Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Totally Awkward!


__ADS_3

"Cie ngedate!!" Ucap Laila sambil menunjuk-nunjuk kami berdua. Padahal aku tahu kalau dia merasa cemburu padaku.


"Ga boleh gitu Lai, noh abang Libiru jadi bete." Ujar Arya menandangi Libiru yang dari tadi diam tidak bersemangat.


"Udah udah, entar kita nyari kesempatan buat nonton berempat." Lerai ku.


Suara riuh datang dari pintu masuk kantin. Karena sudah waktunya makan siang, berarti semua kelas di kampus ini sedang beristirahat.


Lalu datanglah segerombolan anak dari jurusan perfilman. Mereka langsung memenuhi area kantin dan suasana langsung di dominasi oleh laki-laki, karena di jurusan itu kebanyakan adalah laki-laki, aku melihat Archie di antara mereka dan sedang antusias mengobrol dengan teman-temannya.


Dia langsung menjadi pusat perhatian orang-orang, di setiap langkahnya berjalan dan setiap gerakan yang dia lakukan selalu mendapat decak kagum oleh kaum wanita penggemar berat COTOR.


Entah sengaja atau dia memang pura-pura tak tahu, mereka malah memilih meja di depan ku untuk makan bersama.


Yang membuat ku risih setengah mati adalah dia duduk bersebelahan dengan teman wanitanya dan wanita itu terlihat sangat akrab dan mesra dengan Archie bahkan wanita itu merangkul pundak Archie sambil tertawa lepas mengobrol dengannya.


Aku mengepalkan tangan ku kuat-kuat saat melihat dia tertawa bahagia bersama wanita lain. Kenapa harus berada di depan ku lagi sih, ini kali kedua nya aku melihat Archie bersama wanita lain, tak bisa di jelaskan tapi rasanya benar-benar muak.


"Apa ni, ada bekas tissue di mulut lu." Ujar Arya menghalangi pandanganku dengan wajahnya, lalu mengambil bekas tissue yang tersisa di dekat bibirku. Posisi seperti ini malah terlihat sekilas seperti adegan ciuman, karena Arya bergerak tiba-tiba maka aku tak sempat berbuat apa-apa.


Tiba-tiba suasana yang semulanya riuh dari mulai meja kami sampai meja Archie seketika saja menjadi senyap. Mereka semua melihat adegan salah paham itu menjadi sebuah adegan ciuman yang di sengaja.


"Loh kenapa?" Tanya Arya bingung saat melihat semua mata tertuju pada kami berdua.


***********


"Syukurlah dia belum pulang." Ujarku masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap dan berlari kecil menuju kamarku.


Lampu di ruangan tengah masih mati, mobilnya juga tidak ada di parkiran dan kamarnya masih tertutup rapat, baguslah kalau dia tidak pulang karena aku sangat tidak ingin bertemu dengannya.


Lagian kejadian tadi di kantin membuatku resah, kenapa juga Arya tiba-tiba sudah di depan wajahku. Karena telah terlanjur malu di lihat oleh semua orang, aku malah pergi dengan berlari, padahal itu hanya kesalahpahaman.


Kalau nanti aku bertemu dengannya apa kira-kira yang dia pikirkan tentang ku.


Saat berada di ujung tangga, langkahku langsung terhenti. Aku melihat sosok bayangan besar, hitam dan tinggi berdiri di depan lorong kamarku, karena lampunya mati dan penglihatan ku terbatas, aku berharap kalau itu bukanlah siluman atau hantu penunggu tempat ini. Bisa saja karena saking lelahnya diriku akhir-akhir ini sampai mengalami halusinasi yang parah.


"Udah pulang lu!" Ujar suara itu yang kuyakini bukanlah suara genderuwo atau mahluk halus lainnya, melainkan suara suamiku sendiri. Ternyata Archie sudah pulang duluan sebelum aku datang.


Dia berjalan mendekatiku yang mematung di ujung tangga, sorot mata nya beringas menatapku, yang mengisyaratkan jika suasana hatinya saat ini sedang tidak baik.


Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung membopong tubuhku dan meletakkan ku di pundaknya.


"Archie, Apa yang kau lakukan!?" Teriak ku yang terus memukuli punggungnya.


"Shut up!" Balasnya menjelajahi lorong lantai atas melewati ruang baca, dua kamar tamu, dan balkon.


Tapi aku ingat, setelah balkon bukannya rute ini membawaku menuju kamar utama. Saat aku sadar tujuannya yang membawaku kemari, aku terus meronta dan memukul keras punggungnya.


"Archie lepasin ga!!" Teriakku yang sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan pada ku.


Bbbruuukk...


Dia menendang kamar itu dengan kaki panjangnya.


Aku memperhatikan dengan seksama kamar utama yang seharusnya kami tempati bersama sejak awal pernikahan.


Sudah lebih dari 3 minggu kamar ini kami biarkan terbengkalai jadi seharusnya bunga mawar yang jumlahnya ribuan dengan warna dan jenis yang berbeda pasti sudah layu dan menjadi bangkai di kamar pengantin ini.


Akan tetapi ekspentasi ku malah berbanding terbalik dengan realita. Saat aku sudah berada di dalamnya, aku merasa seperti berada di dunia lain, dekorasi dan hiasan yang memenuhi kamar ini, mirip istana bunga yang ada di khayangan. Aku terbelak tak percaya saat menyadari kalau hampir seluruh bunga indah yang ada di dunia berada di kamar ini, kecuali bunga bangkai.


Bukan hanya di langit-langit dan dinding yang di penuhi bunga, melainkan kelopak bunganya memenuhi lantai dan kasur pengantin.


Apakah ada seseorang yang datang dan mendekor kembali kamar ini, tapi sejak kapan. Di lihat dari tingkat kelembaban kelopak bunganya, aku menduga kalau bunga yang ada di sini baru saja tiba beberapa jam yang lalu. Berarti sebelum aku datang seseorang mendekor ulang kamar pengantin ini.

__ADS_1


Tiba-tiba dia menghempaskan tubuhku di atas kasur yang bertabur bunga mawar dan ku rasakan bau nya yang menyegarkan memenuhi kepalaku. Aku yang larut dalam keindahan dan kesegaran harum bunga yang mengelilingiku, tak sadar kalau mahluk buas yang ada di depanku sudah merong-rong dengan cakarnya bersiap mengoyakku.


Tanpa basa-basi lagi, Archie langsung menindih tubuhku dengan berat tubuhnya dan membuka paksa baju yang sedang aku kenakan.


Aku berusaha memegangi tangannya agar dia tak bisa menjangkau ritsleting yang ada di punggungku, akan tetapi kekuatannya terlalu besar sehingga aku mendengar suara robekan di seluruh bagian baju ku.


Dia tidak membutuhkan ritsleting lagi hanya untuk melucuti baju yang aku kenakan, baju yang aku kenakan sekarang seperti potongan kertas, sehingga yang tersisa di atas tubuhku hanya lah BRA berwarna hitam yang menutupi buah dadaku.


Dia berhenti sejenak dan meregangkan kedua tanganku lalu memposisikan nya di atas kepalaku seperti sikap memborgol.


"Archie!" Panggil ku lirih, sambil berusaha mendorong tubuhnya yang sudah berada di atasku. "Kalau kamu maksa aku kayak gini, itu gak ada bedanya dengan kamu sengaja nyakitin aku!"


"Ini kan uda jadi hak gua, sebenarnya gua juga gak perlu minta persetujuan lu kalau gua pengen." Jawabnya sambil membuka kancing bajunya sendiri.


"Tapi aku gak mau kalau terpaksa!" Ujar ku memelas saat dia sudah berhasil menanggalkan semua bajunya, dan memposisikan tubuhnya secara sempurna di atasku.


Dengan beringas, dia mencumbu ku dengan kasar. Sangat kasar sampai aku merasa dia sengaja melakukan ini untuk menyakitiku.


Aku layaknya di mangsa seekor binatang buas yang sedang kelaparan, yang tidak pernah makan buruan lezat selama berbulan-bulan. Tapi ini terlalu kasar, dia memperlakukan ku tanpa memikirkan keselamatan ku. Dia menggigit ku sampai aku merasakan kalau bibirku perih dan sakit. Aku mendorong tubuhnya berusaha memberitahukan kalau aku terluka, tapi tenaganya terlalu kuat, bahkan aku tidak punya celah untuk bergerak.


Sampai akhirnya aku merasakan kalau ada rasa yang amis dan bau seperti darah yang masuk kedalam mulutku, barulah dia sadar dan segera melepaskan ku.


Ternyata benar aku terluka, permukaan bibir bawah ku mengelupas dan ada luka terkoyak di samping bibirku.


Dia benar-benar sudah gila.


Melihatku yang sudah terlanjur terluka, ekspresi wajahnya langsung kaget dan mundur menjauh memberikan aku ruang untuk bergerak. Setelah itu aku merasakan kalau luka yang berada di samping bibirku perih dan mengeluarkan sedikit darah yang mengalir sampai daguku.


Dia langsung mendekap ku dengan wajah panik dan menyeka darah yang mengalir sampai ke daguku dengan tangannya.


**********


Di ruang belajar.


"Auuwwhh..." Ujarku meringis menahan sakit, saat dia mengoleskan salep luka di bibirku yang terkoyak.


Tapi setelah aku selesai mandi dan merapikan diri, dia datang ke kamarku dan menawarkan bantuan untuk mengobati luka ku. Tentu saja aku tak bisa menolaknya, aku tak bisa membayangkan reaksinya untuk terus memohon sampai aku setuju.


"Masih perih gak?" Tanyanya dengan muka mengernyit mengkhawatirkan ku.


Aku mengangguk pelan dan tersenyum kecut pada nya. Dia mengusap kepalaku dan menatap wajahku dengan tatapan canggung.


"Laper gak, gua buatin makanan yah!" Ujarnya berjongkok di depan lututku sambil menatapku dengan intens.


Aku mengangguk pelan mengisyaratkan kalau mengiyakan pertanyaannya.


"Ok. Bentar ya!" Ujar nya pergi menuju dapur.


Aku mengambil cermin dan melihat kondisi bibirku, pantas saja rasanya sakit ternyata lukanya cukup dalam, walaupun hanya luka kecil tapi tetap saja rasanya mengerikan, dengan hanya ciuman dia bisa membuat luka yang seperti ini. Aku sampai merinding membayangkan kalau tadi dia melanjutkan ke tahap berikutnya mungkin aku akan tewas di malam pertama ku.


Berselang 10 menit kemudian dia datang membawa onigiri, yaitu nasi kepal ala jepang yang di buat dengan cara nasi nya di kepal-kepal hingga berbentuk segitiga, didalamnya tak lupa di beri isian seperti suiran tuna, ayam, atau bisa juga telur rebus dan juga mayones,lalu di salah satu sisi segitiga tersebut ada selembar nori yaitu rumput laut kering yang banyak di jumpai pada makanan khas jepang maupun korea. Kalau di indonesia makanan seperti ini mirip lemper, hanya saja cara pengolahannya yang berbeda.


"Pelan-pelan aja!" Ujarnya memperingatkan ku yang memakan onigiri yang dia buatkan dengan satu suapan besar. Karena lapar dan frustasi aku tak menghiraukan rasa perih pada sisi bibirku saat membuka mulut.


Akhirnya aku menghabiskan semua onigiri yang dia buatkan padaku. Selain lapar dan frustasi, ku akui kalau makanan buatannya sangat enak. Walaupun aku tahu dia baik seperti ini karena sedang merasa bersalah atas perlakuan buruk nya padaku.


"Maaf ya untuk yang tadi!" Ujarnya sambil membereskan peralatan makanan. "Gua ga tau kejadiannya bakal kayak gini, gua beneran gak ada niat buat nyakitin lu!" Lanjutnya.


"Iya!!" Jawabku singkat sambil tersenyum kecil.


Mendengar dia mengakui kesalahannya saja sudah sebuah keajaiban. Karena selama ini Archie yang ku kenal di kampus adalah orang yang benar-benar arogan dan lebih baik mati dari pada mengakui kesalahannya, hal itu di karenakan harga dirinya yang tinggi dan menganggap dirinya di atas segalanya.


"Gua boleh nemenin lu tidur ga!" Ujar nya sedikit merendahkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Haah?" Ucapku kaget.


"Gua tau tadi gua keterlaluan, jadi sebagai permohonan maaf, ijinin gua malam ini jagain lu tidur!" lanjutnya lagi sambil menundukan tubuhnya seperti kebiasaan orang jepang kebanyakan.


Tingkahnya ini membuatku teringat dengan tokoh kartun kucing farfield yang selalu bertingkah sombong dan arogan tapi saat dirinya bersalah pada majikannya kucing oren itu akan memelas dan meminta belas kasihan tuannya, seperti itulah Archie di depan mataku sekarang. Tingkahnya menggemaskan walaupun sebelumnya dia adalah singa yang buas dan lapar.


********


"Pagi!" Ucapnya menyapaku saat aku membuka mataku untuk pertama kali.


Aah.. Kaget. Aku hampir saja berteriak, hampir lupa kalau semalam aku lah yang mengizinkan dia untuk tidur di kamarku.


"P-pagi?" Jawabku karena gugup di tatap cowok seksi yang tidur dengan dada telanjang di pagi buta.


Yang jadi pertanyaanku adalah sejak kapan dia melepas bajunya. Apakah kebiasaannya adalah tidur dengan dada telanjang seperti ini.


Semalam aku memang mengizinkannya untuk tidur bersamaku , tapi aku juga mengajukan sebuah petisi untuknya. Dia tidak boleh melewati batas bantal yang aku taruh di tengah antara dia dan aku, kalau saja dia melanggar batas yang ku buat maka dengan senang hati aku akan mengusirnya keluar dari kamar ku.


Akhirnya sampai pagi pun, dia menepati janjinya dan tidak melanggar batas yang ku buat.


"Dih ada iler ni." Ujarnya menunjuk wajahku dan tertawa mengejek.


"Hahh.." Ujarku malu dan menutupi wajahku dengan selimut.


Dia melempar bantal yang ku gunakan sebagai pembatas dan mendekatkan tubuhnnya ke sisi ku.


Dia menggeser tubuhnya hingga menyatu dengan tubuhku, lalu ku dengar suara nafasnya berhembus di depan wajahku. Meskipun aku menutup seluruh wajahku dengan selimut tapi aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


"Jangan tolak gua." Ujarnya mengusap lembut kepalaku dan memainkan rambutku yang tergerai.


Aku diam dan tidak meresponnya dengan masih menutup seluruh wajahku dengan selimut.


"Sini biar gua liat luka lu." Ujarnya membuka selimut yang menutupi wajahku.


Dia mengangkat kepalaku berlahan agar aku bisa bertatapan dengannya. Lalu mengusap lembut bekas luka tergigit yang dia hadiahkan kepadaku, yang sekarang terlihat mengering.


Dia mendekatkan wajahnya padaku, sangat dekat hingga aku menghirup nafas yang sama dengannya.


Kemudian dengan tiba-tiba dia menciumi bekas luka ku dengan perlakuan yang sangat lembut dan melakukannya secara berulang-ulang.


Aku yang takut kehilangan kendali, berusaha menghindarinya dengan menundukkan kepalaku. Tapi dia malah mengangkat kepalaku lagi ke atas dan terus menciumi bekas luka di pinggir bibirku dengan lembut dan penuh perasaan.


Apa yang harus ku lakukan.


Tolak, tolak dia. Jangan biarkan dia memperlakukan ku dengan seenaknya.


Saat pikiran serta batinku berteriak seperti itu, tanpa sadar, aku malah terjebak dan terbuai dengan kenikmatan ciuman yang dia berikan.


Pikiranku berkata aku harus menolaknya tapi bagaimana dengan tubuhku, seakan tak sejalan dengan pikiranku, berlahan aku malah ikut terbawa iramanya dan membalas ciumannya.


Dia malah kaget saat aku meladeni ciumannya, dan segera membuka matanya untuk melihatku.


"Anya, lu..."


Aku menunduk malu dan menutup bibirku dengan selimut. Padahal tadi aku baru saja mulai, kenapa dia malah berhenti dan membuat suasananya jadi canggung.


Dia malah jadi ikutan malu dan menutup mulutnya sambil memandangi ku dengan suasana cangung, mungkin tadi dia sangat kaget saat aku membalas ciumannya dan tak menyangka kalau aku akan melakukan tindakan seperti itu mengingat selama ini aku selalu menolaknya secara terang-terangan.


"A-anu lu laper ga.." Tanya nya dengan suara bergetar antara gugup, malu dan canggung.


"A-aku laper banget!" Jawabku dengan nada yang sama seperti pertanyaannya.


"G-gua turun dulu..!" Ucapnya lalu dengan cepat beranjak dari kasurku dan berlari menuruni tangga.

__ADS_1


"Aaaaaaahhggh..." Teriak ku di dalam selimut sambil menendang-nendang kakiku ke udara.


Awkward banget. Kenapa hubungan kami menjadi seperti ini.


__ADS_2