Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Hancur Dari Kehancuran


__ADS_3

11 jam sebelum tragedi.


Dengan emosi yang sudah meletup-letup akhirnya dengan berani aku mendekat ke kamar hotel tempat mereka bertiga mendekam.


Semoga tidak seperti yang ku pikirkan! Semoga aku tak terprovokasi dengan bayangan aneh yang menggerayangi otakku. Semoga saja apa yang..


Ceklek...


Baru beberapa tahap sebelum aku memberanikan kan diri ku untuk membuka pintu kamar hotel tersebut, keluarlah Hendri dari dalam kamar hotel. Sehingga tanpa sengaja mataku menyaksikan sesuatu yang membuatku tambah tak percaya dengan penglihatan ku sendiri.


Aku melihat Archie sedang berada di atas kasur bertelanjang dada dan di kelilingi oleh banyak wanita, dan di antara banyak wanita yang mengelilinginya ada Yoona dan juga Chika yang bergabung bersama mereka.


"Nyonya?" Seru Hendri dengan wajah kaget dan buru-buru menutup pintu tersebut dari luar.


Kaki ku gemetaran! Rasanya seluruh jiwa dan ragaku hancur saat menyaksikan sendiri pemandangan yang berlangsung beberapa detik di hadapan mataku.


Tanpa memperdulikan Hendri yang ada di hadapanku, Aku langsung mengambil langkah menjauh dan berlari dari hadapan Hendri yang kemudian masuk kedalam lift sebelum dia berhasil mengejar ku.


"Sial!" Maki ku di dalam lift sambil menangis dan menyandar lemas di pojokan lift.


"Nyonya?" Teriak Hendri yang berhasil menyusul ku keluar dari Hotel.


Saat melihatnya berhasil menyusul ku keluar, aku langsung menghentikan taxi yang melintas di hadapanku dan masuk kedalamnya.


Namun Hendri menghentikan taxi tersebut dan menghadangnya dengan tubuhnya sendiri.


"Nyonya dengarkan penjelasan dari saya. Semua itu tak seperti yang Nyonya pikirkan!" Ucapnya kalang kabut dengan nafas yang terengah-engah.


Aku tak menghiraukannya dan memalingkan wajahku melihat ke arah lain, saat dia beralih ke kaca samping.


"Nyonya. Dengar kan penjelasan saya. Saya mohon keluarlah dari taxi." Ujar nya lagi menepuk kaca Mobil tersebut.


Dengan luka yang masih menganga, tak mungkin Hendri bisa menyembuhkan ku dengan penjelasan apa pun, terlebih lagi aku sudah menyaksikan kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri.


"Nyonya, biar kan saya menjelaskan semua nya!" Pekiknya bersikeras membujukku.


"Nyonya Yuaga, dengarkan saya." Pekiknya lagi memukul kaca mobil tersebut semakin keras.


"Pak, cepat jalan!" Ujar ku dengan nada lirih sambil menahan air mata yang menggenang di pelupuk mataku.


Akhirnya Taxi tersebut pun melaju dengan berlahan, akan tetapi Hendri tak gentar, dia terus berusaha agar membuatku mau mendengarkannya.


"Nyonya?" Pekiknya di belakang mobil dengan derap langkah cepat mengejar laju taxi yang semakin menjauh dari nya.


Sampai akhirnya taxi ini melajukan jalannya semakin cepat dan Hendri pun menghilang di antara laju kendaraan yang berdesakan.


**********

__ADS_1


Aku memilih untuk menenangkan pikiranku di sebuah cafe terbuka di pinggir jalan yang tak jauh dari apartemen.


Dengan rasa kekecewaan yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata, aku berhasil melampiaskannya dengan meminum susu kocok dengan 3 varian rasa yang berbeda-beda.


Sungguh?


Jika saja, Hendri mengatakan apa yang terjadi barusan, apakah akan mengubah pandangan ku tentang segala yang terjadi di hadapanku.


Sssrrooott...


Susu kocok ke tiga ku kini habis lagi.


Dengan tangan gontai, aku mengisyaratkan pelayan tempat ini untuk menghampiriku dan memesan lagi susu kocok dengan varian rasa yang berbeda.


"Ngapain lu disini?" Tanya pelayan tersebut, berdiri di hadapanku.


Dengan lemas, aku mengangkat kepalaku ke atas dan ingin menghajar pelayan tempat ini, yang telah berbicara tak sopan dengan orang yang sedang patah hati.


"Kak Dimas?" Sapa ku dengan nada tinggi, tak percaya dengan apa yang ku lihat.


Dimas mendekat dan duduk di hadapanku sambil memandangi muka ku yang sembab karena terus-terusan menangis.


"Ngapain lu disini!" Tanya nya lagi bergeming memandangi ku.


"Kakak ngapain disini!" Tanyaku balik, mengalihkan pembicaraan.


"Jangan Ngalihin pembicaraan, lu kenapa nangis, terus keluar sendiri malem-malem kek gini!" Tanyanya.


Aku tak menjawab dan mengalihkan tatapanku.


"Ada masalah?" Tanyanya lagi mencari-cari wajahku.


Aku tetap bungkam dan berpaling.


"Anya?" Panggil Dimas. Dia memiringkan kepalanya agar menatap jelas wajahku yang bengong.


Saat tangannya mendarat di bahuku, barulah raga ku tersadar dan membalas tatapan nya yang sedari tadi menanyakan banyak pertanyaan kepadaku.


"Bentar gua ambil minuman lu dulu!" Ucapnya membawa serta merta gelas kosong ke dapur cafe tersebut.


Dalam beberapa menit kemudian dia kembali membawakan ku susu kocok dengan rasa strawberry.


"Ini udah yang ke berapa?" Tanyanya berusaha mendapat perhatian dari ku, namun aku hanya menyambut susu Kocok yang dia berikan kepadaku tanpa memperhatikannya.


"Punya gua rasa Blackcurrant, mau coba gak?"


Aku langsung mendekat saat dia menyodorkan sedotannya mengarah padaku, dan meminumnya.

__ADS_1


"Terlalu asam dan gak berasa manis, rasa susunya gak seperti rasa strawberry, gak beda jauh sama rasa mango, cuman tekstur mango lebih halus dan nyaman di kerongkongan saat di telan." Aku mengulasnya.


Dimas tersenyum mendengar ulasanku dan meminum susu kocoknya sambil terkekeh.


"Napa?" Tanyaku yang sensitif.


"Enggak. Gak kenapa-napa." Jawabnya tapi terus terkekeh."Untung aja lu gak mabok yah, minum susu kocok sebanyak ini!" Ucapnya memberitahu ku alasannya untuk terus tertawa.


Aku hanya membalas ejekannya dengan memutar bola mataku dan mengalihkan tatapanku ke arah cahaya lampu jalanan.


Tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang, dan lampu jalanan yang ku lihat bertambah banyak seperti berlipat ganda.


"Loh, loh, loh. Lu kenapa?" Tanya Dimas sambil menarik tubuhku agar tetap dalam posisi duduk.


***********


Aku langsung berlari menerobos pintu kamar Dimas dan tak menghiraukannya yang berteriak memanggil namaku berulangkali.


Akhirnya tanpa memperdulikan kejadian tak masuk akal yang menimpaku di pagi hari ini.


Aku langsung keluar dari kosan Dimas dengan bertelanjang kaki, dengan memakai baju polosan tanpa jaket, tanpa tas, tanpa ponsel, tanpa arah dan tujuan, aku terus berlari dengan membabi buta hingga mencapai tepi jalan raya.


*************


Tok tok tok...


"Yah bentar!" Jawab seorang wanita dari dalam rumah nya.


Ceklek...


Dia terkejut melihatku yang bersimbah air mata, tubuh yang mengigil kedinginan, serta tanpa alas kaki.


"Laila?" Ucapku lirih sambil memeluknya dan menangis sesenggukan di tubuh bongsornya yang satu senti meter lebih tinggi dariku.


"Lu kenapa Nya?" Pekiknya luar biasa kaget sambil merangkul ku.


"Lai!" Isak ku sambil terus menangis di dalam dekapannya.


"Ya ampun Nya. Lu kenapa. Ya allah.." Balasnya yang panik sambil mengusap kepalaku.


"Masuk dulu yuk, ntar di liatin orang!" Ucapnya ikutan lirih sambil membopong tubuhku masuk ke kosannya.


Tiiittt....


Supir taxi yang ku naiki tadi menerompet, dan memberikan ku kode.


"Boleh pinjem uang kamu dulu ga, buat bayar taxi!" Pintaku lirih.

__ADS_1


Laila langsung mendekap ku sekali lagi dan beranjak ke depan untuk membayar ongkos taxi.


__ADS_2