Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Familiar


__ADS_3

"SADA!" Pekik Shin berlari tunggang langgang mengejarku.


Laki-laki itu melepaskan tubuhku dan membiarkan ku berjalan mendekati Shin.


Tapi bukannya menyambutku, Shin malah melewatiku dan langsung menghantamkan tinjunya ke wajah orang yang tadi telah menyelamatkan ku.


"Sialan. Kenapa kalian juga melibatkan adikku!!" Pekik Shin marah dan melayangkan tinjunya beberapa kali. "Keterlaluan, apa kalian gila. Apa kalian tidak berfikir bagaimana jika hal yang sama menimpa saudara kalian yang ada di rumah."


"Niichan. Hentikan, Niichan!!" Aku panik.


Laki-laki itu tak membalas, dia malah diam dan menerima begitu saja pukulan dari Shin.


"Niichan, hentikan." Aku berusaha memisahkan mereka berdua. "Kau salah paham. Dia yang menyelamatkan ku!!" Ucapku sambil memegangi lengannya.


Shin berhenti memukulinya dan beralih menatapku.


"Apa?" Shin bingung.


"Kau salah paham. Dia tidak bersalah, dia menyelamatkan ku!!" Jelasku lagi.


Shin menurunkan tangannya, dan menatap laki-laki yang sudah terkapar di pembatas jembatan sambil memegangi wajahnya.


*************


"Ini silahkan!" Ucapku sambil menyodorkan es batu yang sudah ku bungkus kain untuk meredakan sakit dan juga menyamarkan lebam.


"Arigatou!" Dia menerimanya dan langsung menempelkan di wajahnya.


Aku memandanginya yang meringis kesakitan karena terdapat luka lecet di dekat matanya. Meskipun hanya sebentar, ternyata Shin menghajar anak ini dengan sekuat tenaga tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.


Aku mendekat dan bersimpuh di hadapannya sambil membersihkan luka yang ada di wajahnya. Dia diam saja tanpa berkata-kata namun tatapannya terlihat aneh dengan mimik yang tak biasa.


"Gomennasai!" Shin tiba-tiba berjalan menghampiri kami dan langsung membungkuk. "Aku benar-benar tidak tahu kalau kau yang menyelamatkan adikku. Gomennasai!!"


Laki-laki itu sontak berdiri dan membalas Shin.


"Ah..bukan apa-apa, saya maklum!" Laki-laki itu membalas dengan senyuman. "Lagi pula saya juga akan bertindak hal yang sama jika jadi anda."


Shin mengangkat kepalanya. Namun tiba-tiba ekspresi Shin berubah dan menatap heran laki-laki itu dengan presisi.


"Apakah, kita pernah bertemu sebelumnya ?" Tanya Shin memandanginya dengan lekat.


Laki-laki itu tersenyum. "Sepertinya tidak!" Balasnya.


"Oh ya, tapi sepertinya wajahmu terlihat familiar!" Shin penasaran. "Dimana ya, tapi aku benar-benar tak asing dengan wajahmu!"


"Ahh..banyak yang bilang kalau wajah saya mirip idol!" Balasnya.


Shin mengangguk, tapi dia masih ragu. "Ahh..mungkin hanya perasaan ku saja, tapi kau benar-benar mirip dengan seseorang!"


Laki-laki itu hanya mengangguk mengiyakan.


"Namaku Tanaka Shin, itu adikku Sada. Terimakasih telah membantu kami!" Shin memperkenalkan diri.


"Nama saya Sakurai!" Balasnya sambil mengawasiku.


"Sakurai?" Shin menunggu nya memperkenalkan nama belakangnya.


"Hanya Sakurai!" Balas nya lalu beralih menatap Shin.


Aku membawakan minuman untuk Sakurai dan menghidangkannya di atas meja. Tapi ada yang menganggu pikiranku sejak tadi. Sakurai menatapku seperti seseorang yang tengah bersedih, mimik wajahnya begitu gusar bahkan beberapa kali aku memperhatikannya menggosok kedua tangannya seperti seseorang yang gelisah.

__ADS_1


"Arigatou!" Dia tersenyum menyambut jamuanku.


"Sepertinya kau bukan berasal dari tempat ini. Apa kau dari luar kota!?" Tanya Shin dengan sifat keingintahuannya.


"Benar. Saya bukan berasal dari sini." Jawab Sakurai sopan.


"Aii..santai saja. Jangan berbicara terlalu formal. Santai saja kok, anggap saja kita seumuran!" Ucap Shin menepuk bahu Sakurai.


"Gomen. Arigatou!!" Jawab Sakurai.


Mereka berbincang-bincang mengenai berbagai hal, terlihat sekali jika Sakurai ini merupakan orang yang ramah dan nyambung dengan semua orang.


Kemudian aku datang dan langsung membersihkan luka yang ada di betis Shin. Sakurai memperhatikanku dengan tatapan dalam yang menusuk, dia seperti kamera pengawas yang memperhatikan detil kejadian sampai ke sudut-sudut ruangan. Meskipun aneh, tapi aku merasa Sakurai tak ada niatan jahat. Dia tak punya aura yang berbahaya.


"Sepertinya kau berasal dari kota?" Shin terus mengintrogasi Sakurai.


"Aku dari kansai!" Balas Sakurai tapi tatapannya tak beralih dari ku.


"Oh..kansai ya. Apa kau datang kemari karena ada suatu urusan, atau kau hanya kebetulan lewat saja!?" Tanya Shin.


"Aku ada urusan!" Jawab Sakurai Singkat.


"Urusan. Urusan apa?"


Sakurai berhenti menatapku dan beralih menatap Shin lawan bicaranya. "Aku sedang mencari kakak iparku. Dia menghilang karena hilang ingatan!"


Aku dan Shin sontak terdiam dan serentak menatapnya.


"Kakak iparmu, hilang ingatan?" Tanyaku.


Sakurai mengangguk.


"Apa yang terjadi. Kenapa dia bisa hilang ingatan?" Tanya Shin.


Aku dan Shin terdiam dan saling menatap satu sama lain.


************


"Terimakasih telah membantu kami. Kapan-kapan mampirlah jika kau sempat!" Ucapku.


Aku dan Shin mengikuti Sakurai sampai ke depan rumah untuk menghantar kepergiannya.


Sakurai mengangguk dan memasang sepatunya.


"Aku turut prihatin dengan kondisimu. Ku harap, kakak iparmu segera ketemu!" Shin bersimpati sambil menepuk pundak Sakurai.


"Terimakasih. Aku akan sering-sering mampir kemari!!" Balasnya.


Sebelum pergi, Sakurai tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya memandangi kami berdua.


"Oh ya. Soal kejadian tadi, kalian tak usah khawatir biar aku saja yang mengurus para geng motor itu. Sekali lagi terimakasih telah merawatku, aku pergi dulu!!" Ujarnya membungkuk sopan lalu pergi dari hadapan kami.


Aku dan Shin memandangi punggungnya sampai dia menghilang di antara kegelapan. Lalu entah kenapa, Sakurai itu seperti seseorang yang mengenal ku, tatapannya itu terlihat terbiasa berada di sekitarku seperti Mia dan Shin.


"Dimana ya aku pernah bertemu dengan anak itu!" Gumam Shin sambil menutup pintu.


"Kalian pernah bertemu?" Tanyaku sambil membereskan ruang tamu.


"Entahlah. Tapi wajahnya itu terlihat benar-benar gak asing!" Balasnya mondar-mandir.


Aku tak perduli dan membawa gerabah kotor ke dapur.

__ADS_1


Tiba-tiba Shin berhenti di tengah pintu yang menghubungkan ruang tamu dan kamarnya.


"Tunggu dulu!" Ucap Shin berlahan-lahan membalikkan tubuhnya ke arahku.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Sakurai. Bagaimana dia tahu tentang kejadian tadi. Bukannya kita tidak membicarakannya?" Shin bingung.


Kami berdua saling bertatapan.


**************


"Oi cepatlah. Aku juga ingin buang air besar!!" Suara Shin di pagi hari membangunkan tidur lelapku.


"Berisik dasar Shin sialan. Ini masih pagi!!" Gumamku sambil membekap telingaku dengan bantal.


Dok..dok..dok..


Tapi Shin tak berhenti, dia terus memukul pintu seolah ingin merubuhkannya.


"Oi, cepatlah. Kau tuli ya, siapa di dalam. Kenapa jadi lama banget!!" Dia tak menyerah.


"Sialan, aku benar-benar tak bisa tidur." Gumamku sambil mengumpat.


"Oii..!!" Shin tak menyerah.


Braakk...


"Apa sih, kenapa pagi-pagi kau sudah ribut?" Aku keluar dari kamar dengan emosi.


"Sada!" Shin kaget melihatku. "Jadi yang di dalam bukan kau!"


"Bukan, sialan!" Balasku.


"Kalau bukan kau berarti.."


Bruuukk....


Tiba-tiba kami berdua di kagetkan dengan suara keras yang berasal dari dalam kamar mandi. Suara itu terdengar cukup keras di iringi oleh suara desisan dari keran yang terbuka.


"Neechan, kau di dalam!" Panggil Shin sambil menggedor pintu kamar mandi.


Aku mendekat dan berdiri di pintu kamar mandi.


"Neechan. Kau tidak apa-apa!?" Panggilku.


Tapi tak ada jawaban.


"Oneechan!" Kami berdua serempak menggedor pintu kamar mandi sambil terus memanggil namanya.


"Sudah berapa lama dia di dalam kamar mandi!?" Tanyaku panik.


Shin tak menjawab, tapi terus menggedor pintu kamar mandi.


"Oneechan. Buka pintunya!" Pekik Shin.


Saat tak ada balasan yang terdengar di dalam, Shin langsung mengambil aba-aba dan mendobrak pintu kamar mandi dalam satu kali terjang.


Braakkk....


"Oneechan!" Panggilku sambil membekap mulutku sendiri.

__ADS_1


Mia terkapar di bawah wastafel dalam keadaan tak sadarkan diri. Air yang berasal dari keran terus mengalir sampai membasahi lantai dan tubuhnya.


__ADS_2