
Ceklek....
"Aku pulang!" Seru ku.
Saat berada di dalam rumah. Mia dan Shin sedang berbincang-bincang dengan serius, tapi tiba-tiba langsung bungkam saat aku berada di tengah-tengah mereka.
"Loh Neechan, kapan kau datang." Tanyaku menghampiri mereka.
Mia diam saja dan memandang tajam ke arah Shin.
"Bukannya kau bilang akan berada di tempat kerjamu selama seminggu untuk menggantikan absen!!" Ucapku.
Mia tak membalas.
"Kalian kenapa?" Tanyaku. "Apa terjadi sesuatu?"
"Duduklah!" Pinta Shin, "kita harus membicarakan ini saat semua anggota keluarga di rumah sudah lengkap!"
Aku menurut dan duduk bersama mereka.
"Kenapa?" Tanyaku lagi.
"Sada!" Panggil Mia. "Apa kau tau apa ini?"
Dia menunjukan surat kabar dengan fotoku dan Archie Yuaga yang ada di halaman depan.
Aku menatap Shin, dan Shin membuang muka.
"I-itu?" Aku gugup.
Plaakk...
Mia melempar koran ke atas meja dengan wajah merah.
"Jelaskan apa ini?" Mia tak senang.
"Neechan, aku.." aku menatap Shin lagi, dan dia mengagguk memberikan isyarat kalau Mia sudah mengetahui segalanya.
"Kenapa kau berada di halaman depan dengan anak konglomerat sinting itu?" Mia mengurut pelipis. "Apa kau tidak tahu seberapa bahayanya tindakanmu itu!"
"Oneechan!" Aku gusar.
"Aku sudah tau semua yang terjadi di tempat ini selama aku tidak ada!" Ucap Mia lagi, lingkar matanya mangkin menghitam karena stres.
Aku diam tertunduk.
"Kau yang diam-diam keluar rumah dengan alasan bertemu teman, atau kau yang menjual tubuhmu sendiri untuk mendapatkan uang. Apa lagi yang tidak ku tahu!" Mia menaikan tempo nadanya.
"Mia.."
"Meskipun kami berdua sepakat merahasiakan kebenaran akan indentitasmu. Tapi tak ku sangka ternyata pesan terakhir dari laki-laki cantik itu merupakan sebuah pertanda jika kau bukanlah gadis sembarangan!" Mia spontan menyela panggilan Shin.
"Apa?" Aku bingung menatapnya. "Maksudmu, apa?"
Mia menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Shin.
"Apa kau belum memberitahunya?" Tanya Mia.
Shin menggeleng dan membuang muka.
"Hah..baiklah!" Mia mengurut kelopak matanya, "lebih baik kalau kau mengetahui hal ini dari kami berdua!"
Mia mundur dari tempatnya, mengambil posisi di dekat jendela dan menghidupkan rokoknya sambil memandang ke atas, ke arah langit biru berarak awan tipis. Mia hanya merokok di rumah ini jika dia sedang gusar atau banyak pikiran. Selain dari itu, dia tak kan menunjukan kebiasaan bodohnya itu, apalagi bagi seseorang yang mengidap asma dari lahir.
"Kau ingat dengan laki-laki yang menemuimu pertama kali di rumah sakit saat ingatanmu menghilang?" Tanya Mia.
__ADS_1
Aku terdiam sambil berfikir.
"Laki-laki?" Aku berusaha mengingat.
Mereka berdua menunggu dan memperhatikanku yang berusaha berfikir.
"Mungkinkah, yang kalian maksud adalah laki-laki bule yang seperti aktor pemeran titanic itu. Yang kemudian langsung menghilang saat ku tanya apa hubungan kami berdua sampai dia mengenalku, sedangkan aku tidak!" Jelasku.
Mia mengangguk.
"Namanya adalah Rail Algio De Sayang." Ucap Shin.
"Rail, apa?" Tanyaku.
"Dialah orang yang mempertemukan kami dengan mu!" Sambung Shin.
"Dia?" Aku bengong, "maksudnya, dia memang benar-benar mengenalku, dan bukannya salah orang!"
"Kau bodoh ya." Cegat Mia. "Mana ada orang random yang tiba-tiba datang kehadapanmu dan mengenalmu seolah kalian akrab. Kalau tidak kalian memang saling mengenal!!" Mia ngegas.
"Itu, tidak salah juga sih!" Aku menggaruk kening.
"Aku, dia, dan juga Yuaga, kami sudah berteman sejak SD." Sambung Shin.
"Tunggu?" Sontak aku membeku, "ka-kalian saling kenal!"
"Shin!" Panggil Mia, "kau juga tidak mengatakan hal ini kepadanya!"
Shin menggaruk leher.
"Bisa di katakan kalau Kami sekelas sejak SD. Lalu berlanjut ke tingkat selanjutnya sampai sekolah menengah akhir!"
"Jadi, kau dan Yuaga memang sudah berteman dari dulu!" Aku shock.
"Aku tidak menganggapnya sebagai teman, sialan!" Shin tak terima.
"Sayang banyak menolong kami dalam beberapa hal. Termasuk membantu masalah keluarga ini di waktu lampau yang sedang dalam kondisi kritis!" Lanjut Mia.
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba raut wajah mereka berdua berubah menjadi aneh. Seprti ada rasa kebencian dan juga kecemasan dalam satu wadah.
"Dan dengan alasan itulah akhirnya aku dan Shin bersedia membantunya, demi membalas hutang budi yang dia lakukan untuk kami!" Sambung Mia menyamarkan raut wajahnya yang langsung berubah fokus ke pembicaraan awal.
"Membantunya?" Aku menatap mereka bersamaan. "Membantunya dalam hal apa?"
Mereka berdua saling pandang.
"Aku dan Shin bersedia membantunya untuk mengadopsimu menjadi keluarga kami sampai ingatanmu kembali!" Jawab Mia tanpa basa basi.
Tubuhku gemetar setelah mendengarnya, tapi tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menggambarkan situasi ini.
"Hal pertama yang dia katakan saat bertemu dengan kami adalah jika dia berada dalam kondisi terdesak dengan situasi yang benar-benar gawat!" Lanjut Mia. "Dia memang pernah mengatakan kalau kau adalah seseorang yang berharga, tapi dia tak menyebutkan kalau kau adalah istri dari Yuaga Archie."
Aku diam sembari tertunduk.
"Sayang tak mengatakan secara detil alasannya kenapa dia melakukan semua ini, dan menitipkanmu pada kami!"
Shin melirikku.
"Tapi yang jelas, alasan satu-satunya dia menyerahkanmu pada kami. Karena dia ingin menyembunyikan mu dari seseorang, agar kau tak di temukan oleh siapa pun sampai ingatanmu kembali!" Sambung Shin.
"Dia bilang begitu?"
Mereka serempak mengangguk.
"Lalu apa lagi yang dia katakan?" Tanyaku.
__ADS_1
"Yah pokoknya, dia hanya mengatakan jika kami harus menjagamu sampai ingatanmu kembali. Lalu sisanya biar dia yang urus, tapi meskipun dia bilang begitu, sampai sekarang pun dia tetap menghilang tanpa kabar berita!" Jawab Mia.
"Dia menghilang setelah menitipkanku pada kalian?"
Mereka mengiyakan.
"Bagaimana bisa?" Gumamku. "Apa terjadi sesuatu dengannya?"
"Entahlah!" Balas Shin. "Aku sudah berusaha mencarinya dengan mengirimkan informasi tentang keberadaannya ke pelosok jepang, tapi nihil. Dia menghilang seperti tersapu badai."
"Aneh, kenapa tiba-tiba dia menghilang?" Gumamku lagi sambil menggigit jari. "Tapi, Niichan..."
Shin menoleh ke arahku.
"Apa yang sedang kau bicarakan dengan Archie Yuaga, kenapa pembicaraan kalian terdengar sangat serius?" Tanyaku.
Shin meneguk liur seolah tak ingin menjawab pertanyaanku.
"Apakah.." aku menatapnya dengan tatapan curiga, "mungkin, orang yang Rail maksud itu adalah Archie Yuaga?"
Shin tak bergerak seolah terintimidasi.
**************
Jum'at pukul 2 siang waktu setempat.
"Selamat siang Nona!" Sapa Hendri datang menjemputku.
Fokusnya terhenti saat melihat tas besar yang ku tenteng dengan kondisi tubuhku rada terseok-seok membawanya.
"Biar saya saja!" Ujarnyanya tergopoh ingin membantuku.
Tapi ku layangkan telapak tanganku ke hadapannya, agar tak usah ikut campur.
"Baik Nona!" Dia langsung mengerti.
Hendri membawaku ke tempat restoran mewah yang ada di pusat kota. Dan aku langsung terpukau karena kemegahannya. Layaknya burung perkutut yang tak di kandang tapi tak tahu arah tujuan, begitulah kira-kira perasaanku saat pertama kali berada di pusat kota setelah tiga tahun berada di tempat ini.
Kami menaiki lift dengan menuju lantai teratas restoran ini. Sesekali Hendri melirik ke arah tas besarku, dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Tapi barang sekalipun, aku tak menggubrisnya dan mengacuhkan Hendri seolah tak ada urusan hal ini dengannya.
Ting...
Lift terbuka.
Saat itu ku lihat Archie Yuaga menyambutku bersama dengan belasan pelayan restoran yang tersenyum ramah seperti bibir mereka akan keluar dari wajahnya. Namun di tengah-tengah orang-orang yang sedang sumringah itu, Archie Yuaga lah yang paling merekah senyumannya.
Dia laksana gula yang paling manis dari semua jenis gula. Dan juga paling mematikan.
Archie Yuaga maju selangkah menjemputku di depan lift. Tapi alih-alih bersikap menjadi cantik dan berjalan anggun, aku malah berlari dan menerjang tas besarku ke arahnya.
Semua orang yang ada di sana sontak berteriak histeris, saat tas besar yang ku bawa langsung mengenai wajahnya dengan bebatuan kerikil yang terhambur keluar dari dalam tas.
Archie Yuaga terkapar di atas lantai dengan hidung dan kening berdarah, disertai wajah penuh debu bercampur kerikil.
"No-na, apa yang anda lakukan!" Hendri mematung di belakangku. Meskipun sebenarnya Hendri sudah tau dari awal apa yang sedang ku bawa, tapi dia tak pernah sekalipun berusaha bertanya maupun mencegah.
Aku berjalan ke hadapan Archie Yuaga dan berdiri dengan satu kakiku menginjak tas yang berisi batu kerikil.
"Itu adalah balasanmu karena telah menyakiti hati para gadis-gadis di masa lampau!" Ucapku dengan berapi-api.
Pelayan restoran berbisik-bisik tapi tak ada satupun yang berani mendekat.
Aku berjongkok dan mendekatkan wajahku lurus ke arah tatapannya.
"Dan juga, balasanmu karena telah menyakitiku!"
__ADS_1
Archie Yuaga tercengang.