
"Istirahatlah!" Ucap Sayang memberikanku segelas air putih dan membungkus tubuhku dengan selimut.
Aku menerimanya dan meminumnya dengan sekali tenggak.
"Kalau lu ngerasa ga nyaman ada di rumah ini, lebih baik kita cari penginapan lain." Sayang beranjak dari hadapanku dan mengambil ponsel.
"Aku ga apa-apa!" Ucapku.
Tapi Sayang tak mengidahkan ku dan sibuk berkutik dengan ponselnya.
Apakah ini alasannya Archie tak memperbolehkan ku mengikuti saran dokter dan dengan keras menentang cara ini.
Untuk sesaat setelah mengalaminya langsung, aku merasa seakan tubuhku melayang di udara ketika di hadapkan pada tempat terjadinya perkara. Efeknya langsung terasa saat bayang-bayangan acak itu menyeruak mengocok isi kepalaku.
"Dari sini ada penginapan yang letaknya ga terlalu jauh!" Ucap Sayang sambil mengutak-atik ponselnya. "Mending kita berangkat sekarang aja sebelum ari udah benar-benar gelap!"
Greepp...
Aku langsung memegang lengannya dan menyuruhnya untuk tetap di sana.
"Anya!"
"Aku baik-baik aja!" Jawabku spontan.
"Hei, kalau seandainya terjadi apa-apa sama lu kayak tadi, lu pikir gua ga ikutan panik!"
"Kita jangan pergi!" Potongku spontan.
"Tapi lu.."
"Yang!" Panggilku.
Sayang langsung bungkam.
"Tujuan ku datang ke sini adalah rumah ini. Apapun resiko yang terjadi padaku nanti, aku ga punya pilihan lain selain bertahan!"
Sayang memandangi kedua bola mataku dengan gelisah.
"Ini adalah kesempatan terakhir ku. Kalau cara ini gagal, aku bakalan kehilangan semuanya, Yang!!" Pekikku histeris.
Sayang memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. Sambil menggenggam tinju dia berbalik membelakangiku dan menghela napas.
Aku menatap punggungnya dengan heran.
"Ternyata ini alasannya, si bangsat itu ampe hampir gila gegara lu. Heh, sialan. Bikin iri!!" Gumamnya meraup wajahnya sendiri.
"Kau ngomong apa sih?" Tanyaku.
Sayang berbalik.
"Enggak. Lupain!!" Jawabnya sambil beranjak dari hadapanku. "Gua ke luar bentar ya. Mau prepare barang-barang yang ada di depan!!"
Braakk...
Lalu tak berapa lama dia kembali dengan membawa koper dan juga barang bawaannya yang seabrek, persis menantu yang di usir mertua karena ngabisin duit laki.
__ADS_1
*************
Kami berdua sepakat tinggal di rumah itu dengan memakai kamar terpisah. Aku akan memakai kamar orangtua ku yang ada di sisi timur dan dia akan memakai kamarku yang ada si sisi barat.
Rumah ini terbagi menjadi 12 ruangan terpisah. Ruang tamu yang terhubung dengan teras, ruang keluarga dan rekreasi, 3 kamar tidur, gudang perlengkapan, dapur, 2 kamar mandi, ruang makan, dan perpustakaan.
Karena rumah ini di khususkan untuk home stay, jadi semua ruangan di sini di maksimalfungsikan demi kenyamanan para tamu.
"Lu ga pa-pa nih tidur sendirian?" Tanya Sayang pergi ke ruang keluarga menghampiriku setelah selesai mandi dan menghapus samarannya.
"Ga pa-pa. Lagian ini kan rumah ku sendiri!!" Jawabku sambil memindahkan chanel saluran TV.
"Tapi kalau tiba-tiba lu kalap kayak tadi, gimana?"
"Kan ada kamu. Aku tinggal teriak aja kan!!" Jawabku santai.
"Kalau gua molor terus ga denger apa-apa?"
Aku diam dan memutar bola mataku sambil berfikir.
"Paling aman kalau gua juga tidur sekamar bareng lu!" Sergahnya.
"Ogah!" Balasku langsung.
"Kita kan udah pernah tidur bareng!" Sayang mendekat ke sisiku. "Bahkan gua juga udah liat ampe ke dalem-dalemnya juga!" Bisiknya.
"Setan!" Aku melemparnya dengan bantal sofa.
"Hahahahaha!"
"Itu kan karena aku nya ga tau kalau kamu itu cowok tulen, beg*!!" Aku memukuli tubuhnya.
"Serah lu. Emangnya aku cewek apaan, mau-maunya sekamar bareng cowok yang bukan muhrim!!"
"Cih..!" Sayang kesal sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Lu kan tau kalau gua ga bisa molor kalau ga pegangan tangan, apalagi kalau berada di tempat baru!"
"Lebih bagus kalau ga molor, jadi kamu bisa langsung dateng pas ada kejadian kayak tadi!" Ujarku tersenyum tipis.
"Ogah, ngeselin banget sih lu!" Ucapnya lalu melempar bantal sofa ke wajahku dan pergi ke luar.
"Mau kemana Yang?" Tanyaku.
"Nyari makan laper, kali aja Dik Kamila udah selesai masak!" Ujarnya tergesah.
Alasan. padahal dia memang ingin bertemu dengan kamila.
Namun berselang 10 menit kemudian terdengar suara gaduh yang berasal dari rumah Bang Samsu. Dan saat itu aku langsung tersadar jika melupakan sesuatu yang penting.
"Jadi Abang bulek ini, adalah cewek yang tadi bareng Kak Arel!" Kamila kaget saat mendengarkan penjelasanku jika mereka berdua adalah orang yang sama.
Sayang memegangi keningnya sendiri karena di geprek Kamila menggunakan nampan.
"Ahh..maaf, aku benar-benar ga tau kalau Abang adalah orang yang sama!" Kamila berwajah panik sambil membungkukan badannya.
"Eh, iya ga pa-pa. Salah gua juga yang ga sadar diri!" Balas Sayang ikutan membungkuk.
__ADS_1
Akhirnya keadaan kembali mereda setelah aku datang dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Termasuk Bang Samsu, beliau juga hampir menyabet leher Sayang dengan celurit, di saat Sayang tiba-tiba masuk untuk menanyakan makan malam. Bang Samsu pikir, Sayang adalah bule gila yang suka melecehkan kaum pribumi.
Aku juga mengerti kenapa mereka sampai mewaspadai tindakan Sayang. Di rumah itu, hanya ada Bang Samsu dan Kamila. Saudara mereka yang lainnya sudah menikah dan kedua orang tua mereka sudah lama meninggal.
Mereka pun akhirnya bercerita, jika bukan hanya sekali dua kali Kamila mendapatkan pelecehan seksual dan prilaku yang tidak menyenangkan dari para tamu yang menginap di home stay. Apalagi tamu yang berasal dari mancanegara, bahkan ada yang menawarkan kamila untuk melayani nafsu mereka dalam satu malam dengan imbalan yang sangat besar.
"Mengerikan. Kenapa Abang tak melaporkannya kepada pihak berwajib!" Aku geram setelah mendengarnya.
"La isak nong. Tape dak begune, pelisi pun nyebut wajar name e jak urang barat. Sebasing e idup. Mn dak nak adek kau di gituek dari urang usa mukak home stay, gitu kate e Rel, serba salah juak Abang. Dirik besadu mangke di pantak balik!!" Abang mencurahkan kegelisahannya. *Sudah pernah. Tapi ga ada gunanya, polisi pun ngomong wajar namanya juga budaya barat. Hidupnya suka-suka. Kalau ga mau adek nya di lecehin ama orang ya jangan buka home stay dong, mereka ngomong nya kayak gitu Rel, Abang kan jadi serba salah. Pengen lapor tapi malah di katain balik.
Masalah seperti ini sebenarnya sering terjadi di kawasan pariwisata, apalagi para tamu menganggap berhak atas apa saja kerena merasa telah membayar fasilitas yang ada. Tapi kembali lagi ke kultur budaya setempat, jika saja pelaku pariwisata di tindak tegas mengenai hal ini, mungkin kejadian seperti yang di ceritakan Bang Samsu yang menimpa Kamila tak kan terulang lagi nanti.
**************
Sudah tiga hari berlalu, tapi sampai sekarang pun aku tak mendapatkan apa-apa selama berada di tempat ini.
Namun Sayang bilang perubahan mentalku mengalami kemajuan yang signifikan, sekarang aku lebih berani saat berlama-lama di kamarku sendiri, dan bayang-bayang menakutkan itu samar-samar mereda sampai aku terbiasa dan menganggapnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Sayang mengasuhku dengan memberikan terapis dan juga sugesti yang berguna untuk merangsang ingatan ku di masa lalu. Dia juga memberikan ku saran makanan yang bergizi agar tubuhku tak kekurangan tenaga di saat menjalani metode ini.
Tapi yang menjadi masalahku sekarang adalah penyakit insomnia yang membuatku terjaga sepanjang malam karena memikirkan sesuatu yang tak seharusnya ku pikirkan.
Archie, sialnya aku tak bisa berhenti memikirkannya barang sedetik pun. Itu membuatku mangkin resah karena wajahnya tak kunjung hilang dari pandanganku bahkan saat matahari terbit.
Apa yang sedang dia lakukan sekarang. Apa dia makan dengan baik dan teratur. Bagaimana kabarnya. Apa dia masih lupa menaruh barang berharganya. Apa sekarang dia sedang tidur.
Atau mungkin sekarang dia sedang sibuk melangsungkan acara pernikahan dengan wanita lain. Mungkin juga dia sedang bersenang-senang dengan kebebasannya. Atau mungkin saja dia sudah tidur dengan wanita itu.
"Uggghhh...!!" Aku memegangi kepalaku sendiri jika memikirkan yang tidak-tidak mengenai dirinya.
Sedangkan yang bisa ku lakukan di sini hanya lah menunggu. Menunggu sesuatu yang tak tahu kapan semua ini akan berakhir.
"Anya!" Panggil Sayang. "Lu kenapa?" Tanya nya heran melihatku meringkuk di dalam kamar.
Dia datang menghampiriku karena merasa aneh setelah seharian tak melihat ku.
Aku tak menjawab dan menutup tubuhku dengan selimut.
"Lu kenapa lagi, hah?" Sayang mendekat dan langsung menempelkan telapak tangannya di keningku.
Aku tak menggubrisnya dan mengalihkan tatapanku ke luar jendela.
"Astaga lu panas banget!" Ujarnya sambil mengusap wajahku yang memerah. "Sejak kapan lu demam, kenapa ga bilang ke gua!"
Aku tak menjawab bahkan enggan melihat ke arahnya.
"Bentar. Tunggu bentar di sini, gua mau nyari apotik!!" Dia langsung melesat pergi.
Apa katanya, demam. Sejak kapan. Bahkan aku sendiripun tak merasa kalau sedang sakit.
Tak lama kemudian dia pun kembali dan membawa berbagai obat-obatan dan juga bahan makanan.
Meskipun hobinya nyeleneh dan sulit di terima nalar, tapi sebenarnya Sayang merupakan seorang mahasiswa kedokteran spesialis anak yang berprestasi, dan sekarang sedang mengambil masa cuti kuliah karena terlibat dengan beberapa urusan tentang pekerjaannya sebagai model. Awalnya saja aku heran kenapa Sayang banyak mengetahui tentang dunia permedisan, dan ternyata dia adalah calon dokter masa depan dengan keabsurd-an hobi nya yang ga biasa itu.
Saat ku tanya penampilan apa yang dia pakai saat pergi ke kampus. Sayang menjawab tentu saja penampilan normal nya sebagai laki-laki. Crossdresser hanyalah hobi, dan penghobi tak mempersalahkan ketertarikannya terhadap keingintahuan ilmu. Dan ilmu tak memilah siapa saja yang harus di anugrahi pengetahuan.
__ADS_1
Sayang memeriksa suhu tubuhku dengan termometer, membawakanku kompres air hangat, memberikan ku obat tablet, memasak bubur di dapur, dan mengecek kondisiku setiap beberapa jam sekali.
Aku memang tak berharap banyak saat Sakurai mengusulkan Sayang untuk menemaniku pergi ke tempat ini. Tapi ternyata kehadirannya benar-benar sangat di harapkan melebihi ekspentasi ku.