Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Aku Pulang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju keberangkatan, semua orang menatap ke arah kami seperti kucing melihat ikan menggelepar di tepi danau. Dan aku tahu apa sebabnya.


"Sa-sayang!" Panggilku menyusulnya berjalan sambil membenarkan tata letak kacamata hitamku.


"Hemm..!" Balasnya. "Ada apa?"


"Apa kau ga ngerasa kalau penampilanmu itu terlalu mencolok!" Ucapku.


Sayang berhenti berjalan dan mengibaskan rambutnya ke arahku.


"Yah..apa maksudnya mencolok. Bukannya gua terlihat biasa aja!!" Balasnya muka badak.


Biasa apanya. Kalau dia terlihat biasa saja mana mungkin semua orang melihatnya dengan tatapan seperti itu.


Dia jadi pusat perhatian karena pergi memakai Crossdresser ala Queen on Instagr*m layaknya klan kh*rdashi*n yang pamornya sangat terkenal di media sosial.


Aku memang menyuruhnya ber-crossdresser agar orang-orang yang mengenalku tak termakan isu kalau aku sudah berkencan dengan orang lain setelah berpisah dengan Archie, apalagi tampang sekelas Sayang adalah wajah di atas rata-rata idaman kaum hawa.


Tapi, maksudku bukan sampai menarik perhatian orang-orang begini.


Yang membuatnya terlihat sangat mencolok adalah, Sayang memakai brand ternama milik Di*r dari atas sampai bawah. Paras maupun proporsi tubuhnya membuat Sayang seperti model papan atas yang berjalan di atas catwalk, ini seperti melihat street fashion show yang di siarkan secara langsung.


Sayang menggunakan wig berwarna blonde terang yang di serasikan dengan dandanan bold yang nyentrik, wig blonde cerahnya sangat serasi jika di padukan dengan slayer berwarna hijau bermotif abstrak yang di sulapnya menjadi bandana yang elegan.


Outfitnya lebih lagi mencolok. Sebagai atasannya, Sayang memakai crop tangtop yang sangat seksi dan menampakan pusar beserta lekuk pinggangnya yang ramping yang kemudian di padukan dengan blazer bermotif senada dengan crop tangtopnya yang hanya di centelkan pada bahu nya. Untuk bawahan, Sayang memakai mini skirt berwarna hitam berbahan kulit dengan sepatu boots heels over knee yang berkelas.


Aku tak berlebihan saat merefleksikan reaksi orang-orang yang berpapasan dengannya di dalam bandara. Ada yang diam-diam memfotonya, ada yang tercengang sampai tak bisa bergerak, ada juga membuntuti kami sampai jauh, bahkan ada juga yang terang-terangan menyapanya dan meminta tanda tangan.


Mereka semua mirip seperti ku dahulu yang melihatnya seperti dewi yang turun dari langit dan membawa keberkahan bagi mahluk bumi. Sampai akhirnya aku tertipu karena jati dirinya yang membagongkan.


Salahku karena tak mengatakan terlebih dahulu kepadanya agar berpenampilan biasa saja agar tak menarik perhatian orang-orang. Dan sekarang sudah terlambat.


"Haiisshhh...." aku mengurut pelipisku sendiri. "Lupakan. Anggap saja kita tak saling kenal!"


Aku berjalan duluan meninggalkannya di belakang.


"Anya. Ahh, gila gua di tinggal!!"


*************


"Kita sampai. Ini tempatnya!" Ucapku.


Akhirnya setelah mengudara kurang lebih dari satu jam, kami tiba di pulau itu saat matahari meninggi.


Kami langsung menuju ke tempat tujuan, ke rumah lama ku semenjak aku kecil.


Tak banyak yang ku ingat di sini. Bahkan sebagian kecil dari ingatan masa lalu ku tergambar dari mimpi yang samar-samar selalu datang di saat-saat tertentu.



Rumah ini adalah peninggalan dari almarhum Kakek yang di wariskan secara turun-temurun kepada Bapak. Rumah lama dengan eksterior arsitek jaman belanda ini memang sengaja di pertahankan bentuk aslinya semenjak perusahaan timah masih berkuasa di pulau ini, dan kakek buyutku adalah salah satu dari staff yang menerima jatah rumah mewah pada jaman itu.


Yang membuatku agak terkejut adalah, rumah ini dalam kondisi baik dan pemeliharaannya sangat terawat. Meskipun rumah ini adalah bangunan lama yang dindingnya saja terbuat dari papan, tapi tak menambah kesan tua sama sekali, melainkan kondisi visual klasik yang memanjakan mata seperti pergi ke musium sejarah.


Pemeliharaan itu bisa di lihat dari rapi nya rumput dan juga tanaman yang selalu di jaga ke asriannya. Dan juga bangunan yang terlihat seperti sering di poles untuk menjaga keawetan dari bentuk nya.


"Woah!!" Decak Sayang di sampingku. "Lu tinggal di tempat sekeren ini waktu kecil!"


Aku mengangguk.


"Apa ya.." ujarnya sambil memperhatikan dengan detil rumah itu."Gua kayak lagi flashback ke jaman-jaman 70-an pas liat bangunan kayak gini!"

__ADS_1


"Ngacok!" Ucapku memukul dadanya, "kamu aja lahir di tahun 90-an!"


"Tempat nya terawat banget ya. Apa ada orang yang ngenjaga rumah kalian selama ini!?" Tanya Sayang.


"Sepertinya begitu!" Jawabku.


Aku dan Sayang berlahan mendekat ke rumah itu dan berdiri di depan pintunya.


"Terkunci!" Ujarku sambil mengoyang-goyangkan gagang pintu.


"Terus gimana?" Tanya Sayang.


Aku menggeleng dan mengidar sekitar.


"Apa gua dobrak aja!" Usulnya.


"Tck..jangan lah." Aku menghentikannya, "mungkin kita bisa masuk dari belakang atau celah lainnya..."


"Dek Arel!" Panggil seseorang.


Aku terperanjat dan sontak mencari sumber dari suara itu.


Seorang laki-laki paruh baya berkulit sawo matang berambut kriwil dan bertubuh kurus keluar dari belakang rumah itu dan langsung menghampiri kami berdua.


"Ini Arel kan?" Tanya nya lagi dengan mata berbinar.


Aku tak menjawab dan menatap laki-laki itu dengan heran.


"Ini abang Rel. Bang Samsu!!" Ujarnya lagi sambil menepuk dada nya sendiri.


Seketika aku langsung mengangkat tanganku dan menghampiri laki-laki paruh baya itu dengan setengah berlari.


"Iya, ini Abang rel." Balasnya seperti memperkenalkan anak kecil agar tak lupa menaruh sikat gigi di tempat yang benar.


Tak banyak yang ku ingat saat berada di pulau ini. Tapi kebaikan Bang Samsudin beserta orang-orang baik yang selalu membantu keluargaku di pulau ini adalah kenangan tersendiri yang tak bisa ku lupakan.


*************


"Sebile Adek datang ke sinek?" Tanya Bang Samsu. *Kapan nyampe sini?.


"Tadik siang Bang!!" Jawabku.


Bang Samsudin mengajak kami berdua untuk beristirahat ke rumahnya yang berada di sebelah rumah itu.


Yang ku ingat dulu adalah Bang Samsu merupakan anak tertua dari 5 bersaudara dari suku bugis yang menetap di pulau itu. Pekerjaan Bang Samsu adalah melaut, sehingga kadang-kadang kami sekeluarga tak pernah kekurangan ikan saat hasil melaut keluarga Bang Samsu melimpah, mereka selalu membagi hasil tangkapan secara percuma kepada kami. Dan sebagai imbalannya, keluarga kami membiarkan lahan pekarangan rumah menjadi lapak untuk menjemur ikan asin milik keluarga Bang Samsu.


"Jadi Bang Samsu yang selama ini merawat rumah kami?" Tanyaku.


Beliau mengangguk. "Men ukan Abang siape pulak nak ngerawat e. Jadi sarang antu mn dak d bele!!" *Kalau bukan Abang siapa lagi. Jadi tempat tinggal setan kalau ga di rawat.


Sayang memepetku saat melihat adik perempuan Bang Samsu datang membawakan kami teh hangat sebagai jamuan. Dan aku tahu kenapa Sayang tiba-tiba grogi.


"kamila?" Sapaku.


Kamila adalah anak paling terakhir di keluarga itu, dan kecantikan eksotisnya luar biasa indah. Rambutnya hitam lebat sampai bulu-bulu halus menjulur dari dahinya, matanya bulat dan kulit nya putih. Para wanita suku bugis memang terkenal dengan kecantikannya.


Dia tersenyum malu-malu dan mencium tanganku dan juga tangan Sayang. Mungkin sekarang umurnya sudah belasan, dan aku bisa merasakan tatapan penyesalan dari Sayang karena ber-crossdresser.


"Ade angin ape Arel datang ke sinek, ngape dak mawak Pak Cik kan Mak Cik. La gaok la Abang lamak dak berenong!" Pungkirnya dengan tatapan sedih. *Ada angin apa gerangan Arel datang kesini, kenapa ga bareng Ibu Bapak (Pak Cik dan Mak cik dalam bahasa daerah merupakan sebutan bagi orang tua sedarah maupun bukan sedarah). Abang udah kangen banget lama ga ketemu.


Aku menunduk sambil tersenyum menanggapi perkataan Bang Samsu.

__ADS_1


"Aku datang kesini karena ada yang ingin Aku lakukan di rumah itu Bang!" Jawabku.


Bang Samsu terdiam dan menatap ku.


"Mungkin Bang Samsu masih ingat dengan apa yang terjadi padaku waktu itu!"


Bang Samsu langsung menunduk dalam.


"Dan urusan ku kepada rumah itu adalah masalah ini Bang!"


Bang Samsu mengangguk-angguk paham, dan menepuk-nepuk lututnya. Tanpa banyak cincong, dia berdiri dari tempatnya dan langsung mengajak kami berdua pergi.


Bang Samsu membeberkan kepadaku jika selama ini rumah kami di gunakan sebagai home stay bagi para pelaku wisatawan asing dan juga lokal atas kemauan dari orang tua ku. Dan Bang Samsu sepakat mengurus rumah kami karena keuntungan yang lumayan dari penghasilan pariwisata di samping pekerjaan utamannya melaut.


"Kalau ada yang Arel dan temannya butuhkan, silahkan panggil Abang!" Ujar Bang Samsu sambil membuka rumah itu dan mempersilahkan kami masuk.


Aku mengangguk dan masuk ke dalam rumah itu bersama Sayang.


Saat berada di dalamnya, aku merasakan perasaan hangat di dalam dadaku saat mengetahui jika perabotan beserta isinya sama sekali tak pernah berubah dari terakhir kali aku mengingat kenangan ku di tempat ini.


Dan yang membuatku terharu adalah, totalitas Bang Samsu yang merawat dengan sepenuh hati tempat ini meskipun di gunakan sebagai tempat menginap bagi para pelaku wisatawan.


Ku susuri seisi rumah ini dan menemukan barang-barang lamaku seperti mainan yang terbuat dari bambu dan juga rotan yang masih terawat di balik lemari kaca, dan juga foto-foto ku waktu kecil.


"Kawai!" Ucap Sayang tiba-tiba menatap fotoku yang berada di balik kaca.


"Tck..apasih!" Aku berjalan menjauh dari lemari kaca.


"Wajar aja sih Archie ampe kecantol, lu pas masih orok gemesin pake banget!" Sayang mangkin menjadi.


Aku mengabaikannya.


"Gua kalau ada di posisi Archie juga pasti kena mental. Apalagi ngebiarin orang kayak lu di sakitin orang!!"


Sontak aku membeku membelakangi Sayang.


Dan Sayang langsung membekap mulutnya sendiri karena sadar akan perkataannya.


"Yaaaang!" Ujarku beringsut merangkul pundaknya.


Sayang gemetar seperti sedang ketempelan hantu.


"Kita udah sepakat kan sebelum pergi ke sini buat ga ngembahas dia selama kita berada di tempat ini!" Ucapku menekannya.


Sayang mengangguk dengan terpaksa.


Aku menggaploknya sebelum beranjak dari hadapannya.


"Ga sengaja gua Nya. Ga sengaja!!" Ujarnya protes sambil memegangi jidatnya.


Aku melanjutkan perjalananku menyusuri rumah ini, dan menemukan kamar lamaku yang berada di pojok ruangan paling kanan dalam bangunan ini.


Dengan berlahan ku langkahkan kaki ku menuju ruangan itu.


Dan sontak sekelebat bayang-bayangan abstrak terekam jelas di otakku dengan mempertontonkan peristiwa yang membuatku mematung di hadapan kusen lorong antara dapur dan pintu kamarku.


Dadaku bergemuruh, terasa sesak di iringi pandangan yang semangkin lama semangkin memudar.


"Anya!" Panggil Sayang di punggungku.


Tapi aku tak mendengar panggilannya. Aku mengalami delusi.

__ADS_1


__ADS_2