Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
KAMU!


__ADS_3

"Aku gak tau harus ngapain dengan kelabilan yang menyiksa diri ku ini!" Jawab ku sambil memegangi jidat ku yang sakit.


"Andai gua juga punya imajinasi setinggi lu yang bisa ngomongin cinta dengan mata tertutup!" Timpal Laila.


Aku tersenyum memandanginya yang sedang mencoret-coret sketsa interior di secarik kertas. Terlihat mata besar dan bulu mata panjangnya sedang serius menekuni pekerjaaannya itu.


"Lai!" Panggilku sambil tersenyum menggodanya.


"Apa?"


"Kenapa gak jujur sih!" Tanyaku terus tersenyum memandanginya.


"Jujur apaan!" Jawabnya tanpa melihat ke arah ku.


"Sampai kapan kalian kucing-kucingan terus!"


"Lu ngomongin apaan sih Nya!" Tanya nya mulai terusik dengan perkataanku.


"Arya tuh juga lagi nungguin kamu yang gak peka-peka!" Jawab ku sambil menarik kertas yang dia gambar.


"Kita cumanan temenan dari SMP, masa sih lu mikirnya gua ama dia saling suka." Jawabnya dengan muka merah dan merampas kembali secarik kertas yang ku pegang.


"Bukannya Arya sukanya ama lu!" Sambungnya dengan wajah sedikit menekuk dan pura-pura melanjutkan kerjaannya.


Sudah ku duga. Laila akhirnya terpancing dengan perkataan ku.


"Kapan dia pernah bilang gitu!" Pancing ku sambil melirik seseorang lelaki yang berjalan mendekat dari punggung Laila.


"Udah keliatan dari sifatnya!"


"Enggak kok, dia bilang sendiri kalau dia suka nya sama kamu doang!" Ujarku berbohong, padahal Arya tak pernah mengatakan apa pun tentang ini.


Laila langsung memandangku dengan mata melotot lalu memukuli lengan ku dengan pulpen.


"Ga-k ba-ik, nge-fit-nah te-men se-ndiri!" Ujarnya dengan mendekte perkataannya dengan muka merah karena malu sambil memukuliku dengan pulpen.


"Lagian!" Ujar nya berhenti memukuliku sambil menatap secarik kertas yang dia gambar dengan melamun.


"Gua sama dia gak bakalan bisa ada hubungan seperti itu!!" Lanjutnya sedikit meremas kertas itu.


"Kalau dia tiba-tiba nembak kamu, gimana!" Pancingku lagi, saat melihat lelaki tersebut sudah berdiri di belakang Laila.


"Gak bakalan kejadian. Aneh banget sih lu, malah nanyain sesuatu yang ga guna!" Jawabnya sambil tertawa basi.


"Kalau kejadian beneran gimana. Apa jawaban kamu?!" Pancingku lagi sambil melirik laki-laki yang menatap lurus punggung Laila dengan tenang.


"Gua.." Ucap nya sambil meremas kertas yang di pegang ya."Gak tau ahhh...!!" lanjutnya sambil benar-benar meremas kertas tersebut.


Aku tersenyum nakal dan melirik lelaki yang berada di belakangnya."Bilang aja sih, disini kan cuman ada kita bedua!"


"Gua...!"


Dia semakin kuat meremuk kertas yang sudah menjadi gumpalan di genggamannya.


"Gua juga suka.."


"Anya!!" Potong Arya yang menatapku dengan wajah memerah dan menggenggam kuat buku di dadanya.


Laila langsung diam mematung dan melirikku dengan tatapan seolah ingin mencakar ku saat itu juga.


"A-anak-anak udah pada nung-guin!" Ujar Arya yang salah tingkah dan langsung menarik ransel ku, sehingga aku terseret berjalan mundur mengikutinya.


"Lai!!" Pekik ku.


Laila langsung melihatku yang di seret paksa oleh Arya.


"Aku juga suka kamu." Sambungku sambil tertawa cekikan.


Laila langsung berdiri dan mengacungkan jari tengahnya padaku.

__ADS_1


"B*ngsat lu Nya!!" Pekik nya ber pose seperti preman pasar yang kalah adu jotos.


Aku tertawa puas memandangi reaksi mereka berdua yang sama-sama canggung.


"Denger sendiri kan!" Ujar ku melakukan hal yang sama dengan Arya.


"Gak dengar apa-apa!" Jawabnya dengan wajah memerah sambil menutup mulutnya.


"Lagian kalian mau sampai kapan friendzone terus!"


"Ngapain sih lu mendadak jadi mak comblang!" Responnya sambil menabok kepalaku dengan buku, lalu berlari meninggalkan ku.


"Saki Hoi!" Pekik ku sambil tertawa puas dengan reaksinya.


************


"Kenapa kita gak makan di tempat yang gak ada jengkolnya sih!" Respon ku resek sambil menghalangi jalan ke 4 pejantan yang ingin menuju warteg.


"Gua gak punya duit kalau makan di tempat lain, gua aja mandi ga berani pake sabun cair!" Jawab Kak Gima sambil menunjukan padaku dompet tipisnya.


"Apa lagi, gua. Duit gua semua nya udah di pake buat top up, mana bisa gua makan di tempat selain warteg!!" Timpal Dafa yang tetap bermain dengan HP nya meskipun sedang jalan, sepertinya dia punya mata lain di dahinya.


"Yah, gua apa lagi dik. Duit abang abis buat beli album twicey sama lightstick nya. Gak ada tempat semurah warteg!!" Ujar kak Roland.


"Gua juga. Sebenarnya makan mie instan aja gua gak berani pake telor, karena udah kemahalan." jawab Arya sambil menggaruk tengkuknya.


"Tck...!" Ujar ku sambil menelpon Hendri dan memandangi mereka berempat yang terlihat menderita karena kekurangan gizi.


**********


"Gi-gila..!" Pekik Kak Gima sambil memandangi makanan yang full di atas meja seperti emas harta karun.


"Ini beneran lu lagi traktir kita paduka!" Mendadak Dafa memanggilku dengan sebutan keramat.


"Makan aja! Asal kalian gak makan di warteg terus, aku ampe gak bisa nafas kalau kumpul bareng kalian apalagi kalian lagi ngomong barengan.." Jawab ku.


"Makan aja. Pokoknya semua halal, aku gak nyolong duit bank!" Jawab ku menepuk pundaknya.


"Makan..!!" Teriak mereka semua sambil menyantap hidangan tersebut.


"Anj*r seumur-umur gua gak pernah makan di tempat seenak ini selain warteg!" Timpal Kak Gima menitikan air mata bahagia.


"Lebay lu Gim!" Ujar Roland padahal dia juga berlinang air mata.


"Dramatis banget sih kalen! Gua kan jadi ikutan baper!" Timpal Dafa yang ikut mengusap matanya karena menangis.


"Duuh..!!" Ujar Arya yang juga ikut menitikan air mata.


Aku menatap mereka semua yang menangis karena makanan.


Entah aku harus ikut terharu atau aku harus pindah tempat dari meja ini. Karena seluruh pengunjung restoran ini terheran-heran memandang ke arah meja kami.


Mereka pasti berfikir kalau kami sedang bersedih mengenang seseorang yang sudah tiada.


Dengan menekuk wajah dan melindunginya dengan telapak tanganku, aku memilih melanjutkan makanan ku dan tak menghiraukan kebahagian mereka berempat.


**********


"Tok tok tok..


"Anya!!." Panggil Archie dari luar kamarku.


Aku langsung bergegas membukakannya pintu.


"Tumben balik jam segini!" Ujar ku sambil melihat jam dinding yang menunjukan pukul 16.30 wib.


"Hari ini gak ada kuliah!" Jawabnya sambil masuk ke kamarku.


Dan bau tubuhnya yang seperti bau bedak bayi itu memenuhi isi kepalaku, dan terlihat rambutnya yang masih basah karena baru saja mandi.

__ADS_1


"Pinjem salah satu buku lu yang bisa jelasin secara singkat tentang design interior!" Ujarnya duduk di kursi belajar ku.


"Loh. Buat apa?" Tanyaku sambil berjalan ke arah rak buku.


"Sebagai seorang anak film, totalitas dalam setiap cakupan yang pengen kita liput itu penting. Karna kerjaan anak film tu banyak, keliatan cuman ngerekam doang terus di upload, padahal bahan pertimbangannya harus sempurna dan gak asal-asalan!!" Jelasnya sambil bermain dengan penghapus karakter spengbeb yang ku tinggalkan di atas meja belajarku.


"Anak jenius dari lahir emang beda!" Pujiku tertawa sambil menjelajahi rak buku ku.


"Gua emang udah sempurna dari lahir sih!" Balasnya yang semakin menjadi setelah ku timpali.


"Cih..!" Balasku, "Nih! Dari sini kamu bisa tau info mendetail soal design interior!!" Ujarku memberikan nya


"Oke!!" Ujarnya lalu memakai kacamatanya dan mulai membaca di meja belajarku.


Konsentrasi yang luar biasa, dia membaca dan membolak balik buku yang ku berikan padanya tanpa henti dan tak pernah bicara selama 3 jam penuh.


Bahkan saat tak sengaja ku ajak bicara, dia akan menjawab sebentar dan melanjutkan membaca buku tersebut tanpa membuyarkan konsentrasinya.


Mungkin ini lah yang membedakan dia dengan ku!


Yang membedakan anak yang benar-benar jenius dari lahir dan anak yang jenius karena tekun belajar. Sekilas tak terlihat perbedaanya, tapi setelah di lihat secara detail, perbedaannya sangat mencolok.


Anak yang jenius dari lahir tak membutuhkan waktu lama hanya untuk mempelajari sesuatu yang ingin mereka ketahui. Sedangkan anak yang jenius karena tekun, mereka akan cenderung mengulang pelajaran sampai mereka benar-benar memahaminya walaupun butuh waktu seharian sampai tekad mereka terpuaskan akan pengetahuan.


Itulah yang membedakan aku dan Archie, dia tidak butuh waktu lama untuk mempelajari hal baru dan akan segera paham dalam waktu singkat.


"Hhoaamhh...." Ujarnya meguap sambil menutup buku yang ku pinjamkan.


Lalu bergegas menuju kearahku yang sedang membuat sketsa.


"Ehh ini, harus nya gini!" Ujar nya lalu menghapus sebagian dari sketsa yang ku gambar dan membenahinya.


"Benar gini kan?" Tanyanya meminta pendapat ku.


"Iya, kok aku gak nyadar!" Ujar ku sambil membenahi sisi lainnya.


"Keren, kok kamu bisa paham cuman baca modul doang!" Timpalku yang secara spontan membuatnya malah jadi besar kepala.


"Gua kan perfect!" Jawabnya dengan menautkan sign keren di dahinya.


"Cih, beneran ngeselin!!" Balasku sambil tersenyum."Kecuali sifat sama omongannya aja sih yang burik." sambungku sebelum dia benar-benar besar kepala.


"Cih..!" Balasnya.


"Lagian kamu belajar bahasa indonesia dimana. Kok bisa ngomong pake bahasa yang gak baik dan benar."


"Yutup!" Jawabnya sambil tersenyum.


"Pantes!"


"Awowkwokwok..!!"


"Coba deh ganti panggilan 'Gua' dengan panggilan 'Aku', terus manggil 'Lu' jadi 'Kamu', selain enak di dengar panggilan seperti itu menunjukan kesopanan!!" Ujar ku mengarahkannya.


"Duh, gimana ya. Panggilan kayak gitu tuh agak.."


"Apa?"


"Gak tau sih, tapi anak-anak bilang panggilan 'Aku' 'Kamu' itu tuh bikin baper!!" Jelasnya dengan sedikit merapatkan tubuhnya seakan sedang terpojok.


Aku tersenyum memandanginya.


"Sini biar ku coba.." Ujar ku sambil memegangi kedua lengannya.


"KAMU!"


"Hhhhiiiyyyy..." Ujar nya sambil memegangi tubuhnya sendiri dan seketika bulu-bulu halus di tubuhnya ikut terangkat.


"Ha..ha..ha..ha.." Tawa ku meledak saat dia ngeri saat aku menyerangnya dengan panggilan kamu.

__ADS_1


__ADS_2