
"Hei, lepaskan. Gua ga ngerti apapun yang lagi lu omongin!!" Arya bergeming meskipun sedang di desak Archie.
"Arya!!" Archie mengetatkan cengkramannya di leher Arya. "Meskipun lu ngeles, dan pura-pura ga ngerti. Tapi fakta dan bukti-bukti yang ada ga bakalan bisa nyelamatin lu!!"
Arya menantang pandangan Archie dengan tatapan tajam.
"Fakta apa, hah!!" Arya meronta, "apa yang pengen lu buktiin!!"
"Selama gua jadi ketua tim 13 dalam proyek kerja sama. Gua lagi ngerekap data buat masukin identitas kalian satu persatu kepada sponsor." Ujar Archie menggiring Arya terpojok di badan pohon. "Tapi, saat dosen ngasihin data lengkap tentang diri lu. Dia ngasih identitas, dengan nama yang berbeda. Setelah di jelasin, barulah gua tau, ternyata nama Arya pangestu adalah nama kedua yang pernah lu pake sebelum Dien Wijaya." Ucap Archie memaparkannya.
Arya mematung.
"Apa lu masih mau menghindar dari bukti-bukti ini!?" Archie menekannya.
"Lalu kenapa jika dulu nama gua Dien Wijaya, apa hubungannya ama gua yang jadi tersangka!?" Arya membela diri.
Archie menghela napas, kemudian melepaskan cengraman tangannya dari kerah baju Arya, dan berjalan mundur memberikan Arya ruang.
"Lu beneran pengen tau?" Ucap Archie dengan senyuman meremehkan.
Arya membalasnya dengan tatapan menantang.
"Ok, baiklah gua bakalan bilang?" Ucap Archie melanjutkan. "Lu, Dimas, ama Rio. Kalian bertiga adalah orang yang paling gua curigai sebagai penghianat di antara kami semua."
Arya mengatur napasnya sendiri karena tadi sempat di desak.
"Gua menyadari semua itu setelah mempertimbangkan semua yang terjadi selama liburan ini. Gua mengamati perilaku kalian semua dengan detil, dari tempat kejadian perkara, lokasi keberadaan kalian, sampai keikutsertaan kalian dalam tiap aktifitas yang kita lakuin bersama. Dan memang, Dimas adalah orang yang paling mencurigakan karena dia sering eksplor ke luar vila dan jarang berada di tempat keramaian dimana kita sering ngumpul bareng. Tapi semua asumsi gua tentang dia terpatahkan setelah gua melakukan sesuatu di loteng!!"
Pupil mata Arya bergetar, dan tatapannya mulai goyah.
"Gua sengaja mempercayakan kalian bertiga buat mengurusi peralatan pelarian kita di loteng." Archie mendekat lagi ke hadapan Arya, "tapi gua cuman ngasih tau mereka berdua tempat penyimpanan yang berada di balik genteng dan juga di pojok langit-langit. Dan yang tau tempat penyimpanan barang-barang sisa yang seharusnya gua pakai sebagai pelarian..."
Arya tercenung dan tak mampu lagi berkata-kata.
"Cuman lu. Lu doang yang tau!!"
Arya memalingkan wajahnya, dia tak berani menatap Archie.
__ADS_1
"Apa lu pikir fakta seperti ini bisa di bantahkan!?" Lanjut Archie mengelilingi Arya.
"Dari awal pertemuan bareng lu maupun Libiru, gua penasaran ama satu hal. Kenapa gua jadi posesif banget kalau tiba-tiba Anya minta ijin jalan bareng lu maupun Libiru. Ternyata benar, firasat gak pernah berbohong!!"
"Hemm.." tiba-tiba Arya membalas perkataan Archie dengan dengusan yang terdengar seperti tersenyum.
Lalu Arya melirikku dengan menampakkan sekilas senyuman seperti pasrah dengan keadaan.
Sejurus kemudian dia malah terduduk lemas dengan tubuh tak berdaya di atas tanah.
"Hah, si*l!!" Pekiknya menengadahkan kepalanya.
Aku memandangi tingkanya dengan alis bertaut.
"Padahal gua belum ngapa-ngapain. Tapi si*l banget, udah ketahuan duluan!!" Sambungnya tertawa.
Aku membeku memandangi Arya dengan wajah pucat, sedangkan dia terus tertawa terkekeh tak jelas sambil duduk bergumul dengan tanah.
"Jadi benar, selama ini kau lah pelakunya!?" Ujarku hampir tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat. "Kau yang melakukan semua ini padaku!?"
Dia tak menjawab dan terus terkekeh tak jelas.
Dia masih tak menggubrisku.
"Bagaimana bisa kau dan Libiru melakukan ini padaku, padahal kita berteman!!" Aku benar-benar tak bisa menerima kenyataan ini.
Arya berhenti berprilaku tak jelas, dan memandang lurus searah.
"Lalu selama ini kalian menganggap kami ini apa, bagaimana dengan Laila?!" Pekikku yang tak dapat lagi di tahan-tahan.
Arya tertunduk tak berdaya.
"Sejak kapan?" Tanyaku mendekat.
Arya menatapku.
"Sejak kapan kalian berdua merencanakan semua ini, Arya, katakan!!" Aku histeris.
__ADS_1
Archie datang dan langsung memeluk tubuhku, dia bahkan menjauhkan ku agar tak terlalu dekat dengan Arya.
"Anya, tenang. Gua yang bakalan ngurus masalah ini!!" Archie terus memeluk tubuhku.
"Anya.." Tiba-tiba Arya bangkit dan membuka suaranya.
Kami berdua terdiam dan menatap Arya yang berdiri dan menghampiri kami secara bersamaan.
"Akan gua katakan semua yang pengen lu dengar, tapi jangan salahin gua kalau semua ini bakalan bikin lu semangkin tersiksa!!" Ucapnya memandang sejurus padaku dengan mata memerah.
Archie memasang sikap waspada, berdiri di antara aku dan Arya.
"Katakan!!" Balasku menantangnya. "Katakan semua yang ingin kau katakan!!"
Arya mengangguk sebentar dan menyibak rambut yang menutupi penglihatannya, dia menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya membuka suara.
"Lu tau kan, kalau orangtua gua pernah terlibat kasus korupsi beberapa tahun yang lalu sebelum kita beberapa bulan kuliah." Ucap Arya.
Bapak Arya merupakan atasan dari Bapak ku. Beliau menjabat sebagai komisaris jendral polisi atau Komjen Pol. Komjen sendiri menempati posisi kedua teratas dari Jendral Polisi yang merupakan posisi tertinggi dalam kedudukan. Sedangkan Bapakku menjabat sebagai Ajun Komisaris Besar Polisi atau AKBP.
"Beliau menjadi tersangka terduga korupsi dana bantuan pemerintah sebesar 14 T. Orang-orang yang terlibat dan ikut andil dalam penggelapan dana itu, menutup mata seakan mereka juga tak pernah melakukan hal menjijikan itu bersama-sama." Ucapnya lagi memaparkan. "Dan setelah itu, lu tau sendiri kan apa yang terjadi ama kehidupan gua!!"
Arya menatapku dalam.
"ibu pergi dari rumah karena malu, kakak terpaksa drop out dan bekerja serabutan demi bertahan hidup, sedangkan gua. Gua yang pengen banget kuliah di jurusan design interior dari dulu, harus merelakan cita-cita gua karena masalah ini!!" Arya menatapku dengan mata memerah, "kalian ga bakalan tau gimana perasaan gua saat itu!!"
Arya diam sesaat dan menarik napas.
"Sampai akhirnya gua ketemu Libiru, seseorang yang gak tau entah datangnya dari mana, dan dia langsung menawarkan sesuatu yang akan memecahkan masalah yang sedang gua hadapin!!" Arya membeliak menatapku.
"Tawaran apa yang dia tawarkan!?" Tanyaku dengan nada bergetar.
"Dia menawarkan untuk membebaskan Bapak dari terdakwa kasus korupsi yang meruntuh kan kami, dengan berbagai koneksi dan semua kekuasaan yang dia punya. Mulanya gua ga percaya sama sekali dengan semua omong kosong yang dia buat, tapi 3 hari setelah pertemuan itu, dia menepati janji nya dengan sempurna. Dan berita yang menyatakan kalau Bapak terbebas dari terdakwa kasus korupsi menyebar di seluruh negri. Saat itu lah gua tersadar, kalau Libiru punya bekingan orang-orang besar di belakangnya, yang bahkan bisa meruntuhkan dan menaklukan hukum pemerintahan di negara ini." Ucap Arya memandangiku di balik tubuh Archie.
"Tapi tentu aja semua itu ga gratis, dia datang lagi pada hari dimana Bapak di nyatakan bebas tanpa syarat. Dan membuat perjanjian kerja sama!!"
Aku menahan napas sampai terdengar seperti seseorang yang kesulitan bernapas.
__ADS_1
"Perjanjian kerja sama?" Ucapku menunggunya melanjutkan.
"Iya, perjanjian kerja sama untuk membuat lu lengah sampai waktunya tiba buat ngancurin lu!!"