Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kado Nikahan


__ADS_3

Keesokan harinya, kami berangkat dari Ibukota ke kota Surabaya dengan menggunakan pesawat pribadi dan menempuh perjalan yang memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit.


Ini merupakan perjalanan pertama ku bersamanya selama hampir 7 bulan menikah, terasa aneh karena aku tak pernah menyangka kalau dia akan langsung memperkenalkan ku kepada rekan bisnisnya, sekaligus menunjukkan keberadaanku kepada semua orang kalau aku adalah istrinya.


Plaakk...


Aku menampar pipiku sendiri karena berfikir kalau sedang tidak bermimpi.


"Ngapain sih?" Tanya Archie yang memperhatikan kan ku bertingkat aneh di hadapannya, namun hanya sekilas karena tatapannya langsung teralihkan ke layar monitor dan kembali berkutik di depan laptop.


"Enggak!" Jawab ku yang menyadari kalau aku sudah terbawa suasana.


"Sebelum ke hotel kita mampir beli kado pernikahan dulu!" Ujarnya yang fokus ke monitor.


"Kado pernikahan!"


"Gak mungkin kita pergi ke kondangan orang tanpa buah tangan kan." Jawabnya.


Aku melamun sejenak dan melihat pemandangan dari atas langit yang memperlihatkan awan putih yang berderet seperti kapas tercerai berai yang sengaja di terbang kan oleh angin.


Pernikahan! Bukankah kami juga sudah menikah, tapi selama itu aku tidak pernah mendapat ucapan selamat dari rekan-rekan ku maupun dari teman-teman ku.


Rasanya hambar, seperti masakan yang tak di bumbui, atau seperti bertelanjang kaki di hamparan salju yang dingin.


Seolah aku merasa, kalau aku tak pernah menjadi seorang istri dari siapapun!


Terasa kosong, hampa, di sembunyikan, tak terlihat, tak di anggap, tak ada artinya, tak seperti mencerminkan diriku berharga di mata orang yang mencintaiku.


Aku mendesah menghembuskan napas panjang yang tertahan di dadaku setelah memikirkan semua yang selama ini sudah terjadi.


Di tambah lagi masalah yang sedang berlangsung saat ini, aku masih berfikir berulangkali untuk mengatakan apa yang terjadi padaku 2 minggu yang lalu, dan juga apa yang sudah ku lihat di hotel waktu itu. Seakan kejadian yang terjadi padaku dalam satu malam tersebut, saling terikat dan sudah terencana untuk membawa ku ke arah malapetaka.


Archie berhenti berkutik di depan laptopnya dan beralih menatapku yang sedang melamun, memandangi jejeran awan yang seperti menari di sapu oleh sayap pesawat.


Dia melepas kacamata yang masih melekat, kemudian menyimpan laptopnya di laci yang terdapat di bawah kursi penumpang dan setelah itu membuka pembatas yang berada di antara kami berdua.

__ADS_1


"Uuummmhh....!!"


Tiba-tiba Archie langsung merengkuh tubuhku serta mendarat kan ciuman panas yang mendominasi perlakuannya. Selama ciuman itu berlangsung, dia langsung mengubah posisi senderan kursi ku menjadi posisi tiduran, sehingga dia berhasil menautkan tubuhku menjadi satu dengan tubuhnya.


Ciumannya semakin lama semakin dalam, sehingga aku harus berusaha menahan intro pergerakan nya hanya untuk sekedar mengendalikan diri agar tak kehabisan nafas.


Kemudian tanpa ku sadari tangannya sudah beralih menyentuh paha atasku, sampai dress selutut yang ku gunakan tersibak sampai pangkal paha.


Biasanya aku akan terkejut dan menolaknya yang sudah di ambang batas garis yang ku buat.


Tetapi saat membayangkan apa yang sudah pernah aku lakukan di kamar lelaki lain tanpa memperhatikan kesadaranku, kali ini aku ingin Archie cepat-cepat melakukannya padaku dan menghapuskan semua bayangan yang ada di kepalaku.


Aku berusaha lebih agresif lagi, agar dia secepatnya melakukan penyatuannya ini, namun baru saja hanya sekedar membalas ciumannya yang terkesan menggebu. Sesuatu di dalam perut ku tiba-tiba bergejolak dan langsung melepaskan tubuhnya yang masih beraktivitas menelanku bulat-bulat.


Aku berlari menuju toilet dan langsung memuntahkan semua isi perutku, di iringi pekikan suara tenggorokan menjerit dengan makanan yang keluar dengan terpaksa dari dalam perutku.


***********


"Kek nya mabok kendaraan lu masih belum ilang!" Ucap Archie sambil berjalan mensejajarkan posisi tubuhku agar merebahkan kepalaku untuk bersender di bahunya.


Hendri terlihat sudah berada di depan dan menunggu kedatangan kami.


Setelah Archie menyatakan untuk menghadiri acara resepsi dari rekan kerjanya yang di gelar di Surabaya, dengan lugas Hendri langsung terbang ke Surabaya pada hari itu juga dan mengurusi segala keperluan dan perlengkapan yang di suruh oleh Tuan nya siapkan.


"Silahkan masuk!" Ucap Hendri sambil membukakan kami berdua pintu mobilnya.


"Ini Nyonya!" Ucap Hendri sambil memberikanku obat pereda mabuk beserta air mineral.


"Biasanya aku gak pernah mabuk kalau lagi berpergian!" Ucapku sambil terus mendekap mulutku sendiri dengan sapu tangan.


"Ahh masak sih!" Jawab Archie asal-asalan sambil terus fokus pada gawainya.


Dia terlihat sedang berkonsetrasi dengan sesuatu, dan fokusnya berpusat di dalam gawai nya.


"Nah tempatnya gak jauh dari sini nih!" Ujar Archie menepuk bahu Hendri, mengarahkan untuk memelankan laju kendaraan nya.

__ADS_1


Sampailah kami di sebuah toko yang berdinding kaca transparan dengan aneka pernak-pernik yang sangat asing di mata ku, lebih tepatnya sangat tak biasa.


Di pintu masuk, kami bertiga di sambut oleh patung silikon yang mirip dengan manusia bahkan sangat mirip, dari detail wajah, postur tubuh, warna kulit, serta rambutnya. Namun boneka mirip manusia ini sangat aneh, karena posisi posturnya yang tak biasa.


Tubuhnya lebih erotis dari patung silikon kebanyakan, posisi duduknya yang pun ambigu.


Dan setelah ku lihat secara detail seisi toko ini, beberapa detik kemudian barulah aku menyadari, kalau kami bertiga sedang mendatangi toko yang menjual berbagai macam pernak-pernik mainan persyahwatan.


Toko ini memajang berbagai jenis **** toys, berupa p*nis buatan dari ukuran yang sedang, besar, sedikit besar, sangat besar, yang berwarna-warni dengan bahan yang berbeda-beda dan juga bentuk yang beraneka ragam. serta beberapa varian dari jenis v*gina buatan dari yang berbentuk menyerupai asli, tabung, melingkar, setengah tubuh manusia, sampai menyerupai yang asli seperti yang terlihat saat berada di pintu masuk.


Astaga!!


Apa yang Archie pikirkan, kenapa dia malah membawaku ke toko yang menjual berbagai macam benda absurd seperti ini.


"Yang ini bagus!!" Celetuk Archie menunjuk salah satu set peralatan bermain seperti borgol, cambuk, tali pengikat, pakaian dalam wanita dan pria bercorak macan serta berbagai aksesoris seperti bandana bertelinga kucing, dan lampu led.


Hendri terlihat berfikir sambil menautkan telapak tangan di dagunya.


"Saya sependapat tuan. Akan lebih bagus jika pakaian dalamnya berwarna abu-abu!" Respon Hendri berfikir keras.


"Napa abu-abu?" Tanya Archie.


"Abu-abu menandakan netralnya sifat manusia, jika bisa di pasangkan dalam bentuk pergumulan maka akan semakin hanyut dalam permainan!" Jawab Hendri membara.


Astaghfirullah..apa yang sedang mereka berdua ini bicarakan.


"Ok udah di putusin. Kita ambil yang cancutnya warna abu-abu sebagai kado pernikahan!" Pinta Archie pada pelayan toko.


"Haahhh!" Pekik ku nyaring sehingga membuat Archie dan Hendri berbarengan melihat ke arah ku. "Ka-kalian beli ini buat kado pernikahan!" Ucapku dengan mata melotot tidak percaya.


"Loh, di negara asal gua. yang kek gini tuh lagi trend banget buat di jadiin kado pernikahan!!" Jawab Archie santai sambil menunjukkan padaku salah satu chat berbahasa jepang dengan salah satu teman lelakinya yang mengirim gambar-gambar rekomendasi kado pernikahan yang semuanya tentang **** toys.


"Ya ampun!" Ucapku sambil memegangi pelipisku sendiri.


"Terserah deh, yang penting pas lagi nyerahin kadonya, aku gak ikut!" Gumamku sendiri sambil beranjak pergi menuju pintu keluar.

__ADS_1


__ADS_2