
"Napa sih ngeliatin gua gitu banget. Naksir gua lu!?" Ujarnya menggodaku karena risih terus ku perhatikan.
"Yang!" Panggilku.
"Hemm...!"
"Kenapa kau setuju membantuku?"
Sayang tak membalas dan terus menyuapi ku makanan.
"Sudah lima hari berlalu, dan aku tak mendapatkan apapun di tempat ini selain kondisku yang semangkin memburuk. Tapi kenapa kau terus mendukungku!"
Sayang mendengarkan.
"Aku tak mengerti kenapa kau bersedia. Dan lagi, kau langsung setuju waktu Sakurai merekomendasikanmu untuk ikut."
Dia tak menjawab.
"Sayang. Apa kau sedang merencanakan sesuatu!?"
Tiba-tiba sendok yang berisi makanan itu berhenti di tengah-tengah. Dan Sayang langsung meletakkannya lagi ke dalam mangkuk.
"Apa sekarang lu menyadari sesuatu dan langsung mencurigai gua?" Tanyanya.
Aku diam dan menatapnya.
Sayang meletakkan mangkuk berisi bubur ke atas nakas dan memberikan ku tisu.
"Ahh..terimakasih!" Aku menerimanya.
"Jadi lu ngira gua punya maksud tertentu?" Tanyanya lagi.
Aku menatapnya dalam diam.
"Gua ngerti kenapa lu jadi bersikap waspada dan ga mudah percaya ama siapa saja yang deket ama lu. Gua juga ngerti kenapa lu sulit menerima perlakuan tulus dari orang lain." Sayang memandangku. "Tapi asal lu tau aja, gua ga punya maksud tertentu, apalagi merencanakan sesuatu yang menguntungkan gua di satu pihak!"
Aku mengikuti pergerakannya saat dia melepas celemek yang tergantung di lehernya dan duduk di atas kasur berhadap-hadapan dengan ku.
"Lu tau kalau angka 30% adalah angka terkecil dari 70%. Dan lu juga tau resiko yang akan lu hadapin jika upaya terakhir ini gagal, tapi.." Sayang menjeda perkataanya sambil mengangkat telunjuknya, "lu tetap ngelakuin hal berbahaya kayak gini meskipun lu tau ga bakalan berhasil!"
Aku tertunduk.
"Itu.." ucapnya menunjukku.
Aku mengangkat kepalaku.
__ADS_1
"Itu yang bikin gua suka sama lu!"
Keningku mengernyit mendengarnya.
"Ambisi, naif, optimis. Semua itu bikin gua tertarik sama lu!"
Sayang mendekat ke wajahku dan menopang dagunya dengan punggung tangannya seraya menatapku.
"Alasan gua satu-satunya setuju bantuin lu untuk nemenin lu ke sini, karena gua pikir kita berdua ini mirip!" Ucapnya.
Aku buru-buru mendorongnya karena wajahnya sangat dekat denganku.
"Astaga, apa sih. Kenapa kau jadi sedekat ini.."
"Archie benar!" Dia langsung memotong perkataanku. "Ternyata lu itu unik!"
Aku membuang muka. "Pergi, jangan menatapku sedekat itu!" Sergahku pura-pura tak mendengarkan saat dia lagi-lagi membawa Archie ke dalam percakapan.
"Dulu gua ampe bertanya-tanya. Wanita macam apa yang udah mengusik anak konglomerat yang punya segalanya itu. Gua heran seperti apa orang yang bisa membuat pangeran sesempurna itu menjadi orang gila yang kehilangan jati diri!" Ujarnya tak berkelit dari hadapanku.
Aku tak membalas tatapannya.
"Tapi sekarang gua tau!" Sayang menjauh dari hadapanku dan memberi jarak. "Sesinting apa wanita yang dia elu-elukan nya pada waktu itu!"
************
Hujan.
Aku terbangun di tengah malam saat hujan turun deras di sertai suara guntur dan kilat yang menyambar-nyambar.
"Astagfirullah!"
Ku lihat Sayang berbaring di sampingku tertidur dengan pulas sambil memegang tanganku dengan erat.
Hampir saja aku ingin mengamuk dan menimpuk kepalanya, tapi setelah ku ingat-ingat, ternyata memang aku yang mengizinkan nya untuk tidur di sini mengingat kondisi tubuhku yang belum pulih.
Pattss....
Tiba-tiba mati lampu. Kemungkinan besar terjadi karena badai ini.
Aku menggoyang-goyangkan tubuh Sayang dengan kencang agar dia segera terbangun dari tidurnya. Tapi sekeras apapun aku mencoba, dia malah mangkin lelap dan menggulung tubuhnya sendiri.
"Si sial*n ini, kenapa kau tidak bangun juga sih!"
Dia tak menggubrisku malah semangkin memperbesar volume mendengkurnya.
__ADS_1
"Ahh..b*ngsat!!" Aku memukulnya dengan bantal.
Ctaaarr....
Kilatan cahaya itu menerpa masuk ke dalam rumah dan membuat pemandangan yang mengerikan seperti adegan di film horor. Dan jika benar dugaan ku, maka listrik ini akan tetap mati jika badai tak segera reda. Dan kami akan tetap berada dalam kondisi yang gelap gulita.
"Hah. Baiklah, sepertinya aku harus mencari penerangan!!" Gumamku.
Berlahan-lahan aku beringsut dari atas kasur dengan membawa penerangan seadanya berupa flashlight ponsel untuk mencari lilin.
Buk...
Tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara yang begitu keras bahkan di tengah-tengah badai yang semangkin menjadi, suara itu masih terdengar.
Aku terdiam di tengah jalan dan menyorot ke sana dan kemari, namun tak menemukan apapun selain ruangan yang kosong. Namun tak berapa lama kemudian suara itu muncul lagi, dan arahnya terdengar jelas berasal dari dapur.
Aku berjalan dengan berlahan sambil mengarahkan flashlight ke segara arah.
Lalu menemukan sesuatu yang membuatku tak bisa bergerak.
"Mak!"
Deg...
Aku melihat dan mendengar suara anak kacil yang memanggil ibu nya.
"Umak!" Ucapnya lagi dengan langkah kecilnya berhati-hati mengidar pandang ke segala arah.
Anak itu berusia sekitar 5 tahun. Dan yang membuatku terpaku adalah anak kecil itu mirip sekali dengan ku waktu kecil.
Aku mengidar pandang dan memegangi dadaku sendiri yang terasa sesak lalu bersandar di dinding untuk menenangkan diri. Tapi anak kecil yang mirip dengan ku tersebut seperti tak menyadari keberadaanku sama sekali.
Apa aku sedang bermimpi. Apa ini nyata. Lalu kalau ini nyata dan aku sedang tak bermimpi, kenapa aku bisa melihat diriku sendiri.
Miaww...
Suara kucing membuyarkan lamunanku dalam sekejab.
Anak kecil itu tiba-tiba berbalik ke arahku dan berjalan dengan tergesah menghampiriku. Namun bukan kepadaku, melainkan kepada seekor kucing oranye dengan bulu basah yang kotor di hadapanku.
"Kucing!" Ucapnya senang lalu berjongkok mengelus kucing basah itu dengan manik mata polosnya yang berkilau.
Aku mundur selangkah sambil membekap mulutku sendiri, saat menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat penampakan ini di hadapan mataku.
Lalu benar seperti dugaanku. Tak berapa lama kemudian datanglah sesosok laki-laki yang tak di kenal, masuk ke dalam rumah ini dalam keadaan basah kuyup menatap murka ke arah nya.
__ADS_1
Belum sempat aku menerka apa yang akan terjadi, tiba-tiba laki-laki itu langsung mencengkram kuat leherku dengan tangan kotornya. Dan yang menjadi pertanyaanku adalah, bukan anak kecil itu yang ada di hadapannya, melainkan aku yang sekarang.