Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Pantas


__ADS_3

"Aku benci dia!"


"Memangnya kenapa?" Tanyaku.


Shin tambah melengus sebal dan membusungkan dadanya seolah ingin mengumpat.


"Dia itu menyebalkan, manusia paling tak tahu diri, belagu, orang gila, pembuat onar, dan super psikopat." Ujar Shin dengan satu tempo hentakan napas seperti melantunkan beat box. "Dan kau tau apa yang lebih parah?"


"Apa?" Aku penasaran.


"Dia berpura-pura pacaran dengan Sayang selama 7 tahun untuk mengelabuhi para gadis-gadis yang ingin mendekatinya!" Jawab Shin.


"Heh!" Aku kaget, "jadi rumor itu benar, kalau dia itu g*y?"


"Dia melakukan itu bukan tanpa alasan?" Sambung Mia masuk di antara percakapan kami.


"Alasan?" Tanyaku, "memangnya ada alasan lain?"


"Ada!" Balas Mia sambil menghembuskan asap rokoknya. "Dia itu membenci perempuan, bahkan saking bencinya dia tak bisa menyentuh mereka, sekalipun hanya berpegangan tangan!"


"Tapi yang lebih tak masuk akalnya lagi, si sinting itu punya fetish aneh!" Sambung Shin.


"Fetish katamu?" Aku penasaran.


"Dia itu fetish tangisan perempuan, dan rela melakukan apa saja untuk membuat wanita yang mendekatinya menangis!"


"Fetish tangisan perempuan!" Ujarku dengan nada terkejut, "itu terdengar seperti tindakan kriminal."


"Iya kan. Kau juga berpendapat seperti itu saat pertama kali mendengarnya. Tapi.." Shin menjeda perkataannya. "Sebenarnya dulu dia tak begitu!"


Shin melirikku, tapi tak mengatakan apapun setelahnya. Dia diam untuk beberapa saat, lalu mengatakan semua yang dia ketahui tentang Archie Yuaga.


Aku mendengarkan semuanya. Tentang Penyakit mental yang mengganggu kejiwaannya setelah dia pulang berlibur dari indonesia dan mulai mengidap fetish aneh yang menyakiti perempuan untuk memuaskan hasrat nya. Dan akhirnya aku tahu kenapa dia berpura-pura pacaran dengan Rail Algio De Sayang yang punya penampilan fisik seperti perempuan. Dan yang mengejutkan ternyata Archie juga punya masalah yang buruk soal pertemanan.


Lalu latar belakang keluarganya, sosok Archie Yuaga kecil yang kesepian, dan masalah percintaannya.


Shin menjelaskan semua tentang Archie Yuaga seolah dia mengenal nya lebih dari siapapun. Tatapannya begitu mengiba, meskipun Shin enggan mengakuinya tapi penilaian orang yang mendengarkan tak pernah salah.


"Aku tadi bilang kan kalau dia tak bisa mencintai wanita lain selain dengan satu wanita dalam hidupnya!" Ujar Shin.


Aku menyimak.


"Wanita itu kau!" Tuturnya. "Dia mengatakan alasannya padaku!"


Aku terkesiap dan menaikkan kepalaku menatap Shin.


"Kemarin dia menceritakan semuanya. Tentang seorang anak perempuan yang dia temui waktu kecil di tempat berliburnya, yang membuatnya kehilangan akal hingga merenggut kewarasannya." Jelas Shin, "aku pikir dia hanya membual, tapi di saat menggabungkan semua keadaan dan juga waktu di mana terakhir kali kau hilang dan kembali di temukan. Seperti nya si sinting itu mengatakan yang sebenarnya!"


"Heh, menyebalkan!" Potong Mia tiba-tiba menyela penjelasan Shin.

__ADS_1


Mia diam setelah itu dan menghembuskan asap rokoknya lagi menatap ke langit.


"Jika dia benar-benar tak bisa hidup tanpa Sada, dan menjadi tak waras."


Mia menatapku.


"Untuk apa dia meninggalkan mu dan menikahi wanita lain, bukankah ini terdengar seperti pembodohan!" Mia menaikkan tempo nadannya.


Shin dan Mia membuang tatapan mereka seakan mengekspresikan omong kosong ini.


*************


"Pfffttt....!!"


Archie tertawa terkekeh dengan wajah babak belur, Bahkan dia tak menghiraukan sudut bibirnya yang terluka.


"A-apa nya yang lucu!" Aku marah.


Dia mengangkat kepalanya dan menatapku.


"Haah..gila!" Dia membekap wajahnya sendiri sambil nyengir. "Sekarang, lu benar-benar udah jadi bagian dari marga Tanaka!"


Dia mengubah posisi terkaparnya menjadi duduk santai.


Semua orang tambah berbisik saat Archie menggunakan bahasa indonesia saat berbicara padaku.


"Itu ga penting!" Balasku menatapnya murka, "karena apapun alasanmu. Kamu berhak mendapatkan semua ini!"


Dia berdiri dari tempatnya dan mendekatiku dengan jarak yang amat dekat.


"Sada!" Panggilnya sambil mengelap darah yang tersisa di sudut bibirnya. "Gua ga mau nyari pembenaran atas apapun yang di omongin Shin ama lu, tapi ada satu hal yang harus lu ingat."


Dia mengambil tanganku dan meletakkannya di sudut bibirnya yang terluka.


"Apapun yang lu lakuin sekarang, mau lu nikam gua pake pisau, atau bikin gua babak belur sampe mati. Semua itu pantas gua dapetin karena gua emang sampah!" Dia mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. "Ga da yang bisa nebus kesalahan gua di masa lalu. Sekalipun gua nemuin semua cewek yang pernah gua sakitin, terus minta maaf ke mereka semua satu persatu. Ga guna!"


Aku membuang muka.


"Gua ngerasa apapun yang gua lakuin buat nebus dosa-dosa gua di sama lalu, semua itu ga bakalan bisa karena terlalu fatal!"


Dia membenarkan letak telapak tanganku dan mengalihkannya untuk menyentuh wajahnya.


"Mangkanya. Sada, kalau lu ga keberatan. Hukum gua dengan apapun yang lu punya. Karena sekarang pun, gua ga bisa berenti buat ga nyakitin lu!" Bisiknya dengan suara hampir menangis.


*************


"Auuww..."


"Sebentar, jangan bergerak!" Aku mengusapkan kapas berisi alkohol di sekitar wajahnya dengan hati-hati, lalu memberikannya salep untuk meredakan luka lecet.

__ADS_1


"Lu keliatan telaten banget ngobatin orang!" Ucapnya yang sedari tadi sampai sekarang tak pernah sedetikpun beralih menatapku.


"Aku melakukannya hampir setiap hari pada Shin!" Balasku.


Dia sontak cemberut.


"Dia terus-terusan terluka tiap kali keluar dari rumah!" Sambungku.


"Apa hubungan kalian berdua sedekat itu?" Tanyanya.


"Tentu saja. Dia kan saudaraku!"


"Meskipun sekarang lu tau kalau kalian gada hubungan sedarah. Dan lu gada kaitannya sama sekali dengan mereka!?"


Aku berhenti mengoleskan obat pada lukanya, dan beralih menatap matanya.


"Iya!" Jawabku. "Meskipun mereka berdua orang asing yang tak pernah ku kenal saat ingatanku masih lengkap. Aku akan tetap menganggap mereka saudaraku, dan itu lebih baik dari pada di campakan oleh orang yang pernah ku cintai!"


Aku melanjutkan memberikan obat kepada lukanya, tapi tiba-tiba dia menghentikannya dengan memegang tanganku.


"Lu udah banyak berubah selama 3 tahun ini dengan bertemu orang-orang baru yang lu sayangin!" Ucapnya. "Tapi, gua. Gua ga sekalipun bisa berubah karena terus terjebak di masa lalu dengan semua kesalah-kesalahan gua terhadap lu."


Dia memalingkan wajahnya.


"Dan itu semua membuat gua benar-benar frustasi!"


Kemudian hening. Kami berdua saling membuang tatapan untuk beberapa saat karena perasaan canggung.


"Ahh..sepertinya aku harus pulang!" Ujarku memecah keheningan.


"Pulang?" Dia berdiri. "Lu mau balik, kita bahkan belum mulai kencan.."


"Setelah apa yang ku lakukan padamu, kau masih ingin melanjutkan kencan?" Aku menyangkal.


"Hubungannya apaan. Antara di tonjok pake tas dengan batu segepok ama kencan!?"


Dia jelas tak tahu artinya jika hal itu membuatku merasa mempermalukan diri sendiri.


"Apa kau tidak merasa kalau aku sudah melakukan hal buruk padamu di depan semua orang?"


Dia menggeleng. "Gak. Bukannya lu bilang gua pantes dapetin itu!"


Aku membekap mataku sendiri karena sudah kehabisan kata-kata mendapati reaksinya. Dan seperti yang pernah Shin bilang padaku, Archie memang orang sinting yang tak bisa membedakan antara hal normal dan tidak normal yang harus di lakukan di muka publik, karena dari dulu dia memang sudah terbiasa berbuat seenaknya.


"Jadi gimana.."


Dia mendekat sampai bayangan tubuhnya menutupi sinar lampu.


"Kita lanjut kencan kan!"

__ADS_1


__ADS_2