
Archie langsung menarik tanganku dan melepaskanku dari cengkraman Sakurai.
Lalu mereka berdua pun saling tatap menatap untuk waktu yang lama. Sampai salah satu dari mereka mengalah dan memalingkan tatapan karena tak nyaman.
"Ngapain lu?" Tanya Archie kepada Sakurai dengan nada mengintimidasi.
Sakurai hanya tersenyum tak jelas, tanpa arti, tak tahu apa yang ada di dalam kepalanya sampai menanggapi ucapan Archie dengan senyuman.
"Kalau lu masih mau tinggal disini. Berenti ngelakuin hal konyol yang pastinya bikin gua gak segan-segan buat bunuh lu." Ucap Archie dengan rentetan kekesalan yang memuncak.
"Kakak cemburu aku main bareng kakak ipar." Jawab Sakurai dengan santainya. Menembus ekspetasiku kalau dia akan merasa takut karena ketahuan sedang melecehkanku.
Namun melihat reaksi Archie yang tenang, tidak kaget maupun mengutuk perbuatan Sakurai yang berbugil ria sedang mengkabedonku di ambang pintu, membuat ku heran, apakah Archie memang sudah mengetahui kelakuan adiknya.
"Jaga prilaku lu, kalau gak mau mati dalam keadaan gak berbentuk." Dengus Archie dengan wajah merah padam dan langsung merangkulku untuk berjalan beriringan menuju kamar utama.
"Kakakku benar-benar marah besar ya." Ucap Sakurai dengan senyumannya yang polos dan terkesan aneh, menghantar kepergian kami melewati ruangannya.
"Archie!"
Dia tak menjawab panggilanku tatapannya fokus kedepan tanpa berkedip.
"Tadi itu, aku yang salah karena sudah mengira itu masih kamarku!" Ucapku pada Archie yang masih diam tak memperhatikanku dengan wajah merah padam. "Aku sangat lelah sampai melupakan kalau mulai hari ini kita sudah tinggal dalam satu kamar." Lanjutku berusaha membuatnya memperhatikan ku.
Namun dia tak bicara sampai kami berdua berada di pintu kamar.
"Jangan di bahas, gua udah tau ini bakalan terjadi!" Ucap Archie sambil mendorong pintu kamar.
"Apa maksudmu...."
Mataku terbelak di saat melihat langsung kamar baru kami. Ya ampun, aku tidak menduga kalau kamar ini di design seperti kamar lamaku yang bergaya nude. Tersusun rapi barang-barangku dan barang-barang Archie dalam satu tempat, bahkan aku bisa melihat rentetan tugas kuliah kami yang menumpuk menjadi satu menghiasi atas meja belajar.
"Sepertinya, kau lupa memberitahu Hendri untuk tak mencampurkan tugas kuliah mu dan tugas kuliahku." Ucapku tertawa geli sembari menunjuk kertas-kertas amburadul itu.
"Gua bakalan potong gaji Hendri bulan ini." Balasnya tanpa ekspresi.
"Ehhh.., jangan."
Archie tersenyum sumringah dengan wajah bebas tanpa tekanan. Kemudian mendekat kearahku dan merangkulkan tangannya melingkari leherku. Seakan kejadian tadi barusan terlupakan begitu saja.
"Seneng gak?" Tanyanya sembari menautkan dagunya di kepalaku.
"Aku cuman heran aja kenapa selama ini kita gak kepikiran buat tidur sekamar." Jawabku.
__ADS_1
"Ga tau, bisa aja kita bedua punya kelainan."
"Gak masuk akal, kelainan apaan?"
"Beberapa bulan yang lalu, kita bedua masih kayak orang asing kan. Gua inget banget waktu dulu nyipok lu di bawah tangga." Ucapnya sembari tertawa terkekeh. "Abisnya lu ampe lemes dan gak bangun-bangun hampir 5 menitan." Ledeknya mangkin menjadi sampai tawanya menggema mengisi ruangan.
"Apa sih, aku udah lupa kejadian itu." Balasku malu karena kembali mengingat memori mengesalkan itu tergambar di benakku.
"Gimana kalau sekarang!"
"Hah, apanya?" Tanyaku.
"Lu masih sama gak kayak waktu itu." Bisiknya di belakang telingaku sembari memelintir rambutku.
Aku berbalik menghadapkan tubuhku ke arahnya, kemudian dengan cepat menarik kerah bajunya sampai wajahnya sejajar dengan wajahku.
Perbuatanku ini mungkin terlalu tiba-tiba baginya, sehingga tak bisa di pungkiri jika wajah merah meronanya yang terkesan malu-malu dan terkaget menghiasi tatapan polosnya.
"Nilai aja sendiri!" Bisikku lalu berlahan menciumnya dengan amat sangat lembut penuh kehati-hatian. Sampai tubuhnya bergetar hebat tak mampu menahan hasrat yang tak bisa dia kendalikan jika bersama dengan ku.
Archie tak pernah membiarkan ku beraksi sendirian, tiap perlakuan apa pun yang ku tunjukan kepadanya, dia tak segan untuk menyudahinya.
Pernah suatu hari kami bermain seharian sampai setiap inci persendian ku hampir lepas karena meladeni permainannya, dan itu semua terjadi karena aku memakai lingerie di dalam rumah bahkan saat sedang memasak. Yah, memang salah ku sih, tak seharusnya aku mengetesnya dengan mempertunjukan tubuhku, karena tidak di pancing pun Archie akan selalu ingin melahapku.
Dengan cepat, dia memegangi kepalaku dengan kedua tangannya dan berusaha menahan kepalaku agar tak bergerak. Meskipun terbilang agresif, Archie akan tetap memperlakukan ku dengan lembut.
"Jangan di teruskan!" Ucapku sembari melepaskan nya dengan tiba-tiba. "Kita berdua belum mandi, lagi pula sebentar lagi makan malam." Sambungku sambil menahan kedua pundaknya yang memaksa mendorong ku ke belakang.
Dia tak menjawab, wajahnya memerah begitu juga telinganya, matanya sayu seperti orang demam, napasnya turun naik, seluruh tubuhnya bergetar, ekspresinya seakan sedang mengatakan agar tak melakukan ini padanya.
Meskipun aku tahu kelanjutannya, Archie bukan lah orang yang patuh, begitu juga dengan hasratnya, Archie bukan lah orang yang bisa di ajak negosiasi apalagi berkompromi.
Tubuhku langsung melayang terbaring di atas kasur dengan seluruh kancing bajuku yang sudah terlepas karena di pretelinya.
"Kau kan tau, kalau aku tidak suka bau keringat!" Bujukku meminta pengertiannya.
"Gua gak ingat tuh!" Balasnya menaki tubuhku sembari melucuti bajunya sendiri.
"Archie, sebentar lagi makan malam!" Pintaku berusaha membujuknya.
"Bentar doang kok!" Bisiknya sembari menyilangkan telujuk di bibirnya.
"Tapi nanti..."
__ADS_1
Dia langsung membersihkan keringat yang ada di leherku dengan lidahnya dan melumurinya dengan saliva, kini keringat bercampur parfum yang ada di leherku telah tergantikan oleh bau tembakau dan juga permen raspberry.
"Ja...jangan. jangan disana!!" Lirihku hampir menangis menahan perlakuannya sembari mencengkram kuat punggungnya. Karena dia tau, kalau aku sangat sensitif di bagian leher.
"Hhhooouuummmmhh..."lenguhnya menjadi-jadi sampai gigitan lembutnya mendarat di kerongkonganku.
"Archie, aku mohon!" Ucapku mengerjapkan mataku dengan kuat, menahan rasa ingin berteriak seperti biasanya.
Namun dia tak mendengarkan ku dan dengan seenaknya melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu mengincar telingaku. Bagian paling sensitif di tubuhku selain leher.
Tanpa berkilah, dia melahap telingaku dengan hembusan nafas kasar yang menggairahkan, tanpa ampun, seolah setiap inci bagian tubuhku yang sangat sensitif menjadi hidangan utamanya.
Hingga, kelanjutannya aku sudah tak mampu menahan frekuensi batasan ku sendiri.
"AAAAAAAAHHHHHH....."
Suara lenguhan kenikmatan terlontar sangat keras dan jelas memenuhi ruangan, bahkan lengkingan desahan ku membuatku merinding saat menyadarinya.
"Tidak, Archie. AAAAAAAAHHHHH...!!" Sialnya Semakin aku memohon, dia akan semakin beringas meladeniku. Bahkan tak terlihat kalau dia ingin menyudahinya.
"Tok tok tok tok tok..."
Sontak kami berdua berhenti sejenak dengan napas berat sembari mendengarkan kalau-kalau tadi mendengar suara ketukan.
"Tok tok tok tok..."
Tidak salah lagi, seseorang mengetuk pintu kamar kami.
"Kakak keluarlah, aku lapar." Pekik Sakurai di balik pintu.
Sial, kami melupakan seseorang yang juga menjadi penghuni rumah ini. Dan dengan seenaknya bercinta di waktu yang tidak tepat.
"Tok tok tok tok..."
"Kakak, aku lapar. Apa kalian tidak punya pembantu di rumah ini!" Pekiknya pantang menyerah.
"Sial!" Runtuk Archie bermuka kesal tanpa beranjak sedikitpun dari tubuhku.
"Kakak!" Rengeknya mangkin menjadi dan terus mengusik kami berdua.
"Keparaaaat, lu mau mati!!" Ucap Archie sembari bergegas menuju pintu.
"Hahahahahaha...!!" Tawa Sakurai terdengar di balik pintu seperti berlari di saat Archie menghampirinya.
__ADS_1