
Bruuukkk....
Aku terbangun di tengah malam saat mendengar suara berdebam di depan rumah.
Dengan gontai, ku kerahkan tubuhku melangkah terseok-seok ke luar rumah melawan rasa kantuk.
Setelah sampai di depan pintu, aku melihat pemandangan mengerikan yang selalu ku jumpai hampir setiap harinya.
"Ahh..sial. kepalaku sakit!" Ujar laki-laki urakan yang bahkan tubuhnya berbau amis darah dengan kodisi wajah penuh lebam.
"Menyingkir kau bangs*t. Sudah ku bilang jangan menyentuhku jika tak punya uang!" Balas wanita di sebelahnya yang dalam keadaan mabuk parah.
Aku menepuk jidatku sendiri sambil menggeleng.
Sialan. Tak bisakah aku hidup dengan tenang barang sehari saja bersama para bedebah-bedebah ini.
Semua bermula pada 3 tahun silam. Ingatanku terhenti pada hari dimana aku berada di rumah sakit dalam keadaan terluka parah dengan perban di mana-mana.
Tak ada yang ku ingat sama sekali, karena saat terbangun, aku hanya sendirian dengan tempat yang asing.
Mereka bilang aku adalah orang indonesia karena bahasa yang ku gunakan adalah bahasa indonesia, mereka menduga aku adalah turis asing yang berwisata ke jepang lalu mengalami kecelakaan selama di perjalanan.
Tak lama setelah aku sadar, seseorang laki-laki datang dan memelukku seolah dia mengenalku. Tapi pada saat aku bertanya tentang hubungannya dengan ku. Dia malah mengatakan kalau dia salah orang dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Padahal sangat jelas pada saat itu dia mengenalku dengan baik.
Setelah kehadirannya pada hari itu, dia tak pernah datang lagi ke rumah sakit dan membiarkan ku terkatung-katung seorang diri selama beberapa minggu.
Namun pada saat kesehatanku berangsur pulih, dan tubuhku sudah mulai dapat di gerakan. Dua orang ini muncul dan menyatakan kalau mereka mengenalku.
__ADS_1
Mereka adalah Shin Tanaka dan Mia Tanaka. Mereka berdua bersaudara.
Meskipun awalnya aku meragukan kesaksian mereka yang mengatakan jika aku adalah adik tiri mereka dari seorang janda yang di nikahi oleh ayah mereka, tapi aku tak punya pilihan lain selain percaya. Lagi pula, di tempat asing yang tak ku ketahui di tambah lagi dengan ingatanku yang menghilang. Siapa yang bisa ku andalkan selain dua orang ini.
Aku menurut dan ikut saja meskipun mencurigakan. Mereka terlihat tak seperti saudara yang baik. Tepatnya seperti para penjahat penjual ginjal, atau mucikari penjual wanita ke lelaki hidung belang.
Mereka berdua mengajariku bahasa jepang selama setengah tahun, dan mengenalkan ku kepada orang-orang di sekitar tempat tinggal mereka sebagai anggota keluarga mereka yang baru.
Mereka berdua adalah dua bersaudara dengan tipikal orang paling baik dan penyayang kepada sesama saudaranya sendiri, mereka menyayangiku meskipun aku berbeda.
Namun ada satu hal yang mengangguku selama hidup bersama mereka berdua, yaitu profesi nya.
Shin Tanaka adalah kepala preman yang memimpin wilayah ini. Tubuhnya memang kecil, kurus, tingginya hanya berbeda beberapa centi dari tinggiku, suka memakai kaus kutang, bau pomade dan jalannya agak ngangkang seperti abis di sunat. Namun baru-baru ini aku melihat anak-anak SD menirukan cara berjalannya yang seperti kepiting, dan setelahnya aku baru tahu jika jalan seperti itu melambangkan orang yang berkuasa, entah karena kebudayaannya atau ada hal lainnya. Aku masih terlalu dini untuk tahu.
Shin adalah pentolan yang sangat di takuti di wilayah ini. Di balik tubuh kurus keringnya terdapat kekuatan yang besar. Aku pernah sekali melihatnya berkelahi dengan preman pasar saat menemaniku berbelanja. Preman pasar itu tak terima saat bajunya kecipratan oleh air ikan yang ku tangkap dari baskom, preman itu menggertakku dan meminta ganti rugi. Shin yang melihatnya pun marah dan langsung menghajar preman itu seorang diri. Preman pasar itu tumbang hanya dengan beberapa kali pukulan telak di bagian vitalnya. Dan semua penghuni pasar yang melihat Shin mengalahkan pria itu hanya terdiam tanpa berani mendekat.
Mia adalah sosok saudara yang sangat menyayangi adik-adiknya, dia rela melakukan apapun untuk kami berdua. Bahkan pernah suatu hari, dia tak dapat pelanggan selama berminggu-minggu dan hanya makan sisa makanan yang kami makan. Dia selalu beralasan jika sedang diet atau sudah makan di luar untuk membuat kami tak mengkhawatirkan tentang keadaannya. Pada dini hari aku dan Shin terbangun, kami melihat Mia memakan nasi sisa yang ada di ricecooker, dan memakannya dengan lahap. Tanpa sadar air mataku menggenang, dan pada saat itu juga aku bertekat akan menjaga keluarga ini selama sisa hidupku.
Dan aku, namaku Sada Tanaka. Mereka berdua memanggilku dengan nama itu saat pertama kali bertemu di rumah sakit. Dan aku masih ingat kejadian waktu itu, meskipun aku merasa canggung karena tak mengenali mereka berdua, tapi tatapan yang mereka berikan pada saat itu penuh dengan kehangatan. Seolah memberikanku rerumputan yang hijau setelah terombang-ambing terlalu lama di pandang pasir.
Aku adalah seorang NEET atau Not in Education Employment, or Training. Yang di artikan sebagai istilah kerennya pengangguran yang tak punya pekerjaan apa-apa di negara itu. Lebih tepatnya beban keluarga.
Namun penyebab semua itu terjadi bukanlah tanpa alasan. Karena yang ku ingat hampir selama sisa hidupku, yang ku lakukan hanya lah melamar pekerjaan, dan anehnya semua nya di tolak tanpa alasan yang jelas.
Aku pernah melamar kerja di sebuah restoran namun di tolak dengan alasan muka ku tidak estetik, entah apa maksudnya, aku pun kurang mengerti. Aku juga pernah melamar di sebuah pusat perbelanjaan, tapi mereka menolakku dengan alasan suaraku kurang imut saat menirukan lolongan anjing, entah apa hubungannya lolongan anjing dengan bekerja di toko, tapi pemiliknya bilang itu adalah salah satu syarat mutlak jika ingin bekerja di tempat itu. Dan di pabrik sepatu, mereka menolakku karena tak bisa meniup gelembung dari air bekas kobokan, sialan, memangnya orang gila mana yang mau melakukan hal seperti itu. lalu di pasar ikan, tempat panen buah, pengupas kepiting, tempat laundri, penyapu jalan raya, pengepul rongsokan, sampai kuli kerang. Mereka semua menolakku dengan alasan yang aneh-aneh dan tak masuk akal.
Dari semua hal yang pernah ku coba, tak ada yang tak pernah ku coba sehingga akhirnya aku memilih mengalah dan menjadi pengangguran. Yang bisa ku lakukan hanyalah bernapas dan mengurusi dua orang payah ini.
__ADS_1
Mereka berdua adalah maskot sampah masyarakat yang paling di benci dan di cintai dalam waktu yang bersamaan.
Bagi Shin dia mampu melakukan hal yang orang lain tak bisa lakukan, seperti menjadi kepala geng misalnya. Dia perpegang teguh dengan prinsip, keadilan selalu menyertai semua orang tanpa terkecuali. Masyarakat bawah yang tak punya kuasa membutuhkan pelindung yang menjaga teratori mereka dari orang-orang yang berbuat seenaknya menjarah para orang lemah demi kepentingan pribadi, namun menjadi pemimpin teritori selalu menimbulkan kericuhan di sana sini karena masalah kekuasaan.
Dan bagi Mia. Wanita pekerja malam adalah pahlawan bagi laki-laki yang kesepian, masyarakat yang tak punya penghasilan dan memilih menjadi wanita malam adalah orang-orang yang berjasa menekan angka stress dan bunuh diri bagi bujang tua atau seseorang yang di tinggalkan pasangannya. Namun di satu sisi juga minumbulkan dampak kebencian terhadap mereka karena dapat merusak kerukunan berumah tangga.
Namun bagiku, mereka berdua adalah darah dan juga tulangku. Mereka adalah manusia paling berharga di dalam hidupku setelah ingatanku hilang. Sampai di hari dimana ingatanku kembali pun, aku ingin tetap mencintai dan melindungi mereka berdua.
"Hah..sialan, bisa-bisa nya kalian berdua kompak merepotkan ku di tengah malam begini!" Gerutuku berdiri di antara mereka berdua.
"Kau siapa. Roh penunggu gunung yang setiap malam muncul di mimpiku ya!" Balas Mia yang sudah muntah berkali-kali di depan rumah.
"Ahhh..sepertinya tengkorakku retak!" Pekik Shin yang sama bod*h nya sambil memegangi kepalanya yang terus mengucur darah.
"Mana ku lihat!" Ucap Mia yang sontak duduk dan memegangi kepala Shin.
Aku mendekat memandangi tingkah bodoh mereka berdua.
"Ohh..tenang, ini bisa di lem. Sebentar, aku ambil dulu di dalam!!" Ucapnya dengan suara orang ngelindur sambil berdiri.
Namun baru selangkah dia berjalan. Mia langsung ambruk mencium tembok.
"Neechan!" Panggil Shin.
"Ahhh..sial!" Gumamku mengurut pelipis.
Aku membantu Mia berdiri dan memapah Shin masuk ke dalam rumah. Dan lagi, malam yang panjang bagiku, baru saja di mulai.
__ADS_1