
"Nya, bisa ngomong bentar ga!" Seru Arya yang langsung menyerobot di tengah-tengah kumpulan cewe yang sedang mengobrol bersamaku.
"Eh, bentar ya!" Ucapku pamit sambil berjalan mengekori Arya.
"Lu udah tau belom!" Ucapnya dengan nada gelisah.
"Tau apa?"
"Jadi kemaren gua sengaja mampir ke kos-kosannya Libiru karena emang udah lama gak mampir, tapi pas gua ketok kosannya, ternyata yang buka emak-emak." Ucapnya.
"Hah, bentar-bentar. Maksud kamu, Libiru bawa emak-emak gitu ke kos-kosannya, dia udah jadi sugar baby sekarang." Responku ikutan panik sebelum Arya melanjutkan perkataannya.
"Kok lu, jadi overthinking sih, gua kan belom bilang apa-apa?" Jawabnya ngomel, "Jadi ternyata dia udah pindah, dan yang nempatin kosannya itu orang lain." Jelasnya.
"Pindah?"
"Ya kata pemilik kosannya sih barang-barangnya kemaren udah di pindah ke apartemen yang sekelas kayak apartemen lu sekarang." Jawabnya. "Aneh gak sih, kok akhir-akhir ini gua ngerasa dia kayak ngehindarin sesuatu."
"Sebenarnya sih, aku juga sedang mencari informasi terkait dengannya!" Ujarku, lalu menceritakan kepada Arya apa yang Hendri sampaikan kepadaku waktu itu.
"Tapi Nya, kalau dia kerja sambilan buat bertahan hidup dan gak nerima sepeser pun dari pemberian ortunya selama 2 bulan ini, terus kok bisa dia pindah ke apartemen mewah." Sanggah Arya, "Berarti gaji kerja sambilannya lebih gede dong dari pada jatah yang di kasih ortunya ke dia, apa dia beneran jadi sugar baby."
"Huuussstt...kok kamu lagi sih yang over thinking!" Ujarku menepuk lengannya.
"Gua kepikiran pas dia pake style nya yang mencolok pas lagi hang out bareng lu." Ucap Arya. "Gua jadi beneran nih ngira kalau dia di pelihara emak-emak."
Plaaakk...
"Aduhhh..!!" Ujar Arya yang kesakitan saat kepalanya kena gempleng.
"Sembarangan lu." Ujar wanita yang tiba-tiba datang dan membacok kepala Arya.
"Chat gua baca!" Ucap Arya dengan nada lembut kepada Laila.
"Udah, tadi gua baca sambil jalan ke sini." Jawabnya, "gua akhirnya dapet informasi dari kakak kelas yang seangkatan ama Libiru, dan mereka bilang pernah liat Libiru kerja di suatu tempat." Ucap Laila datang-datang membawa informasi.
"Hah, tumben-tumbenan lu ngomong ama kakak kelas, kakak kelasnya cowok apa cewek nih." Respon Arya yang keluar dari topik.
"Bukan urusan lu!" Jawab Laila acuh.
"Urusan gua lah, gua kan juga pengen tau." Ujar Arya yang tak mau kalah.
"Kalau lu pengen tau emang lu mau ngapain." Semprot Laila.
"Kalau cewek sih gak apa-apa, tapi kalau cowok gua gak suka." Balas Arya.
"Apa hubunganya ama...lu.." Seketika Laila terdiam dan tertegun menatap Arya.
****, canggung banget. Mereka berdua ini ngapain sih. Satunya gak peka satunya lagi cemen.
"Udah, jadian aja udah. Ngapain sih pake tarik ulur segala." Ucapku menggoda mereka berdua.
Seketika mereka berdua memasang wajah panik dan saling menghindari tatapan masing-masing.
"Apa sih lu Nya, jangan ikut-ikutan lah!" Ujar Arya yang melempar pernyataan penyangkalan seperti itu dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Eehhheemm...ganti topik, jadi gua dapet informasi dari mereka, katanya Libiru akhir-akhir ini gak pernah ngumpulin tugas dan jarang masuk kelas." Ucap Laila mengalihkan pembicaraan. "Padahal anak-anak seangkatannya bilang kalau Libiru tuh orangnya rajin dan gak pernah absen."
"Dih, parah. Ngapa sih tuh anak tetiba berubah kek gini." Cetus Arya.
"Aku jadi kepikiran!" Ucapku dengan nada gelisah.
"Apa kita samperin aja ya ketempat gawe nya." Usul Arya.
"Ke tempat kerjaan nya Libiru." Respon Laila.
"Iya, kan selain tempat kerjanya kita ga tau dia ada dimana. Gua aja ngehubungin dia di kacangin terus ampe dada gua nyeri ga di anggep-anggep." Cetus Arya memasang tampang masam.
"Berarti gua kudu nyari tuh kakak kelas lagi dong buat nanyain Libiru kerja dimana!" Ujar Laila.
"Kakak kelasnya cowok apa cewek?" Tanya Arya yang langsung menyambar Laila dengan pertanyaan yang sama.
"Apa sih lu, kepo banget." Tepis Laila mempermainkan Arya.
"Kasih tau gak!" Ucap Arya memaksa.
"Ogah, ngapain gua ngasih tau lu." Jawab Laila.
"Cepetan kasih tau!"
"Enggak!"
Haduh, iri nya. archie cepatlah kau pulang, aku merindukan mu.
**************
"Threeten XX12 club. Tempat apaan ni?" Tanyaku sambil memandangi nama tempat Libiru bekerja.
"Itu kayaknya nama diskotik!" Sambut Arya sambil nyempil di tengah-tengah ku dan Laila." Jadi dugaan gua bener kalau Libiru jadi simpanan tante-tan..."
Plaaaakkk...
"Aduuuh...!!" Lagi-lagi Laila membacok Arya.
"Gua gak pernah pergi ke tempat ginian Nya." Ucap Laila dengan gelisah. "Lagian kalau ke tempat ginian kan harus jadi anak hedon metropolitan dulu yang kudu bisa joget-joget dan jago minum alkohol. sedangkan gua, minum susu permentasi aja demam seminggu." Curhatnya panjang lebar.
"Jadi kamu gak ikutan pergi nih." Tanyaku memastikan.
"Pergi dong, demi Libiru apa pun gua lakuin." Sekarang pernyataanya berubah lagi.
"Lu bilang kan ga bisa ke tempat ginian." Sanggah Arya.
"Ya udah, kalau gitu kita pergi bareng-bareng aja besok malam minggu." Ujarku.
"Tapi, Nya. Tempat kayak gini tuh bahaya banget gak sih buat cewek baik-baik kayak kita, apa gak bawa pengawal aja gitu biar kita aman. Bawa Arya mah, paling dia yang kena *****-***** tante-tante." Ucap Laila.
"Gini- gini gua jago kik bokser!" Jawab Arya.
"Cake apa?" Respon Laila sambil cengengesan.
"Kik geblek, bukan cake!"
__ADS_1
"Pengucapan lu aja udah salah, kick boxing geblek." Ujar Laila yang sangat senang menggoda Arya.
"Gua bawa Hendri ama Sakurai aja kalau gitu." Ujarku menengahi pertengkaran tiada habisnya di antara mereka.
"Sakurai, siapa?" Tanya Arya.
"Adeknya Archie." Jawab Laila.
"Archie punya adek." Responnya kaget.
"Punya lah, gua aja ampe klepek-klepek." Jawab Laila kembali menggoda Arya.
Dan mereka pun kembali mulai adu bacod. Tolonglah jangan umbar kemesraan kalian di hadapan orang yang sedang LDR an, batin ini serasa tersiksa.
*************
"Tuan Muda, apa ini tidak apa-apa kalau saya meminta bantuan." Tanya Hendri yang terdengar sampai ke telingaku di dalam kamar ganti milik Sakurai saat aku tak sengaja berjalan menuju dapur.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sering membantu temanku untuk memasangkannya " Respon Sakurai.
"Saya baru pertama kali membeli sesuatu yang seperti ini dan bingung bagaimana cara memakainya." Kelakar Hendri.
"Oh, serahkan saja kepadaku!" Jawab Sakurai terdengar antusias.
"Tuan muda to-tolong hati-hati lagi, saya sebenarnya sangat sensitif di bagian itu." Terdengar suara Hendri yang sedikit berteriak dan memohon belas kasihan.
Sontak aku mendekat di hadapan pintu dan menguping pembicaraan mereka.
"Ku bilang angkat sedikit bokong mu biar aku bisa memasangkannya." Ucap Sakurai seperti sedang berusaha.
"Tu-tuan muda, tolong lebih lembut lagi, saya benar-benar tak nyaman." Jawab Hendri.
"Hah, mereka lagi ngapain sih.." ujar ku yang tambah penasaran.
"Hendriii...bisa tidak kau condongkan bokongmu sedikit ke arah ku, kalau kau seperti ini terus aku pun bisa susah untuk memasangkannya!" Ujar Sakurai.
"Maaf tuan muda, saya jadi banyak bergerak." Jawab Hendri.
Waaaaagghhh...sial, mereka di dalam lagi ngapain sih, dan aku ini sedang mendengarkan pembicaraan yang seperti apa.
"Tu-tuan muda, sempit sekali, saya rasa, saya tak sanggup lagi." Ucap Hendri yang seperti kelelahan.
"Tahan ya, sebentar lagi aku akan selesai." Jawab Sakurai.
"Tu-tuan muda, tolong sedikit lebih longgar. Ini ahhh..saya tidak bisa bernapas." Hendri mendesah dengan sangat kuat.
"Kau ini manja sekali, aku kan bukan tipe orang yang kasar." Jawab Sakurai.
Aku tidak tahan lagi, bisa-bisanya mereka berdua berbuat hal tak senonoh seperti ini di rumahku. Tanpa pikir panjang, tanpa memikirkan kelanjutannya aku langsung mendobrak pintu kamar ganti milik Sakurai.
Braaaaakkkk...
Pintunya berhasil ku dobrak, Dan terlihatlah Sakurai yang sedang memasangkan korset perut olahraga kepada Hendri dan mereka berdua terlihat kebingungan di saat aku masuk dengan mendobrak pintunya.
Apa yang ku lakukan, ternyata mereka berdua sedang tidak melakukan tindakan yang memalukan.
__ADS_1
"Aaghhhhh...maaf. aku salah masuk kamar." Ucapku malu sendiri dan pergi dengan berlari. Sial, kenapa aku sering melakukan tindakan yang membuatku jadi salah paham.