
"Shiiit!!" Pekik Archie kencang.
Archie berdiri dan langsung melempar bantal sofa yang menyeka punggung nya ke lantai sembari meruntuk. Dia terlihat frustasi dan memegangi kepalanya sendiri dengan mulut yang mendesis kesal.
Aku dan Hendri saling bertukar pandang dengan ekspresi khawatir. Pasalnya Kondisi mentalnya yang sering tak stabil, apalagi tingkah paranoid nya yang sering meresahkan.
Hendri terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Tuan nya dengan tangannya yang mengacung ke depan, tapi Hendri mengurung kan niat nya di saat melihat Tuannya yang berusaha mengontrol emosinya.
Archie mengangkat pandangan nya ke langit, berkaca pinggang sembari menghembuskan nafas dalam. Dia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Kita harus secepatnya ngambil tindakan!" Cetus Archie di sela hembusan napas panjang nya. "Kejadian ini, gak mungkin mereka rencanain dalam waktu semalam!"
Hendri mengangguk setuju.
"Gua yakin." Ujar Archie dengan suara bergetar. "Mereka pasti ngelakuin sesuatu di saat gua lengah dan fokus ama masalah ini!" Sambungnya dengan tangan yang mengepal kuat.
"Saya akan menyelidiki semuanya sampai tuntas Tuan!" Jawab Hendri yang tak sanggup menatap Tuanya, bahkan untuk sekedar mengangkat pandangan nya melihat punggung Archie.
*************
Tok tok tok...
"ANya?" Panggil Archie dari balik kamarku.
"Masuk Aja, gak di kunci kok!" Jawabku yang masih fokus dengan laptop dan segala awut-awutan tugas kuliah.
Ceklek...
"Gak bikinin gua makanan nih?" Tanyanya sembari memegangi perutnya sendiri.
Aku langsung mengarah kan tatapanku melihat kearah jam dinding.
"Wait!" Ucap ku sembari merenung sesaat.
Pukul jam 8 malam. Berarti aku sudah di sini berkutik dengan tugas kuliahku Selama hampir 7 jam.
Gara-gara libur yang berkepanjangan, akhirnya semua tugas kuliah ku menumpuk menjadi satu, bahkan tugas yang seharusnya dikerjakan selama beberapa hari pun dengan terpaksa harus ku kerjakan dalam hitungan jam.
"Makan malam hari ini omelet aja yah. Keknya aku gak bisa masak macem-macem deh!" Ucap ku sembari menyepol rambutku dan menggantungkan celemek ke leher ku.
Namun saat aku kesusahan dan tak bisa mengikatkan tali celemek ke belakang, Archie datang membantu.
"Tugas kuliah lu numpuk!" Tanyanya sambil menyimpulkan tali pengikat celemek ke tubuhku.
__ADS_1
"Harusnya gua gak minta macem-macem!" Ucapnya lagi sebelum aku menjawab pertanyaan nya."Tapi...."
Grreeppp...
Kedua tangannya memeluk tubuhku dari belakang, dan menempel kan bibirnya yang lembab di tengkuk ku. Dia mengendus-endus rapat keseluruhan bau keringat di leherku.
"Gimana dong, gua kan gak bisa nunggu lama buat gak di layanin!" Bisiknya dengan suara ******* yang menggoda.
DEG...
Aku langsung terdiam mematung memandangi deretan telur yang tersusun rapi di rak nya yang masih belum sempat ku jamah. Perkataan nya barusan adalah perasaan yang mewakili segala pesona yang dia miliki.
Ku timpali kedua tangannya yang masih melingkar di perutku, dan berlahan menggeser nya untuk melepaskan ku.
"Bentar aku mau masak!" Ucapku yang mulai memecahkan beberapa butiran telur kedalam mangkuk.
Tapi dia semakin menjadi. Tubuhnya memepet ku ketengah kabin dapur, dan menautkan kedua tangannya berpegangan pada sisi kabin, sehingga posisi ku saat ini terjepit di dalam tubuhnya. Dia melancarkan aksinya dengan kekehan kecil yang terdengar sangat menyebalkan di telingaku.
"Archie..!!" Ucapku yang terganggu dengan tubuh besarnya yang mengintili tubuhku. "Udah deh, mending kamu duduk aja sana!"
"Kalau gua gak mau!" Sahutnya sambil menggantungkan dagunya di atas kepalaku.
"Tckc!!!" Decakku kesal sambil mengocok telur.
"Anya?" Panggilnya setelah beberapa menit dalam posisi seperti ini.
Aku berhenti memotong sayur.
"Iya, kenapa?" Tanyaku sembari menyenggol tubuhnya yang semakin lama semakin mendekap ku. "Dah mulai pegel pasti, sono aja gih duduk. Jangan gangguin istri yang lagi masak!" Ucapku jelas risih.
"Enggak?" Jawab nya singkat, "Kek nya, atap dapur rumah kita bocor."
Mendengar penuturan nya barusan, sontak aku mengangkat pandangan ku kelangit.
Namun bukan atap bocor yang ku temui, melainkan wajah terbaliknya yang menatap intens, dengan jarak yang hanya beberapa milimeter.
Leher jenjangnya memperlihatkan beberapa urat-urat menonjol yang membuat ciwi-ciwi gemetar histeris, dan juga jakun tegas yang menghiasi kerongkongan nya seperti mahluk perkasa dengan ciri khas kelelakian itu terpampang nyata di depan mataku.
Posisi seperti ini adalah posisi langka yang mampu membuat jantungku berpaju kencang seperti lari pacuan kuda. Karena selain pandangan kami yang melihat dari sudut pandang yang berbeda, aku berpendapatan posisi seperti sangat menggairahkan.
Archie memajukan kepalanya selangkah melewati hidungku, lalu memegang pipiku dengan kedua tangannya. Dan finally, kami akhirnya saling menautkan bibir kami dalam posisi seperti ini.
2 menit berselang akhirnya kami saling melepaskan pautan pergulatan bibir itu secara serentak dengan wajah merah dan tubuh memanas.
__ADS_1
"Gua laper!" Ucapnya di hadapan bibirku dengan saliva yang masih menggantung di kedua pucuk bibir kami berdua.
Tersadar akan pekerjaan ku yang belum selesai, sontak aku langsung menundukkan pandangan ku dan mulai memotong sayuran.
"Cepetan, masak." Ucap nya mulai mengganggu ku lagi sembari mengusap kedua bahuku. "Atau gua makan lu aja ni!"
Perlakuan nya barusan membuat tubuh ku menggelinjang ngeri, dan dengan reflek bahu kanan tempat dia menggigit telingaku terangkat ke atas.
Aku langsung mendorong tubuhnya menggunakan bokongku. "Yah mangkanya minggir, kalau kek gini terus kapan bisa selesai." Responku agak kikuk dengan wajah memerah.
**************
"Alhamdulillah. ごちそう さま でしたGochisou Sama Deshita." Ucapnya yang memadukan kebiasaannya dengan ungkapan terimakasih kepada penciptanya. *Translate; Terimakasih atas makanan nya.
Aku beranjak dari kursiku dan membereskan semua peralatan makanan sisa yang ada di atas meja.
"Archie!" Seru ku.
Archie memutar kepalanya dan menoleh padaku.
"Yah, ngapa?"
"Mengenai kejadian ini, apakah orang tua mu juga tau?" Tanyaku meletakkan piring-piring kotor itu kedalam dishwasher.
Archie terlihat melamun sejenak, dan menaikkan pandangan nya melihat langit-langit. "Gua gak pernah ngasih tau mereka sih!" Jawabannya.
"Tapi mereka malah udah tau sendiri, dan mati-matian pengen kesini karena khawatir setengah mati ama lu. Bahkan gua aja gak pernah tuh di gituin!" Sambungnya bernada posesif.
Dia mirip bocah yang sedang cemburu dengan anak lainnya, lantaran ke dua orangtuanya yang memberikan permen lebih dari pada yang dia punya.
"Tapi, mati-matian juga gua cegat. Karena gua gak mau bikin lu shock dengan kedatangan orang tua gua yang bahkan lu aja bingung ama kondisi lu sendiri!" Ucapnya sambil membuang tusuk gigi ke tempat sampah.
Aku kembali berjalan kearahnya untuk membersihkan sisa kotoran yang menempel di atas meja. "Maaf. Saat itu aku benar-benar gak tau harus berbuat. Apa lagi selain menjaga perasaan kamu. Makanya aku gak mau kamu jadi ayah dari benih yang gak kamu tanam." Ucap ku sembari mengelap meja.
Archie diam tak merespon perkataan ku, namun mata sayunya dengan kesal menatap intens punggung ku yang sedang condong mengelap meja, dengan mempertontonkan tonjolan bokong ku yang terlihat menggoda di mata lelaki.
Semakin jauh noda yang tak tersentuh oleh pencapaian ku, maka semakin lentik pula posisiku yang mengekspos keseksian lekuk tubuh ku.
Saat sedang membersihkan sisa kotoran yang ada di hadapan mejanya, tiba-tiba tanganku terpeleset. Sehingga lap tersebut melayang dan jatuh tepat di antara s*langkannya.
"Oh maaf!" Ucapku yang reflek mengambil lap yang mendarat indah di atas sangkar raja elang miliknya, tanpa mengindahkan ekspresi wajahnya yang sedari tadi menahan sesuatu yang tak dapat di jelaskan dengan kata-kata.
Tanpa aba-aba Archie langsung mengangkat tubuhku kedalam gendong nya, dan bergegas pergi membawa ku ke kamar dengan lap yang masih menggantung di genggaman tanganku.
__ADS_1