
Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, aku juga tak mengerti dengan apa yang terjadi barusan. Tiba-tiba saja air mataku mengalir dengan sendirinya tanpa di perintah.
Archie tercengeng menyaksikannya, dia spontan melepaskan tangannya dan membiarkan ku menghapus air mata.
"Ahh..Maaf, sepertinya mataku kemasukan sesuatu!" Ucapku menghapus semua air mataku sambil membelakanginya.
Setelah selesai, aku berbalik lagi ke hadapannya.
"Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku!" Ucapku menunduk.
Dia diam seribu bahasa.
"Meskipun anda mengatakan semua kebenaran ini. Tapi semua itu tak bisa di katakan benar karena tak ada hal yang dapat membuktikannya!" Balasku.
"Lu ga percaya?"
"Mungkin saya dengan orang yang bernama 'Anya' itu hanya mirip." Potongku langsung.
Dia menghembuskan napas panjang sambil melihat ke arah langit-langit.
"Hanya mirip lu bilang!" Ucapnya mendekat lagi ke hadapanku. "Apa lu pikir, gua bisa ngelupain gitu aja wanita yang paling gua inginkan di dunia ini melainkan dengan apapun. Bahkan sampai 100 tahun sekalipun gua ga akan pernah lupa siapa lu!"
Tanpa aba-aba, dia mengambil tanganku dan meletakkannya di atas dada nya yang bidang. Saat itu juga, aku merasakan detak jantungnya yang langsung tersambung di antara urat-urat nadi tanganku yang saling bersentuhan.
"Apa lu bisa ngelupain gua. Apa lu benar-benar udah ga ingat dengan tubuh ini?" Ucapnya dengan setengah berbisik.
Dan kemudian, di hadapanku dia membuka kancing bajunya satu persatu lalu menanggalkannya begitu saja.
"Apa yang sedang anda lakukan pak Yuaga!" Ucapku kaget.
Karena sekarang yang tersisa di tubuhnya hanyalah celana hitam panjang.
"Entahlah!" Ujarnya mendekatiku lagi sambil menyibak rambutnya. "Gua juga ga tau!"
Aku terpojok di dinding, meskipun ada celah yang memungkinkan ku untuk melarikan diri tapi aku tak melakukannya dan membiarkan dia mendekat.
"Anya!" Panggilnya berbisik di telingaku.
Aku diam membeku saat dia menyentuh dan membelai tubuhku dengan sentuhan lembut seperti sedang mempermainkan buruan lezat sebelum di jadikan santapan makan malam. aku merasakan sensasi yang tak masuk akal.
Aku merasa jika dia adalah milikku dan aku ini adalah miliknya. dia seperti begitu merindukan tubuhku, dan aku juga seperti sangat merindukan tubuhnya.
Entah apa yang telah terjadi. Yuaga Archie yang tak pernah tertarik dengan wanita manapun, bahkan p*lac*r penggoda paling top senegara ini pun tak mampu mengoyak imannya. Pertahanannya bahkan tak tertembus seperti perisai jaman perang uskup.
Informasi yang di berikan oleh wanita itu ternyata keliru. Yuaga Archie yang tak tertarik dengan wanita manapun bahkan kepada istrinya sendiri, bertelanjang dada menggodaku dan memberikan tubuhnya sendiri seakan minta untuk di nodai. bahkan dia pun bersaksi, jika dia tak meminum obat apapun saat pertemuan ini.
Aku tak mampu lagi membendung hasrat yang terpendam di balik diriku saat memandangi tubuhnya yang sedari tadi menggodaku dengan pergerakan liarnya. Tatapan mata itu mengingatkan ku dengan sesuatu. Begitu menyihir sampai membuatku lupa diri.
"Gua sangat merindukan lu. Sampai mau mati rasanya!!" Bisik nya lagi di dekat telingaku.
Aku terjebak di antara dunia nyata dan fana, pikiranku melayang entah kemana, akal sehatku lenyap, naluri liar menguasai tubuhku. Entah sejak kapan, dia mulai menggerayangi tubuhku dan aku sangat menikmatinya, di mengecup tubuhku dan aku mendesah seakan memaksanya melakukan lebih.
Semua terlihat samar dan kelabu saat dia mulai mengecup bibirku. Dan aku membalasnya dengan hal yang sama, semangkin dia membalasku dengan teknik liarnya, maka aku akan membalasnya lagi. Lagi dan lagi.
__ADS_1
Sampai kami berdua telah hilang dan tenggelam dalam lautan hasrat yang tak terbendung.
Kami sama-sama melepaskan ciuman yang semangkin lama semangkin memanas. Di dalam tatapannya, aku bisa merasakan perasaan yang sama persis seperti apa yang ku rasakan. Yaitu hasrat merindu yang tak terbendung.
Tanpa mengatakan apapun lagi. Dia langsung mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya, dan membawaku masuk ke dalam kamarnya.
**************
"Niichan. Hentikan!" Ucapku sambil menangkap tangannya.
Dia membalasku dengan kekehan dan terus mengganggu tidurku dengan memainkan rambutku yang tergerai.
"Jam berapa sekarang, kenapa kau tak bersiap-siap juga!" Ucapku dengan mata yang masih terpejam.
Tapi tak ada suara sahutan dari Shin, malah sekarang dia mangkin menjahiliku dengan meniup keningku.
"Apa yang kau lakukan. Apa kau sudah bosan hidup?!" Gumamku.
Dia masih tak mengidahkan ku.
"Shin!" Pekikku sambil membuka mata.
Wuuusshhhh....
"Shin!" Ucap Yuaga Archie yang telanjang di sampingku. "Siapa Shin?"
Aku tercengang. Seiring dengan hembusan angin laut yang meniup otakku dari ketidakwarasan, saat itu juga aku tersadar dengan apa yang telah aku lakukan semalam.
Aagggghhhhh....
*************
"Silahkan di minum!" Ucap seorang laki-laki yang pernah ku temui semalam.
Aku mengambil cangkir berisi teh hangat dan meminumnya dengan berlahan.
Dia memandangiku dengan tatapan aneh, mirip seperti orang yang baru pertama kali melihat perempuan. Entah kenapa, tapi laki-laki ini seperti sedang menunggu sesuatu dari ku.
"Maaf. Kenapa anda memandangi saya dengan tatapan seperti itu!" Aku risih.
Sontak dia terkejut dan langsung membuang tatapannya ke arah Archie yang duduk di sampingku.
"Anda. Bisa bicara dalam bahasa jepang!" Tanyanya dengan wajah gusar.
Aku mengangguk dengan tatapan heran.
Dia melihat lagi ke arah Archie, dan Archie membalas tatapan pria itu dengan mengangguk perlahan.
"Apa anda ingat sesuatu. Maksud saya, apa anda ingat siapa saya!?" Tanyanya.
Aku menggeleng.
Mereka berdua saling bertatapan hingga akhirnya menjatuhkan tatapan terakhir mereka ke arahku.
__ADS_1
"Tuan, ini!"
"Iya aku tau!" Archie memotong perkataannya. "Aku tau!"
*Archie memakai panggilan 'Aku' dan 'Kau' saat menggunakan bahasa jepang. Agak ribet sih, tapi semoga pembaca mengerti ya, peralihan bahasa yang akan mereka pakai karena semua dialog memakai bahasa indonesia.
"Kalau begitu saya akan memperkenalkan diri saya lagi. nama saya Hendri, saya asisten pribadi Tuan Yuaga. Senang bertemu dengan anda!!" Ucapnya.
Aku membalasnya. "Saya Tanaka Sada. Senang bertemu dengan anda. Mohon bantuannya!"
"Tanaka Sada!" Ucap Archie sambil memandangiku.
"Iya!" Jawabku.
Lalu mereka berdua kembali saling bertatapan.
"Jadi, Tanaka. Apa kau ingat kapan terakhir kali kau sadar?" Tanya Hendri.
Aku mengangguk. "Tiga tahun yang lalu, di rumah sakit!"
"Di rumah sakit!" Hendri tampak shock.
"Kedua saudaraku mengatakan, kalau aku hilang ingatan karena kecelakaan, dan kedua orang tua ku meninggal karena kecelakaan itu!" Jelasku.
"Tu-tunggu. Saudara, kau punya saudara!?" Archie juga tampak shock.
"Benar, aku tinggal bersama mereka!" Jawabku.
Lagi-lagi mereka berdua saling berpandangan.
**************
Tok tok tok....
"Niichan, Neechan. Aku pulang!!" Pekikku di depan pintu.
Tapi tak ada tanda-tanda kalau mereka akan membukakan ku pintu.
"Niichan, Neechan. Aku pu..."
Dreeekkkk...
Pintu tiba-tiba terbuka, dan menjulurlah tangan kurus namun berotot keluar dari dalam rumah dan langsung menjewer telingaku.
"Dari mana saja kau. Kenapa kau menghilang selama satu hari dan baru muncul sekarang. Lalu kenapa nomormu tidak bisa di hubungi. Apa kau pikir aku tak khawatir, bagaimana kalau kau di culik orang dan organ dalammu di jual. Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaanku dan Mia!!"
"Sumimasen!" Sapa Hendri di balik rentetan omelan Shin.
Sontak Shin membeku saat melihat Hendri, tapi ekspresinya langsung berubah saat tatapannya beralih kepada orang yang ada di samping Hendri.
"Sudah lama ya. Tanaka Shin!!" Ucap Archie menyapanya.
Shin melepaskan ku dan berjalan mendekati Archie.
__ADS_1
"Archie Yuaga!" Balas Shin.