
"Anya ternyata lu disini!!" Panggil Archie yang kemudian masuk ke dalam kamar.
Dia lalu mengidar sekeliling dan memperhatikan barang-barangku yang telah mendominasi kamarnya.
"Lu udah pindah ke kamar gua ya?" Tanyanya sambil menyingkirkan koper yang tak sempat ku kemasi dan menghalangi pintu masuk. "Loh, bukannya kemarin lu bilang mau bareng anak-anak selama masa liburan?"
Aku tak menjawab dan terus melihat ke arah luar mengikuti arah deburan ombak laut.
"Tadi lu kemana aja bareng Sayang?"
Aku langsung membalikan tubuhku saat dia menyebutkan nama Sayang. Sialan, aku benar-benar kesal dengannya tanpa alasan, rasanya dada ku sakit dan sendi-sendi tanganku kaku.
Tanpa sadar, tiba-tiba air mataku keluar dan mengalir deras melewati pipi ku, dan saat itu pun aku langsung tersadar kalau rasa terhianati karena ketidaktahuan lebih menyakitkan dari pada rasa kehilangan.
Archie yang melihatku menangis tanpa alasan, langsung memelukku dan mengusap punggungku secara terus menerus, dia tak bertanya apa pun perihal kelabilanku yang seenaknya tiba-tiba menangis di hadapannya. Namun dengan sifat kelelakian jentelmen nya, dia terus menenangkanku tanpa mengusik rasa kesedihan yang tak tentu arah ini.
"Kenapa kau tak bilang!!" Ucapku dengan terus menangis sesenggukan.
Archie mengangkat pandangannya namun masih terus mengusap punggungku.
"Kenapa kau tak pernah cerita apapun kepadaku?" Lanjutku yang hampir tak bisa bicara lancar karena ingus telah menjajah lubang hidungku.
"Lu kenapa sih, hah!?" Ujarnya heran, "apa sih yang lagi lu omongin?"
Setelah melihat wajahnya yang polos dan tak menunjukan tanda-tanda kalau dia bersalah, aku pun kembali menangis dan sekarang tambah menjadi-jadi.
Archie bingung dengan kelakuan tak jelasku namun dia tetap tabah dan sabar menghadapiku. Tanpa banyak cincong, dia terus menenangkanku dengan berbagai jenis usapan dari gerakan memutar, horizontal, vertikal sampai random. Semua jurus dia keluarkan, sampai aku tenang dan mulai ingin bicara dengannya.
"Gimana, masih mau nangis!?" Tanyanya memandangiku dengan sabar.
Aku menggeleng dan menatapnya dengan mata kuyu.
"Lu mau ngomong apa ga nih? Kalau lu masih ga mau ngomong, gua bakalan tungguin lu di sini, ampe lu ngomong." Ujarnya lagi memegang erat tanganku.
"Aku kecewa!" Ujarku dengan suara serak.
"Kecewa? Kecewa kenapa!?" Tanyanya penasaran sambil menundukan wajahnya sampai matanya sejajar dengan mata ku.
"Archie.." panggilku cengeng dengan muka terjelek yang aku miliki, "kenapa kau tak bilang kalau kau punya hubungan yang seperti itu dengan Sayang!"
"Hah!!" Archie kaget mendengar penuturanku. "Hubungan? Hubungan apa, lu lagi ngomong apa sih!!"
"Kau jangan pura-pura bodoh, aku tahu semuanya?" Ucapku kesal dan spontan memukuli dada Archie. "Dasar, kenapa kau tak bilang kalau pernah pacaran dengan laki-laki, kenapa kau juga tak bilang kalau kau memacari Sayang dari SD sampai SMA."
"Anya, Anya. Tenang dulu, Anya!!" Dia kelabakan karena ku pukuli.
Tapi aku tak perduli dan terus memukulinya tanpa berhenti.
"Anya!!" Panggilnya dan memegangi kedua tangan ku. "Hei, tenang dulu. Gua bisa jelasin!"
"Kau tau, kalau perasaanku sakit saat mendengar hal itu langsung dari Sayang, kenapa kau tak pernah menceritakan hal ini padaku, apa karena aku tak penting mangkanya kau tak mau cerita?" Ocehku emosional.
"Bukan, gua ga cerita karena emang itu ga penting!!" Jawabnya santai seperti biasa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau bilang itu tak penting, padahal kau menyukai laki-laki!!"
"Haaahh...!!" Archie mengangkat pandangannya ke langit sambil menghembuskan napas panjang. "Bocah bedebah itu pasti seenaknya mengatakan hal aneh dan tak menjelaskan semuanya dengan benar." Gumam Archie dengan perasaan kesal.
"Apa maksudmu, jelas-jelas Sayang mengatakan semuanya padaku!"
"Lu salah paham!!" Ucapnya spontan lalu menyibak rambutnya, "gua emang pernah pacaran dengannya, tapi semua itu hanya pura-pura!!"
"Pura-pura!?" Ucapku yang mulai bisa tenang dan mengendalikan diriku sendiri.
"Iya pura-pura, ceritanya panjang!!" Cetusnya lagi.
Aku mulai merasa tenang, dan mendengarkan apa yang ingin di katakannya.
"Lu tau kan, penyakit mental yang gua alami itu parah. Apalagi semasih dalam masa pengobatan beberapa tahun, gua lebih agresif dan sangat senang dengan tangisan cewek!!" Ujarnya mulai bercerita. "Gua ga tau harus ngapain, karena semangkin gua menghindari buat ga terlibat ama cewek-cewek di sekitar gua, mereka malah tambah menempel, dan mereka ga sadar kalau betapa mengerikannya gua waktu itu."
Archie memalingkan wajahnya melihat ke laut lepas. "Gua bakalan ngelakuin apa aja, demi bisa ngeliat cewe yang deketin gua itu nangis, semangkin mereka tertarik ama gua, semangkin gua ngerasa kalau mereka harus menderita karena udah berani deketin gua."
"Sampai separah itu?!" Aku bergidik.
"Ampe akhirnya gua ketemu Sayang!!" Lanjutnya memandangiku.
"Kau mengajaknya pacaran?" Tebakku sebelum dia melanjutkan ceritanya.
"Karena gua tau dia cowok, mangkanya gua ngajakin dia pura-pura pacaran biar anak-anak cewek ngenjauh!!" Balasnya.
"Tapi, kenapa!!" Ucapku bingung, "kenapa harus pacaran dengan anak cowok, dan terlebih itu adalah Sayang?!"
"Yah itu dia!!" Jawab Archie sambil menjentikan jarinya, "karena Sayang itu cowok dan punya penampilan yang spesifik dengan cewek, gua bisa ngehindarin penyakit mental gua kalau bareng Sayang!!"
"Nah lu pinter!!" Balasnya lalu mengucak abis rambutku.
"Tu-tunggu, tunggu!!" Aku menghentikan serangan Archie. "Tapi, kalian berdua melakukan drama itu sampai menginjak remaja?" Aku tak habis pikir dan menatapnya.
"Iya bener!!" Jawabnya santai.
"Seriusan, kalian sampai melakukan itu selama bertahun-tahun dan.." aku terdiam cukup lama dan rasanya jantungku berdegup kencang membayangkan hal yang tidak-tidak. "Dan, apakah selama itu kalian mempunyai perasaan khusus, seperti ahhh..seperti, benar-benar saling menyukai satu sama lain!!"
Archie langsung mematung dan menatapku dengan ekspresi jijik. "Lu beneran aja Nya, lu pikir gua apaan ampe menyukai sesama botol." Ujarnya sambil memegangi dirinya sendiri.
"Ta-tapi, Sayang bilang kau pernah menyatakan cinta kepadanya, bahkan bilang ke semua orang kalau dia adalah cinta pertama mu!"
"Itu benar, gua emang pernah bilang kayak gitu, dan Sayang memang cinta pertama gua!!" Jawabnya tanpa ada penyangkalan.
Aku langsung diam membisu dalam perasaan dingin yang tak bisa ku jelaskan.
Lalu dia mengambil kedua tanganku dan meletakkannya di dadanya. "Sebelum gua sadar kalau raga, jiwa, ama hati gua udah jadi miliki orang lain. Gua menyangkal kalau yang gua alami itu semua hanya ilusi, maka dari itu, gua membuat bayangan dengan menimpali nya dengan sosok orang lain yang tak mungkin gua ambil." Ucapnya.
Kemudian dia memegangi wajahku dengan kedua tangannya. "Waktu itu gua amat sangat menderita, gua ga ngerti kenapa gua ga bisa tertarik dengan cewek manapun. Maka dari itu, buat mengakali raga gua yang kosong, gua amat terpaksa menyerahkan jabatan cinta pertama gua ama Sayang, meskipun itu pura-pura, omong kosong dan amat menjijikan." Jelasnya dengan tampang seperti ingin muntah.
"Jadi, kau tak bisa pacaran atau tertarik dengan cewek lain karena penyakitmu, dan kau juga tak sadar kalau perilaku mu itu menunjukan kalau kau hanya cinta padaku. Dan karena kau merasa aneh tak bisa tertarik dengan cewek manapun, jadi kau menyerahkan gelar cinta pertama pada Sayang yang bahkan seorang laki-laki!!" Ucapku meringkas semua ucapannya.
"Nah tuh lu pinter!!" Ucapnya mencubit pipiku.
__ADS_1
"Hehehehe..aku berarti salah menduga ya, kalau kalian saling menyukai!!" Ujarku tersenyum getir.
"Jangan ngadi-ngadi lu, gua tuh normal, bocah kurang ajar itu juga normal. Udah gua tes juga!?"
Aku tersentak, dan menatapnya."di tes!? Apa maksudmu?"
Archie menggosok belakang lehernya sambil tertawa cengengesan. "Ya itu!?" Ujarnya malu-malu.
"Apa?" Desakku karena penasaran.
"Eengg....!!" Dia ragu-ragu dengan wajah memerah.
"Iya apa?"
"Gua pe-pernah kepikiran kalau gua ini punya kelainan seksual, jadi karena penasaran akhirnya gua mutusin buat ngetes nya langsung!!" Ujarnya kelabakan.
"Caranya?" Aku memancingnya.
"Yah, itu. Gua ngajakin Sayang buat nginep di hotel, tapi ternyata pas gua coba-coba dan penasaran liat Sayang telanjang, Gua malah jijik dan ga sadar langsung mukul dia ampe pinsan."
"Hah!!" Aku kaget dan hampir menghambur tertawa lepas.
"Gila jijik banget gua kalau inget kejadian waktu SMA, ***** nya Sayang imut banget ampe gua yang liatnya aja sempat kasian!!" Archie mulai cerita serampangan.
"Archie hentikan, aku tidak ingin mendengarnya!!" Ucapku tertawa cekikikan.
"Lu ga tau betapa shocknya gua liat cowo telanjang dengan muka flawless, bener-bener kalau gua inget kejadian itu, rasanya pengen nyemplung ke laut dalam!!" Dia tak berhenti menceritakannya.
"Hentikan, Aku jadi terbayang-bayang!!" Aku tak berhenti tertawa.
"Dan lagi Nya, lu tau ga.."
"Udah hentikan, aku gak mau mendengarnya!!" Ucapku yang hampir kehabisan napas karena tertawa.
____
____
____
Halo Reader, author menyapa!!
Spin off dari novel ini sudah rilis ya dan di kemas dalam bentuk Chat Story yang berjudul Butterfly Effect.
Berikut Covernya.
Chat Story ini mengisahkan perjuangan Sayang dalam mengatasi Diskriminasi gendernya, dan juga perjalanan persahabatannya bersama Archie dari mulai SD sampai menginjak remaja. kisah ini memuat plot twist yang tak pernah di tampilkan atau di muat di dalam novel Alasan Kami menikah?
Dan melalui Chat Story yang di perankan oleh Sayang sebagai peran utama, author mengajak para reader sekalian untuk mengenal lebih dalam mengenai penyakit mental yang di alami Archie, diskriminasi gender yang di alami oleh Sayang, bahkan kelainan seksual yang di alami oleh karakter yang ada di dalamnya.
karena ceritanya ini terinspirasi dari cerita nyata yang memang di alami oleh teman author sendiri, maka dari itu edukasi tentang kesetaraan gender, penyakit mental, maupun kelainan seksual perlu dan wajib di pahami oleh masyarakat luas agar tak terjadi pelecehan terhadap orang yang bersangkutan.
__ADS_1
Terimakasih telah menyempatkan membaca tulisan author ini, dan selamat membaca.