Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Perubahan Besar


__ADS_3

"Terimakasih sudah mengantarku Hendri," Ucapku sambil melambaikan tangan kepadanya melewati trotoar.


"Semoga harimu menyenangkan nyonya!" Balas Hendri dengan membungkukan tubuhnya.


Ku tatap jam tanganku untuk memastikan janji temuku tak mengalami keterlambatan. Sudah lama sekali sejak terakhir aku dan Hendri hampir saja membunuhnya, hanya untuk memastikan dia cowok tulen apa tidak. Rasa bersalahku hampir membuatku tak ingin menemuinya lagi, tapi lain kali aku harus mengatakan semuanya dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


Ddrrttt....ddrrrtt.....


Libiru menelponku saat kaki ku baru saja melangkah memasuki mall, "Hallo, kau ada dimana?" Tanyaku celingak celinguk mencari keberadaannya.


"Yah, Anya!" Jawabnya dengan nada lembut.


"Aku sudah masuk ke dalam, kau ada di dimana?" Tanyaku lagi dan menyusuri tempat itu.


"Tunggu sebentar, kamu yang memakai dress bunga-bunga warna navy dan memakai bucket hat, bukan?" Tanyanya.


"Bener banget, lah kamunya dimana?"


"Aku, di hadapanmu!" Jawabnya.


Sejurus kemudian ku pandangi seseorang yang berjalan ke arahku.


"Di hadapaa...an ku!" Ujar ku yang tak mampu lagi berkata-kata, "haaaahh....!!!!"


Seseorang mendekat kearah ku dengan style yang amat sangat berkelas, dengan rambut berpomade di sisir rapi kebelakang, coat coklat panjang mahal sampai ke lutut, sepatu pancus mengkilat, baju casual rajut hitam berkerah tinggi dengan scraft abu-abu polos yang di biarkan menggantung di lehernya.


Semua orang memandang takjub ke arahnya, bahkan tak sedikit pengunjung wanita yang mengambil fotonya dengan terang-terangan.


Apa aku salah lihat, apa mataku sudah rusak. Benarkah orang yang sedang berjalan ke arah ku ini adalah..


"Li-Libiru!" Panggilku sambil terbata-bata memanggilnya.


Apakah dia salah minum obat. Kenapa penampilannya sangat mencolok, memangnya dia ingin menghadiri peragaan busana. Bahkan di setiap acara apa pun Libiru hanya memakai kaus casual lengan pendek berkerah v-neck, dan juga jeans yang di gulung melalui mata kaki. Lalu, hari ini kenapa dia berpenampilan berbeda dari biasanya.


"Bu-buset!!" Pekikku sembari nyengir-nyengir mengelilinginya. "Ini beneran kamu bir." Ucapku yang masih tak percaya dengan mataku.


Libiru hanya tersenyum simpul mengiyakan dan memiringkan kepalanya menatapku. "Anya ya?" Jawabnya seperti orang bodoh.


"Sialan, mentang-mentang penampilan nya udah keren, malah pura-pura belagu kek gak kenal." Cerca ku kesal dan membogem lengan kanannya.


Eh, keras. Lengannya keras seperti punya otot yang kuat di balik tubuhnya. Bahkan selama ini aku mengira Libiru hanya sibuk rebahan tanpa memperhatikan tubuhnya sendiri.


"Hahahahahaha! Sorry, aku cuman becanda aja kok." Jawabnya menggodaku.


"Kok aku sih!" Tanyaku.

__ADS_1


Bukan hanya penampilannya saja yang berubah, logat dan perkataanya juga berubah. Libiru sering menggunakan panggilan lu gua dalam percakapan sehari-hari. Apa dia sedang berusaha menjadi laki-laki tulen dengan merombak semua penampilan dan kepribadiannya.


Lagi-lagi Libiru hanya tersenyum simpul menanggapi perkataanku dan berprilaku cool seperti orang yang baru saja ku kenal.


"Kita mau kemana?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Aku menatapnya dengan teliti. Apa dia sudah melupakan janji yang kami buat kemarin. Ku keluarkan voucer diskon outlet bude yang unlimited hanya hari ini, semua produk skincare dari paling mahal dan paling murah sedang diskon besar-besaran hingga 70%.


"Eeaahhh...skincare!!" Ucapnya memandangiku dan juga voucer keramat itu dengan pandangan heran.


"Apa-apaan ekspresi mu itu." Cercaku kesal dan menjitak kepalanya, "kau bisa saja terlihat keren dan merubah kepribadian, tapi jangan melupakan siapa dirimu yang di juluki sebagai ratu dengan kulit mulus bagai sutra dan sebening kristal, kau bilang kulit cantik adalah harga dirimu." Ucapku ber api-api seperti sedang memotivasi orang yang hilang ingatan.


"Benarkah!" Balasnya menanggapi perkataanku dengan senyum mengejek.


"Sial, kenapa kau jadi aneh setelah penampilanmu berubah." Omelku sambil berjalan meninggalkannya.


"Kau cantik!!"


Sontak aku menghentikan langkahku di saat dia mengatakan itu di punggungku.


"Kau bilang apa?" Tanyaku sedikit miliriknya yang berdiri di hadapan punggungku.


"Ku bilang," Libiru mendekat ke sisi kananku membungkukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kau cantik.!!" Ucapnya dengan pelan.


Ku tatap balik dirinya yang masih membungkukan tubuhnya. Ini perasaanku saja atau memang Libiru bertambah tinggi.


"Kau pikir dengan hanya mendengar pujianmu, aku akan memberikan voucer ku, hah..!!" Pekikku ditengah keramaian bermain smeckdown dengannya.


"Maaf, maaf aku tak kan melakukannya lagi." Rengeknya dengan spontan, dan memukul-mukul lengan kiriku.


**************


"Ini tak seperti dirimu?" Ucapku heran sambil menyeruput minumanku, "Aku kenal kau dari siapapun, biasanya kau akan menawar sampai bude lela mencret-mencret!!"


Libiru hanya menanggapi pertanyaanku dengan senyuman dan menatap tumpukan tas karton yang berisi hampir setengah dari produk yang di jual di tempat itu.


"Yah, ku pikir mereka memberikan diskon karena sedang promo. Tapi sebenarnya mereka memberikan diskon karena sedang mencoba yang terbaik untuk pelanggannya, bukanya tidak baik menawar barang dengan kualitas yang sudah di akui penggunanya, di tawar lagi dengan harga murah. Aku menghargai setiap usaha dan kerja keras orang-orang yang sudah melakukan yang terbaik,maka dari itu meskipun tidak sedang diskon pun, aku akan membeli barang-barang ini dengan harga yang mereka tawarkan."


Jleeebbb....


Apa ini, benar-benar bukan seperti Libiru yang biasanya, kemana dia yang selalu terkesan ceroboh, bego, gak ngotak dan kekanak-kanakan.


"Apa-apaan nada serius mu itu, bahkan kau memesan kopi hitam dengan sedikit gula. Bukannya kau suka boba brown sugar dengan ekstrak creamy." Balasku dengan nada sewot.


"Kau sangat memperhatikan ku rupanya." Balas Libiru menopang dagunya dengan tangannya sambil menatapku setengah memberikan senyum lembut.

__ADS_1


Ku tatapi Libiru dengan detail, lalu semenit kemudian aku tersadar dengan sesuatu dan mengangkat kepalaku dengan tegak.


"Libiru, jangan-jangan kau ini..."


Ddrrrtt....ddrrttt.....


HP ku menerima panggilan masuk dari seseorang, dan setelah ku buka ternyata itu panggilan dari Archie.


Buru-buru aku meminta Libiru untuk menungguku dan mengangkat telponnya di suatu tempat.


"Mau sampai kapan lu jalan mulu ama tu bencong." Ucap Archie dengan nada gelisah. "Gua udah nungguin lu dari 40 detik yang lalu, udah tau gua benci banget nunggu lama."


40 detik menunggu lama katanya. Aku sedang berhadapan dengan orang kikuk dengan kepribadian dangkal.


"Bentar lagi makan malem bareng colega gua loh, lu ga mau kan bikin gua keliatan gak berwibawa." Jelasnya menodongkan senjata tajam padaku agar secepatnya mengakhiri kebersamaanku dengan Libiru.


"As you wish my lord!" Ucapku sambil mengakhiri panggilan teleponku. Sudah ku duga, Archie si bule laknat itu tak kan semena-mena membiarkanku pergi jalan-jalan dengan bebas apalagi dia itu adalah teman lelaki.


Dengan langkah gontai, ku hampiri Libiru yang sedang duduk dengan elegan menghadap secangkir kopi hitam.


"Maaf ya bir, kayaknya aku harus balik sekarang." Ucapku dengan malas.


"Sudah mau pergi." Ucapnya dengan tak rela.


"Aaaaagggghhh....padahal, sudah lama kita berdua tidak jalan-jalan seperti ini. Kita belum melewati setengah hari dari acara yang kita sepakati kemarin."Pekik ku kekanak-kanakan.


"Ya sudah," Ucapnya sambil mengusap kepalaku. "Lain kali saja ya!"


***************


"Lu lagi mikirin apaan?" Tanya Archie yang tak tahan melihatku merenung dan tak bicara sepatah katapun padanya.


"Hah...enggak," Jawabku menyangkal pertanyaannya.


Bukan saja sekedar merubah penampilan dan sikap, seolah tadi itu. Saat Libiru mendaratkan telapak tangannya menyentuh kepalaku, aku merasa kalau Libiru adalah orang yang berbeda, atau mungkin karena perasaan ku saja, saat terlalu kaget dengan perubahannya.


Brruuukkk....


Tiba-tiba Archie merebahkan tubuhnya dan berbaring di atas pangkuanku,


"Miiiaaawwwww...." Ucapnya sembari mengusap-usap matanya sendiri seperti seekor kucing yang manja.


"Haaaaa...Archie apa yang kau.."


"Cepat usap pala gua, tar gua cakar!" Dia bermaksud menghiburku dengan berpura-pura menjadi seekor kucing. "Buruan, kalau gak mau miaw ***** ni!"

__ADS_1


"Hahahaha, apa sih," Balasku sambil tertawa geli dan mulai membelai-belai rambutnya dengan lembut. "Mana ada kucing mesum kayak kamu."


Archie tak membalas perkataanku dan menikmati belaian tanganku sambil terpejam.


__ADS_2