
Entah kenapa, tapi aku merasa akhir-akhir ini Archie terus menghindariku.
Dia akan datang ke rumah sakit untuk menjengukku di saat aku terlelap, atau sengaja tiba di saat waktu istirahat, maka dengan begitu dia tak harus berlama-lama berada di rumah sakit.
Padahal setelah kejadian itu yang aku butuhkan hanya diri nya saja. Tapi barang sehari pun dia tak pernah berada lama di rumah sakit. Apa karena dia sibuk mengurusi orang-orang itu mangkanya dia tak ada waktu untuk menemaniku.
Menyebalkan. Sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini.
"Ahhh..maaf, bolehkah saya meminta sesuatu kepada suster!!" Ucapku menghentikannya yang ingin memasukan obat ke dalam infusku.
"Tentu saja Nyonya. Katakanlah!!" Jawab suster nya ramah.
Aku celingak-celinguk kesana kemari, dan berbisik di dekatnya.
"Apakah ini adalah obat yang bisa membuat ku tertidur?" Tanyaku.
Dia melihatku dengan pandangan heran kemudian mengangguk.
"Ahhh..saya ingin meminta bantuan suster!!"
************
"Silahkan masuk Tuan, tapi sepertinya Nyonya sudah lama tertidur dari tadi!!" Ucap Hendri menyambut kedatangan Archie.
Aku pura-pura tertidur dengan lelap dan nyaman di atas tempat tidurku untuk mengelabuhi Archie. Jika dia datang terus di saat seperti ini, aku tak akan tahu apa yang sedang terjadi dengannya.
Untung saja suster itu mau bekerja sama dengan ku untuk tak memasukan obat yang akan membuatku tertidur. Kalau tidak, aku tak kan bisa bertemu lagi dengan Archie dalam keadaan sadar.
"Lu nunggu gih di luar, gua mau istirahat!!" Perintahnya kepada Hendri.
Terdengar langkah kaki Hendri yang pergi meninggalkan ruangan ini.
Dan sekarang hanya tinggal kami berdua saja.
Dia berbaring di sisiku dan langsung memeluk tubuhku dengan nyaman. Terdengar hembusan napas yang menderu kuat menjelajahi sudut keningku. Aku merindukan pelukan ini, aku merindukan aroma bedak bayinya, dan juga merindukan dekapan hangat dari tubuhnya.
Sejak kapan terakhir kali kami tidur bersama seperti ini, rasanya sudah lama sekali sejak masalah-masalah ini datang.
"Anya!!" Dia memanggil namaku. "Apa kabar lu hari ini, hah!?" Tanyanya sembari menghembuskan napas lelah dan mengusap punggungku.
Aku tetap melanjutkan actingku dengan terus terlelap.
"Ada banyak yang pengen gua omongin ke lu. Tapi ada banyak juga alasan-alasan yang ga bisa gua sebutin. Gua ga tau harus mulai dari mana, tapi yang pasti gua ga mau lagi liat lu menderita!!" Ucapnya.
Apa yang barusan dia katakan. Kenapa dia lagi-lagi mengatakan sesuatu yang membuatku gusar.
"Maafin gua yang harus nungguin lu tidur baru ke sini. Tapi beneran..."
Archie semangkin merapatkan pelukannya pada tubuhku.
"Gua ga sanggup ketemu lu langsung. Gua ga bisa liat lu menderita terus gara-gara gua!!" Ucapnya terisak.
Sontak kedua mataku terbelak saat mendengar penuturannya. Dia tak kan menyadari apapun karena kepalaku menghadap ke arah jakunnya.
__ADS_1
Aku tak bisa bertanya langsung apa yang sedang dia katakan karena saat ini aku sedang berpura-pura tertidur. Aku juga tak ingin membuatnya merasa tak nyaman karena keinginannya yang tak ingin bertemu dengan ku langsung.
Sial. Apa lagi ini. Kenapa lagi-lagi dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Setelah mengatakan hal itu dia tak lagi mengatakan apapun dan terus berada di sisiku semalaman.
Saat pagi tiba, seperti biasa. Dia telah pergi dari sini sebelum aku terbangun. Dia tak meninggalkan jejak apapun seperti tak pernah datang menemui ku. Dan yang hanya bisa ku lakukan adalah memeluk bayangannya seperti seorang wanita yang di campakan.
************
Seminggu kemudian aku keluar dari rumah sakit setelah menjalani beberapa kali perawatan luka. Infeksinya membaik dan jahitannya sudah mengering. Dokter menyarankan untuk tak melakukan pekerjaan berat dan juga makan-makanan yang bergizi di sertai istirahat yang cukup. Meskipun aku senang karena telah di nyatakan sembuh, tapi tidak dengan batinku.
Sampai akhirpun yang menemani ku hanyalah Sakurai dan Hendri. Dia tak pernah lagi menemuiku sejak terakhir kali kemari. Saat aku bertanya kepada Hendri, jawabannya selalu sama yaitu sibuk dengan pekerjaannya.
Sesibuk itukah dia sampai melupakan ku. Bukankah selama ini dia yang paling cerewet mengenai kesehatan dan juga keselamatanku. Tapi kenapa sekarang dia berulah.
Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa dia begini kepadaku.
Banyak hal negatif tentangnya yang berkecamuk di kepalaku. Apakah dia sudah bosan dengan ku. Apakah dia sudah punya wanita baru. Apakah dia mencampakanku. Apakah dia membenciku. Apakah tiba-tiba luka sirkumsisinya kembali infeksi. Apakah dia mencampakanku karena aku tak lagi berguna.
Apakah, apakah, apakah.
"Aggggghhhh...Sial. Kenapa dia melakukan ini padaku. B*ngsat!!" Ucapku yang tiba-tiba memekik sendirian di tengah publik sambil berjongkok.
Orang-orang yang berjalan berlalu lalang dihadapanku menatapku dengan tatapan heran. Pasien dari rumah sakit jiwa mana yang melarikan diri, pikir mereka barangkali.
Tapi aku tak perduli. Aku merasa harus melampiaskan kekesalanku di manapun berada. Karena kini kepalaku serasa ingin meledak.
"Lu lagi ngapain sih!!"Tiba-tiba seseorang menyapaku. "Mangkin aneh aja lu!!" Lanjutnya.
"Sini lu ikut gua!!" Ujarnya berjalan melewatiku seperti mengatakan kalau dia tak mengenalku.
"Pesen aja yang lu mau, gua abis gajian!!" Ucap Tora menyodorkan kepada ku menu makanan restoran.
"Aku ga laper!!" Jawabku sinis.
"Beneran lu ga laper!!"
Aku menggeleng.
"Yaudah minum aja minum, lu aus kan!?"
Aku kembali menggeleng.
Tora menyerah dan mengambil lagi menu yang dia sodorkan kepadaku. Kemudian melihat menu nya sebentar dan langsung memesan.
"Gua samain makanan yang gua pesen sama makanan lu. Gapapa kan!!"
Tapi aku tak menjawab karena pikiranku sedang tertuju ke arah lain.
"Lu apa kabar?" Tanyanya lagi berusaha menarik perhatianku dengan basa-basi.
"Seperti yang kau lihat. Apa aku terlihat baik-baik saja sekarang!!" Jawabku langsung mendepak pertanyaannya.
__ADS_1
"Sorry. Gua ga maksud!!" Sepertinya dia menyesal telah bertanya. Karena dia pun menyaksikannya sendiri bagaimana kondisiku, dan sudah pasti telah mendengar apa yang pernah terjadi padaku tempo hari.
Makanan pun akhirnya datang dan memenuhi meja makan. Di luar perkiraanku, ternyata setelah di hadapkan oleh makanan enak tiba-tiba perutku menjadi lapar.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung melahap makanan yang ada di hadapanku tanpa memperdulikan tatapan datar dari Tora. Dia mungkin merasa aku benar-benar tak waras.
"Udah kenyang lu?" Tanyanya dengan nada sinis.
Aku mengangguk sambil menenggak minuman.
"Tadi bilangnya ga laper!"
"Itu tadi, kondisi tubuh manusia kan bisa aja berubah!!" Aku berdalih.
Tora menggeleng sambil menampar jidatnya.
"Karena lu udah kenyang berarti gua boleh ngajakin lu ngobrol dong!!" Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik ranselnya dan memberikannya kepadaku.
Itu adalah sebuah kertas undangan pernikahan. Dan di sana tertulis nama Ruana dan Rio.
"Ini?" Aku tak bisa melanjutkan pertanyaanku karena terlalu tiba-tiba.
"Ruana hamil!!" Jawab Tora.
Aku terdiam dan tak jadi melanjutkan perkataanku.
"Ruana hamil anaknya Sabiru!!" Lanjutnya.
Tanpa sadar aku langsung membekap mulutku sendiri dan menatap kertas undangan itu.
"Dokter bilang usia kandungannya udah mencapai dua puluh empat minggu. Dan sebentar lagi gua bakalan punya ponakan." Ucapnya tertawa basi.
Aku tak tahu lagi harus meresponnya seperti apa, tapi yang jelas rasanya aku benar-benar tak percaya dengan berita ini.
"Dengan kondisinya yang sekarang gua ga yakin dia bisa bertahan sampai anaknya lahir, tapi gua percaya kalau dia bakalan hidup dengan bahagia." Ucap Tora mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sampai kuku-kukunya menghujam ke dalam daging, karena perasaan atas penyangkalan itu tak bisa di hilangkan. Perkataanya tak sesuai dengan kondisi.
Tora menatapku yang sedari tadi terdiam dalam perasaan gamang. Kemudian dia pun berdiri dari tempatnya dan tersenyum.
"Jangan lupa dateng. Gua juga ngajakin anak-anak lainnya buat dateng!!" Ucapnya sambil memaksakan senyumnya.
"Iya. Aku pasti datang!!" Balasku.
Dia langsung pergi dari hadapanku tanpa mengatakan apapun, karena kini dia sedang menahan perasaannya sendiri atas musibah yang menimpa keluarganya.
Aku langsung beranjak dari kursiku dan berdiri di hadapan punggungnya.
"Tora!!" Panggilku dengan berteriak.
Dia berhenti tapi tak berbalik.
"Kami semua pasti datang. Pasti datang!!" Teriakku dengan lantang.
Tora mengangkat tangannya ke atas dan membuat sign O.K, setelah itu dia pun langsung pergi tanpa pernah lagi menunjukan wajahnya kepadaku.
__ADS_1
Aku memandangi punggungnya yang lebar dan juga kokoh, dia berjalan dengan gagah. Namun di setiap langkahnya yang seperti raksasa yang menguasai bumi, terdapat jangkar kapal yang tak kasat bentuknya. Meruntuhkannya, membebaninya. Tapi tak sekalipun dia berhenti.
Ada yang bilang sosok seorang anak pertama adalah cerminan diri dari orang tua mereka. Cinta anak tertua kepada adik-adiknya adalah payung berkarat yang melindungi ngengat dan para bunga. Tak tampak, hangat, memberikan kenyamanan, kadang rapuh tapi juga kuat di waktu yang bersamaan, terang, dan juga landai.