
Duuaarrr....
Suara ledakan yang berasal dari langit-langit runtuh memberikan efek kejutan ke dalam darahku untuk segera mengambil tindakan.
Secepat kilat ku sentak tali temali yang mengikatku bersama kursi dan berhambur mencari jalan keluar sesaat setelah terbebas.
Tanpa pikir panjang lagi aku langsung memungut patahan badan kursi di dekat kaki ku dan berlari menerjang jendela kaca yang ada di hadapanku.
Dua menit setelah aku berhasil keluar secara hidup-hidup dari tempat itu. Rumah kosong itu pun langsung hangus terbakar tanpa sisa di tengah hujan deras di sertai badai.
Aku terduduk lemas di hadapan api yang berkobar-kobar dalam perasaan campur aduk yang tak bisa di jelaskan. Perasaan yang tak asing ini adalah sebuah perasaan gamang yang berkali-kali ku rasakan dalam perjalanan hidupku setelah selamat dari beberapa kali tragedi.
Aneh memang. Tapi rasanya tuhan benar-benar menyayangi nyawaku sampai segitunya. Bahkan saat tubuhku tak lagi berdaya karena penganiayaan yang hampir melenyapkan nyawaku di umur lima tahun, aku masih sempat selamat dan hanya mengalami hilang ingatan karena trauma. Selebihnya lagi, di rundung, di sekap, di todong pistol, di jebak dan hampir di perk*sa, di seret ke tengah lautan, di tikam, sampai di racuni. Barang sekalipun tuhan tak melepaskan ku dan malah semangkin menguatkan tubuhku untuk menerima kondisi ini.
Apa pun yang sedang DIA rencanakan, aku sebagai hambanya pun tak tahu menahu. Mungkin tuhan beranggapan kalau aku bisa menyelamatkan dunia ini dari kehancuran dan sebentar lagi aku akan di anugrahi kekuatan super karena telah lolos kualifikasi sebagai wanita paling tahan banting sedunia. Mungkin saja, siapa tahu.
Seiring dengan kobaran api yang semangkin membumbung tinggi sampai menjulang ke langit. Kesadaranku pun berangsur semangkin menurun karena rasa sesak yang di akibatkan dari asap yang terlalu banyak terhirup. Di tambah lagi, sekujur tubuhku kini mulai merasakan sakit dan perih yang di akibatkan oleh efek serotonin yang berlahan memudar karena euforia. Barangkali pecahan kaca tadi menancap ke tubuhku di saat menerjang jendela untuk menyelamatkan diri. Dan yang paling sakit adalah bekas tikaman senjata tajam yang ada di lengan ku.
Bruukkkk...
Seketika tubuhku terjatuh di tengah-tengah hujan deras yang mengguyur bumi. Seluruh pandangan ku menggelap dan hanya menerima respon cahaya terang dari kobaran api yang membara.
Di akhir kesadaran, aku melihat dan mendengar seseorang yang berlari tergesah menghampiriku. Dia terdengar panik sambil mengusap-usap wajahku dengan nada histeris. Setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi.
************
"Nyonya!!"
Saat aku membuka mataku, teriakan Hendri yang nyaring itu pun langsung menyadarkan ku dari mimpi buruk.
Apakah memang sedari awal aku hanya bermimpi dan semua yang telah ku alami bukanlah kenyataan.
Aku menggoyangkan kepalaku melihat ke arah Hendri. Raut wajah paniknya membuatku bingung.
Dia tak mengatakan apapun kepadaku, melainkan melesat pergi ke luar dan memanggil seseorang untuk memeriksa keadaanku.
Tak berapa lama dokter dan perawat berdatangan secara bergerombol memeriksa ku. Mereka mengecek kondisiku dengan persisten seakan sedang melakukan tindakan kepada pasien yang tersadar dari koma.
"Nyonya ada berapa jari saya?" Tanya pak Dokter menampakan tiga bilah jarinya kepadaku.
Dengan malas aku menjawab tiga.
Dia mengangguk melihat kecepatan respon menjawabku. Setelahnya dia mengobrak abrik wajahku dan menyenter mataku menggunakan senter kecil mirip pulpen di dalam sakunya.
Para perawat yang mengitarinya pun ikut andil mempreteli tubuhku. Ada yang memeriksa tekanan darahku, mengecek suhu tubuhku, menghitung pernapasanku, sampai memegang denyut nadi ku.
Entah apa gerangan yang sedang mereka lakukan. Namun yang pasti setelah melihat perlakuan mereka, kejadian yang terjadi kemarin terasa bukan sekedar mimpi buruk belaka.
Setelah selesai mengobrak-abrik tubuhku. mereka pun undur diri dan mendoakan kesembuhan dan berkelakar basa-basi ramah ala pelayanan rumah sakit swasta kelas atas.
Namun di balik pintu, di luar kamarku, mereka berbincang-bincang lagi dengan Hendri untuk membicarakan sesuatu.
Dari luar aku melihat wajah Hendri yang gelisah di sertai kening nya yang mengernyit. Apa yang di katakan pak Dokter sampai membuat Hendri berekspresi seperti itu. Apakah terjadi sesuatu padaku sampai mereka berbicara seserius itu.
Meskipun aku mengenal Hendri hanya beberapa bulan. Tapi aku tahu sifatnya, aku kenal perangai nya. Apapun yang di hadapinya di luar tindakan mendesak ataupun terjadi masalah besar. Dia tak akan menunjukan ekspresi seboros itu selain tatapan dingin dan kosong.
Ceklek....
Hendri masuk ke dalam ruangan dan menatapku dengan pandangan iba.
__ADS_1
"Nyonya!!" Panggilnya ramah dan mendekat. "Bolehkah saya bicara!!"
Aku mengangguk.
"Bicaralah!" Balasku tersenyum.
Hendri menjelaskan kepadaku jika kejadian yang ku alami tersebut bukanlah mimpi. Aku memang benar-benar di sekap di dalam rumah kosong oleh segerombolan anak-anak yang tak terima atas keputusan pihak kampus karena mengeluarkan mereka dan berniat melenyapkanku dengan cara membakar rumah itu.
Sakurai yang pertama kali menemukanku karena lokasinya tak jauh dari tempat keberadaannya. Dia langsung membawaku ke rumah sakit, dan Hendri bilang kalau aku tak sadarkan diri selama lebih dari tujuh puluh dua jam, yang berarti aku pinsan selama lebih dari tiga hari.
"Anda selamat Nyonya. Saya tak tahu bagaimana cara anda dapat meloloskan diri dari tempat itu. Tapi yang terpenting anda selamat!" Hendri mengulangi perkataan yang sama dengan wajah berseri-seri.
Tanganku tiba-tiba gemetar. Bukankah arti dari ucapan selamat yang di ucapkan Hendri adalah sebuah perayaan. Tapi kenapa saat mendengarnya aku menjadi gelisah.
"Anda kenapa?" Tanya Hendri menghawatirkan ku.
Aku buru-buru menyembunyikan kedua tanganku di balik selimut.
"Tidak apa-apa. Aku hanya masih shock!!" Jawabku.
"Mau saya panggilkan Dokter?"
Aku menggeleng.
"Tidak usah, mungkin aku hanya masih belum terbiasa!" Jawabku.
Aku menatap sekitar dan tak menemukan apapun selain barang-barang rumah sakit dan fasilitasnya.
"Dimana Archie?" Tanyaku.
"Tuan Archie sedang sibuk mengurus orang-orang yang mencelakakan Nyonya. Saat ini sudah di temukan 5 orang termasuk provokatornya!!" Jelas Hendri.
"Anda jangan khawatir, karena mereka akan di kenakan pasal berlapis dengan hukuman yang berat seberat-beratnya Nyonya!!" Hendri menghiburku.
Aku tak menjawab karena memang tak tahu apa yang harus ku katakan. Karena inti dari semua masalah ini terletak dari ketidakadilan yang mereka rasakan. Mereka berbuat seperti itu karena merasa akulah orang yang paling bertanggung jawab atas penderitaan yang mereka alami.
Tapi seperti yang pernah di katakan Archie tempo hari, tuhan punya cara untuk menghukum siapa saja yang berbuat culas dengan cara apapun. Mereka mendapatkan hukuman yang sesuai dengan tindakan mereka.
"Awwhhh..."
Aku kesakitan dan meraung saat ingin beranjak dari posisiku.
"Nyonya!!" Hendri buru-buru menangkap tubuhku.
Aku bingung karena tiba-tiba lenganku terasa sakit hingga tak bisa di gerakan.
"Nyonya. Saya sarankan kepada anda untuk tidak bergerak, karena dokter mengatakan jika luka tertusuk yang berada di lengan anda mengalami infeksi!!" Jelas Hendri.
"Infeksi?" Aku menatap lenganku yang tertutup kain perban. "Seberapa parah?"
"Dokter bilang tak begitu parah. Nyonya hanya akan sering demam dan merasakan sakit di sekitar area luka!!" Jelas Hendri.
Aku merebahkan kepalaku dengan leluasa lagi di atas bantal. Mungkinkah tadi Hendri membicarakan hal ini kepada Dokter mangkanya ekspresinya menjadi seperti itu. Tapi jika hanya infeksi biasa, dia tak akan menampakan wajah khawatir seperti itu. Aku merasa di masih menyembunyikan sesuatu dari ku.
Apa ku tanya saja langsung.
"Ada apa Nyonya?" Dia risih karena ku tatap terus. "Apa ada yang anda inginkan?"
"Aku melihat kau berbicara dengan dokter di luar tadi. Apa yang kalian berdua bicarakan!?"
__ADS_1
"Oh..benar Nyonya. Beliau mengatakan kalau kondisi Nyonya baik-baik saja, hanya perlu beristirahat beberapa hari lagi untuk memulihkan infeksi." Jawabnya lugas.
"Begitu ya!!"
Hendri mengangguk.
"Lalu kenapa ekspresi wajahmu gelisah saat berbicara kepada Dokter itu?"
Hendri sontak terdiam.
"Aku tak pernah melihatmu berbicara seserius itu kepada orang yang tak di kenal. Terkecuali kau mengetahui sesuatu yang mendesak atau gawat!"
Hendri tak tenang dan mulai gelisah.
"Katakan padaku Hendri. Apa yang kau bicarakan kepada Dokter itu. Kenapa kau gelisah!?"
Hendri ketar-ketir.
"Hendri apa yang kau sembunyikan?"
Dia melengos ke arah lain. Seperti dugaan ku ini tak kan mudah, Hendri tak akan mengatakan apapun.
"Kalau memang terjadi sesuatu tolong katakan. Jangan sampai aku mencari tahu nya sendiri!!" Aku sudah memegang bel untuk memanggil para petugas kesehatan yang berjaga untuk mengunjungi kamarku.
Tapi secepat kilat Hendri langsung menghentikan ku.
"Akan saya katakan Nyonya!!" Ucapnya buru-buru dengan nada panik. "Akan saya katakan!!"
Aku menunggu dan menatapnya dengan pandangan sejurus.
"Se-sebenarnya saya tidak mau mengatakan ini, tapi karena Nyonya memaksa jadi akan saya katakan!!" Jelas sekali ini adalah sesuatu yang amat gawat sampai dia berbicara terbata-bata seperti ini.
"Katakan. Apa yang terjadi?" Aku tak sabaran.
Dia meneguk liur berkali-kali menandakan kalau apa yang ingin dia katakan adalah sesuatu yang teramat pelik.
Aku menunggu dengan perasaan bercampur aduk.
"Se-sebenarnya..."
Dia memejamkan mata nya seperti tak lagi sanggup mengatakannya.
Aku terus menunggunya dengan tatapan khawatir. Ya tuhan, semoga aku baik-baik saja setelah mendengar kebenaran ini.
"Saya.." di berhenti lalu menatapku dalam. "Saya ingin memelihara kucing."
"Hah!!"
"Saya suka kucing!!" Jelasnya.
"Apa?" Ku pikir pendengaranku bermasalah.
"Alasan saya tak ingin mengatakannya kepada Nyonya karena saya malu kalau ada yang tahu saya penyuka kucing!!" Dia menjelaskannya dengan wajah bersemu merah.
Aku tercengang.
"Kebetulan dokter yang menangani Nyonya, ternyata memelihara banyak kucing di rumahnya. Dia mengatakan ingin memberikan satu kepada saya karena kucingnya sudah banyak, tapi setelah saya menagih janjinya, dia mengatakan kalau kucingnya sudah di ambil keponakannya. Itu membuat saya sedih Nyonya, mangkanya saya berdebat karena perlakuannya tak adil. Padahal saya sudah lama menginginkan kucing yang punya corak mata hitam di sebelah kiri."
Aku membatu karena menyesal telah bertanya.
__ADS_1
Apa tadi seharusnya tak ku tanya saja.