
Aku jadi kepikiran punya ide yang lebih nakal di banding ini!
Ku dekati dirinya yang meringkuk sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Archie!" Panggilku dengan wajah nakal mendekat ke tubuhnya.
Dia memandangi ku dengan masih memeluk tubuhnya sendiri, sembari merapatkan giginya yang sesekali terlihat mengintip dari bibirnya.
Aku berlutut di sampingnya dan mendekatkan bibirku ke telinga nya.
"KA-MU!!" Bisik ku lirih di akhiri dengan suara ******* dan tiupan di telinganya.
Dia langsung terdiam sambil melototi udara hampa dan di iringi tegukan saliva yang terdengar sampai ke telinga ku..Aku tertawa cekikikan saat melihat reaksinya yang seperti merasakan aura kehadiran mahkluk halus.
Dia langsung menangkupkan telapak tangannya menutupi keseluruhan wajahnya, kemudian berteriak kecil di balik kedua telapak tangan yang masih menutupi rapat wajahnya. Telinganya memerah, tubuhnya bergetar, jari jemari kakinya menggulung.
Apa ini?
Apakah efek kata KAMU sangat mempengaruhi alam bawah sadarnya.Kenapa tingkahnya jadi jauh lebih menggemaskan dari biasanya.
Aku jadi jauh lebih semangat untuk mengerjainya!
Aku tertawa cekikikan lagi saat dia kalap dan mengambil air minum di dalam botol dan menghabiskan nya dalam satu tenggakan.
"KAMU, gak papa?" Tanyaku memegangi lengan baju nya, sambil mendekat ke sisi kanan tubuhnya sampai dadaku menyentuh lengannya.
Dia mengalihkan wajahnya untuk tak melihatku, terlihat seluruh wajahnya memerah dari leher sampai telinganya.
Taap.....
Tiba-tiba dia menangkupkan telapak tangannya menutupi mataku.
"Archie!!" Panggilku yang kalang kabut, karena tiba-tiba saja dia melakukan sesuatu yang tak ku duga.
"Aku gak bisa liat!" Ucap ku sambil memegang tangannya yang menutupi mataku dan berusaha melepaskannya.
Dia mendehem kecil di iringi suara hembusan nafas yang sangat kuat sampai nafasnya terdengar ke telinga ku.
Sejurus kemudian aku baru menyadari kalau tindakan ku barusan merupakan kail pancing dengan umpan segar yang sengaja ku lempar, lalu terjun bebas jatuh ke lautan lepas dan menarik perhatian seeokor paus pembunuh.
Dia menarik lembut rahangku menuju kearahnya, Hembusan nafasnya yang berbau seperti permen karamel susu tercium nikmat, memenuhi indra penciumanku.
Dia semakin merapatkan telapak tangannya yang menutupi mataku. Kemudian dengan berlahan, hembusan nafasnya terasa semakin dekat dengan nyawaku sampai akhirnya bibir lembutnya mendarat menyentuh bibirku.
Kemudian tangan kanannya menarik serta merta tubuhku hingga berada di himpitin dada bidangnya. Ciumannya semakin memanas, yang semula hanya ******* bibirku dengan pelan sekarang aku bisa merasakan lidahnya memasuki mulutku dengan beringas tanpa ampun.
__ADS_1
Aku berusaha menghentikan nya dengan mengatup rahang ku dan merapatkan kedua gigiku. Tapi dia kembali menarik rahangku menuju ke arahnya sehingga pertahanan ku roboh dan dengan beringas dia memasukan lidahnya kembali ke mulutku dengan di iringi degusan nafas kuat dan lenguhan pelan yang membuat siapa pun bergairah.
Semakin ciumannya memanas, maka semakin aneh pula gerakan yang dia keluarkan.
Karena situasi nya semakin menjadi-jadi, akhirnya aku tidak bisa mengenali tubuhku sendiri, dan seluruh kepalaku sudah tertutup oleh akal sehat, kewarasan ku sudah tenggelam, isi kepalaku di penuhi oleh tindakan erotisnya.
Dengan di kontrol oleh nafsu dan emosi yang bertabrakan, tanpa sadar kedua tanganku menautkan menyentuh lehernya dan membalas semua ciumannya panasnya.
Terasa kalau dia kaget dengan pembalasanku yang tiba-tiba, dan spontan menghentikan ciuman panasnya, hingga hanya aku lah seorang diri yang sekarang seperti sangat bernafsu mencumbunya.
Terdengar suara dengusan seperti tertawa mengejek ku, dengan mata tertutup oleh telapak tangannya yang rapat, aku tak tahu apa yang terjadi di depanku, bagaimana reaksinya, tatapan matanya, semuanya tertutup seolah dia benar-benar melarang ku untuk melihat pemandangan yang terhampar di depan ku.
Kemudian dia kembali membalas ciumanku, dan kami berdua akhirnya larut dalam reaksi tubuh yang bergerak sendiri berdasarkan naluriah dasar manusia yaitu hasrat bersentuhan yang akan terasa semakin nikmat jika di lakukan bersama.
Tidak bisa di hindari, ini adalah hukum alam yang tercipta atas kehendak dan keinginan alam bawah sadar yang sering di jumpai oleh sepasang mahkluk hidup yang berkembang biak, seperti reaksi kimia yang bersatu membentuk keajaiban dunia baru yang dinamakan puncak evolusi. Dalam kata lain suami istri yang tinggal serumah tak kan bisa mengalahkan hasrat **** yang di keluarkan oleh pasangan masing-masing meskipun dari satu pihak menolak bagaimana pun kerasnya.
Kami berdua menghentikan ciuman yang semakin memanas tersebut dengan di akhiri telapak tangannya yang berlahan membuka kedua mataku.
Dengan muka memerah dan rasa malu yang luar biasa setelah kembali ke dunia nyata, aku menutup mulutku dengan punggung tanganku sembari menatap matanya yang terlihat lebih bersemangat lebih dari biasanya.
Kemudian dia menjulurkan lidahnya keluar dan menjilati sisa saliva yang membekas belepotan di mulutnya sambil tersenyum mengejek memandangi ku, seperti habis melakukan perbuatan yang memalukan.
Dia mengangkat dagunya keatas sambil menggigit bibir sendiri, dan lirikan matanya melihat kebawah memandangiku yang masih belum larut dari adegan panas yang terjadi tadi barusan.
"Gua laper!" Ujarnya.
Tak dapat di pungkiri, tapi melihat reaksinya barusan aku pun juga menyadari kalau dia berusaha menjaga jarak padaku agar tak terjadi tindakan lebih jauh.
"Hhhuuuhhh....."
Aku memegangi dada ku sendiri saat dia sudah pergi jauh dari kamarku.
Benar-benar 5 menit yang mendebarkan dalam seumur hidup ku. Mungkin hari ini adalah hari bersejarah dimana aku larut dalam tindakan senonoh.
**********
"Kenapa. Katanya laper." Ujar ku yang akhirnya angkat bicara setelah risih di tatapnya secara terus menerus tanpa berkedip sedkitpun. Karena dia tak pernah menyentuh sedikitpun makanan yang telah ku sediakan.
Dia hanya tersenyum kecil dan menopang satu dagunya sambil terus memandangiku yang sedang menyantap hidangan makan malam.
"Mendadak kenyang aja liatin lu gini!" Jawabnya diiringi senyuman yang membuat hati siapapun meleleh saat mendengarnya.
"Jadi tadi siang mommy nelpon gua dari Kansas!" Ucapnya sambil membelah daging sapi wagyu dengan pisau.
"Hhhmmm...!" Aku mendengarkan sambil memasukan makanan ke mulutku.
__ADS_1
"Terus Mommy nanya. Perkembangan kita udah sejauh mana." Lanjutnya sambil memakan makanannya.
"Terus kamu bilangnya gimana!" Tanyaku penasaran.
"Heeemmmhh..." Responnya sedang berfikir sambil memandangi langit-langit."Gua bilang aja sejujurnya, kalau lu belum nyerahin diri ke gua." Jawabnya santai.
Wajahku langsung memerah setelah mendengar perkataan nya.
K*mpret. Kenapa malah ngomong ****** macam itu, emak mertuaku pasti berfikir macam-macam.
"Makannya.."
Dia memotong dagingnya lagi sambil mengambilnya dengan garpu dan mengangkat tinggi makanan tersebut sampai didepan wajahnya.
"Mommy nyaranin buat kita secepatnya mutusin tempat bulan madu!" Ujar nya sambil memakan daging tersebut dan mengunyahnya berlahan.
"Ppfft..." Tiba-tiba air yang ku minum menyembur keluar dari mulutku.
Archie tertawa cengengesan melihat tingkahku, dan terus mengunyah pelan makanannya.
"Bulan madu!" Ujarku mengelap mulutku dengan tisu.
"iya, bulan madu. Mommy bilang, kalau bulan madu adalah momen terbaik saat kita sama-sama ngerasain ikatan suami istri, terus...."
Jleeebb.....
Dia menusuk daging tersebut dengan garpu.
"Rasanya tuh..Pertama-tama sih sa..kiiit..." Ujarnya mengambil pisau dan memotong daging tersebut dengan berlahan.
Aku menahan napas.
"Tapi lama kelamaan malah nagih, di doro..ng di tarik..." Lanjutnya sambil memotong daging tersebut berlahan.
Ooh, i hate my mind!
Bisa-bisa nya mertua ku memberikan edukasi yang mempuni kepada anaknya.
"Terus.."
Mata ku membulat besar saat dia selesai memotong daging tersebut dan meletakkan di sudut bibirnya, sembari menjilatinya berlahan layaknya ice cream.
"Masuk..!"
Aku langsung melihat ke arah lain saat dia memakan daging tersebut sambil bilang masuk.
__ADS_1
Jernih lah pikiran ku, jernihlah!
Dia hanya sedang mendemonstrasikan bagaimana caranya memakan daging yang baik dan benar.