Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Takdir Yang Saling Menyalahkan


__ADS_3

"Dimana, kau sembunyikan, anak kep*rat itu?" Ujarnya dengan suara menggeram mencengkeram dengan kuat leherku.


Aku tak bisa menjawab pertanyaannya karena rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhku.


Aku tak mampu menjawab pertanyaannya karena rasa tercekat atas cengkraman tangannya pada leherku.


Aku tak sanggup menjawab pertanyaannya karena pasti, dia sedang menanyakan bocah laki-laki bule yang ku sembunyikan di balik lemari kamar ku.


Sedikitpun tak ada rasa belas kasihan dari kedua matanya yang berkelit mengerikan di balik pantulan kilatan cahaya petir yang menaungi kami di kegelapan. Tatapannya yang mengerikan itu seakan mengisyaratkan keputusasan yang tak berujung, seperti menerkam harimau di padang gurun di depan kawanan nya. Pria itu menggantungkan nasibnya sendiri pada hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk menebus amarah yang bergemuruh di dadanya.


Braaakkk...braakk...


Tiba-tiba terdengar suara keras. Perhatian Pria itu sontak teralihkan saat mendengar suara keras yang berasal dari dalam kamarku.


Tanpa mengambil tempo, ku gunakan kesempatan itu untuk melawan hingga kaki ku yang terayun bebes berhasil mengenai dagunya, dan dia melepaskan dengan paksa cengkram nya pada leherku. Pria itu meringis kesakitan karena lidahnya yang tergigit akibat sentakan rahangnya atas serangan brutal yang ku layangkan.


Dalam kesempatan itu, dengan tenaga yang masih tersisa, aku berlari sekuat tenaga menuju ke arah kamarku dan langsung mengunci pintu nya dari dalam.


Apapun yang terjadi aku bertekat tak kan memberikan anak laki-laki ini kepada orang jahat itu. Tak kan pernah.


"Daijobudeska? 大丈夫ですか?"


*Apa kau baik-baik saja?


Aku terkaget dan bersandar di belakang pintu mengatur tempo napas ku sendiri sambil memandangi anak laki-laki yang berhasil merusak kunci selop lemari ku, dan ternyata suara berisik tadi berasal dari nya.


"Dō shita? どうした?"Tanyanya sambil mendekat ke arahku. *Apa yang terjadi?


Aku tak membalas perkataannya dan mengidar pandang kesana dan kemari mencari sesuatu.

__ADS_1


"Hei!" Sapanya dengan wajah penasaran.


Dia memandangi leherku yang berbekas kemerahan seperti pernah di jegal oleh sesuatu.


"Nande kore wa? なんで これわ?" Tanyanya dengan wajah gusar hampir menangis melihat ku yang terus kesusahan mengatur tempo napasku. *Bekas apa ini?


Aku tak menjawab, karena memang aku sama sekali tak mengerti apa yang sedang dia tanyakan.


"Itaidesu, yo ne? 痛いですよね?" Dia memegangi leherku dengan lembut sambil menitikan air mata. *Ini pasti sakit?


Aku menatapnya yang kini benar-benar menangis di hadapanku. Tatapan penyeselan itu seakan sedang bersedih seperti barang berharganya di rusak orang lain.


"Kenapa kau menangis?" Ujarku memegangi wajahnya dan menghapus air matanya itu.


Dia tak menjawab melainkan membalasku dengan wajah cengeng.


"Apa matamu sakit, kau kelilipan?" Aku tak paham.


Kami berdua langsung tersentak saat tiba-tiba pintu kamar itu di dobrak oleh kekuatan yang sangat besar dari luar.


"Who's there?" Teriaknya panik sambil menggandeng tanganku menjauh dari pintu.


Braakk...


Pintu itu terus di dobrak secara beruntun dari luar.


Aku panik, dan langsung mendorongnya untuk masuk lagi secara paksa ke dalam lemari lalu mengganjal nya dengan gagang sapu agar dia tidak keluar.


"Hei baka, nanishiteruno!? バカ, 何してるの!?" Pekiknya sambil menggedor-gedor pintu lemari berusaha ingin keluar dari sana. *Hei dasar bodoh. Apa yang sedang kau lakukan!?

__ADS_1


"Maafkan aku, tapi aku tak bisa memberikanmu begitu saja kepada orang jahat itu!" Ucapku berbisik di balik lemari.


"Nani o itteiru, wakaranai? 何を言っている, わからない?" Pekiknya terus memukul pintu lemari dengan nada murka. *Apa yang sedang kau katakan, aku ga ngerti?


"Tetaplah di dalam!" Bisikku.


Sontak dia terdiam dan hanya terdengar suara napas yang menggebu di balik lemari yang memisahkan kami berdua.


"Apapun yang terjadi. Aku tak kan membiarkanmu di rebut oleh orang jahat itu!!"


"Baka! バカ!" Balasnya dengan nada lirih. *Dasar bodoh.


Aku menyusup ke bawak kolong tempat tidurku dan menemukan linggis untuk menombak tanah keras yang di sembunyikan oleh Bapak karena mata benda itu masih baru dan masih di bungkus oleh kertas coklat.


Aku menarik benda itu dengan susah payah agar keluar dari kolong tempat tidurku, dan langsung membuang bungkus yang menyerubung mata linggis itu dan membuatnya menjadi senjata.


Tinggi linggis itu, lebih tinggi dari tinggi badan ku. Bahkan tanganku saja tak bisa menggenggam gagang kayu benda itu. Akan tetapi nyaliku lebih besar dari siapapun yang memegang linggis ini sebagai senjata. Aku seperti Cloud Strife yang membawa Buster Sword.


Entahlah, apa yang ku pikirkan saat itu sampai membuatku memegang linggis dengan memasang kuda-kuda bertahan mengokohkan setiap persendian tubuhku seperti pahlawan yang sering ku lihat-lihat di televisi sebagia upaya terakhirnya menyelamatkan umat manusia. Namun yang pasti, saat melihat bocah laki-laki itu untuk pertama kalinya. Aku merasa harus melindunginya apapun yang terjadi, aku tak akan pernah membiarkannya terluka.


Braakkk...


Dalam satu tendangan, pintu kamarku langsung terbuka dan setiap engsel pintunya rusak.


Dengan gemetar ku genggam kuat-kuat linggis besar itu dalam kepalan tanganku, dan tanpa menunggu aba-aba ku hujamkan linggis itu menuju pria itu di saat pintu itu terbuka.


Namun naas. Aku hanyalah gadis kecil yang kekuatannya tak sebanding dengan orang dewasa, bahkan di bandingkan kekuatan sekelas pria ini, aku hanyalah ampas.


Dia menahan senjata ku dengan tangan kosong dan memegang mata linggis seperti berjabat tangan.

__ADS_1


Saat dia maju selangkah dan merebut linggis itu dari tanganku lalu melemparkan benda itu kesembarang arah dengan tatapan murka. Saat itu lah aku tersadar, jika aku akan segera mati.


__ADS_2