Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Takdir Di Antara Takdir


__ADS_3

"Makasih dok. Gua bakal sering-sering ngasihin dia Vitamin biar gak lemes." Ucap Archie merangkulku dengan tangannya yang setengah meremas bahuku.


"Karena ini anak pertama kalian, saya harap anda sebagai calon ayah yang baru, harus memberikan perhatian ekstra pada istri anda, apalagi kondisi tubuhnya sekarang sedang melemah."


Grreeppp....


Archie semakin meremas bahuku sampai kukunya terasa sampai menembus outer tebal yang ku gunakan.


Aku menatap nya yang kini memaksakan senyuman nya. Dokter itu terus-menerus memberikan edukasi mengenai kesehatan seorang wanita hamil. Tanpa mengetahui kesalahan yang sedang terjadi di antara kami.


"Makasih sarannya. Kalau begitu, kita berdua cabut dulu!" Potong Archie yang menghentikan pembicaraan sang dokter.


Tanpa basa-basi Archie langsung membalikan tubuhnya dan juga membawaku pergi dari sana, dengan berjalan tergesa menuju parkiran.


"Archie aku.."


"Gak usah ngomong!" Potongnya dan terus berjalan setengah menyeret ku. Tangannya yang masih mencengkeram bahuku.


"Archie!!" Panggilku lirih dengan nada ketakutan.


"Aku gak tau kalau.."


Paakk....


Dia langsung meng-kabedon ku di halaman parkiran dalam gedung, sehingga tubuhku terhempas ke arah dinding dengan terpaksa.


"Archie aku.."


"Kenapa?" Tanyanya sambil meremas pergelangan tangan ku dengan nafas tersengal.


Dia bertanya, kenapa!


Apa yang harus ku katakan.


Memangnya aku tahu apa?


Aku harus menjawab seperti apa?


"Anya, kenapa?" Tanyanya terisak.


Kemudian dia menjatuhkan kepalanya di bahuku.


Aku bisa merasakan buliran air mata yang terasa hangat membasahi leherku.


"Ke-na-pa?" Isaknya dengan suara bergetar hebat.

__ADS_1


"Archie..." Panggilku yang jugaa ikut terseret, sehingga ikut menangis sesenggukan dan memegangi Tengkuknya dengan sebelah tanganku.


"Maa..aaf!" Sambungku lirih, dengan mencengkeram lehernya.


"hhhhhkk....hhhkkk...ssssstt...!!"


Dia menangis dengan terisak, dan tangisannya itu semangkin menjadi sampai tubuhku bergidik.


Aku memeluk erat lehernya, dan ikut menangis sampai membasahi rambut dan telinga nya.


Tolong aku!!


Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kami berdua, kenapa kami berdua tak pernah mendapat kesempatan untuk saling mengenal dan mencintai layaknya pasangan normal.


Kenapa kami berdua di uji dengan cobaan seperti ini?


Apakah kami berdua memang tak di takdir kan untuk bersama?


Lalu bagaimana nasib pernikahan kami!!


Aku hamil!


Tapi ini bukan miliknya, kami berdua bahkan tak pernah sekalipun bersenggama selama 7 bulan menikah.


Apa yang harus ku lakukan?


"Haaaggggghhhh......!!" Dia menjerit histeris di bahuku, tubuh gemetar setengah mengejang, dan meredam suaranya dengan leherku.


"Haaagggghh..gghh..!!"Jeritnya lagi sambil memelukku, sampai tubuhku mengecil saat terpaut oleh tubuh besarnya.


Kami berdua larut dalam tangisan, bersahutan dalam raungan kepiluan. Tak tahu kenapa, apa yang sedang terjadi dalam kisah cinta yang sedang kami berdua ini lakoni, kenapa akhirnya menjadi seperti ini.


Aku terus bertanya kenapa kami berdua harus bertemu seperti takdir namun di akhir seperti takdir juga.


5 menit terus menangis dengan saling bertaut di dalam pelukan, membuat kami berdua terdiam untuk sesaat dan mengatur tempo nafas.


Tubuh ku gemetar karena hembusan nafasnya yang semakin menjadi menggerayangi leherku, hembusan napas kasarnya mengisyaratkan sesuatu sampai aku hanya bisa diam mematung dengan terus bertaut dalam tubuhnya.


Tiba-tiba dia langsung membenamkan kepalanya menghadap kearah leherku, napas berat tersengal nya menusuk masuk melewati pori-pori kulit leherku.


Pelukannya semakin lama semakin dalam dan menggerayangi seluruh punggung ku seolah sedang memegang kuas dan melukis di atas sebuah kanvas polos.


Sejurus kemudian ku rasakan hujaman dari gigitan lembut yang berasal dari giginya yang menjalari kulit leherku.


Dia mendesis di iringi oleh berbagai macam gigitan lembut, sampai lidahnya ikut keluar dari sela-sela gigi nya dan menikmati keringat segar yang berada di leher ku dengan lahap.

__ADS_1


Tanpa ku sadari kedua tangan nya malah berhasil masuk dan menyusup kedalam bajuku, hingga telapak tangannya menyet*buhi kulit punggungku dengan beringas.


Bukan Hanya membiarkan lidahnya yang menikmati leherku, tapi aku juga membiarkan nya melakukan apa pun padaku saat ini, tak ada dorongan untukku menolaknya.


Karena dari awal, aku memang lah miliknya!


Dia berhasil memenuhi seluruh leherku dengan bau nafas tembakaunya. Dia berhenti sampai di tenggorokan ku, kemudian mengangkat kepalanya cukup lama, dan memandangi ku dengan tatapan yang masih di liputi oleh ketidakpuasan.


Grreeppp....


Archie langsung menarik tangan ku, dan segera mencari mobilnya di dalam parkiran.


Tanpa mengatakan apa pun dia langsung melempar ku ke dalam kursi belakang mobil dan menguncinya dari dalam.


Dia mencopot satu per satu sepatu yang ku gunakan, membuka outer yang membungkus tubuhku dengan perlahan, menanggal kan satu persatu baju yang melekat di tubuhku, melucuti semua pakaian dalam ku.


Sampai kini tak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuh ku.


Namun entah apa yang dia pikirkan, dia hanya memandangi tubuh tanpa melakukan apapun. Cukup lama sampai membuat suasana terasa canggung.


"Archie.." Panggil ku lirih sambil memegang pergelangan tangannya.


Sesaat dia terperanjat dan dalam sekian detik mimik wajah nya berubah dingin tanpa ekspresi, tak ada emosi yang tergambar dari raut wajahnya, seolah yang terpampang di hadapan ku adalah Archie dalam wujud berbeda.


Dia mendekat kearahku, menarik rahang ku arahnya, menatap ku dengan pelikan mata kasar seperti burung elang yang menyambar mangsanya tanpa belas kasihan. Aku bergidik memperhatikan tingkah lakunya yang berubah-ubah dalam waktu sekejap, dan kini yang bisa ku lakukan hanyalah pasrah dan merelakan segalanya.


Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung menghempaskan tubuhku secara paksa.


Dengan mata terpejam, dia melucuti kemeja dan kaus. Dia langsung menindih tubuhku dan memulai aksinya dengan cumbuan yang menghanyutkan, seolah keahlian yang begitu terlatih dengan persisten dapat ku nikmati dari setiap perlakuan nya.


Tapi...


Kenapa?


Kenapa dia terlihat menderita. Bahkan air matanya mengalir berlahan sampai membasahi wajahku. Apa dia terpaksa melakukan ini, karena menderita.


Aku menyadari ketidak beresan ini langsung menarik diri dari hadapannya.


Tapi dia tak membiarkanku, dia terus membuatku berada di dalam lingkaran nya dan melakukan aksinya.


"Archie!!" Pekik ku kemudian mendorong bahunya sekuat tenaga sampai tubuh nya terangkat ke atas.


Tak dapat di pungkiri, tak dapat di relakan, perasaan hancurnya yang melihatku bertubuh polos seperti ini menyakiti pikiran dan mental nya. Sehingga tanpa mengatakan apa pun, dia sudah terlihat hancur, sehancur-hancur nya.


"Siapa?" Tanyanya dengan wajah pilu yang paling menyedihkan, sampai air mata yang berada di pelupuk matanya jatuh seperti hujan, mendarat di wajahku.

__ADS_1


"Siapa, yang udah berani nyentuh badan lu selain gua?" Teriak nya kencang sampai menggema memenuhi seisi mobilnya.


__ADS_2