
Cit cit cit cit...
Suara riuh burung membangunkan tidur lelapku. Mungkin karena di dalam hutan dan berada di dalam habitatnya, suara burung-burung itu terdengar sangat dekat di telingaku.
Dan juga suhu di subuh hari terasa lebih dingin di bandingkan di tempat manapun di negara tropis, apalagi di musim penghujan.
Tapi kenapa rasanya tubuhku terasa semiliwir angin lewat pori-pori yang tak terbungkus baju, bukankah aku memakai baju tebal dan di bungkus sleepingbag.
"Ohaio!!" Sapa suara Archie di hadapan wajahku.
"Hah.." Aku kaget dan membuka mata, mungkin kah semalam.
************
Malam hari sebelumnya.
"Aku ingin kembali, sepertinya cuaca jadi mangkin dingin kalau ga segera masuk." Ucapku berdiri sambil membersihkan sisa tanah yang menempel di bokongku.
Tapi Archie tak beranjak, dan memandangi perapian dengan murung.
"Archie, kau ga balik?" Tanyaku dan kembali mendekat di sisinya.
Dia tak menjawab dan mencampakanku dengan memalingkan wajahnya.
"Archie!!" Aku berlutut di dekatnya, "kau kenapa? Apa aku berbuat salah!?"
Dia tak menjawab dan tak sudi menatapku.
"Ahh..ini pasti karena ucapanku barusan, kau marah karena aku mengatakan sesuatu yang mengusik hatimu kan!"
Dia tak menjawab.
"Tapi bagaimana pun aku menyangkalnya, aku tetap tidak mau meninggalkan teman-temanku meskipun mereka menghianatiku sekalipun. Aku akan berusaha mengambil mereka untuk kembali ke sisiku, karena bagiku manusia itu bersifat komoditi dan mudah berpindah jika di satu sisi terlihat menguntungkan di banding sisi lainnya."
Akhirnya dia pun menyerah dan memalingkan wajahnya untuk menatapku.
"Apa lu itu sadar ama omongan lu sendiri!!" Tatapan sedihnya masih belum mau beranjak, "Lu sadar ga kalau itu bakalan nyakitin diri lu sendiri."
"Aku tahu, kau juga tahu!!" Balasku spontan. "Jika aku tak seperti ini, maka aku gak akan membiarkanmu terkunci di lemari untuk melindungi orang yang bahkan baru ku kenal."
__ADS_1
Archie berhenti mendesakku, dan mulai menampakan wajah menyerah.
"Iya bener." Balasnya sambil menghembuskan napas panjang. "Lu emang kayak gini, mangkanya ampe sekarang gua masih idup!"
Dia mengusap pipiku dan menyatukan jidat kami berdua.
"Meskipun gua bilang jangan, lu bakalan tetap ngelakuinya meskipun gua larang mati-matian!!" Ucapnya lagi dengan terus menempelkan jidatnya.
"Ayo kita pakai tenda yang kosong!!" Ucapku spontan.
Dia langsung mengangkat pandangannya dan menatapku.
"Di sini udaranya benar-benar dingin." Ujarku sambil mengusap-usap lenganku sendiri.
Greepp...
Tanpa pikir panjang, Archie langsung menyeretku dan membawaku masuk ke dalam tenda yang kosong.
*************
Aku melihat Archie yang bertelanjang namun terbungkus sleepingbag di hadapan mataku, dia tersenyum sumringah seperti habis melewatkan malam yang dahsyat di tengah hutan di balik tenda yang tipis dan hanya di batasi oleh terpal yang berseberang dengan anak-anak lainnya.
Mengerikan, kenapa aku tak sekalipun bisa mengendalikan diriku sendiri jika bersama dengannya, apalagi dalam urusan seperti ini.
Tak lama kemudian terdengar riuh suara anak-anak yang keluar dari tenda dan mulai beraktifitas di luar.
"Ba-baju ku, di mana bajuku!!" Aku pun panik dan langsung mencari-cari keberadaan pakaianku.
Lelah, aku benar-benar lelah. Sepertinya bagun pagi bukan siklus ku jika habis bertarung dengan Archie semalaman.
"Dasar, dia itu benar-benar kuda liar!" Gumamku yang memperhatikan belakang tubuh Archie, yang terlihat sehat, segar bugar, berotot dan berkarisma.
"Nya, tidur lu ga nyenyak ya ampe bangun pagi-pagi banget!!" Tanya Laila sambil memberikan ku segelas kopi.
"Nyenyak kok, nyenyak banget!!" Balasku bernada lesu dan bermata kuyu sambil menenggak kopi yang dia berikan.
"Tapi kok, mata lu item sih, kek habis begadang semalaman!!" Tanya Laila.
"Sotoy sih Laila!!" Tepisku karena takut di curigai.
__ADS_1
"Denger ga semalem!!" Tiba-tiba Dafa bergabung di dekat kami bersama anak-anak lainnya.
"Apaan?" Tanya anak-anak lainnya.
"Gua tiba-tiba kebangun dan dengar suara rintihan, kek cewe yang menjerit minta tolong gitu!!"
Seketika anak-anak langsung heboh mendengar penuturan Dafa dan saling menyetor pengalaman masing-masing.
Aku langsung menutup wajahku sendiri dengan gelas yang ku pegang agar tak terlihat kalau wajahku sedang memerah menahan malu.
"Ahh..iya gua juga denger sih, terus kayak ada suara tenda yang kayak kecabik-cabik gitu." Tambah Laila, karena tenda kosong yang kami berdua tempati bersebelahan dengan tenda nya.
"Ahh..ya bener lu, iya sih gua juga denger semalam!!" Tambah yang lain.
"Aku juga sempat kebangun karena pengen kencing, tapi karena dengar suara wanita merintih, malah ga jadi dan balik tidur!" Sampai Sakurai pun ikut bersaksi.
"Tapi selain suara cewe, gua juga denger suara cowo juga kek lagi tereak hedon gitu, kalian ada ga yang sama kayak gua." Sambung Sayang menambahi.
Mereka ribut-ribut lagi sampai berasumsi berbagai jenis setan yang bermacam-macam.
Namun Archie sang aktor utamannya pun, tak memperdulikannya dan tersenyum-senyum santai memandangi anak-anak sambil ngopi.
"Apa itu roh penunggu gunung ini ya!" Tutur yang lain secara bersamaan.
"Ahh..paling itu suara musang!!" Dimas menengahi mereka. "Gua kan sering hikking, dan ga sekali dua kali denger suara cekikan kayak mbak kunti pas lewat hutan, tapi sebernya itu suara musang." Dia memberikan pendapat secara rasional.
"Terus suara yang gua denger kayak tenda kecabik-cabik itu gimana!?" Laila bersuara.
"Ya paling angin, di hutan kan anginnya kadang ribut kalau tengah malam, apalagi kan abis ujan!!" Dimas memberikan pendapat yang langsung dapat di terima oleh anak-anak karena masuk akal.
Akhirnya rumor tentang setan penunggu gunung pun mereda secara spontan, meskipun masih ada yang meragukan jikalau nanti malam kejadian aneh seperti itu bakalan terulang.
Hendri mendekat di sebelah Archie dan membisikkan sesuatu yang bisa ku dengar.
"Pelakunya anda kan Tuan!!" Bisiknya yang langsung memukul ku di tengah-tengah rasa malu.
Archie tersenyum mendengar Hendri dan melirikku dengan wajah menggoda dan menunjukan tampang seksi.
"Pffft...!!" Seketika kopi ku terhambur dari mulut dan berceceran kemana-mana.
__ADS_1
Sialan kau Archie.