Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Debat Teros


__ADS_3

Tak sampai disitu, perdebatan yang berlangsung sengit ini pun terus berlanjut.


"Makannya kalau gua nanya tuh lu gak usah jawab, pura-pura aja gak tau!" Pekik nya sambil mencuci rambutku.


"Dah lah, emang kamu yang gak peka!!" Pekik ku sambil menggosok belakang punggungnya.


"Kan udah dari sana nya, gua emang udah terlahir kayak gini!" Teriak nya sambil membilas seluruh tubuhku dengan shower.


"Aku kan gak perlu diam kalau kamu nanya!" Pekik ku sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ya, gua juga sama aja kayak lu!" Teriaknya sambil mengeringkan rambutku dengan hairdryer.


"Makanya kamu itu, gak bakalan peka soal beginian!" Pekik ku kesal di dalam kamar ganti ku lalu pergi ke kamar gantinya dengan hanya memakai underwear.


"Emang gua harus bilang dari awal juga!" Balasnya yang hanya menggunakan underwear sambil memilih bajunya.


"Terus kenapa harus mikir dulu!" Pekik ku ngegas sambil memakai baju ganti di hadapannya.


"Gua tuh gak mesti jelasin semuanya, anj*r!" Pekiknya balik sambil memakai kan celana nya di hadapanku.


"Kenapa. memang udah seharusnya kan, sejalan aja mestinya!!" Teriak ku sambil memakan roti yang dia suap kan ke mulutku.


"Seharusnya kayak gimana, gua kan emang gak bisa kalau gak ngomong!" Balasnya teriak sambil memakan buah yang aku suap kan ke mulut nya.


"Kan emang dasarnya gua gak tau meski ngapain, lu juga gitu!" Pekiknya sambil memasangkan sepatu pada kaki ku.


"Aku gak mesti di ingetin juga tau!" Teriak ku sambil masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.


"Yah gak bisa gitu. Gua juga bukan tipe orang yang gak bisa nyelesain semuanya sendiri." Teriaknya sepanjang perjalanan.


"Aku gak mesti ngomong dulu, baru kamu bakalan ngerti." Pekik ku sambil beriringan berjalan di halaman kampus dengannya.


"Lagian kan gua ini suami lu, kenapa gak kayak gini aja tiap ari!" Ucapnya memandangku dengan tatapan datar.


Aku menghentikan langkahku dan tertinggal beberapa langkah darinya.


"Wait!!" Ujar ku sambil berfikir.


"W-wait a minute!" Pekik ku sambil memegangi kepalaku sendiri.


"Ngapain lagi lu cewek aneh!" Teriaknya yang menungguku di depan sambil berkaca pinggang.


Pikiranku langsung terestart kembali ke 40 menit yang lalu.

__ADS_1


Selama perdebatan ini berlangsung, tanpa sadar aku mandi bareng di kamar mandinya tanpa sehelai benangpun di tubuhku begitu pun juga dia, bahkan kami bergantian menyentuh tubuh masing-masing untuk membantu bebersih.


Oww ****! aku beneran gak sadar kalau tadi dia bugil di hadapanku karena perbacotan yang tak ada habisnya.


Selama perdebatan ini berlangsung, tanpa sadar aku hanya memakai underwear dihadapannya lalu sama-sama menyaksikan tubuh masing-masing dengan pakaian minim, bahkan aku memakaikan bajuku sendiri di hadapannya.


Damn it!


Aku malah keinget warna underwear nya, serta bentuk otot pahanya.


Selama perdebatan ini berlangsung, tanpa sadar kami berdua menempuh sarapan yang romantis, bahkan aku ingat kalau kami menghabiskan sarapan dari piring masing-masing dengan suap-suapan.


Dan finally tanpa sadar aku pergi bareng ke kampus bersamanya, dan sekarang malah akrab dan berjalan berdua seperti ini.


"Oh my?" Pekik ku sambil menggigiti jari jempol ku sendiri, memikirkan betapa memalukannya diriku yang tak menyadari apa pun selama perdebatan berlangsung.


Duh, padahal sedang meributkan masalah nganu, malah kami berdua tidak sadar kalau sudah seperti pasangan suami istri sesungguhnya meskipun tanpa momen nganu.


"Aneh lu!" Gerutunya memandangiku dari kejauhan,sambil berjalan kearah ku dan langsung mengamit leherku dengan lengannya.


"Gua udah liat kok!" Bisik nya di telingaku sambil berjalan beriringan. "Gak terlalu besar dan gak terlalu kecil, standar lah. Tipe gua banget!!" Ujarnya terkekeh.


"Warna nya pink!" Lanjutnya.


Dia melirik dadaku sambil terus cekikikan.


"Bangs*t!" Pekik ku.


Paaakk....


Aku memukulnya dengan tas ku, dan pergi berlari dengan perasaan malu.


"Anya!" Panggilnya.


Aku berhenti sesaat dan menoleh kearahnya.


"Nanti malam kita selesain masalah yang belum terselesaikan di antara kita!" Pekiknya di depan halaman kampus.


Aku berjalan menjauh dari hadapannya sambil berlari dengan cepat agar tak seorang pun ada yang tahu kalau Archie sedang berbicara padaku.


"Dasar, bangs*t!" Umpatku sambil menutup wajahku dengan tas.


***********

__ADS_1


"Gua ada pengumuman, dan ini kabar yang bagus banget buat kita semua!" Seru Archie sambil berdiri di tengah-tengah kerumunan, yang sontak membuat kebisingan di dalam ruangan pertemuan hening seketika.


"Jadi kemaren gua sempat ngajuin proyek ini ke salah satu stasiun TV swasta, dan finally mereka setuju buat ngelabelin proyek kita menjadi salah satu acara mereka dalam 1 episode!" Ujarnya.


Seketika anak-anak langsung ribut dan saling bertukar pandang.


"Nah, karena ini kesempatan bagus buat kalian berkarya, gua harap kalian gak ngecewain gua!" Teriaknya di antara suara riuh anak-anak yang langsung heboh.


"Dan.." Ujarnya lagi, sontak mereka semua hening dan memperhatikan Archie yang berbicara.


"Gua ingetin lagi, gua harap kalian gak ngecewain gua!" Sambungnya dengan ekspresi dingin tanpa sedikitpun senyum di wajah nya. Memberikan tekanan.


Sebagian ada yang diam terpaku karena memandangi ketampanannya, sebagian lagi ada yang meneguk liur karena tekanan yang kuat dari pemahaman kata-katanya, dan sebagian lagi ada yang biasa-biasa saja seperti tak ada yang terjadi saat mendengar perkataanya.


"Karna waktu nya kurang dari sebulan, besok kita harusnya udah mulai!" Ujarnya sambil mengambil secarik kertas dari ranselnya.


"Kita ngerjain proyek Villa di dekat danau buatan yang ramah lingkungan milik pasutri yang baru aja menikah, tempatnya gak jauh dari sini, ntar kita pergi bareng-bareng aja. Nah di sana alat-alat nya udah tersedia dan lengkap banget, udah ada 4 buah kontainer bekas yang udah gak ke pake, alat-alat tukang, alat dekorasi, alat berat, material bangunan, dan sebagai nya yang gua gak ngerti apa yang tertulis disini pokok nya semua kebutuhan kalian deh." Ucapnya sambil bersandar di sebuah meja.


"Nah buat anak film, kalian juga gak usah bawa peralatan apa pun, kita pake peralatan liputan dari stasiun TV yang udah masuk sponsor, makannya kalian tinggal bawa diri doang dan gak pake alasan ribet bawa ini itu karena disana semua kebutuhan meliput udah tersedia paket komplit!" Ujar Archie membacakan nya di secarik kertas sambil menyibak rambut yang menutupi jidatnya.


Woooahhh...


Decak seisi ruangan ini saat melihat Archie menyibak rambutnya di depan para hadirin.


Bukan hanya para betina yang terkesima dengan keindahannya, kaum pejantan pun membeku saat melihatnya menunjukan pesonanya.


Yalord! Dia suamiku, ingin ku berkata seperti itu, sambil menyombongkan diri.


"Oke, entar gua jelasin yang kurang jelas sambil jalan aja. Sekarang kita pergi ke lokasi nya aja langsung." Ujarnya sambil mengetatkan tali ransel yang berada di pundaknya, dan berdiri di samping pintu melirikku yang berjalan melewatinya.


Terlihat Dimas yang juga berada tak jauh dari pintu dan seperti ingin berbicara padaku.


"Bareng gua ya." Sapa Arya sambil menautkan lengannya pada leherku, disaksikan oleh Dimas dan Archie yang berdiri berhadap-hadapan.


Aku menatap mereka berdua yang terlihat tak sudi saat Arya mengalungkan lengannya dengan akrab di leherku. Seakan keberadaan ku saat ini terancam bahaya dengan intensitas nomor 1 dan di awasi dengan ketat.


Dengan tersenyum simpul, aku memposisikan tanganku menyentuh punggung Arya sambil memamerkannya kepada mereka berdua.


Terlihat Archie yang melototi ku dengan terang-terangan disusul Dimas yang salah tingkah lalu menabrak temannya sendiri saat sedang berjalan.


"Hahahaha.." Tawaku meledak.


"Apanya?" Tanya Arya.

__ADS_1


"Enggak!" Jawabku sambil menepuk-nepuk punggungnya.


__ADS_2