
"Dimas?"
Tak ada yang terbayang di kepalaku selain kejadian saat aku terbangun di kamar Dimas di pagi harinya.
Sehingga tanpa sadar nama Dimas lolos begitu saja dari mulutku. Tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa yang telah terjadi sebelum aku bertemu dengannya pada malam itu.
Archie mengangkat tubuhnya dari hadapan ku dengan pandangan murka. Dia mengerang dengan menyatukan kedua rahangnya terantuk sehingga terdengar suara gertakan kedua giginya yang saling bergesekan, kedua tangannya mengepal dengan kuat seolah sedang menahan amarah yang teramat dalam di dada nya.
Tanpa mengatakan apapun dia langsung menutup tubuh ku dengan baju seadanya dan membuka pintu mobil dengan bertelanjang dada, kemudian menutup pintu mobil tersebut dengan kencang.
"Archie!!" Teriakku dari dalam mobil sambil menepuk-nepuk kaca mobil yang tertutup rapat."Archie!!" Panggilku lagi berharap dia mendengar kan ku dan berbalik.
Namun dia langsung berlari menuju jalan raya dan mengabaikan teriakan ku.
Aku tak bisa mengejarnya dengan keadaan seperti ini, lagi pula memakaikan pakaian ini satu persatu akan memakan waktu dan tak kan bisa mengejarnya.
"Hendri?" Pekik ku kencang di dalam panggilan telepon sembari mengenakan baju ku satu persatu.
"Yah Nyonya!" Jawabnya.
"Cepat temui aku di parkiran rumah sakit!" Ucapku dengan nada panik.
Belum sampai 5 menit, Hendri datang dengan tergopoh menghampiri ku di dalam mobil.
"Masuklah!" Ucapku sambil menyuruhnya untuk mengambil alih kemudi.
Aku menjelaskan segalanya yang telah terjadi saat ini, sampai menjelaskan semua yang telah terjadi pada malam itu kepada Hendri.
Dengan wajah kaget dan tatapan dingin khasnya, Hendri langsung melajukan mobil Archie tanpa mengatakan apa pun kepadaku.
"Ini gawat!" Ucap Hendri di sela mengemudi dengan kecepatan penuh sambil dengan lihai menyalip mobil yang terbentang di badan jalanan.
"Seperti yang ku khawatir kan, orang-orang itu sudah bergerak duluan mensabotase masalah internal Tuan!" Tukas Hendri bergumam sendiri dengan pandangan tak teralihkan dari badan jalan.
"Maksudmu, seseorang sudah merencanakan semua ini untuk menghacurkan pernikahan kami?" Tanyaku mencoba memahami perkataan Hendri.
"Nyonya!" Serunya melirikku dari kaca spion. "Apa pun yang terjadi kedepannya. Percayalah, Tuan akan selalu berada di samping Nyonya, bagaimana pun kondisi dan situasinya, Tuan akan selalu.."
__ADS_1
Ccckkkitt.....
Belum selesai Hendri melanjutkan pembicaraan nya, dengan tiba-tiba Hendri menghentikan laju kendaraan nya dan mendongokan tatapan nya kesamping badan jalan.
Mataku langsung terbelalak saat mengikuti tatapan Hendri yang fokus di ujung trotoar jalanan.
Aku mendapati dua pemuda yang sedang baku hantam dengan aura mengerikan dari salah satu dari mereka. Namun sejurus kemudian aku langsung tersentak saat mengetahui dua orang pemuda yang sedang baku hantam tersebut adalah orang yang ku kenal.
"Nyonya!" Teriak Hendri yang tak bisa menghentikan ku yang langsung keluar dari mobil.
Aku berlari menghampiri Archie yang sedang menghajar Dimas sampai babak belur, yang di saksikan oleh pengguna jalan yang melintas.
"Archie, berhenti. Ku bilang berhenti?" Pekik ku sambil berdiri di hadapan punggung nya, menangis terisak melihat wajah Dimas yang babak belur dengan bercucuran darah dari lubang hidung dan mulutnya.
Tapi dia tak menghiraukan ku dan terus menghabisi Dimas tanpa ampun.
Aku mengerti ini bukanlah sesuatu yang bisa ku tangani sendiri, bisa saja jika aku langsung melerai peraduan fisik yang sedang terjadi di antara mereka, tapi rasanya mustahil melihat keadaan Archie saat ini.
"Archie!!" Pekik ku kencang berusaha menarik perhatian nya agar berhenti memukuli Dimas yang hampir pinsan.
Datanglah Hendri dari arah punggung ku, tanpa ba-bi-bu Hendri langsung menangkap leher Archie dari belakang dan menghempaskan nya ke jalanan trotoar sampai terkapar.
"Hentikan!" Lanjutnya sambil memegangi Leher Archie dengan posisi menyergap dan mencekik leher lawan.
Archie yang sudah terkapar di jalan trotoar dengan nafas tersengal, hanya bisa menatap tertegun wajah dingin Hendri yang terlihat mengerikan.
************
Archie memandangi ku sambil mengurut pelipisnya saat tiba-tiba aku langsung duduk di hadapan Dimas yang terkapar tak sadarkan diri di ruang rawat inap.
Sesaat sebelum Hendri datang, saat itu juga Dimas pinsan dan jatuh menghantam tugu jalan yang berada tak jauh dari tempat nya berdiri, sehingga dia langsung tak sadarkan diri sebelum menuju ke rumah sakit.
Luka yang di derita oleh Dimas cukup parah, dia bisa saja kehilangan nyawanya jika Hendri tak datang bertindak untuk menghentikan Archie.
"Anya?" Panggil Archie.
Aku tak menghiraukan nya dan duduk mematung menatap Dimas yang terluka parah di balut oleh perban di sana sini.
__ADS_1
Archie berdiri dari kursinya dan menghampiri ku.
"Ayo pulang!!" Pintanya merangkulku dengan tangan kasarnya yang masih membekas banyak darah dan luka lebam.
Tapi aku diam saja, dan enggan untuk mengikutinya.
Dia memaksa ku untuk berdiri dengan setengah menyeret tubuhku.
*************
"Gua udah denger semuanya dari Hendri!" Ucapnya sebelum aku berjalan menyusuri anak tangga menuju kamar ku.
Dia mendekat ke arahku dan berdiri menghadap punggung ku.
"Anya?" Panggilnya sambil memegang kedua lengan ku dan membalik tubuhku agar menghadap kerahnya.
Kemudian dengan lembut dia menyibak rambut ku yang panjang dan menyentuh wajahku dengan tangannya yang masih berbau anyir bekas darah.
"Archie, aku.."
"Gua bakal jadi ayah dari bayi yang lu kandung!" Ucapnya.
DEG...
"Apa?" Tanyaku menyingkirkan tangannya yang masih menempel di wajahku.
"Gua bakal tanggung jawab." Ujarnya menempel kan kembali tangannya di wajahku."Gua bakal jadi ayah dari bayi yang lagi lu kandung!"
Mendengar penuturan nya barusan membuatku tak bisa lagi menahan air mata yang susah payah ku sembunyikan dari hadapannya.
Dengan terisak aku menyingkirkan tangannya berlahan dari wajahku.
"Tapi..." Ujar ku dengan suara bergetar. "Kamu bukan ayah dari anak ini!" Sambungku diiringi tangisan yang pecah sampai air mataku membasahi tangannya yang beralih memegang leherku.
"Gua gak peduli!" Jawabnya dengan yakin tanpa ada sedikit pun keraguan dari kata-katanya.
"Gua gak perduli siapapun ayah dari bayi yang lagi lu kandung, gua gak perduli dengan apa yang terjadi kedepannya, lu tetap istri gua!" Ucapnya mencengkeram leherku dengan lembut.
__ADS_1
"Archiee..." Panggil ku lirih sambil mengusap punggung tangannya yang berada di leher ku. "Kamu bukan ayah bayi ini!!"
"Aku gak bisa!!" Ucap ku terkulai lemas memegang penopang tangga di sebelah ku.