
"Nyonya, apa yang terjadi dengan anda?" Tanya Hendri yang berusaha menghentikanku di saat aku mengatakan ingin menemui Archie secepat mungkin. "Saat ini Tuan sedang rapat dengan beberapa klien penting, saya sarankan nyonya menunggu Tuan di apartement, karena Tuan akan langsung menunda pertemuannya jika melihat Nyonya datang." Seperti biasanya Hendri mengatakannya dengan jujur bahkan saking polosnya dia tak mampu berbohong walaupun sekedar untuk membuat orang lain merasa terhibur.
"Tapi aku tak bisa menunggu lebih lama lagi." Balasku yang langsung membanting pintu mobil Hendri dan masuk ke dalam gedung.
"Nyonya dengarkan saya dulu, Nyonya!!" Hendri dengan tergopoh mengikuti langkahku.
Semua orang memandangiku dengan sinis dari
semenjak melangkah masuk ke dalam gedung ini. Tatapan gusar mereka menandakan Ketidakberesan terhadapan seorang wanita yang mengenal atasan mereka. Anggap saja seperti itu, karena sampai sekarang pun tak banyak yang tau kalau Archie sudah menikah.
"Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu." Tanya seorang wanita dengan ramah menanyakan keperluanku datang kemari.
"Bisa tolong beritahu saya ada di lantai berapa ruangan kerja atasan kalian." Tanyaku dengan nada mendesak.
Wanita itu melihatku dengan padangan jijik namun tertutupi berkat senyumannya yang di paksakan. Seperti firasatku yang selalu benar, Archie memang dulu sering mendapat kunjungan ke kantornya langsung dari berbagai jenis wanita, karena penyakitnya yang tak kunjung mendapat titik terang sebelum menikahiku.
"Maaf mbak, tapi atasan kami tidak menerima tamu dari manapun jika belum pernah membuat janji terlebih dahulu kepada beliau, jadi dengan berat hati saya tidak bisa memberitahukan nya kepada mbak." Balas wanita itu dengan ramah tamah palsunya.
"Tolong, ini penting banget. Aku harus ketemu dia secepatnya." Aku terus mendesaknya.
"Maaf mbak, tidak bisa." Jawabnya dengan tetap tersenyum.
"Tolonglah, aku mohon."
"Tetap tidak bisa mbak, saya sudah mengatakannya sejak awal, kalau ingin bertemu dengan beliau mbak harus membuat janji terlebih dahulu." Dia kekeh tak mengizinkanku.
"Tapi saya..."
"Silahkan mbak keluar!!" Ucapnya memotong perkataanku. "Kalau mbak masih tetap di sini dan memaksa untuk masuk padahal belum mendapat izin, saya terpaksa memanggil security untuk menyeret mbak secara paksa dari sini."
Aku mematung dengan wajah kesal, di situasi seperti ini biasanya seseorang akan memakai jabatan dan status mereka untuk membalikkan keadaan, akan tetapi dengan statusku yang terbilang tak jelas dan hanya segelintir orang yang tau kalau Archie sudah menikah, siapa yang akan percaya kalau aku ini adalah istrinya atasan mereka, yang ada aku di tuduh membual dan di katakan wanita gila.
"Nyonya, tidakkah anda berjalan terlalu cepat. Bisa-bisanya saya tertinggal." Hendri tiba-tiba muncul di hadapanku.
Sontak wanita yang menjadi pawang meja resepsionis terbelak saat mendapati Hendri yang memanggilku dengan sebutan Nyonya.
"Maafkan saya, tapi apakah pak Hendri mengenal mbak ini." Tanya wanita itu memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja, Nyonya ini adalah majikan saya yang merupakan Istrinya Tuan Archie." Balas Hendri.
Wanita itu meminta maaf kepadaku sampai hampir terlihat sedang berlutut. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, setelah mengetahui fakta tersebut hampir semuanya seperti sedang menjilat sepatuku bahkan sampai ke kotorannya, padahal sebelumnya mereka tak perduli dengan situasiku dan hanya menonton pertunjukan ini seperti hiburan yang mengasyikan di tengah pekerjaan jenuh mereka.
*************
"Silahkan Nyonya menunggu di ruangan kerja Tuan. Dalam waktu kurang lebih dari 30 menit lagi, Tuan akan segera menyelesaikan rapatnya." Ucap Hendri yang membuka pintu ruangan yang dia maksud.
"Terimakasih banyak, tolong sampaikan kepadanya kalau aku gak bisa menunggu lama." Ucapku dengan penuh penekanan.
"Akan saya sampaikan segera Nyonya." Balasnya.
20 menit kemudian.
Braaakkkk...
Tiba-tiba pintu terbuka seperti terbanting, dan masuklah Archie yang terlihat panik dengan wajah pucat.
"Anya!!" Pekiknya berlari menghampiriku.
Grreepppp...
Dia langsung memelukku sebelum mulutku sempat mengatakan apa pun. Pelukannya sangat erat, bahkan telapak tangannya terasa dingin.
"Lu ga papakan, ada yang luka ga.." Ucapnya panik dan memegangi wajah beserta kedua lenganku.
"Aku ga kenapa-napa kok." Jawabku menimpali tangannya yang memegang wajahku.
"Terus, napa lu kesini?" Dia masih tetap bernada panik.
Tentu saja dia panik, karena selama ini aku berusaha untuk menyembunyikan diriku agar tak ada satu orangpun di luar sana yang tau kalau kami adalah pasangan yang sudah menikah, lagi pula ini adalah pertama kalinya aku mengunjunginya di kantor.
"Ada yang ingin ku katakan." Ucapku mendekat ke sisi nya dan berbisik. "Berdua saja." Bisikku sambil melirik Hendri yang berada di ambang pintu.
"........."
"Pesannya seperti mengatakan, aku tak boleh mempercayai siapapun terkecuali orang yang ku cintai dan orang yang ingin ku selamatkan. Maka dari itu, aku langsung datang kemari dan memberitahumu." Ujarku setelah menjelaskan semuanya kepada Archie dan menunjukan materi fotokopian tersebut kepadanya.
__ADS_1
Archie hanya diam dan terus menopang dagunya dengan punggung tangan, wajahnya terlihat sedang berfikir keras.
"Bagaimana menurutmu?" Tanyaku yang tak tahan melihat ekspresi peliknya.
"Beraninya dia menyatakan cinta ama bini gua!" Itulah responnya setelah lama berfikir keras.
"Fokus, fokus. Kenapa kau malah membahas hal yang tidak penting." Timpalku kesal dan memukuli lengannya.
"Tentu aja ini penting. Berani-beraninya dia membuat pesan dengan pernyataan cinta." Archie menimpali.
"Kita ga ada waktu untuk membahas ini." Ucapku sambil memegangi kedua lengannya. "Kenapa dia mengakui semuanya dan mengatakan alasannya secara bersamaan, jika benar balas dendam adalah pemicunya, seharusnya dia tak mengatakan hal ini langsung padaku kalau dia adalah musuhnya. Lalu pesan rahasia ini, apa yang sebenarnya dia pikirkan!" Ujarku setengah berteriak dengan wajah depresi kebingungan.
"Karena dia juga terpaksa melakukannya." Ucap Archie yang selalu bersikap tenang di segala situasi seperti perawakannnya.
"Maksudmu?"
"Lu juga belum ngerti." Ucapnya yang mengambil materi fotokopian itu dari tanganku. "Menurut lu kenapa dia sampai menuliskan pesan rahasia di sini." Tanyanya.
Aku menatapnya dengan setengah menggeleng, tak ada yang terpikirkan di otakku karena perasaan panik seperti ini.
"Setelah mendengar semua pengakuan darinya, gua pun langsung menarik kesimpulan. Kalau sekarang pun, dia sedang di bawah pengaruh seseorang yang menyuruhnya mengakui segala perbuatannya. Kayaknya dia benar-benar di awasi, bahkan mengirim pesan dengan menggunakan pesan rahasia seperti ini bukanlah orang sembarangan mempunyai waktu senggang."
"Maksudmu, dia di tekan oleh seseorang." Ucapku, "Apakah Sabiru yang melakukannya?"
"Tidak!!" Jawab Archie spontan. "Jika benar Sabiru yang menekannya, dia gak akan mengirim pesan agar tak mempercayai siapa pun yang di sekitar lu. Berarti pesannya merujuk terhadap orang-orang yang dekat dengan lingkungan kita." Jelasnya, "Lu juga langsung sadar kan akan pesan ini, mangkanya lu langsung dateng nemuin gua tanpa ngasih tau Hendri terlebih dahulu."
"Berarti Libiru di tekan oleh seseorang agar berbohong padaku kalau dia yang melakukan semua ini!!" Ucapku menutup mulutku sendiri.
"Terlepas berbohong atau enggak nya, gua yakin dia ingin menebus kesalahannya dengan berbuat sesuatu yang benar." Ucap Archie mengangkat tinggi-tinggi kertas fotokopian tersebut. "Dengan ini pun dia sudah membuktikan dirinya kalau dia bukan orang jahat."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Sepertinya Libiru ingin lu mengungkapkannya sendiri siapa pelaku sebenarnya di balik semua kejahatan ini. Tapi kendalanya karena ga tahu siapa yang berkhianat, kita jadi susah untuk bergantung dengan siapa pun." Jelasnya.
"Kau benar, tapi kalau kita mencurigai semuanya dan tak membuat kemajuan sama sekali berarti kita sama saja dengan tak melakukan apa-apa!!"
"Untuk sekarang sepertinya tak ada yang bisa kita lakukan selain mengandalkan kita berdua." Dia mendekat ke sisi ku. "Jadi partner, apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu untuk mengungkap teka teki ini." Ucapnya menunjukan kertas fotokopian itu di hadapan wajahku.
__ADS_1