Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Bunga Tanpa Kelopak End


__ADS_3

Seisi ruangan ini membeku dalam ketegangan, jika saja benar orang yang ada di depan pintu ini merupakan seseorang mata-mata yang mengetahui keberadaan kami, maka habislah kami semua karena tak lama lagi sesuatu yang lebih besar akan mengincar kepala kami seperti kemarin.


Archie berdiri di depanku, Dafa bersembunyi di kolong meja, sedangkan Hendri sudah siap menghabisi nyawa orang itu.


Ceklek...


Pintu pun terbuka, tanpa mengambil tempo Hendri langsung menodong tukang pizza itu tepat di kepalanya.


"siapa kau?" Tanya Hendri dingin.


Dia tak menjawab. Kami semua waspada dalam saat-saat terakhir.


"Ku tanya lagi siapa kau? Siapa yang mengirimmu?" Desak Hendri.


Namun dia diam saja secara misterius.


"Bicara atau kepalamu ku ledakkan?" Hendri terus memberikan tekanan.


Tak lama kemudian terdengar suara kekehan yang mengganggu, lalu kurir pizza itu mengangkat pandangannya.


"Hendri, kenapa kau tegang begitu?" Ujar lelaki itu.


Kami serentak menatap nya di balik topi coklat yang menutupi wajahnya.


"Hai!!" Ujar Sakurai tersenyum hangat dan memberi salam kepada kami semua, sedangkan dia masih di todong shotgun dari Hendri.


"Mas Eko!!" Dafa berlari berjingkrak-jingkrak dari kolong meja, dan langsung menyalami Sakurai bak bapaknya yang habis berangkat haji. "Akhirnya lu balik juga," Dafa hampir menangis haru, lalu dia melirik Archie dengan tatapan kesal, " Abang lu noh sakit saraf gegara lu!!"


Archie melotot ke arah Dafa, tapi Dafa tak perduli, dia terus menempel pada Sakurai.


Sakurai berlahan masuk dan mendekati Archie, dengan perasaan tak karuan Archie juga mendekat kearahnya, namun dapat terbaca oleh semua orang kalau mereka berdua tak nyaman berada di situasi ini.


"Jadi lu udah berubah profesi jadi pengantar pizza, bagus juga sih buat lu, cocok banget jadi kacung!!"


Kami semua tersentak. Archie, untuk pertama kali setelah kejadian itu, dia malah mengolok-olok Sakurai dan menaikan pamor harga diri nya setelah hari itu dia kalah tanpa dapat melawan.


Sakurai tak mengidahkan, dia masih saja tersenyum ramah sambil menjulurkan 2 kotak pizza ke hadapan kakaknya.


"Aku membelinya tanpa alasan, karena teringat akan kakakku yang hampir mati kelaparan lantaran memikirkan ku!!" Balas Sakurai.

__ADS_1


Kami semua tambah syok, benar-benar perdebatan kusir yang menguras energi bagi yang menyaksikannya.


"Cih, buang aja. Gua ga butuh apa-apa dari lu!!" Archie masih saja meremehkan, dan ingin beranjak meninggalkan tempat itu.


"Kak, apa kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Cegat Sakurai, hingga Archie melakukan gerakan frezee di ujung lorong.


Aku dan Hendri saling menatap satu sama lain, dan sinyal kami berdua sama yaitu harus melakukan sesuatu agar mereka berdua dapat berbicara dengan baik.


"Nyonya, bisa bantu aku sebentar. Sepertinya aku kurang paham bagaimana cara memasak sayur lodeh!!" Ucap Hendri sembari menyeretku dan Dafa meninggalkan mereka berdua.


"woi, kenapa gua juga ikut sih!!" Dafa protes.


"Udah diem aja!!" Ucapku berbisik di dekatnya.


Tak jauh dari koridor, aku langsung menarik tangan Hendri dan Dafa, mengendap-endap dan berlutut untuk mengintip apa yang mereka lakukan. Bukannya bagus kalau kami semua dapat mendengarkan apa yang ingin mereka berdua katakan.


"Bagaimana kabar kakak!?" Sakurai dengan canggung membuka percakapan.


"Emangnya gua abis pergi jauh selama bertahun-tahun, ampe nanya kabar gua segala!" Archie tetap tak ingin mengakui dirinya tak berdaya.


"Aku tiga hari sampai tak makan loh, tapi untungnya ada kakak ipar datang dan memasak untukku, bahkan kakak ipar membawakan permen kesukaan ku. Hahahaha..beruntung sekali kan aku!?" Sakurai balik memprovokasi Archie.


"Kakak ipar bahkan menuangkan air minum untukku loh!?"


Ahhh...sialan, apa yang Sakurai pikirkan sampai menceritakan itu semua, bukannya dia sudah tau sifat Archie yang mudah cemburu secara membabi buta.


"Menuangkan minuman, katamu?" Archie marah karena selama ini dia selalu menuangkan minumannya sendiri.


"Ahh, begitu rasanya kalau segala sesuatu ternyata di lakukan oleh seseorang yang kita sukai, aku merasa sudah 100 tahun hidup bahagia di dunia ini!!" Sakurai mangkin menjadi.


"Gua bunuh lu, keparat!!" Archie meradang.


Tak lama kemudian mereka saling melayangkan benda-benda apa pun yang ada di dekat mereka, di iringi oleh raungan Archie yang marah dan gelak tawa Sakurai yang bahagia. Mereka berdua terlihat menikmati kerusuhan ini dalam perbedaan harmoni.


"Ru-rumahku!!" Keluh Hendri menangisi rumahnya yang amat dia sayangi dan rawat ini.


"Hossh..hoossshh..hooossshh.."


Mereka berhenti setelah seisi rumah itu hampir hancur setengahnya, seperti ada 2 badai topan di tubuh kedua anak nakal itu.

__ADS_1


"Sampai akhirpun, kakak... hoshh.. hossh.. tak bisa menyentuhku!!" Ucap Sakurai yang terkapar di atas tumpukan barang yang sudah menjadi rongsokan.


"Jangan sombong lu bocah hoosh... hoosshh.. gua bakalan bunuh lu.!!" Balas Archie yang sama terkaparnya di atas bantal sofa yang porak-poranda.


"Kakak bahkan tak bisa menyentuh ku barang sehelai rambutpun.. hooshh... hooshh.."


"Gua bisa lenyapin lu sekarang kalau gua mau, hooshh.. hosshh..!!"


"Kakak ternyata sangat menyayangiku yah..!!"


"Cih.."


"Kakak, boleh kah aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Terserah lu aja?" Jawab Archie pura-pura acuh.


"Kak, apa aku sekarang sudah menjadi anak yang baik, yang seperti ibuku inginkan?!"


Archie terdiam cukup lama dan memandangi langit-langit berwarna putih dengan hiasan lampu kristal lancip.


"Entahlah, mungkin aja ibu lu di sana.." Archie menunjuk langit-langit. "Membenci anaknya karena berani menggoda kakak iparnya sendiri!!" Jawabannya sama sekali ga nyambung.


"Saat ku pikir aku hanya sendiri, aku hanya memikirkan balas dendam sebagai tujuan hidupku!!" Ujar Sakurai dalam irama napasnya yang masih belum terpulihkan. "Tapi setelah kakak datang, hidupku berubah."


Archie diam saja dan terus memandangi langit-langit.


"Maafkan aku!" Ucap Sakurai. "Aku marah karena kakak pergi tanpa aku, dan melakukan semuanya sendiri lalu membahayakan nyawa kakak ipar, itu membuatku marah dan tanpa ku sadari aku sudah berbuat sejauh itu."


Archie masih tetap saja diam.


"Jika kakak melakukan hal seperti itu lagi, aku akan lebih marah dari ini loh?!" Ancam Sakurai.


"Gua bakal cekik lu duluan tauk!!" Balas Archie mengacungkan telapak tangannya ke langit seolah sedang mencekik.


Lama mereka terdiam dalam irama napas kelelahan. Kupu-kupu kuning masuk melewati jendela yang pecah dan terbang di atas kepala mereka dengan gerakan memutar. Seakan mengabarkan kepada dunia dan lapisan langit ketujuh jikalau dua manusia itu, yang amat keras pendiriannya dan juga keras pula wataknya, adalah dua manusia yang saling melengkapi bagai sekuntum bunga dengan kelopaknya.


Sepertinya sudah berakhir, seiring dengan hancurnya setengah dari seisi rumah Hendri, berakhir juga pertengkaran sengit di antara mereka. Aku sudah melakukannya dengan baik, inilah imbalan manis yang ku dapat.


Namun tak semuanya bahagia, tak sebanding dengan pemilik rumah ini.

__ADS_1


"Apa salahku!?" Hendri gemetar sembari berlutut saat melihat sendiri rumahnya yang hancur seperti di terjang tsunami.


__ADS_2