
...mengandung konten dewasa yang berisi adegan kekerasan....
Tak berhenti sampai di situ, Archie terus menyerang Tora tepat pada bagian vital tubuhnya, walaupun Tora sudah babak belur dalam sekali serangan, Archie tetap menghajarnya tanpa kenal ampun.
"Archie!!" Pekikku karena ngeri melihat pemandangan ini, lagi pula Tora dari awal sudah terluka. Bukankah terlalu kejam jika menghajar orang secara sepihak dengan tanpa perlawanan dalam kondisi kaki dan tangan terikat.
Sakurai datang dan menghalauku dengan mengisyaratkan untuk tak ikut campur dalam urusan ini.
"Uzendayo うぜんだよ, kisama キサマ, teme テーマ, shinde しんで!!" Runtuknya dengan terus menghajar Tora yang sudah hampir pinsan.
*Transalate, f*ck off, m*therf*cker, as*hole, die.
"Dia bisa terbunuh!" Ujarku pada Sakurai yang tak bergerak selangkahpun dari hadapanku.
"Lebih bagus kalau dia benar-benar terbunuh!!" Jawab Sakurai yang tak mengaggap penting nyawa seseorang, lagi pula Sakurai tak kan mungkin berbelas kasihan mengingat tindakannya yang seperti bukan orang normal.
Selain aku, tak ada satupun yang bergerak untuk menghentikan Archie yang sudah kerasukan iblis, dia bahkan terlihat ingin menghabisi Tora sampai mati.
Saat ada rasa yang mengganggu dalam dadaku dan rasa itu bergejolak sampai mempengaruhi alam bawa sadarku, saat itulah tubuhku bertindak sendiri dan bergerak tanpa perintah dari otakku.
"Archie!!" Ucapku yang memegangi kedua lengannya.
Archie berhenti memukuli Tora yang hampir mati, dan menatapku dengan tubuhnya yang penuh dengan percikan darah.
Orang-orang berdecak heboh dengan tatapan shock. Bukan karena tindakan ku yang menghentikan Archie dengan tiba-tiba, melainkan melihat Sakurai yang terkapar dengan posisi terlentang sambil meringis kesakitan.
Ternyata, alasan satu-satunya aku bisa kemari dan menghentikan tindakan Archie adalah, karena aku sudah berhasil menembus pertahanan Sakurai dan tanpa sadar membantingnya sampai terkapar.
Sakurai menatapku sembari terlentang dengan memicingkan matanya.. "Kakak, kau ini monster ya!!" Decak nya dengan napas tersengal karena kesakitan. "Reflek macam apa itu, kau bahkan tak melihat ke depan."
__ADS_1
"Uhhhuukkk....uhhhuuukkk...uuhhhuukkk...!!" Tora terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.
Melihatnya masih sadar, Archie langsung merentangkan salah satu kakinya di atas kursi dan menjambak rambut Tora untuk melihat wajahnya yang menderita.
"Siapa?" Tanya Archie dengan tatapan membunuh. "Yang nyuruh lu, siapa?"
Tora memandang Archie dengan takut, seluruh tubuhnya bergetar karena rasa sakit, sehingga trauma yang dia terima dari pukulan langsung dari Archie membuatnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Archie merebut sebuah senjata api yang tersembunyi rapi di balik pinggang Hendri, menarik pelatuknya dan langsung memasukkannya ke dalam rahang Tora.
"Hhhhhghhmmm...ghhhhhh...gghhhhmm....!!!" Tora meronta-ronta dihadapan Archie dan berusaha mengatakan sesuatu, karena kini dia sadar kalau ajalnya hanya sebatas benang yang terhubung dalam batas kewarasan Archie.
"Ngomong!!" Ucap Archie yang mengeluarkan senjata itu dari mulutnya dan bersamaan membukan ikatan yang membelenggu tangannya.
"Gggghaaaaahhhh...!!" Tora tersedak karena banyaknya darah yang memenuhi kerongkongannya.
"Gua kasih lu waktu kurang dari 5 menit buat jelasin!" Tutur Archie yang tanpa belas kasihan menyiagakan senjata api di tangannya untuk bersiap menembak Tora.
"Dia?" Archie mendekat dan menodongkan senjata api tepat di kepalanya. "Siapa?"
"Gabairi," Tora memberanikan diri mentap Archie di bawah todongan senjata."Sabiru!!" Jawab Tora dengan tubuh bergetar karena ketakutan.
"Gabairi Sabiru!" Ucap Archie yang menyingkirkan senjata api itu dari kepala Tora dan mematung.
"Dia.." Ucap Arya yang tiba-tiba menyela percakapan. "Bukannya, saudara kembarnya Libiru yang udah meninggal 7 tahun yang lalu karena kecelakaan."
Seisi ruangan terperanjat karena mendengar penuturan dari Arya, jika apa yang di katakan oleh Tora adalah kebenaran, berarti firasatku selama ini tak pernah salah, jika orang yang ku temui dengan aksen dan sifat yang berbanding terbalik dengan Libiru yang telah lama ku kenal adalah orang yang berbeda. Maka tanpa sadar selama ini aku terus berhubungan dengan orang yang ingin membahayakan nyawaku.
"Apa motif kalian?" Tanya Archie yang tak pernah memberikan Tora waktu untuk sekedar menarik napas.
__ADS_1
"Ampun bang!!" Seketika Tora berubah menyedihkan dan meminta pengampunan. "Gua beneran gak tau apa-apa bang, gua cuman di suruh nyelakain semua temen-temannya Libiru terutama temen cewenya yang nama Anya." Jawab Tora yang ketakutan setengah mati."Kalau gua gak ngelakuin semua itu, bisnis bokap gua dalam keadaan bahaya."
"Kak Tora!!" Potong Rio dengan tiba-tiba. "Jangan bilang kalau lu akhirnya nerima tawaran itu buat nyelamatin bisnis bokap lu." Cetus Rio dengan wajah panik.
Tora menunduk dengan tatapan menyesal, "Gua gak punya pilihan lain,"
Rio bertekuk lutut terkulai lemas sambil menampakan wajah frustasi. "Lu gila, lu bener-benar udah gilaa..."
Tiba-tiba Rio bangkit dari tempatnya dan tanpa di duga dia ikut andil dalam memukuli Tora, sehingga hanya dalam satu kali pukulan Tora langsung ambruk ke lantai.
"Sekarang giliran lu yang jelasin, apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Archie yang menghadap Rio.
"Bukan urusan lu," Jawab Rio yang terlihat sangat kesal, "Lagian, cewek lu udah selamat. Gua harap lu gak usah lagi terlibat dengan orang yang bernama Sabiru."
Archie langsung menodongkan senjatanya beralih kepada Rio yang berada di hadapannya.
"Sekarang jadi urusan gua!!" Ujarnya tanpa berkedip.
"Gua bilang kalau ini bukan urusa...."
DORR....
Archie melepaskan tembakannya secara sengaja dan hampir mengenai kepala Rio.
"Meleset!!" Ucap Archie tanpa ekspresi.
Kini Rio hanya bisa terdiam dalam ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar dan lemas. Akhirnya dia pun sadar kalau orang yang kini sedang dia hadapi bukanlah Archie yang biasanya dapat di ajak bercanda.
"Jadi, apa lu masih mau bilang kalau ini bukan urusan gua?" Tanya Archie yang berjalan selangkah lebih maju untuk melihat dengan detil ekspresi ketakutannya Rio.
__ADS_1
"Lu beneran sakit jiwa.." Balas Rio yang shock sampai tak sadar kalau air matanya menetes keluar.
Archie menepuk pundak Rio, dan berbicara di dekat telinganya. "Jadilah bagian dari gua, gak ada yang bisa lu lakuin sekarang selain bekerja sama." Ucapnya penuh penekanan. "Pikirin apa yang sekarang lu dapat dari apa yang gua tawarin, karena setiap detik dari pilihan manusia yang sedang terdesak, keputusan yang mereka ambil bisa sangat berharga."