
"karena itu," Tora menatap wajah kami satu persatu untuk memastikan perasaannya,"Tolong selamatkan adikku!!" Ujarnya yang larut dalam rasa sakit, seketika itu juga tangisannya langsung pecah.
Ada rasa bergejolak dalam dadaku yang mendengarkan ceritanya, perasaan temaram yang bercampur temberang. Tora tak bisa memilih antara baik dan benar, antara putus asa dan pupus sudah. Dia di ibaratkan air yang terus mengalir namun membeku di suhu dingin.
"Kau sudah berusaha dengan keras," Ujarku.
"Lu menanggung semuanya sendirian selama ini, dan bertahan demi orang-orang yang lu sayangin." Sambung Rio.
"Meskipun caramu salah karena pengecut dan tak berani memberitahukan pihak keadilan atas kasus itu, namun bisa saja keluarga yang di tinggalkan oleh wanita itu sedang menunggu kabarnya sampai sekarang. Ku rasa ini karma mu, namun tetap saja kau juga manusia, kau hanya korban yang sama tak bersalahnya seperti dia." Lanjut Sakurai.
"Namun sekarang kau harus yakin kepada dirimu sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, menebus semua kesalahanmu dan membuang sifat pengecut tak bergunamu itu." Tambahku.
"Setidaknya lu masih punya orang-orang yang berusaha lu perjuangin." Ucap Rio yang menepuk pundak Tora.
Tora semakin dramatis, air matanya terus berjatuhan. "Maafin gua!!" Isaknya yang tak berhenti menangis, "Maafin gua." Dia menyeka air matanya sendiri.
Archie memandang ku dengan tatapan hangat, seolah dia sedang mengatakan, bagus jika aku yang menyampaikan ini untuk menghibur Tora, akan gawat kalau dia sendiri yang berusaha menghibur orang lain dengan perkataan positif namun terdengar seperti cacian.
Lalu percakapan di lanjutkan dengan saling membagi informasi yang terkait dengan keberadaan Sabiru beserta jaringannya.
__ADS_1
Namun yang membuatku khawatir adalah, pandangan tak mengenakan yang terbesit dari ekspresi Hendri yang sedari tadi tidak fokus dan diam-diam berkomunikasi dengan seseorang melalui isyarat gestur tubuh dan tangan kepada siapa pun yang berada di ruangan ini atau di luar ruangan ini yang tidak ku ketahui.
"Gua gak tau apa-apa tentang Libiru!!" Jawab Tora, "Sejauh yang gua tau, selama ini Sabiru gak pernah cerita apa pun mengenai sodara kembarnya." Jelasnya. "Gua pun baru tau sejak kejadian ini, dia menugaskan gua untuk menghabisi teman-teman Libiru terutama teman cewenya yang bernama Anya."
"Aku?" Ucapku yang gusar.
"Jadi dari awal targetnya adalah Anya!!" Archie berasumsi.
"Kalau begitu, apa selama ini Libiru juga terlibat? Apa dari awal dia sengaja berteman dekat dengan kakak ipar karena ada maksud tertentu!!" Tanya Sakurai.
"Enggak," Spontan Dafa angkat bicara. "Libiru sama sekali gak terlibat!!" Jawab Dafa dengan yakin. "Gua punya sesuatu yang pastinya berguna untuk kalian."
"Gimana cara lu dapetin rekaman CCTV gedung ini, bukannya tempat itu benar-benar di jaga ketat?!" Tora tertegun.
"Gua white owl!!" Jawab Dafa yang tak perlu alasan untuk menjelaskan siapa dirinya.
Dafa beralih lagi ke arah ku. "Lu kenal dia kan?" Dafa memundurkan rekamannya dan menunjuk laki-laki mirip Libiru yang pertama kali keluar di video itu.
Pakaian yang dia kenakan sama persis seperti malam di mana pertama kalinya aku bertemu dengannya. "Dia Sabiru!!" Ucap ku dengan yakin.
__ADS_1
"Dan ini Libiru yang asli!!" Dafa memajukan rekamannya dan menunjuk laki-laki yang datang untuk menghajarnya. "Gua gak tau pasti, tapi dari rekaman ini gua bisa nyimpulin kalau mereka berdua gak bekerja sama pada rencana apa pun. Setelah gua selidiki lebih detil, ternyata Libiru sengaja ngilang buat nyembunyiin keberadaanya dari Sabiru. Mereka berdua bukan sodara yang akur!!" Cetus Dafa.
"Sengaja ngilang?" Tanyaku.
"Sebenarnya baru-baru ini gua dapet informasi yang di kumpulin oleh mas Eko dan Bang Hendri!!" Ucap Dafa, "Sabiru dan Libiru, Mereka berdua sama-sama di adopsi oleh 2 keluarga yang saling berseteru, bahkan secara terang-terangan mereka menggunakan 2 bersaudara ini untuk berperang dalam lingkup politik dan kekuasaan. Bahkan yang mengejutkan, keluarga dari pihak Sabiru sampai memalsukan kematiannya agar bisa leluasa bergerak untuk menghancurkan keluarga Libiru."
"Jadi sebenarnya ini adalah perang antar saudara!!" Ucap Rio.
"Gimana menurut kakak?" Tanya Sakurai yang langsung menunjuk Archie.
Archie diam sesaat sambil berfikir, "Mereka gak akur dan gak bekerja sama bukan berarti mereka tak memiliki hubungan!?" Ucapnya. "Meskipun gua yakin Libiru ga terlibat apa pun mengenai masalah kemarin, tapi dia punya sifat yang berperan langsung sebagai sodara. Maksudku, mereka berdua seperti sedang bersandiwara untuk menutupi kedok masing-masing."
"Kakak punya sudut pandang yang berbeda, tapi mengenai latar belakang mereka berdua, apakah mungkin mereka bekerja sama?" Tanya Sakurai.
"Contohnya, saat di mall." Lanjut Archie menatapku, "Yang bareng lu itu bukannya Libiru melainkan Sabiru yang menyamar, tapi yang terjadi adalah Libiru mengakui kalau itu adalah dia dan membuat semua orang percaya. Jelas, mereka bekerja sama bukan karena kebetulan."
"Itu, masuk akal!!" Ucapku bimbang sambil memegang daguku sendiri. "Tapi Archie bagaimana kalau..."
Sebuah titik merah terang, mirip seperti laser yang berada pada fitur senapan mainan, terpampang jelas di pelipis Archie. Saat itu juga, aku mendengar suara tembakan yang terdengar dari atas gedung.
__ADS_1