
"Aku tak punya keberanian untuk melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan. Aku terlalu takut jika rasa cintaku ini akan semangkin melukai mu." Ucapnya dengan masih memalingkan wajah tanpa berani menatapku.
Kami berdua kemudian lama diam dalam keheningan. Archie yang ku kenal pada malam itu, yang datang penuh karisma dengan keagungan reputasinya yang bergelimang harta. Sekarang malah bersimpuh di hadapanku seperti seorang tunawisma yang depresi karena urusan cinta. Tak ada yang pernah menduga jika dunia bisa membolak-balikan kedaan seseorang dalam sekali pandang.
Dia diam dengan wajah lesu dan mata sembab, entah apa gerangan yang sedang mereka bicarakan di belakang ku. Tapi, perubahan yang ada pada wajahnya, sudah mewakili jawabannya.
Air muka yang penuh penyesalan adalah sebuah gambaran ketulusan. Awalnya aku tak mengerti, bagaimana mengintrupsi penyesalan seseorang menjadi sebuah ketulusan. Tapi, saat ini, di hadapanku. Kini aku mengerti arti dari ungkapan itu setelah melihatnya langsung dari mataku sendiri.
Bahwa orang-orang yang dahulu melakukan kesalahan lalu kemudian menyesali hal itu di kemudian hari, adalah orang yang terberkati karena pernah berbuat salah. Menyesal adalah tolak ukur dari ketulusan. Lalu ketulusan selalu bersanding dengan empati.
Tuhan begitu adil. Karena hal itulah, aku tidak harus merasa buruk memikirkan kenapa aku harus hilang ingatan, lalu mendengarkan penuturan mengejutkan dari lelaki ini. Kadang menyalahi kenyataan tak selalu tentang menjadi manusia paling menderita di dunia ini.
"Tapi sekeras apapun anda membuat saya menjadi seseorang yang anda kenal, saya tetap tak bisa mengingat apapun. Maafkan saya!!" Jawabku memecah keheningan.
"Karena itu.." balasnya spontan. "Karena dari itu, aku harus memulai semuanya dari awal kan!"
Aku bengong.
"Maksud anda?" Tanyaku.
"Meskipun kau tak ingat apapun. Tapi kau masih tetaplah Anya Arelista yang ku kenal." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Tiba-tiba dia mendekat dan menyodorkan wajahnya di samping telingaku.
"Kalau tidak, mana mungkin kau langsung tertarik padaku lalu menghabiskan malam yang panjang penuh gairah itu bersama!" Bisiknya.
Wajahku langsung memerah, kepalaku panas seperti mendidih. Sialnya aku tak bisa berkata-kata karena semuanya telah terjadi.
Melihat reaksi tak terduga ku, dia tambah menyeringai.
"Bagaimana dengan kencan!" Ucapnya sambil berdiri.
"Ken-kencan!" Aku canggung. "Ta-tapi pak, bagaimana jika.."
"Apa yang kau khawatirkan!" Potongnya.
Aku diam menyembunyikan wajahku. Terlalu banyak hal yang ku khawatirkan, sampai rasanya tak bisa mengatakannya satu persatu.
"Kita kan sudah mencuri start nya dari awal. Apa lagi yang harus kau khawatirkan!!" Yang dia maksud adalah kejadian semalam.
Itulah masalahnya. Dia tak berfikir kalau kejadian semalam adalah masalahnya. Itu adalah hal terburuk yang pernah ku lakukan sepanjang hidupku. Dan dia bilang aku tak perlu mengkhawatirkannya.
"Hari Jum'at jam 2 siang, aku akan menjemputmu."
Dia berjalan ke arah pintu kamarku sambil merapikan jasnya.
"jangan lupakan janji kita!"
"Ta-tapi pak saya.."
__ADS_1
Braakk....
Dia menutup pintu kamarku tanpa mendengarkan perkataanku terlebih dahulu.
Aku membekap wajah merahku dengan bantal, lalu berguling-guling di atas kasur dengan perasaan tak karuan.
Apakah dia memang selalu bertindak semaunya sendiri dengan memutuskan semua hal yang ingin dia lakukan. Menyebalkan.
************
"Kemarilah!" Panggil Shin.
Aku mendekat.
Shin terlihat gusar, dia tak henti-hentinya mengetuk meja dengan jari-jemarinya secara bergantian. Setelah Archie Yuaga dan asistennya pergi meninggalkan rumah ini, dia tak pernah berbicara sepatah katapun padaku. Bahkan terang-terangan menghindariku.
"Ada yang ingin ku katakan!" Ucapnya dengan suara pelan.
Aku menyimak.
"Sada!" Panggil Shin, "aku tau kalau hari ini akan datang juga. Cepat atau lambat kau akan tau semuanya!"
Aku diam tertunduk.
"Sebenarnya, kau bukanlah adik tiri kami. Kami berdua berbohong mengenai hal itu!!" Shin berterus-terang.
"Aku tau. Dari awal aku sudah menduganya!" Jawabku tersenyum kecut.
"Mau di pikir bagaimanapun, rasanya terlalu janggal kalau kalian mempunyai orangtua yang berasal di lintas negara. Lalu hanya berselang beberapa bulan setelah pernikahan, mereka langsung membawaku kemari untuk di jadikan keluarga. Dan lagi, sampai sekarangpun kita tidak pernah pergi ke pemakaman mereka!!" Ujarku lagi.
Shin mangkin tak enak hati dan membalasku dengan kernyitan.
"Maafkan aku!" Ujarnya menunduk. "Maaf karena selama ini telah berbohong padamu. Tolong, maafkan kami!"
"Tapi, Niichan!" Balasku.
Dia berhenti membungkuk dan mengangkat kepalanya.
"Meskipun aku tahu kalian berbohong, tapi barang sekalipun aku tak ada niatan untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya."
"Sada!" Dia melongo.
"Kalian sudah menjadi keluarga bagiku. Kalian berbohong atau tidak, ingatanku hilang atau tidak, semua itu tak penting. Aku ingin berada di sisi kalian, terlepas siapapun diriku sebelum bertemu kalian!!"
Tiba-tiba Shin membalikkan tubuhnya memunggungiku. Dia membekap wajahnya sendiri dengan kedua tangan.
"Niichan, kau kenapa?" Aku khawatir sambil mendekat.
"Berhenti!" Ucapnya tegas.
__ADS_1
Aku mundur.
"Berhenti di situ!" Dia mencegahku mendekat.
Tubuhnya menggigil, dan terdengar suara pilu tersedu-sedan.
"Aku tak mau kau melihatku dalam kondisi seperti ini. Tolong!" Dia memepertegasnya.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi telinganya terlihat memerah menahan malu. Shin adalah sosok lelaki berhati lembut yang sangat berperasaan dengan hal-hal kecil.
Pernah sekali aku memergokinya nangis sesenggukkan di pojok kamarnya setelah mengetahui karakter anime favoritnya mati, atau tiba-tiba marah tak jelas karena melihat semut besar yang berhasil mencuri makanan dari semut kecil, atau mendadak menangis haru saat ada anak SD yang menirukan jalan ngangkang seperti jalannya.
Aku hidup di lingkungan seperti itu selama 3 tahun ini. Dan bagaimana caraku untuk tak bersyukur, saat di kelilingi oleh sosok yang penuh kasih seperti orang-orang yang ada di rumah ini.
************
Keesokan harinya di pagi hari.
"Aku beli bakpao nya 2 ya?" Pintaku.
"Ini Nona, silahkan!"
"Terimakasih!" Ucapku memberikan uang dan menerimanya.
Namun fokusku terhenti di saat melihat surat kabar harian yang di jajakan di pinggir jalan.
"Ehhh..ini kan!" Aku mendekat.
Di sana tertera fotoku bersama Yuaga Archie di kapal pesiar waktu itu. Dan momen yang tertera di dalam surat kabar adalah saat aku selesai membanting pria kurang ajar itu di hadapannya, lalu kemudian Yuaga Archie mendekat dan menyeretku dari kerumunan.
"Pewaris YJ grup lagi-lagi terlibat skandal dengan gadis lain!" Gumamku membaca tulisan besar yang ada di atas foto itu.
Tring...
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Saat ku buka, ternyata terdapat pesan dari sebuah bank yang mengirimkan sejumlah uang yang cukup besar ke dalam rekeningku.
Aku diam cukup lama setelah memandangi sejumlah uang yang masuk ke dalam rekeningku secara tiba-tiba. Kemudian di susul oleh panggilan dari seseorang.
"Halo!" Aku mengangkat telponnya.
"Kerja bagus nak!" Jawabnya. "Apa kau sudah melihat beritanya!"
Aku berpaling lagi ke arah surat kabar yang ada di hadapanku.
"Maksud anda itu, adalah..."
"Kau sudah bekerja dengan baik. Nikmatilah hasil kerja kerasmu. Dan sampai jumpa lagi, kami sangat puas dengan hasil kerjamu!" Ujar Madam Fleur di akhiri menutup telponnya.
Ku pandangi lagi surat kabar itu, dan terpaku saat melihat pandangan Archie Yuaga yang seperti sangat shock saat bertemu denganku. Semua orang yang hadir di tempat itu mungkin juga terkejut atas perlakuan Archie yang tiba-tiba menyeretku meninggalkan tempat itu tanpa alasan.
__ADS_1
Aku mulanya tak tahu, jika semua permulaan ini adalah awal dari bencana yang akan semangkin merenggut segalanya dari hidupku.