Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kontradiksi


__ADS_3

Tirai di buka, lampu-lampu berlahan redup, asap mengepul dari bawah panggung, Musik di mainkan, berpuluh kamera dari berbagai media menyorotnya, para pemain berlarian ke sana kemari bersiaga berada di posisinya untuk memainkan perannya.


Drama penuh rasa sakit ini pun di mulai.


Aku melihat semua pertunjukan itu seperti adegan lambat yang di buat-buat. Efek slowmoo di aktifkan sesaat setelah semuanya berada di dalam satu ruangan. Seisi tempat ini menjadi kelam, penuh penderitaan.


Seolah kami berada di dalam satu wadah yang sama, di aduk menggunakan sekop, lalu di aplikasikan di dinding angkasa sebagai perwujudan estimasi dari keunggulan ras homosapiens. Namun di takdirkan untuk saling mencekik dan menggigit di saat kehabisan bahan makanan. Kami kembali ke fitrah.


Dalam beberapa detik keheningan itu, Sayang dan Archie mematung seperti rusa yang kena sial telah di incar harimau di tengah sabana.


Aliran darah yang mengalir di urat-urat tipis wajah berlahan membeku. Syaraf-syaraf otot menegang. Mata seakan terlonjak dari tempatnya. Suara jantung pun terdengar jelas seperti hentakan hadra. Barangkali itulah yang di rasakan mereka berdua setelah mengetahui kenyataan ini. Kenyataan sepahit ini.


"Apa ini?" Ucapku memandangi Libiru, Sayang, dan juga Archie secara bergantian. "Apa yang barusan kau katakan?!" Aku benar-benar tak mengerti.


Libiru masih terkekeh di tempatnya seperti sudah kehilangan akal sehat.


Tangan Sayang gemetar, dia terlihat sangat tertekan dan menderita. Matanya sontak memerah seperti kerasukan setan, urat-urat bertimbulan di sekujur tubuhnya. dalam sekejab sosok peri itu menghilang dari dunia ini. Terpaksa tercabut.


"Todoroki!!" Sayang melangkah dengan berhati-hati. "Apa yang sedang lu lakuin di tempat ini?" Tanya Sayang dengan nada berat dan bergetar.


Libiru diam saja, dia terus tertawa dalam keadaan babak belur seperti itu. Ku rasa otaknya sudah bermasalah.


Archie tiba-tiba bangkit dari tempatnya dan langsung menjegal leher Sayang tanpa ampun.


"Jangan main-main si*lan!!" Ucap Archie dengan mata meradang.

__ADS_1


"Lu ngapain b*ngke!!" Sayang mendorong Archie.


"Apa yang barusan lu katakan. Kenapa lu manggil B*bi itu dengan sebutan Todoroki. Kenapa lu malah ngajakin becanda di saat situasi kayak gini." Archie mendekat dan kembali mengangkat kerah baju Sayang.


Sayang menjegal balik leher Archie untuk membuatnya berhenti.


"Gua ga main-main. Orang itu beneran Todoroki!!" Pekik Sayang.


"Berenti membuat omong kosong, apa lu ga liat situasi sekarang!!" Archie tak terima.


"Archie!!" Sayang semangkin kuat menarik kerah baju Archie. "Ada satu hal yang ga pernah gua bilang semenjak kedatangan gua kemari!!"


Mereka berdua saling bertatapan dengan pandangan yang saling menekan.


Berlahan Archie melonggarkan cengkramannya pada kerah baju Sayang.


"Gua dapet info dari salah satu dokter tempat ibuku melakukan perawatan kulit." Ucap Sayang, "dokter itu menyatakan jika beberapa tahun yang lalu, dia pernah melakukan operasi plastik kepada salah satu teman yang selalu bareng gua."


Archie terlihat menyerah dan membiarkan Sayang menyelesaikan penjelasannya.


"Dokter itu bilang kalau temen gua itu melakukan operasi plastik sebanyak 17 kali sampai wajahnya terlihat benar-benar ga di kenali." Sayang menjelaskan nya dengan napas tersengal. "Dan lu harus tau, setelah gua selidiki detilnya lebih rinci, ternyata orang itu adalah Todoroki."


Archie mundur berlahan dan melepaskan Sayang dari cengkramannya.


"Alasan gua dateng ke sini, bukan sekedar buat main-main dong. Gua menyelidiki identitas palsu Todoroki di bandara, dan menemukan tujuannya adalah Indonesia!!" Jelas Sayang lagi.

__ADS_1


Archie benar-benar terpukul mundur, dia kesulitan menarik napas karena terkena serangan panik yang beruntun.


Aku langsung berlari ke hadapannya, dan menopang tubuhnya yang hampir rubuh. Berkali-kali dia menolak bantuanku dengan mengisyaratkan untuk membiarkannya. Dia juga mengisyaratkan kepada Sakurai dan Hendri agar tak ikut campur terhadap keadaannya.


Situasi langsung terkendali saat dia memejamkan mata dan menenangkan dirinya sendiri selama beberapa detik. Tak berapa lama kemudian dia menegakkan tubuhnya sendiri, mengangkat kepalanya, mengepalkan kedua tangannya. Mengidar pandang dan menghembuskan napas tertahan lalu menjatuhkan pandangan terakhir kepada Libiru yang masih tak beranjak dari posisinya.


Archie berusaha menegar-negarkan dirinya sendiri dan mengambil alih situasi.


"Ini memang tidak akan mudah. Tapi kalian harus menerima situasi ini apapun keadaanya!!" Ucap Archie tiba-tiba menjawab pertanyaan yang tak sempat mereka lontarkan saat baru pertama kali melihat keadaan ini.


Seisi ruangan ini menatapnya dalam diam.


"Gua bakal jelasin secara garis besarnya. Laki-laki yang ada di hadapan kalian ini adalah Pay Long Tse!!" Sontak anak-anak kaget dengan suara tercekat.


"Namun kalian jangan khawatir karena dia sebenarnya berada di pihak kita. Sedangkan.." Archie mengidar pandang. "Penghianat yang sebenarnya adalah Arya dan Ruana!!"


Tora dan Rio sontak mengangkat kepala mereka dan menatap Archie dengan mata berkaca-kaca.


Sedangkan Laila menatap Arya dalam diam, dia bahkan tak bisa mencerna keadaan ini dengan baik. wajanya berubah menjadi kaku, mata nya yang polos liar menatap Arya dengan rasa sakit. Laila hanya gadis biasa yang tak mengerti jika buah yang sedang berada di pohonpun bisa membusuk karena serangga. Dia tak mengerti akan hal itu. Dia hanya mencintai pohonnya dan juga hasil yang akan di tuainya.


"Mereka berdua bekerja untuk seseorang untuk mencelakai Anya. Sedangkan Libiru adalah orang yang gua maksud!!"


Semua mata tertuju kepada Libiru yang masih di sana, dia balik menatap anak-anak yang melihatnya dengan pandangan sejurus. Sukar untuk mengetahui ekspresi yang dia keluarkan, karena seluruh wajahnya sedang terluka dan bengkak.


"Dia adalah hama yang membuat semua kekacauan ini!!"

__ADS_1


__ADS_2