berkali-kali, namun rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhku mangkin menjadi sampai-sampai terasa semangkin menyiksa.
"Shiit...aku...aahhh..aku kenapa sih.." gumamku yang sekarang mulai menarik-narik kimono handukku sendiri sampai hampir terlepas dari tubuhku.
Ada apa dengan ku, kenapa tubuhku malah mengalami hal aneh seperti ini.
Lama kelamaan tubuhku malah menjadi bertambah panas di sertai dengan serangan gatal ringan seperti di kerubungi semut kecil dan hal itu semangkin menyebar dan memenuhi seluruh tubuhku. Karena terlalu banyaknya bergerak, tanpa sadar semua pakaian ku terlepas dan hanya menyisakan pakaian dalam.
Glek glek glek glek...
Ini sudah air yang ke 4 gelasnya, namun rasa panas dan juga dehidrasi yang ku rasakan mangkin menjadi.
Lalu aku terpikirkan dengan penyebab kenapa aku menjadi seperti ini, apakah aku meminum sesuatu sebelum kemari.
Namun belum sempat aku berfikir dengan keras penyebab hal ini, keanehan pada tubuhku sendiri terus berlanjut, dan sekarang keinginan untuk menyentuh tubuhku sendiri terutama pada bagian sensitif kian detik kian memuncak dan semangkin bertambah kuat.
Tok tok tok....
__ADS_1
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar, dan dengan cepat ku raih kimono handukku dan memakaikan nya dengan serampangan.
Mungkin saja itu Libiru atau petugas hotel yang ingin membenarkan AC nya yang rusak, namun saat pintunya terbuka. Bukannya Libiru atau petugas tempat ini yang datang, melainkan pria brengsek yang tadi ku temui di atas yang merupakan temanya Rio dan yang telah membuat keributan.